XVI. Desa di Kaki Bukit

1304 Kata
Langkah Weraki langsung terhenti ketika Zed menanyakan pertanyaan tersebut. Karena ia tiba-tiba saja berhenti, membuat Vulken menabrak punggungnya. Sontak Vulken meminta maaf kepada Weraki sambil memegangi hidungnya setelah menabrak. “Seperti yang kukatakan, di bawah jembatan tua di depan gerbang pertahanan tadi memiliki sebuah segel. Yang baik akan bergabung dengan orang-orang yang kalian temui tadi. Jika orang yang pergi ke sana adalah orang jahat, maka tubuhnya akan hangus seperti orang yang tadi kalian lihat sekilas di bagian kiri.” Weraki menjelaskan. “Tapi orang yang tubuhnya bercahaya itu mengatakan bahwa orang yang tubuhnya hangus adalah orang dengan hati yang menghitam. Bukankah begitu?” Vulken bertanya. Beatrice langsung menatap Vulken aneh. Ia pun membalas Vulken. “Itu hanyalah ungkapan tahu. Mungkin saja itu dimaksudkan untuk orang-orang yang menyimpan dendam dan dengki di dalam hati. Karena itu diungkapkan dengan `hati yang menghitam`. Dari yang kutangkap yang dimaksud adalah seperti itu.” “Jadi maksudmu karena segel yang berada di bawah jembatan itu, membuatnya dapat mengetahui apa yang sedang kami lakukan dan seolah menasihati kami akan sesuatu?” Zed kembali melontarkan pertanyaannya yang membuat Weraki menghela napasnya. “Bukan, tidak begitu juga konsepnya. Jika kalian ingat-ingat sambil memperhatikan, yang dapat berbicara hanya orang dengan tubuh yang bercahaya. Ia adalah pendiri desa ini dan yang memulai untuk melakukan tradisi membuang jasad ke dasar jembatan. Dari yang kutahu, ia melakukannya setelah mengaku mendapat pesan dari dewa Andhiel dan Anthiel.” Kembali Weraki harus mencoba menjawab pertanyaan Zed dengan cukup panjang. Drue yang sedari tadi diam, mulai berbicara dan menasihati putranya. “Hal itu cukup membuktikan bahwa ini tempat sekaligus desa ini sangat terikat dengan keberadaan Andhiel dan Anthiel. Tidak ada kepercayaan tersendiri di sini. Zed … pertanyaanmu sudah terjawab semua, kan? Jika muncul lagi pertanyaan di kepalamu seputar tempat ini, lebih baik kau menyimpannya untuk ditanyakan lain waktu. Bagaimana pun itu kita sebagai pendatang harus menghormati apa yang sudah ada di sini. Sebagai prajurit muda kerajaan kau tidak boleh lancang, terlebih lagi di tempat orang lain.” “Sudah … lebih baik kita lanjutkan saja perjalanannya ketimbang harus berdebat di sini. Desanya sudah di depan mata kita,” ajak Vulken. Setelah itu ia menepuk punggung Weraki. “Hei, bisakah kau teruskan saja dan menunjukkan jalannya pada kami?” Weraki mengiyakannya dengan anggukan pelan dan perlahan langkahnya kembali bertambah. Terus ke depan ke arah desa, Vulken langsung mengikutinya dan mau tidak mau yang lainnya pun mengikuti. Keluar dari jembatan yang sudha menyerupai jalan setapak dari susunan batu, mereka akhirnya menginjakkan kaki juga di desa tempat Weraki tinggal. Mereka langsung disuguhkan dengan pemandangan padang rumput daerah perbukitan yang amat sejuk. Bahkan bunga-bunga kecil tampaknya bermekaran di setiap sudut padang rumput. Desa Rolam, mungkin begitu mereka menyebut nama desanya seperti yang tertera pada papan kayu yang menancap tidak jauh dari tempat mereka memasuki desa. “Sungguh, desa ini sangat indah! Seperti desa yang ada dalam bayanganku, aku tidak menyangka akhirnya dapat melihat tempat seperti ini secara langsung.” Vulken berbicara sendiri. Perjalanan dilanjutkan. Banyak warga desa yang tengah melakukan aktivitasnya sehari-hari, sebagianbesar dari mereka yang melihat kedatangan Weraki pun langsung menyapanya. Tak hanya sampai di sana, pemandangan indah kembali ditunjukkan desa Rolam dengan struktur bangunan yang amat indah. Kebanyakan rumah dibuat dari bahan dasar kayu yang menciptakan kesan klasik sekaligus elegan. Bahkan Vulken sampai tidak dapat melepaskan pandangannya dari bangunan rumah warga desa yang di bagian kanan dan kirinya dipenuhi oleh tanaman. “Kelihatannya semua warga desa sudah memiliki kesibukannya masing-masing, ya? Aku melihat mereka yang cukup fokus dengan pekerjaannya” Vulken bertanya kepada Weraki. Sambil terus berjalan Weraki pun menjawab, “Betul sekali, mereka sudah memiliki tugasnya masing-masing entah itu untuk membangun, memasak, pergi ke ladang, bahkan kami memiliki pelatihan untuk anak-anak di sini.” “Wah, itu sangat hebat! Aku tidak menyangka desa ini benar-benar maju dan makmur kehidupannya. Lalu, untuk pelatihan anak-anak, seperti