“Paman, apakah kau sudah kembali dari perjalananmu? Kami baru saja mengambil hasil panen dari ladang!" seru salah satu dari dua laki-laki yang baru saja dilihat Beatrice lewat jendela kamar tamu rumah Weraki.
Mengingat Weraki yang belum lama pergi ke dalam rumah, Beatrice berinisiatif untuk menemui kedua lelaki itu yang sudah berada di depan pintu rumah Weraki. Namun, ketika ia membuka pintu tiba-tiba saja Weraki berjalan begitu cepat bahkan hampir menabrak wajah dari Beatrice. Melihat akan hal itu, langsung saja Beatrice mengikuti ke mana perginya Weraki.
“Ya ampun, ternyata kalian sudah kembali. Benar dugaanku jika kalian pergi ke ladang untuk mengambil hasil panen,” tutur Weraki.
Beberapa saat setelahnya, Beatrice menampakkan diri dari balik tubuh Weraki. Di saat yang bersamaan, Vulken bersama yang lainnya pun ikut ke luar dari bagian kanan rumah Weraki. Dengan hangatnya Vulken langsung menyapa kedua lelaki tersebut dengan senyumannya.
“Astaga, bagaimana cara menjelaskan ini?” Weraki terlihat sedikit panik entah kenapa. “Vulken, dan yang lainnya. Perkenalkan kedua orang ini adalah dua muridku yang sempat kusebut tadi. mereka adalah Lori dan Sinba.” Weraki memperkenalkan kedua muridnya. “Lalu Lori, Sinba. Perkenalkan mereka adalah orang-orang yang sedang dalam perjalanan dan mereka juga dipilih oleh para leluhur desa di jembatan gerbang pertahanan. Yang ini adalah Vulken, Zed lalu Drue. Serta yang berada di belakangku adalah Beatrice. Aku tidak salah dalam menyebutkan nama kalian, kan?”
Vulken langsung saja menggeleng untuk mengatakan `tidak` pada Weraki tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Setelah Weraki saling mengenalkan mereka, mereka pun saling berkenalan dengan saling berjabat tangan. Terdapat perbedaan mencolok antara kedua murid Weraki itu. Sinba memiliki postur yang lebih kecil tapi dengan tubuh yang berisi. Sementara Lori tubuhnya jauh lebih tinggi tapi tidak terlalu berisi seperti Sinba.
“Oh ya, Lori dan Sinba. Maaf karena harus memberikan informasi yang mendadak ini kepada kalian. Jadi, mereka berempat akan bermalam di sini untuk hari ini saja. Untuk sementara waktu, kalian bisa tidur bersama yang lainnya di ruangan bagian kanan. Sementara itu Beatrice akan menempati kamar tamu untuk hari ini saja. Kalian tidak keberatan, kan?” tanya Weraki setelah ia menjelaskan jikalau Vulken dan yang lainnya ingin bermalam hingga esok hari.
Sinba langsung tersenyum. “Tidak masalah, lagi pula hanya untuk satu hari. Senang bisa bertemu dengan kalian. Sudah hampir tidak ada orang lagi yang berkunjung ke desa ini. Mungkin karena jembatan tidak mengizinkannya,” ujar Sinba.
“Oh ya, Paman Weraki. Di mana kami bisa menaruh hasil panen ini?” tanya Lori.
“Seperti biasa, taruh saja di dekat dapur. Malam ini kita akan makan-makan bersama yang lainnya. Ini untuk para arwah leluhur juga yang sudah berpesan untuk mengantarkan kalian. Setelah itu Sinba dan Lori bisa memindahkan barang-barang yang akan digunakan untuk hari ini dari kamar tamu ke ruangan kanan.” Weraki berkata.
“Hei, bukankah itu sangat merepotkan? Kami baru saja datang ke sini,” tanya Vulken.
Weraki tertawa kecil. “Tentu saja tidak akan merepotkan. Karena kalian belum tahu, sebenarnya jika aku sedang mendapatkan panen dari ladang pun aku kerap makan-makan bersama Sinba dan Lori. namun, tetap ada sebagian hasil panen yang diberikan pada warga sekitar. Itu tradisi yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun.”
“Baiklah kalau begitu, kami izin masuk terlebih dahulu untuk menaruh hasil panen ini. Kami permisi,” kata Lori dengan begitu lembutnya. Mereka berdua pun pergi ke dalam rumah.
Vulken bersama yang lainnya pun kembali ke dalam kamarnya begitu juga dengan Beatrice. Di dalam ruangan kanan rumah Weraki, tiga orang yang berdarah bangsawan kerajaan Frist memulai pembahasan tentang perjalanan mereka selanjutnya.
Kali ini Zed yang memulai pembicaraannya. “Jadi, bagaimana dengan tujuan kita selanjutnya? Kurasa kita butuh perencanaan serta bekal yang cukup mengingat yang kali ini adalah perjalanan yang panjang.” Zed bertanya.
“Ya, kau benar Zed. Kita setidaknya perlu tujuan apa-apa saja yang akan dilakukan. Kita tidak bisa hanya berjalan mengikuti ke mana arah mata hari terbit di Meideleenia,” ujar Drue.
Vulken menarik napasnya dalam-dalam lalu menghempaskannya perlahan. Ia memejamkan matanya sesaat. "Jadi, setelah ini aku sudah berniat untuk menanyakan kembali pada Weraki jalur mana yang terbaik untuk pergi ke arah timur. Kita juga sepertinya memerlukan beberapa bekal khususnya air minum.” Vulken berkata.
“Yang menjadi perhatianku saat ini adalah jika jalan satu-satunya untuk ke sana ialah langsung melalui bukit Andhiel dan Anthiel. Kita tidak pernah tahu bagaimana kuatnya mereka, terlebih mereka adalah dewa,” ucap Drue.
Vulken menundukkan kepalanya. “Ya, Paman benar. Apalagi mengingat Weraki yang berkata kalau sudah banyak orang yang pergi ke sana tapi tidak ada yang selamat bahkan tidak ada yang pernah kembali bukan katanya?”
Drue dan Zed mengangguk setelah mendengar Vulken. Mereka pun merenungi hal tersebut. Bagaimana baiknya untuk melanjutkan perjalanan ini. Pergi ke timur benua Meideleenia dan mencari s*****a pusaka yang diturunkan oleh keluarga Frist untuk kembali menyegel iblis yang bersarang di ruang bawah tanah istana kerajaan.
Beralih pada Beatrice yang kembali duduk di pinggir kasur ruang tamu dan melihat ke luar jendela. Kembali melihati satu atau mungkin dua orang warga desa yang masih sibuk dengan urusannya masing-masing. Ke sana kemari membawa barang.
“Apa mungkin memang sedang musim panen ya di desa ini? Maka dari itu warga desa terlihat cukup sibuk membawa barang ke mana-mana. Padahal rumah ini jatuhnya berada di paling pojok desa, tapi tetap saja warga yang bolak-balik seakan tiada hentinya.” Beatrice berbicara dengan dirinya sendiri selagi ia menikmati udara desa yang bersirkulasi dengan baik.
Beberapa saat setelahnya, ada suara ketukan pintu dari luar. Beatrice langsung bergegas untuk membukakannya. Ternyata yang mengetuk adalah Lori, Sinba pun ada di belakangnya.
“Permisi, jika aku tidak salah namamu adalah Beatrice, kan?” tanya Lori.
“Ya, benar. Kau Lori dan yang ada di belakangmu itu Sinba. Aku akan mengingatnya!”
Ketiganya malah tertawa di saat yang bersamaan entah karena apa. Mungkin mereka canggung pada saat bertemu langsung dari jarak yang dekat.
“Emm, apa kalian ingin memindahkan barang-barang kalian ke ruangan tempat Vulken dan yang lain?” tanya Beatrice.
Entah bagaimana tapi Lori bersama Sinba dapat mengangguk di waktu yang sama dengan kecepatan dan gerakan yang nyaris tidak ada bedanya. Beatrice sedikit terkejut dengan melihat keduanya sedikit aneh.
Kini Sinba yang berbicara. “Kami hanya ingin mengambil beberapa barang saja. Sisanya akan kami tinggalkan di sini. Bolehkah kami masuk untuk mengambilnya?” tanya Sinba.
Beatrice langsung mengangguk dengan senyumannya. “Tentu saja boleh, silakan masuk!” Beatrice mempersilakan Lori dan Sinba masuk untuk mengambil barang-barangnya.
Saat kedua murid Weraki itu mengambil beberapa barang dan Beatrice berada di belakang mereka. Beatrice tampak menggigit bagian pinggir bibirnya. “Astaga bagaimana mengatakan hal ini?” batin Beatrice seperti ada yang ingin dia katakan.
Setelah menenangkan dirinya, akhirnya Beatrice pun berbicara. “Emm, mungkin sedikit aneh untuk menanyakan hal ini. Bolehkah aku tahu sihir macam apa yang bisa kalian gunakan? Aku sangat terkesan melihat sihir milik Weraki.”
Keduanya pun berbalik. “Kau menanyakan kami?” tanya Lori dan langsung diiyakan oleh Beatrice. Alih-alih menjawabnya, Lori malah menutup jendelanya dengan rapat-rapat. “Tentang sihir kami adalah sebuah rahasia yang tidak semua orang dapat mengetahuinya. Bahkan yang mengetahui sihir kami hanya Weraki saja.”
Beatrice memiringkan kepalanya. “Memangnya sihir apa yang kalian miliki sampai-sampai menjadi rahasia seperti itu?” tanya Beatrice.
Lori menundukkan kepalanya. “Kekuatan yang besar dan dapat menghancurkan dan ….”
Beatrice tiba-tiba saja menatap ke dalam bola mata Lori. “Iblis, aku tahu itu kekuatan iblis. Kau tidak memiliki tanda iblis di tubuhmu. Namun, tandanya berada di matamu,” ucapnya.
Lori dan Sinba langsung terkejut ketika mendengarnya langsung dari mulut Beatrice.
“Kau paham tentang tanda iblis? Aku baru pertama kali ini bertemu dengan orang yang langsung mengetahuinya hanya dalam beberapa saat setelah bertemu,” ujar Lori.
“Apa kau memilikinya juga?’ tanya Sinba kepada Beatrice.
Jelas Beatrice langsung menggeleng karena memang ia tidak memiliki kekuatan iblis di dalam dirinya. “Aku tidak memilikinya. Tapi aku adalah penyihir yang dapat menggunakan dua atribut sihir sekaligus. Angin dan listrik, mungkin suatu saat nanti aku dapat melakukan gabungan dari keduanya,” ujar Beatrice seraya ia tersenyum tipis.
“Hei, bagaimana bisa kau paham dengan tanda iblis itu?” Lori mengulang pertanyaannya.
“Kami sebagai prajurit kerajaan Frist memiliki sedikit pengetahuan akan hal tersebut,” jawab Beatrice dengan santainya.
“Kalian prajurit kerajaan?” Lori dan Sinba mengatakannya di saat yang bersamaan. Mereka tampak amat terkejut bahkan mundur selangkah seolah ingin menjauhi Beatrice.