“Jadi seperti itu ceritanya, aku mengerti sekarang mereka mereka bisa bertemu di sini. Namun, di luar hal itu kami memang sudah ditakdirkan untuk bertemu,” ucap Vulken yang masih terbaring di atas matras dengan matanya perlahan membuka.
Semua terkejut dan tidak percaya karena Vulken ternyata mendengar cerita awal mula Weraki bertemu dengan Lori dan Sinba. Pasalnya, sejak tadi Vulken, Lori dan Sinba masih belum juga sadarkan diri dan tiba-tiba saja ia menyaut setelah Weraki selesai bercerita. Saking tak percayanya, bahkan bibir Beatrice sedikit terbuka untuk beberapa saat tak menutup.
“Vulken, kau sudah benar-benar sadar?” tanya Zed yang sedikit ragu.
Alih-alih menjawab, Vulken malah tertawa lepas dengan tubuh yang masih terbaring dan pandangannya lurus ke langit-langit ruangan. “Tentu saja tidak, aku bukan Vulken. Namun, Vulken tetap mendengar cerita dari kakek tua itu juga perkataanku saat ini. Hanya saja ia tidak dapat memegang kendali atas tubuhnya sendiri,” ujarnya
Yang lainnya dibuat tambah kebingungan dan tidak percaya jika saat ini iblis yang berada di dalam tubuh Vulken sudah berhasil mengambil alih kendali atas tubuh Vulken. Bahkan ia dapat berbicara dan menjawab pertanyaan dari Zed.
Mungkin hanya hitungan detik setelah Vulken yang tubuhnya sudah dikuasai berbicara, tubuhnya kembali dikelilingi oleh energi sihir yang berkemungkinan besar adalah energi sihir dari iblis yang berada di dalam tubuhnya. Perlahan tubuh Vulken terangkat, melayang beberapa jengkal di atas matras lalu terbanting dan ia kembali tak sadarkan diri.
“Drue, katakan padaku kau pernah melihat ini terjadi kepada sang raja,” tutur Beatrice seraya melirik tajam ke arah Drue.
Drue menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak, aku tidak pernah melihat satu orang pun yang tubuhnya sampai diambil alih oleh iblis. Bahkan berbicara kepada orang lain, ini benar-benar pertama kali aku melihatnya.”
“Sekarang apa yang akan kita lakukan jika mereka masih tidak sadarkan diri?” tanya Zed.
Weraki menghela napasnya lalu mengembuskannya kembali dengan perlahan. “Bagaimana jika kau membantuku mengambilkan sarapan untuk kita di sini? Biarkan Beatrice dan Drue yang menjaga yang lainnya. Aku baru saja menyiapkan roti mentega dan beberapa sayuran sebelum akhirnya pingsan karena merasakan energi sihir besar secara tiba-tiba,” ujar Weraki meminta Zed untuk membantunya.
“Tunggu, sebelum kau pergi aku ingin bertanya. Apakah kau akan selalu bereaksi seperti itu jika sihirmu merasakan energi sihir yang begitu banyak secara instan?” Beatrice bertanya.
“Begitulah … karena sihir ini untuk mengetahui sejumlah ilmu pengetahuan, ia seperti memaksa untuk mengetahui hal baru dan energi sihir iblis itu sangat kuat sehingga energi sihirku bertabrakan dan menyebabkan aku pingsan. Ini adalah yang pertama kalinya setelah bertahun-tahun ketika ada gempa bumi besar saat aku belum lama pindah ke desa ini,” ungkap Weraki.
“Apakah aku perlu membantu untuk membawa makanannya ke sini?” tanya Drue menawarkan bantuan kepada Weraki.
“Tidak perlu, dua orang saja sudah cukup untuk membawanya,” kata Weraki menolak.
