XVIII. Kekuatan Tersembunyi

1128 Kata
Beatrice menyeringai setelah melihat ekspresi terkejut dan tidak percaya dari Lori serta Sinba. “Aku tebak kalian tidak pernah pergi ke gerbang pertahanan. Bukankah begitu?” tanya Beatrice. Sinba berdecak tiga kali dengan cepat seraya menggelengkan kepalanya. “Wajar karena kau pendatang di sini. Jadi tidak akan tahu peraturannya. Kami sebagai warga desa tidak pernah diperbolehkan untuk pergi ke luar desa. Hanya para pasukan penjaga gerbang dan yang memiliki kepentingan khusus yang dapat melalui jalur jembatan tua.” Sinba memberi tahu Beatrice. “Hmm, maka dari itu pakaian kalian terkesan mirip walau tidak sama. Apakah itu seragam prajurit dari kerajaan Frist?” tanya Lori. Beatrice mengangguk. “Ya, warna merah gelap ini sangat identik dengan kerajaan Frist terutama dengan sang raja yang memiliki atribut sihir api,” kata Beatrice. “Ah, benar. Aku pernah mendengar cerita tentang raja kerajaan Frist. Sihir apinya terkenal dapat menghanguskan ratusan pasukan dalam sekejap,” ucap Lori dengan matanya yang melebar seperti ia sangat tertarik dengan pembicaraan itu. “Jika kalian sudah membawa semua barang yang akan dipindahkan, bagaimana jika kita bersama-sama ke ruang kanan rumah Weraki? Setelah berkenalan denganku kalian juga perlu berkenalan dengan yang lainnya bukan? Apalagi kami hanya akan berada satu malam di sini,” ujar Beatrice. “Ya … sekaligus kami berkenalan dengan yang lainnya. Semua barang yang kubutuhkan juga sudah berada dalam genggaman. Ayo kita pergi,” ajak Lori. Ketiganya pun pergi meninggalkan ruangan lalu segera menuju ruangan bagian kanan. Lori dan Sinba memindahkan sebagian barang mereka, sedangkan Beatrice hanya menemani mereka saja. Beralih terlebih dahulu kepada Vulken bersama dengan Zed serta Drue. Mereka tampak sedang berkumpul di atas matras, duduk menyila membentuk posisi setengah lingkaran. Saat ketiganya terdiam, entah mengapa Vulken mulai merasakan keringat dingin di tubuhnya. Ia bahkan sampai mengelap keringat yang terjun bebas dari dahi ke pipinya, “Ada apa denganmu, Vulken?” tanya Zed. Vulken malah menghela napasnya dalam-dalam. “Entahlah, aku pun tidak tahu. Tiba-tiba saja kepalaku terasa sedikit pusing. Padahal seperti beberapa saat yang lalu aku sungguh merasa baik-baik saja,” tutur Vulken menjawab Zed. Tak lama setelah Vulken mengatakan hal itu, terdengarlah suara ketukan dari luar. Jelas sekali suara Beatrice memanggil setelah ketukan tersebut. Zed yang kebetulan posisinya berada di dekat pintu langsung membukakan pintunya. Ada Beatrice di sana juga Lori dan Sinba yang akan pindah tempat untuk bermalam di ruangan yang sama dengan yang lain. “Wah, kau bersama Lori dan Sinba ya? Ayo masuk, kami sedang mengobrol santai di dalam.” Zed langsung mengajak ketiganya untuk masuk ke dalam. Mereka masuk ke dalam, Sinba yang masuk paling terakhir menutup pintu. Di saat yang bersamaan ketika Beatrice, Lori dan Sinba duduk, tiba-tiba kain penutup mata kiri Vulken mengendur dan terjatuh. Saat itu pula Lori dan Sinba sangat terkejut ketika melihatnya. Namun, Drue langsung memberikan isyarat pada keduanya untuk tetap diam saja. “Namamu Vulken, kan? Jabat tanganku,” ujar Lori seraya ia mengulurkan tangannya pada Vulken. Vulken pun berdiri di atas matras. Awalnya Vulken kebingungan, tapi ia tidak mengambil pusing dan langsung menjabat tangan Lori begitu saja. Tanpa diduga, muncul sebuah percikan energi sihir yang begitu kuat. Bahkan beberapa saat setelahnya muncul tiga lingkaran sihir berwarna hitam pekat sekaligus di antara tangan Vulken dan Lori yang tengah berjabatan. “Astaga, demi seluruh dewa dan dewi aku tidak pernah melihat hal ini.” Sinba bersumpah dengan spontan. “B- bagaimana bisa tiga lingkaran sihir sekaligus terbentuk hanya dengan bersentuhan tangan? Ini sangat aneh apalagi melihat