Aku bersyukur, karena Normen tidak memilih bertarung dengan kami.
Beberapa saat lalu, aku sudah membayangkan diriku dan Amicia bertarung melawan Normen Harv, tanpa bantuan sihir sedikit pun. Bayangan itu muncul, karena Yared yang tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.
Aku tidak memiliki gambaran mengenai kekuatan asli dari Normen Harv, namun aku sudah mempersiapkan bahwa kekuatan pak tua ini minimal akan setara dengan Falereus Knox, si pria gila.
Ternyata dugaanku benar. Normen baru saja memamerkan salah satu kekuatannya, yaitu menjadi tidak terlihat, atau menghilang di udara kosong. Intinya, pak tua ini dapat muncul tiba-tiba di depan kami.
Tidak seperti Amicia yang kukenal, cewek itu menurunkan pedang curian itu dari wajah Normen. Padahal cewek iblis ini tidak pernah menurunkan pedang setelah dia sudah menghunusnya.
"Terimakasih Nona Amicia," kata Normen ramah, sambil tersenyum kepada kami. "Silahkan duduk Tuan Udhokh dan Nona Amicia."
Si kepala pengawal Raja Donater hanya memakai baju santai tanpa lengan, dan celana kain pendek yang hanya sampai di lututnya. Pakaiannya menjadi bukti bahwa kami sedang mengganggu liburan pak tua ini.
Terakhir kali aku bertemu dengannya di depan gerbang selatan, aku tidak dapat melihat rambut orang ini. Namun, karena sekarang bukan waktu berjaga baginya, aku dapat melihat rambut Normen.
Rambut pria tua ini berwarna perak seluruhnya, dengan panjang hambir menyentuh bahunya. Selain itu, di wajah orang ini terdapat sebuah luka besar di dahinya.
Normen tanpa pelindung kepala, adalah sosok yang akan mengintimidasi, jika kau tidak sengaja berpapasan dengannya di jalan.
Karena aku dan Amicia dipersilahkan duduk oleh Normen, maka responku adalah memindai isi kamar ini untuk mencari sebuah kursi.
Nyatanya, di kamar besar ini, hanya ada satu kursi, maka sudah pasti kursi tersebut akan ditempati oleh Normen. Kami sebagai tamu harus mengalah kepada sang tuan rumah, sehingga tempat tidur Normen yang akan menjadi tempat dudukku dan Amicia.
Sesuai dugaanku, Normen menarik kursi di belakangnya lalu duduk disitu. Melihat Normen yang sudah duduk santai, aku dan Amicia langsung beringsut duduk di tempat tidurnya.
Pria tua ini masih menatap kami dengan senyum ramah di wajahnya diarahkan kepada kami. Normen Harv adalah orang tua yang gagah, keriput di wajahnya tidak menandakan bahwa dia lemah, melainkan semakin mempertegas bahwa dia orang yang berpengalaman (jangan lupakan luka besar di dahinnya).
"Jadi kenapa kalian mencariku?" tanya Normen.
Keramahan Normen membuatku sedikit cemas, karena masalahnya, kami sudah menumbangkan para pengawalnya, mencuri pedangnya, dan Amicia yang hampir menusuk matanya.
Semua hal buruk yang terjadi di hidupnya belakangan ini berasal dari kami berdua. Sehingga aku tidak yakin, apakah kami layak mendapatkan keramahannya, alih-alih pertarungan dengan pria ini.
"Normen, kami butuh bantuanmu," ujar Amicia langsung ke intinya. "Desa kami diserang oleh... entah siapa, dan seluruh warga kami diculik oleh si penyerang."
Normen mengangkat alisnya, dan kedua matanya membelalak. "Bukankah desa kalian punya pertahanan yang kuat?" tanya Normen.
Lalu pandangan pria tua itu beralih kepadaku, sambil bergumam, "Dan keluarga Udhokh bukan seseorang yang mudah ditaklukkan."
Mungkin yang dimaksud Normen adalah keluarga Udhokh zaman dahulu. Karena seingatku, di keluarga Udhokh yang sekarang hanya aku yang sanggup bertarung.
Ayahku mungkin masih memiliki kemampuan bertarung, atau malah tidak sama sekali. Intinya, aku cukup pesimis dengan perkataan Normen bahwa seorang keluarga Udhokh susah dikalahkan.
Normen masih melihatku tanpa berkedip. "Kau Vhirlass Udhokh kan? Sepertinya ayahmu masih belum memberitahumu soal kekuatan rahasia keluarga Udhokh yang sebenarnya."
Sekarang Normen menyeret ayahku dalam pembicaraan ini, tetapi aku masih tetap dengan pendirianku bahwa Udhokh hanya memiliki aku sebagai pelindung.
Namun, perkataan Normen patut untuk diganjar perhatianku. Keluargaku tidak punya kekuatan, rahasia, atau kekayaan yang daoat aku banggakan ke orang lain.
Kalaupun keluargaku memiliki semacam rahasia, maka sudah pasti ayah, atau ibuku akan menceritakan kepadaku. Mereka tidak mungkin merahasiakan hal penting tentang keluarga, di saat hanya akulah satu-satunya generasi Udhokh di masa mendatang.