Setelahnya Weraki meninggalkan ruangan diikuti oleh Zed dibelakangnya. Sementara itu tidak ada yang dapat dilakukan oleh Beatrice dan Drue selain menunggu yang lainnya sadarkan diri. Beralih ke bagian dalam rumah Weraki, arsitektur pedesaan dengan begitu banyak warna coklat dari kayu yang menjadi bahan dasar perabotannya. Di atas sebuah meja, ada satu tampah berukuran sedang yang dipenuhi dengan roti juga buah-buahan. Rotinya mengeluarkan aroma yang sangat menggugah selera, begitu pun dengan buah-buahannya yang terlihat sangat segar. Zed yang penasaran langsung mendekatinya, lalu perlahan ia mengambil sebuah roti. Ternyata di dalam tumpukan roti dan buah itu ada juga beberapa sayuran.
Weraki tertawa kecil melihat tingkah Zed yang terlihat begitu penasaran dengan roti yang ada di atas tampah miliknya. “Langsung makan saja jika kau mau, tapi jangan langsung kau habiskan semuanya. Yang lain belum sarapan sama sekali. Bawalah tampah itu, aku akan mengambil air minum untuk kita,” ujar Weraki seraya pergi mengambil air.
Zed kembali mendekati tumpukan makanan tersebut lalu mulai menghirup aromanya perlahan. “Astaga, di dalam istana aku tidak pernah mencium aroma makanan seenak ini. Jika aku tebak, mungkin Vulken sudah sering memakan makanan seperti ini. Mengingat dia adalah pangerannya … tapi masa bodoh dengan hal itu, yang penting aku bisa menikmatinya lebih dulu dari Vulken.” Entah kenapa Zed berbicara dengan dirinya sendiri sambil berbisik-bisik.
Setelah memakan habis satu roti, lagi. Zed mengangkat tampah tersebut untuk membawanya ke ruangan di bagian kanan rumah Weraki. Belum melangkah sedikit pun, ternyata Weraki sudah kembali membawa beberapa botol penuh dengan air minum.
“Eh, kau ternyata masih di sini. Tidak langsung mengantar ke sebelah?” tanya Weraki.
Zed tersenyum lebar. “Satu roti, rasa dan aromanya benar-benar enak!”
Weraki tersenyum sambil menggelengkan kepalanya keheranan. “Astaga, ada-ada saja kau ini. Ayo kita antarkan makanan dan air minum ini ke sebelah. Jangan sampai perut mereka kosong, bisa sakit nantinya.”
“Aku harap, tak lama setelah ini entah Vulken, Lori ataupun Sinba sudah sadarkan diri.”
Weraki tidak menanggapinya sama sekali dan langsung pergi ke luar ruangan. Zed mau tidak mau mengikutinya sambil membawa tampah yang penuh akan makanan dengan berhati-hati.
Kembali masuk ke dalam ruangan tempat Beatrice dan Drue menunggu. Membawa makanan beserta air minum sepertinya cukup untuk membuat mereka sedikit lebih tenang.
"Silakan, disantap terlebih dahulu sarapannya. Maaf karena aku hanya memiliki makanan ini. Tapi tenang saja, roti dibuat oleh warga desa lalu buah dan sayurnya adalah hasil panen yang dibawa pagi tadi oleh Lori dan Sinba." Weraki mempersilakan Beatrice dan Drue untuk menyantap sarapannya.
"Kalian tidak perlu terlalu pusing memikirkan Vulken, Lori ataupun Sinba. Aku yakin tak lama lagi mereka akan sadarkan diri," ujar Zed mencoba menenangkan Beatrice dan Drue.
"Baiklah, mungkin mengisi perut lebih baik daripada hanya menunggu tak melakukan apa pun." Drue berkata seraya mengambil satu roti dari atas tampah yang tadi dibawa Zed.
Beatrice menghempaskan napasnya. "Aku akan mengambil buahnya, ya? Sudah lama rasanya tidak memakan buah segar yang baru dipetik dari pohon." Ia pun mengambil sebuah apel dan memakannya dengan perlahan.
"Makan saja sesuai dengan kebutuhan kalian. Jika ingin minum, aku membawakannya juga untuk kalian." Weraki berkata. Setelah itu ia juga ikut mengambil sebuah roti sambil menunggu Vulken dan kedua muridnya sadarkan diri.