Kini Vulken bersama yang lainnya sedang menyusuri jalan yang terakhir kali mereka lihat digunakan Lori juga Sinba sebelum mereka tak terlihat lagi. Hanya jalanan pedesaan biasa dengan bebatuan kecil di mana-mana. Di kanan dan kiri juga diramaikan oleh rerumputan dan beberapa pohon yang berdiri tegak, kokoh dengan daun dan ranting nan rimbun. “Jalan ini cukup sempit, tidak ada jalan berbelok sama sekali dan hanya lurus. Memang perasaanku saja atau berjalan di sini lebih melelahkan?” keluh Vulken bertanya. “Mungkin kau merasakan jalanan ini hanya lurus landai saja. Namun, jika kau perhatikan dengan baik jalanan ini sebenarnya menanjak. Aku langsung mengetahuinya karena lipatan bada sepatu besiku dalam sudut yang berbeda.” Drue menanggapi keluhan Vulken. “Astaga, kau bahkan menghitung perb