"Maaf Tuan Normen, kami disini bukan untuk membicarakan soal kekuatan Udhokh atau pertahanan Rebeliand," potong Amicia.
"Kami disini untuk meminta bantuanmu mengantar kami ke Preant, karena kami yakin tentara perak yang sudah membawa warga desa kami," lanjutnya.
Normen tersenyum kepada Amicia. "Kekuatan keturunan Udhokh adalah pembeda, kalau Tuan Lass dapat menguasai kekuatannya, maka kalian bisa dengan mudah ke Preant."
Oke, ini sudah ketiga kalinya Normen si pria tua ramah, yang dapat berubah wujud menjadi udara kosong menyebut soal kekuatan keluarga Udhokh. Aku merasa bahwa ada sebuah informasi penting yang tertahan di ujung lidah Normen.
Aku memutuskan untuk berani bertanya ke Normen, "Jadi apa sebenarnya kekuatan Udhokh? Dan bagaimana keluarga Udhokh bisa menguasai kekuatan tersebut?".
"Tunggu Lass!" sergah Amicia. "Bukan saatnya untuk kita mengetahui hal-hal pribadi, warga Rebeliand sedang menunggu untuk diselamatkan."
"Aku tahu, tapi jika ternyata aku punya kekuatan, maka kita tidak perlu takut dengan orang lain yang berkekuatan besar," balasku.
Amicia memutar bola matanya. "Karena itu Lass yang kucintai dan kusayangi."
Cewek itu menunjuk Normen. "Itulah alasan kita meyakinkan orang ini agar mau membantu kita, kekuatannya cukup besar untuk sekedar menyelamatkan warga Rebeliand."
Aku masih tidak terima dengan Amicia yang malah mengandalkan Normen, padahal menurutku jika salah satu dari kami memiliki kekuatan besar, maka kami tidak perlu mengandalkan orang lain.
Tapi secara tenggat waktu, aku mau tidak mau harus setuju dengan Amicia, kami kehabisan waktu.
Kekuatan keluarga Udhokh seperti kata Normen, bisa saja harus dikuasai dalam waktu yang lama. Bahkan kemungkinan terburuknya, kekuatan itu mungkin sudah menjadi legenda.
Aku menarik nafas panjang, lalu mengarahkan mataku ke Normen. "Jadi Master Normen, sekarang katakan pada kami bagaimana cara kami menyakinkanmu agar mau membantu kami?"
"Begini Tuan Udhokh," ujar Normen. Dia menunjuk ke pedangnya yang tersampir punggungku. "Kau sudah mendapatkan langsung bantuanku saat kau membawa benda itu."
"Maksud anda?" tanyaku kepada Normen.
"Pedang itu adalah salah satu senjata terkuat di Adon, bahkan Ueter. Banyak orang yang mencari pedang itu," papar Normen. "Jadi kesepakatannya adalah kau akan mengembalikan pedang itu, jika kita sudah menyelamatkan warga desa kalian."
Normen yang dapat muncul dari udara, memiliki musuh seorang tukang penggal kepala, dan dilindungi mati-matian oleh Raja Donater, malah pasrah membantu kami karena aku memiliki pedangnya.
Dan baru saja, dia mengatakan jika pedang dipunggungku ini adalah salah satu senjata terkuat di Ueter. Dan selama berpindah ke tanganku, pedang hebat itu baru sekali digunakan.
Amicia malah yang menjadi pemakai pertama pedang ini setelah kucuri, sekaligus yang merasakan memakai sebilah pedang hebat.
"Anda punya kekuatan yang sangat besar, kenapa anda tidak mengambil pedang ini dari saya?" tanyaku penasaran.
"Pertama, aku harus mengoreksi kalimat Anda," ujar Normen. "Kekuatan yang aku miliki belum cukup untuk dibilang sangat besar."
"Kedua, soal pedang itu, Oborotni tidak akan dapat digunakan secara maksimal jika bukan oleh pemiliknya, atau mendapat ijin dari sang pemilik. Fakta bahwa kau telah mencuri pedang itu, membuat benda itu sepenuhnya milikmu," imbuhnya.
Aku teringat dengan kejadian tadi pagi, saat Knox jauh-jauh ke Donater untuk bertemu Normen. Mungkin pedang ini alasan Knox menggedor Donuemont, dan alasan Hartash melindungi Normen. Aku tidak menyangka jika pedang yang kucuri ternyata sangat berharga.
"Memangnya, apa kekuatan pedang ini?" giliran Amicia yang melontarkan pertanyaan.
"Oborotni adalah sebuah senjata yang sangat fleksibel," jawab Normen. "Alih-alih sebuah pedang, benda ini lebih layak disebut sebagai gudang senjata."
Aku dan Amicia tidak merespon penjelasan Normen, karena kami membutuhkan lebih banyak informasi agar dapat mengeluarkan potensi terbaik dari senjata ini.
Melihat dua orang yang duduk di tempat tidurnya terus menatapnya tanpa henti, membuat Normen melanjutkan penjelasannya soal Oborotni dengan lebih rinci.
"Oborotni dapat berubah menjadi senjata apa pun," beber pria tua itu. "Aku selalu menyimpannya sebagai pedang, karena bentuk itu yang paling terlihat biasa di mata orang lain."
"Namun, kalau kalian dapat menguasai Oborotni, maka dia akan menjadi sesuatu yang bahkan hanya ada di imajinasi terliar kalian," imbuhnya.
Perkataan Normen terdengar seperti bualan di telingaku, namun orang ini mengatakannya dengan sangat yakin. Sehingga mau tidak mau, aku harus percaya padanya.
Percaya bahwa pedang di punggungku dapat berubah menjadi senjata apa pun, tergantung seberapa hebat aku menggambarkan senjata di otakku. Alasan yang logis dari Normen untuk tetap ingin memiliki Oborotni.
"Lalu bagaimana cara kami menguasai Oborotni secara penuh?" sergahku.
"Konsistensi," jawab Normen singkat. "Oborotni akan semakin mudah dikendalikan, jika kalian semakin sering menggunakannya."
Fakta singkat Oborotni yang dibeberkan Normen membuatku ingin menyimpan pedang ini lebih lama. Hal tersebut sangat masuk akal, jika kita baru menyadari bahwa sebuah benda hebat berada di genggaman kita.
Namun, aku masih belum mengerti dengan alasan Normen memilih membantu kami, alih-alih langsung membunuh kami. Jika dia begitu menginginkan Oborotni, pilihan untuk membunuh kami adalah yang paling mudah dilakukan.
Mungkin Normen menyadari mimik wajahku yang berubah licik setelah mendengar kekuatan asli dari pedangnya.
Pria tua itu menarik kursinya ke arahku, lalu mendekatkan wajahnya kepadaku. "Pedang itu hanya bisa dimiliki penuh jika aku membunuhmu, atau kau menyerahkan benda itu secara sukarela," bisiknya pelan.
Aku terkejut dengan kalimat yang Normen bisikan perihal 'aku membunuhmu' dengan santai, membuatku menelan ludah. Aku sangat yakin orang ini bisa dengan mudah membunuhku, tapi kenapa dia tidak membunuhku? Apakah karena aku memiliki keturunan Udhokh?
Aku memasang wajah santai meskipun Normen mengancamku. "Lalu kenapa Anda masih belum membunuhku? Karena aku adalah keturunan Udhokh?"
"Sebagian besar iya, karena aku ingin tahu kau menjadi sehebat apa nantinya," jawabnya jujur, sambil menjauhkan wajahnya dariku. "Sebagian lain dari diriku penasaran dengan tentara legendaris Preant, yang muncul setelah sangat lama tertidur pulas."
Sebesar apa aku nanti? Aku juga penasaran, setelah kami menyelamatkan warga Rebeliand, maka aku harus mencari tahu kekuatan Udhokh yang sebenarnya dari ayah.
Aku cuma ingin menjadi lebih kuat lagi, setelah melihat Falereus Knox, Yared si culun, dan Normen Harv menunjukkan kekuatan tidak masuk akal mereka di depanku.
Bukankah akan sangat hebat, jika seorang warga Rebeliand dapat menggunakan ilmu sihir?
"Jadi kapan kita mulai?" tanya Amicia yang sejak tadi hanya berdiam diri. "Warga kami sudah menunggu diselamatkan, sehingga kesepakatan apa pun, akan kami terima."
Aku yakin kalau Amicia mendengar ancaman Normen padaku, tetapi cewek itu tidak membelaku atau melakukan sesuatu yang mengindikasikan bahwa dia ada di pihakku.
Sekarang, topik yang kembali dia bahasa adalah tentang memulai rencana penyelamatan warga Rebeliand secepatnya. Seharusnya aku juga seperti cewek ini.
Alih-alih memikirkan soal Oborotni, atau kekuatan keluargaku, lebih baik aku mempercepat langkahku untuk segera menyelamatkan kedua orang tuaku, dan seluruh warga Rebeliand.
"Kita mulai dari sekarang," tegas Normen. Dia beranjak berdiri dari kursinya, lalu memindahkan kursi yang barusan dia duduki, dan berlutut di tempat kursi itu tadinya berada.
Normen mengetuk lantai rumahnya tiga kali dengan tangannya. Lantai kayu itu berderit pelan, lalu perlahan terbuka menjadi sebuah tangga ke bawah yang cukup untuk dilalui satu orang.
Normen menoleh kepada kami, dia tersenyum lebar. "Aku harap tunggangan kalian menunggu di Gerbang Timur," ujarnya.
Setelah itu Normen Harv sang pengawal Raja Donater masuk ke dalam lorong gelap tersebut. Dia menuntun kami untuk melalui sebuah jalan yang tidak akan melewati keramaian kota Donuemont.
Akhirnya misi penyelamatan kami dimulai, dan kali ini kami bersama seseorang yang memiliki kekuatan besar.
Semoga kami belum terlambat.