apa contohnya? Aku cukup penasaran dengan hal itu.” Vulken kembali memberikan pertanyaannya. “Banyak yang bisa dilatih mulai dari bagaimana cara untuk berkebun hingga bagaimana caranya untuk berburu ketika ada yang menemukan buruan. Kami lebih senang untuk berburu ikan ketimbang hewan-hewan darat,” ungkap Weraki. Langkah demi langkah dilalui, melewati rumah-rumah warga beserta kebun-kebunnya. Hingga akhirnya sampailah mereka pada sebuah rumah yang cukup besar ukurannya dibandingkan dengan rumah warga yang lainnya. Terletak sendiri di bagian ujung desa dengan kebun ke kecil di samping. Bunga kecil berwarna ungu beberapa di antaranya suda mekar. “Baiklah, selamat datang di rumahku. Di sini biasanya hanya aku gunakan untuk beristirahat saja. Aku lebih sering menghabiskan waktu di ladang dan tempat pelatihan,” ujar Weraki. “Kalian bisa melihat pintu di bagian kanan sana. Di dalamnya cukup luas dan hanya berisikan matras lebar. Kalian bisa tidur di sana jika ingin menginap satu hari di sini. Lalu untuk Beatrice, kau bisa menggunakan kamar tamu di dalam, nanti akanku tunjukkan tempatnya,” tambahnya menawarkan jika Vulken dan yang lain ingin singgah untuk satu malam. “Apakah kau memiliki kamar tamu memang karena sering ada tamu yang datang ke desa ini atau bagaimana?” tanya Beatrice. Weraki langsung menggelengkan kepalanya. “Tidak, kamar tamu itu biasa digunakan oleh kedua muridku. Nanti biar aku yang bicara kepada mereka untuk pindah ke ruangan samping dan tidur bersama Vulken dan yang lainnya,” ucap Weraki. “Ahh, apakah itu dua murid yang dibicarakan oleh Ado tadi? Di mana mereka sekarang? Rasanya rumahmu kosong.” Vulken bertanya. “Sepertinya mereka sedang berada di ladang untuk mengambil hasil panen. Sebelum aku pergi meninggalkan desa memang sudah menandakan sebentar lagi sudah masuk waktunya untuk panen. Kalian lebih baik masuk ke dalam terlebih dulu dan menaruh barang-barang kalian.” Weraki mempersilahkan yang Vulken dan yang lain untuk masuk ke rumahnya. “Apakah kita benar akan menginap di sini dan tidak langsung melanjutkan perjalanan saja?” tanya Zed. “Aku mengikuti keinginan Vulken saja bagaimana. Tugasku adalah untuk menemaninya hingga ke tempat tujuan kita,” kata Beatrice. Vulken menghela napasnya lalu ia berkata, “Karena kita baru berada di luar istana untuk satu hari, sepertinya tidak apa jika kita bermalam di sini. Bukan aku ingin egois, tapi bisakah aku melihat dunia luar seperti di desa ini hanya untuk satu hari saja? Ini seperti impianku sejak dulu untuk bisa pergi ke luar istana.” Drue melipat kedua tangannya di depan. “Aku mengikuti saja keputusanmu, Vulken. Tidak apa-apa Zed kita bermalam di sini, setidaknya kita bisa merasakan udara segar perbukitan untuk satu hari penuh,” ucap Drue. Weraki seperti melirik ke kanan dan kiri melihat keadaan sekitar. “Perlu kalian ketahui, setidaknya kalian butuh istirahat. Berjaga-jaga jika roh Andhiel dan Anthiel tidak menerima kehadiran kalian melewati puncak bukit tempat mereka terikat. Bukannya aku menakut-nakuti, tapi tidak ada yang tak mungkin untuk terjadi," kata Weraki dengan nada yang pelan seperti orang berbisik dan itu membuat yang lain harus mendekat untuk mendengarkannya. "Baiklah kalau begitu, aku juga ikut suara terbanyak saja. Kita akan bermalam di sini,” ucap Zed. Akhirnya mereka pun memasuki rumah Weraki. Vulken bersama Drue dan Zed langsung ke ruangan di bagian kanan rumah Weraki. Mereka membuka matras yang masih tergulung dengan rapi. Matras tersebut cukup tebal dan bersih begitu pun dengan ruangannya. Setelah menggelar matrasnya, mereka langsung merapikan barang-barang bawaan mereka di sudut ruangan. Sementara itu, Beatrice hanya diantarkan sampai ke depan pintu kamar tamu saja oleh Weraki. Weraki langsung pergi ke dalam entah ke mana dan melakukan apa. Dalam kamar tamu, Beatrice hanya menaruh barang-barangnya di samping pintu. Ia hanya sekilas melihat barang-barang milik murid Weraki yang tertata rapi di dalam kamar. Setelah itu ia duduk di bagian pinggir kasur sambil melihat ke luar jendela yang terbuka. Karena langsung mengarah ke jalan, ia dapat melihat beberapa warga desa yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Tak lama kemudian, ia melihat dua orang laki-laki yang sedang berjalan menuju arah rumah Weraki sambil membawa dua buah karung berukuran sedang yang entah apa isinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN