“Seseorang lakukan sesuatu dengan mereka. Ruangan ini semakin sempit dan udaranya semakin tipis,” ujar Beatrice.
“Aku tidak tahu harus berbuat apa, kekuatan mereka sangatlah besar,” kata Drue.
Sinba yang sejak tadi hanya diam dan melihat apa yang terjadi tiba-tiba saja memasang tatapan tajamnya. Ia mulai mengalirkan energi sihirnya perlahan hingga akhirnya energi sihir miliknya sendiri itu melapisi seluruh tubuhnya. Seakan tidak mau kalah dengan Vulken juga Lori, ternyata energi sihir yang dikeluarkan Sinba pun tak kalah besarnya.
“Dengan kekuatan dewa, akan kuakhiri kekacauan ini,” gumam Sinba. Beatrice serta Zed yang kebetulan berada di dekatnya juga mendengar gumaman itu amat terkejut.
Sinba bisa dikatakan sangat nekat karena ia memaksakan tangannya untuk masuk ke dalam pelindung sihir yang mengelilingi Vuken dan Lori hanya untuk melancarkan sihirnya. “Sihir dewa: Sky Arcane!” Setelah sihir itu dirapalkan Sinba, muncul kekuatan besar diikuti dengan cahaya yang amat menyilaukan.
Drue beserta Zed langsung menutupi matanya saking silau cahaya yang dihasilkan oleh Sinba. Lain halnya dengan Beatrice yang hanya menutupi sebagaimana matanya saja karena ia ingin melihat apa yang terjadi. Tidak sia-sia ia menahan matanya sesaat untuk melihat bahkan sampai mengeluarkan air mata dengan sendirinya karena semua itu terbalaskan. Ia melihat sosok seorang laki-laki dengan tubuh yang amat proporsional, tetapi sekilas Beatrice melihat sayap di bagian punggungnya. Sama seperti Lori, hanya berbeda warna saja. Beatrice yakin itu adalah wujud dewa yang sempat dikatakan oleh Sinba tadi. Karena memang cahayanya yang begitu terang, setelah melihat sekilas apa yang dilakukan Sinba, Beatrice pun ikut menutupi matanya juga seperti Zed dan Drue.
Beberapa saat setelahnya, semua suara gaduh pun menghilang dan tidak ada lagi yang merasakan kekuatan sihir besar saling bertabrakan seperti beberapa saat lalu. Seakan semua lenyap hanya karena satu mantra sihir dari Sinba.
“Apakah ini sudah berhenti?” tanya Zed yang masih menutupi matanya.
Beatrice, Zed dan Drue perlahan membuka mata mereka. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat Vulken, Lori dan Sinba sudah tergeletak di atas matras yang hampir memenuhi seisi ruangan. Dengan cepat mereka langsung mencoba untuk membangunkan di antara ketiganya yang pingsan.
“Zed, ayo sejajarkan tubuh mereka. Jangan dibiarkan tergeletak dalam posisi seperti ini.” Drue meminta bantuan kepada putranya.
Setelah tubuh ketiganya sejajar, Beatrice memberikan selimut kepada ketiganya. Ia pun setelahnya mencoba menyentuh dahi masing-masing dari mereka untuk mengetahui kondisinya saja. Tubuh Vulken dan Lori begitu dingin seperti es, sedangkan tubuh Sinba panas sekali seperti berada di samping bara api.
Drue menghempaskan napasnya lega. “Beruntung dua wujud tadi tidak tertinggal pada tubuh mereka. Jujur saja itu menyeramkan dengan kekuatan sihir yang berkali-kali lipat besarnya bahkan dari sihir milikku sendiri,” ujar Drue.
Beatrice tampaknya menyadari suatu hal setelah itu. “Hei, lihatlah ke mari. Tanda iblis di bagian mata kiri Vulken sudah menghilang!” Dengan ucapan itu Beatrice berhasil membuat Zed dan Drue tidak percaya dengan apa yang benar-benar terjadi. Semuanya sungguh terjadi dengan begitu cepat dan tidak terasa seakan waktu berputar dua kali lebih cepat.
“Apakah aku harus senang akan hal ini? Apakah iblis di dalam tubuh Vulken sudah menghilang atau bagaimana?” tanya Zed.
“Drue, bagaimana dengan sang raja. Apakah ia pernah memiliki tanda iblis seperti Vulken juga?” tanya Beatrice.