warna lingkaran sihir serta energi yang dipancarkannya,” gumam Beatrice bertanya-tanya. Hanya beberapa saat, mungkin hitungan jari setelahnya. Tercipta sebuah pelindung sihir di antara Vulken dan Lori. Energi sihirnya begitu besa sampai-sampai yang lainnya harus mundur beberapa langkah. Beatrice pun sampai menempelkan bagian punggungnya dengan pintu. Namun, dari raut wajah yang diciptakan Beatrice sepertinya ada sesuatu yang tidak beres. “Energi sihirnya tidak terasa di pojok sini, itu adalah tipe pelindung sihir yang menahan seluruh energi sihir untuk menyebar!” seru Beatrice. “Haruskah kita keluar dari ruangan ini? Aku hanya takut pelindung sihirnya pecah dan meledakkan seluruh energi sihir di dalamnya,” ungkap Sinba akan kekhawatirannya. Mendengar Sinba, Zed pun langsung menolaknya mentah-mentah. “Tidak, jangan meninggalkan mereka di sini. Selama belum terlihat akan bahayanya, kita harus tetap di sini. Kita tidak tahu apakah mereka akan membutuhkan bantuan kita atau tidak,” ujar Zed. Pelindung sihir yang energinya amat kuat saat didekati itu pun sepertinya belum cukup. Tidak lama setelah itu tubuh Vulken dan Lori terangkat seperti mengambang ke udara walau tak begitu tinggi. Mata keduanya berubah menjadi hitam dan seperti sudah kehilangan kesadaran juga kendali atas tubuhnya entah itu Vulken maupun Lori. “Aku ingat sekarang, lingkaran sihir itu … lingkaran sihir iblis! Mereka sedang berkomunikasi satu sama lain,” ungkap Drue yang sepertinya baru mengingat peristiwa di masa lalu ketika terjadi perang dengan para iblis. “Bagaimana kita dapat menghentikannya?” tanya Sinba kepada Drue. “Tidak ada cara untuk menghentikannya karena tidak satu pun dari kita yang memiliki kekuatan iblis. Hanya mereka sendiri yang dapat menghentikannya karena dari yang kutahu mereka hanya berkomunikasi satu sama lain. Antara iblis dan iblis,” ujar Drue. “Antara iblis dengan iblis? Astaga apakah ini masuk akal untuk terjadi?” Beatrice mengulang kalimat akhir Drue dan mempertanyakannya. Setelah Beatrice berkata seperti itu, Zed langsung menjawabnya. “Kau tidak perlu bertanya lagi. Sedang terjadi di depan matamu dan jelas masuk akal karena Vulken memilikinya." "Lori juga memiliki kekuatan iblis di dalam dirinya," ujar Sinba membuat Zed dan Drue terkejut. Tidak ada hentinya untuk membuat yang lain panik serta kebingungan di saat bersamaan, kini kembali muncul perubahan fisik di antara Vulken dengan Lori. Dimulai dari mata kiri Vulken, tanda iblisnya mulai menyebar ke seluruh tubuhnya mulai wajah hingga ke ujung kaki secara perlahan. Tidak semuanya menjadi hitam, tetapi seperti huruf sihir pada lingkaran sihir yang menyebar ke seluruh tubuhnya. Kasus berbeda pada Lori yang memiliki tanda iblis di dalam pupil matanya. Ujung-ujung jarinya menghitam dan perlahan menghitamkan bagian telapak tangannya tapi tidak sampai ke bagian lengan. Setelah itu lehernya pun mulai menghitam dan menyisakan seperti sebuah simbol di bagian depannya. "Astaga, pemandangan mengerikan macam apa ini? Aku berharap mereka tidak kenapa-kenapa," gumam Zed. "Ketua, emm ... Drue. Apakah komunikasi antar kedua iblis itu berhenti pada wujud ini saja?" tanya Beatrice. "Jika ingatanku benar, seharusnya masih ada satu wujud lagi yang akan ditunjukkan," ucap Drue menjawab pertanyaan dari Beatrice. Baru saja Drue ucapkan hal itu. Kembali terjadi perubahan pada Vulken dan Lori. Vulken menunjukkan tanduk di kepalanya serta tangan yang membesar dengan cakar tajam yang tumbuh dari kuku-kukunya. Lalu Lori yang menumbuhkan sayap pada punggung serta ekor di bagian belakang tubuhnya. Tidak hanya itu, pelindung sihirnya pun kian membesar dan hampir memenuhi seluruh ruangan. Hanya beberapa jengkal saja untuk Beatrice, Zed dan Drue terseret ke dalam pelindung sihir tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN