Master Ekkehard tidak pernah mengajari kami cara bertarung, karena menurutnya, pencuri yang hebat dapat menyelesaikan misinya tanpa perlu bertarung.
Setidaknya begitulah pemikiranku, sebelum akhirnya, Master Ekkehard mulai mengajarkanku dan Amicia cara bertarung, tepat di tahun kelima kami menjadi muridnya.
Hari itu, Masterku tiba-tiba membawa masuk berbagai macam senjata ke ruang latihanku dan Amicia. Panah, kapak, pedang, pisau dan tombak dibiarkan tergeletak di depan kami.
"Pilih satu senjata, dan kuasai senjata itu, hingga kalian percaya diri dapat mengalahkan lebih dari lima orang, " ujar Masterku hari itu. Kalimat yang selalu aku ingat, sebelum aku benar-benar bertarung.
Saat itu, aku langsung memilih dua pisau kembar yang ada di paling pojok. Mungkin Masterku juga berharap agar tidak ada di antara aku maupun Amicia yang mengambil senjata itu.
Master Ekkehard tidak memarahiku, meskipun aku mengambil senjata yang aneh alih-alih pedang atau panah yang lebih banyak digunakan.
Sejak saat itu hingga hari ini, aku tidak pernah mengubah senjata kesukaanku. Meskipun aku dapat menggunakan pedang, atau panah, tetapi pisau kembar adalah senjata terbaik yang dapat kugunakan.
Lima tahun belajar mencuri, dan dua tahun mempelajari semua hal yang dapat kulakukan untuk bertahan hidup dengan dua pisau kembar. Tujuh tahun paling berharga yang ada di hidupku.
Kali ini, aku dan Amicia harus menggunakan kemampuan bertarung kami, alih-alih kemampuan mencuri. Keadaan sekarang, memaksa kami untuk mengeluarkan senjata yang tersembunyi di balik masing-masing jubah kami.
Amicia mengeluarkan pedang bermata dua kesayangannya dari dalam jubahnya, dan menyampirkan pedang milik Normen ke punggungnya. Cewek itu mengacungkan pedang miliknya tersebut ke prajurit manapun yang berani mendekat.
Dua pencuri Rebeliand sedang dikepung oleh belasan, bahkan mungkin puluhan prajurit terlatih dari segala sisi.
Kami yang lebih inferior dalam hal jumlah, membuat aku dan Amicia perlahan mendekatkan tubuh kami hingga posisi saling memunggungi, posisi ini akan membuat kami kuat dalam menyerang dan bertahan.
Berbeda dengan Amicia yang sudah mengacungkan pedangnya, dan menatap setiap prajurit dengan tatapan mengerikan. Aku tidak mau membunuh siapa pun, karena itu pisau kembarku masih berada di dalam jubahku.
"Kami bukan pencuri," Amicia menegaskan. "Kami datang untuk mengembalikan pedang Normen."
Inilah alasan kenapa Amicia selalu menyuruhku diam, karena otakku tidak secerdas dia dalam memutarbalikkan fakta. Kebohongan adalah senjata utama dari seorang pencuri, dan yang terbaik dalam melakukannya adalah Amicia.
Mendengar perkataan Amicia, beberapa prajurit mulai ragu, yang memberi cukup waktu bagi kami untuk memberi serangan kejutan. Saatnya bagiku menarik pisau kembarku keluar.
Kami berdua bertarung seperti kerasukan iblis paling jahat. Hal tersebut dapat dimaklumi, entah Amicia memiliki pengalaman bertarung sebelumnya atau tidak, karena dia sudah pergi mencuri sejak setahun lalu.
Namun, bagiku momen saat ini adalah pertarungan yang sesungguhnya yang pertama bagiku.
Kemampuan mencuri yang aku miliki memang terasah dengan baik, namun tidak dengan kemampuan bertarungku. Selama ini, kemampuan bertarungku hanya terasah saat latihan dan latihan. Sekarang adalah saatnya membuktikan hasil latihanku.
Pembuktian akan hasil latihanku, tidak mengurangi prinsipku untuk berusaha tidak membunuh seorang pun, sehingga fokusku ada di menyerang alat gerak mereka.
Beberapa saat lalu, saat Amicia mengulur waktu dengan mengakui bahwa kami sedang berencana untuk mengembalikan barang curian kami, yaitu pedang Normen, aku mendapat sebuah ide.
Uluran waktu dari Amicia dapat membuatku merencanakan siasat yang pasti efektif untuk menumbangkan mereka.
Semua prajurit ini memakai baju santai, sehingga tidak ada perlindungan sama sekali untuk tubuh mereka. Maka target spesifikku adalah lutut dan siku mereka, karena dua bagian itu adalah letak sendi gerak mereka.
Dari belakangku, terdengar teriakan pertempuran yang keluar dari mulut Amicia, yang artinya, iblis itu sudah memulai p*********n.
Sial! aku harus mulai menyerang, atau Amicia akan menghabisi semua orang. Cewek itu tidak pernah segan untuk mencabut nyawa orang lain.
Aku menerjang dua prajurit yang ada didepanku. Tepat saat keduanya mengangkat pedang masing-masing untuk menebasku, aku merunduk lalu menyabet lutut mereka. Dua prajurit yang kusabet langsung roboh, serangan akhirku adalah menggetok kepala mereka dengan gagang pisauku hingga mereka pingsan.
Dua prajurit langsung menerjangku, setelah aku berhasil merobohkan dua reka mereka. Tetapi mereka tidak membawa senjata apa pun, sehingga sudah pasti kemenangan untukku.
Aku menghindari beberapa pukulan tangan kosong yang diarahkan ke wajahku, lalu menancapkan pisauku di paha satu orang prajurit, dan satu pisau lagi untuk menyabet siku seorang prajurit.
Mereka memang prajurit sejati, karena meskipun aku menyerang titik vital yang sangat menyakitkan, mereka hanya menggeram kesakitan, bukan meraung atau menjerit.
Prajurit yang pahanya tertancap pisauku, mencabut senjataku dari tubuhnya. Dia memutar pisauku di tangannya, dan memakai senjataku untuk melawanku.
Inilah perbedaan antara latihan bertarung, dengan pertarungan yang sesungguhnya. Pertarungan asli dapat membuatmu melawan senjatamu sendiri, karena boneka jerami di ruang latihan, tidak mungkin mengambil senjatamu.
Prajurit itu tampak kikuk dengan sebuah pisau di tangannya, alih-alih sebilah pedang. Namun, aku sudah terlanjur kesal, karena dia sudah berani memakai pisauku untuk melawanku.
Aku menerjangnya lebih dahulu, karena memang seharusnya begitu. Gerakan pertamaku adalah menghindari sayatannya yang terlampau lemah.
Selanjutnya, aku menusuk belakang pahanya dengan pisau yang ada di tanganku. Dua kali diserang di bagian tubuh yang sama, membuat prajurit ini akhirnya meraung kesakitan.
Aku menutup pertarunganku dengannya, lewat sebuah tendangan yang tepat mengenai kepala si prajurit. Tendanganku membuatnya langsung pingsan di tempat.
Setelah pertarungan dengan prajurit sok berrani itu, adrenalinku meningkat pesat. Keringat mengucur deras di kulitku, namun tenagaku terasa masih penuh. Beberapa kali aku terkena pukulan, tapi aku tidak merasa sakit sama sekali.
Aku mencabut pisauku dari sepatu, belakang paha, b****g (pasti sakit sekali) para prajurit Donuemont. Sesekali aku membiarkan pisauku menancap cukup lama di bagian tubuh seseorang, entah itu telapak tangan atau lengan.
Masterku mengatakan bahwa kelemahan adalah keunggulan, jadi karena semua prajurit ini lebih tinggi dariku, maka aku tinggal serang bagian bawah mereka. Bagian yang sulit mereka tangkis, saat ada serangan yang mengarah ke bagian itu.
Satu per satu prajurit berhasil kurobohkan, hingga tersisa satu orang di depanku. Dia adalah prajurit yang membuka kedokku. Di wajah prajurit itu terdapat sebuah luka goresan yang berada tepat di bawah mata kirinya.
"Kalian berdua benar-benar hebat, dua puluh satu pengawal raja berhasil kalian kalahkan," pujinya.
Aku baru sadar kalau Amicia bergabung di sebelahku, setelah suara napasnya tang terengah-engah ada di sampingku.
Cewek itu bermandikan keringat, dengan tangan kanannya sedang menggenggam pedang berlumuran darah. Namun, aku baru sadar, kalau pedang yanv ada di tangannya, bukan milik Amicia.
Salah satu kebiasaan Amicia yang tidak kusukai (selain tidak segan membunuh), adalah dia selalu meninggalkan senjatanya, dan malah mengambil senjata orang lain.
Di sekujur tubuh Amicia terdapat luka sayat yang cukup banyak, bahkan terdapat luka di bibirnya. Namun dari raut wajahnya yang santai, aku menebak Amicia sedang dalam keadaan yang sama denganku. Adrenalin kami sedang memuncak, kami akan sangat sulit dihentikan.
"Mana pedang kesayanganmu?" bisikku pelan kepada Amicia, dengan kedua mataku tetap memandang lurus ke arah si prajurit.
Amicia tersenyum tipis. "Kalau kau tidak memakai pedang di punggungmu, maka akan kutebas kepala orang ini."
"Hei!" sergahku lirih. "Ingat rencana Yared? Kita harus menyisakan satu orang untuk mengaktifkan kekuatannya."
"Persetan dengan si culun itu," ujarnya tidak sabar. " Bahkan sampai detik ini, dia belum muncul di depan kita."
Lalu dengan gerakan yang sangat cepat, Amicia mengambil pedang di punggungku dan melemparkan pedang yang tadi dia pakai ke lantai, lalu cewek itu menerjang si prajurit.
Aku hanya bisa melihat Amicia menerjang prajurit itu sambil memegang pedang curianku, begitu juga si prajurit yang tampak terkejut saat melihat Amicia menerjang.
Kepala prajurit itu terpenggal oleh pedang di tangan Amicia, tanpa sempat menghindar, atau pun menangkis serangan Amicia. Bahkan kepalanya yang sudah terpisah dari lehernya juga menampakkan mimik wajah terkejut.
"Kau gila Amicia Ekkehard!" teriakku jengkel. "Lalu bagaimana kita bisa meminta bantuan Normen tanpa kekuatan Yared?"
Amicia hanya menatapku, lalu mengulurkan pedang itu kepadaku. "Sama-sama, sekarang kita cari Normen."
Aku mengambil pedang itu dari tangannya, lalu kembali menyarungkan benda itu ke punggungku, dan sebisa mungkin, menyusul Amicia yang masuk semakin dalam ke rumah Normen Harv
Sebisa mungkin aku juga berusaha tidak menginjak mayat para prajurit hasil p*********n Amicia, yang jumlahnya tidak lebih banyak dariku. Tetapi sekali lagi kutegaskan, bahwa Amicia menghasilkan mayat, sedangkan aku tidak.
"Aku sudah bilang kalau aku tidak percaya dengan Yared," gerutu Amicia setengah menggumam tanpa menoleh kepadaku. "Dan kita juga tidak tahu, akan apa yang dia lakukan jika dia bertemu Normen dan kekuatannya aktif, Yared adalah pedang bermata dua untuk tim kita."
Apa yang dikatakan Amicia memang benar, namun yang aku takutkan bukan Yared melainkan Normen. Seorang Falereus Knox dengan kekuatan sebesar itu, menantang Normen untuk bertarung, aku ragu jika kekuatan Normen berada dibawah Knox.
Jika dugaanku benar, maka menghampiri Normen dengan pisau dan pedang bukan sebuah ide yang bagus. Kita butuh Yared untuk elemen kejutan.
Aku menarik tangan Amicia hingga dia menghadapku. "Bukan rencana Yared yang kutakutkan, tapi kekuatan Normen," paparku pelan. "Normen adalah orang yang dicari Knox dan dilindungi Raja Donater sendiri."
Perkataankh membuat Amicia berpikir sejenak, hingga akhirnya dia mengangguk, sambil mengangkat kedua tangannya.
"Oke aku salah karena memenggal orang itu, namun sekarang prajurit yang menjaga rumah ini sudah habis, dan Yared masih belhm muncul," kilahnya.
Lalu Amicia melakukan sesuatu yang aneh, setelah mengakui kesalahannya. Cewek itu mengerutkan hidungnya sambil beberapa kali mengendus udara di sekitarnya. Dia tampak tidak nyaman dengan udara yang sedang berhembus di sekitar kami.
Sebenarnya aku merasa bahwa Yared sudah ada disini sejak tadi, karena di rumah ini menguar aura aneh di udara, seperti yang aku rasakan di rumah Yared.
Hanya saja alasan Yared tetap bersembunyi perlu dipertanyakan, karena kami sekarang sangat membutuhkannya.
Aku mencoba membangun kepercayaan dalam diriku untuk Yared. Saat ini, aku akan berpikir bahwa Yared si culun sedang bersembunyi di entah sudut mana rumah ini, dia sedang menunggu sebuah momen yang tepat untuk kemunculannya.
"Lass, kita harus mencari Normen tanpa Yared," usul Amicia lirih.
Aku mengangguk lemah menyetujui usulnya, karena kami tidak bisa mengandalkan Yared yang tidak tahu dimana. Kesempatan kami untuk menyelamatkan warga Rebeliand hanya ada, jika kami sanggup meyakinkan Normen untuk membantu kami.
Melihatku mengangguk maka Amicia kembali memimpin untuk menyusuri bagian dalam rumah ini.
Di bawah matahari siang kota Donuemont yang menyengat, lorong rumah Normen tampak terlampau rapi untuk ukuran rumah yang jarang ditempati.
Amicia memimpinku dengan luwes, seolah dia hafal bagian dalam rumah ini. Beberapa kali Amicia mengisyaratkan untuk berhenti, saat kami mendekati setiap pintu, lalu dia memintaku untuk menempelkan telinga dan mendengar pergerakan di dalam ruangan.
Sudah tiga pintu, dan keberadaan Normen masih belum tampak, begitu pun Yared. Amicia kembalj memberi isyarat untuk ke pintu selanjutnya, dia menyuruhku untuk mendekat.
"Ini adalah ruangan tempat kau mencuri pedang itu," bisik Amicia sambil menunjuk pintu di sebelahnya.
"Lalu?" tanyaku yang masih tidak paham arah pembicaraan Amicia.
"Pertarungan di ruang depan sudah pasti didengar oleh Normen," tebak Amicia. "Dia mungkin menunggu di dalam sini."
"Kau bercanda! Untuk apa dia menungg.... "
Aku tidak bisa melanjutkan perkataanku, karena pemikiran Amicia kemungkinan benar.
Amicia mengangguk pelan. "Kekuatan Normen jauh diatas si culun Yared, sehingga kita butuh keberuntungan untuk membujuk dia. Siap?"
Tanpa menungguku menjawab pertanyaaannya, Amicia langsung menerjang pintu tersebut.
Ruangan tersebut tampak seperti terakhir kali aku datang, kasur ukuran besar yang bjasa dimiliki bangsawan, tatakan pedang yang kosong, bahkan syal biru di jendela belakang yang menjadi penanda Amicia untuk rumah ini, sekarang tergolek santai di atas meja dekat jendela.
Namun ruangan ini tidak seperti prediksi Amicia, Normen sedang tidak menunggh kami di dalamnya. Amicia masih berusaha mencari sesuatu di seisi ruangan ini, sedangkan aku memutuskan untuk keluar dan mencari Normen di ruangan lain.
Brakkm
Pintu tertutup tepat sebelum aku berusaha keluar dari kamar ini.
Amicia berteriak dari ujung kamar,"Lass lempar pedang itu kepadaku!"
Kali ini aku tidak berusaha untuk mendebat Amicia, karena sudah jelas bahwa ini disebabkan kekuatan seseorang, dan kekuatan ini sangat berbahaya.
Aku menarik pedang tersebut dari sarungnya, lalu melemparkannya ke Amicia, dan begitulah koneksi kami yang sangat dekat (sebagai teman sejak kecil, bukan sebagai hal lain!) mengantarkan pedang tersebut mendarat mulus ditangan Amicia.
Amicia mengacungkan pedang tersebut ke udara kosong, sambil berseru nyaring, "Keluar Normen Harv, pedangmu ada ditanganku!"
Kegilaan lain yang kulihat hari ini bertambah, setelah semua yang terjadi hari ini, Amicia Ekkehard menyabetkan pedang curian tersebut ke udara kosong.
Seolah membalikkan keraguanku, sebuah suara ramah khas orang lanjut usia berbicara dari udara kosong, "Halo Nona Amicia Ekkehard dan Tuan Vhirlass Udhokh, silahkan duduk di tempat tidurku."
Sumber suara tersebut ada di depan Amicia, lalu perlahan udara di depan Amicia memadat menjadi sosok prajurit tua yang pernah kutemui sekali di gerbang selatan kota ini.
Pedang yang diacungkan Amicia hanya beberapa senti menyentuh mata Normen, tetapi orang tua jtu hanya menyentuh pedang tersebut dengan lembut, lalu menurunkannya perlahan dari depan wajahnya.
"Nona Amicia, anda boleh berhenti mencoba membunuhku," ujarnya ramah.
Akhirnya aku dan Amicia berhasil menemukan Normen, tiket untuk menyelamatkan Rebeliand.