Drue tidak menyangkalnya sama sekali. “Tentu saja pernah, tapi seingatku itu tidak berlangsung lama dan entah bagaimana caranya pula ia menghilangkan tanda iblis itu dari tangannya. Namun, dari yang kuingat tanda iblis itu menghilang beberapa hari sebelum hari pernikahannya. Aku juga tidak dapat langsung menyimpulkan untuk hal ini. Biarkan mereka bertiga istirahat saja terlebih dahulu. Banyak energi sihir yang sudah mereka keluarkan.” Drue berkata.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Weraki membuka pintu ruangan membuat Beatrice dan yang lain jelas terkejut. “Apa yang sudah terjadi di sini? Dengan sihirku aku bisa merasakan kekuatan abnormal di ruangan ini sampai-sampai membuatku pingsan,” tanya Weraki.
Drue mencoba untuk menarik Weraki masuk lalu Beatrice menutup pintu ruangannya. Ketika matanya ditatap langsung dan berhadap-hadapan dengan Weraki, Drue berpura-pura batuk. Tidak lama, ia pun memberanikan diri untuk berbicara. “Kami pun tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Intinya, tiba-tiba Lori meminta Vulken untuk menyentuh tangannya. Mereka langsung kehilangan kendali dan kekuatan iblis di dalam diri mereka pun muncul. Awalnya tidak ada yang dapat menghentikan mereka, bahkan sampai menampakkan wujud setengah iblis. Lalu di akhir, Sinba mengeluarkan sihir dewanya untuk menghentikan Vulken dan Lori. Berakhirlah sudah dengan ketiganya pingsan seperti apa yang ada di hadapanmu,” Ungkap Drue.
“Apakah ada perubahan fisik dari ketiganya?” tanya Weraki.
Beatrice menggelengkan kepalanya. “Hanya Vulken yang kehilangan tanda iblis di dahinya,” Beatrice berterus terang akan apa yang benar-benar terjadi.
Weraki menghempaskan napasnya seperti orang yang kecewa sambil memandangi Vulken bersama kedua muridnya yang belum menyadarkan diri terbaring di atas matras. “Kalian harus lebih menjaga Vulken. Dari yang Lori katakan kepadaku, jika orang yang memiliki tanda iblis kehilangan tandanya terlebih setelah menampakkan wujud setengah iblis, maka tandanya iblis tersebut sudah mengetahui keberadaan iblis yang lain dan akan hidup berdampingan dengan inangnya.” Weraki berkata.
“Jadi maksudmu setelah ini Vulken dapat berkomunikasi dengan iblis di dalam dirinya?” tanya Beatrice pada Weraki.
Weraki malah mengangkat kedua bahunya. “Aku pun tidak tahu apakah `hidup berdampingan` yang dikatakan Lori termasuk dengan berkomunikasi ataupun tidak,” jawabnya.
“Sekarang, apakah kita menunggu mereka sadarkan diri terlebih dahulu?” tanya Zed.
“Ya, lebih baik seperti itu. Rasanya mereka tidak bisa ditinggal dengan kondisi tidak sadarkan diri,” kata Weraki.
Drue terlihat memikirkan sesuatu. “Oh ya, Weraki. Bagaimana bisa Lori dan Sinba berada di desa ini? Bukankah desa ini adalah tempat orang-orang biasa?” tanya Drue.
Weraki pun mengangguk pelan. “Kau benar, desa ini memanglah tempat orang-orang biasa. Aku menemukan mereka saat tengah melakukan ekspedisi ke bagian barat desa. Menggunakan jalan memutar di kaki bukit Andhiel. Entahlah, aku merasa tidak enak menceritakannya kepada kalian,” ucap Weraki.
“Mengapa tidak enak? Apakah ada sesuatu yang tidak mengenakkan?” Drue kembali bertanya.
“Ah, baiklah. Karena kalian juga sudah dipilih oleh para leluhur desa … kurasa tidak apa-apa menceritakan hal ini. Jadi, saat itu tiba-tiba saja ada seorang laki-laki yang membawa bayi Lori dan Sinba. Ia memaksaku untuk membawanya dan aku pun tidak bisa menolah karena itu sangat tiba-tiba. Tidak lama kemudian munculah energi sihir yang tidak biasa. Laki-laki itu mengatakan kalau kedua anak bayi yang kubawa memiliki sihir dewa dan iblis. Ia memberi tahu nama Lori dan Sinba, lalu mengatakan bahwa aku harus cepat lari sejauh mungkin membawa mereka. Aku sangat bingung mendengarnya. Ia tiba-tiba mengaktifkan lingkaran sihir lalu seluruh tubuhnya berubah jadi abu dan menghilang entah ke mana. Karena ketakutan, aku pun lari secepat mungkin sambil membawa Lori dan Sinba ke desa. Dan ya ... aku membesarkan mereka seperti anak sendiri dengan dalih murid di desa ini.