Bab 18 - Jalan Rahasia

1770 Kata
Baru kali ini aku tidak menyukai gelap. Di hari pertamaku berlatih untuk menjadi pencuri, Master Ekkehard hanya mengatakan bahwa pencuri tidak boleh takut dengan gelap. Aku dan Amicia mulai berlatih pada malam hari, sejak hari kedua pelatihan kami. Masterku terus memaksa kami untuk dapat beradaptasi dalam kegelapan. Alasannya sederhana, karena pencuri akan selalu beraksi saat malam. Tujuh tahun berlatih dalam gelapnya malam, membuatku terbiasa, bahkan leluasa untuk hidup dan beraktivitas pada malam hari. Bagiku, siang hari adalah waktu yang tepat untuk tidur, dan malam merupakan waktu terbaik untuk melakukan sesuatu. Namun, kegelapan yang saat ini kususuri bersama Normen dan Amicia benar-benar kegelapan yang pekat, bukan kegelapan yang membuat situasi menjadi menguntungkan untukku. Master Ekkehard tidak pernah melatih kami di kegelapan yang tanpa cahaya setitik pun. Pencuri juga perlu melihat keadaan, mengerti keadaan sekitarnya, dan cahaya adalah kunci utamanya. Intinya, kami bukan dilatih untuk selamanya dalam gelap, tetapi untuk dapat memanfaatkan cahaya sekecil apa pun. Dan sekarang, kegelapan lorong ini tidak memiliki cahaya sedikit pun. Karena itu, kami berdiri membentuk barisan dengan Normen berada di ujung terdepan, dan Amicia berada di paling belakang. Bukannya aku takut, namun Amicia yang memaksa untuk berdiri di barisan paling belakang. Ketiadaan cahaya memaksa kami untuk berjalan sambil memegangi pundak orang di depan kami. Tebakanku, dari raut wajah Amicia saat memaksaku menuruti permintaannya untuk berada di paling belakang, dia sepertinya tidak ingin memegang tubuh Normen. Cewek itu memang tidak pernah mau menyentuh orang asing. Aku juga pernah diperlakukan seperti itu olehnya, tetapi sekarang kami malah terlalu banyak bersentuhan. Sebagian besar terjadinya sentuhan antara aku dan Amicia, cewek itu yang selalu memulai lebih dahulu. Aku tidak akan menyentuhnya untuk hal-hal yang tidak penting. Sedangkan cewek iblis itu malah terlampau sering menyentuhku untuk sesuatu yang tidak penting, seperti kejadian memalukan di depan desa Tosval. "Nona Amicia masih dibelakang?" desis Normen. Namun, karena kami berada di ruang sempit garis miring lorong bawah tanah, maka suara kecil pun akan menjadi gema yang cukup kencang. Sudah sekitar sepuluh menit (atau lebih) waktu berlalu, dan kami pasrah saja dipimpin oleh Normen yang membawa kami menyusuri terowongan di bawah Donuemont dengan luwes, seolah dia sudah berkali-kali melewati lorong gelap dan pengap ini. Aku tidak ingat sudah berapa tikungan yang telah kami lalui, tetapi aku cukup yakin kami sudah sangat jauh dari rumah Normen. Bisa jadi kami berada di bawah kompleks timur laut, perumahan para bangsawan. "Aku baik-baik saja," sahut Amicia di belakangku. "Fokus saja kepada jalan yang kita tempuh, aku tidak ingin tersesat di terowongan pengap ini." Kedua tangan Amicia mencengkeram pundakku dengan keras, hingga aku merasa kalau jubahku akan robek setelah keluar dari terowongan ini. Tunggu, apakah Amicia yang tangguh sedang ketakutan sekarang? Saat aku memikirkan Amicia di belakangku, aku merasa ada sesuatu yang bergerak di bawahku, yang sangat mungkin adalah pemilik resmi dari terowongan ini, para serangga bawah tanah. Aku bersyukur karena hari ini aku memakai sepatu untuk melindungi kakiku, karena jika aku memakai sandal, maka ceritanya akan berbeda. Kakiku akan menjadi santapan empuk serangga-serangga yang tidak dapat aku lihat bentuknya ini. Dua dinding yang menghimpit di kiri dan kanan kami juga sangat sempit dan berlumut, aku dapat merasakannya, karena dua tanganku berpegangan pada dinding terowongan ini. Aku penasaran bagaimana cara Normen menemukan jalan rahasia ini, atau mungkin membuat terowongan pengap ini. Terlebih bagaimana cara dia menghafal setiap belokan, meskipun tanpa cahaya sama sekali. Di terowongan bawah tanah ini aku mendapat beberapa fakta unik. Pertama, ternyata dugaanku bahwa Amicia sedang ketakutan adalah benar. Dia yang berjalan di belakangku, selalu mencengkeram tanganku cukup kencang setiap kali dia ketakutan atau terkejut akan sesuatu, tapi dia tidak pernah berteriak maupun mengeluh. Tindakan itu sudah menunjukkan kalau cewek ini memiliki ketakutan. Kedua, kekuatan Normen sepertinya juga mencakup kemampuan untuk mendengar suara yang sangat pelan. Aku menyimpulkannya, karena dia beberapa kali melakukan sesuatu yang mengindikasikan bahwa pria tua ini memang memiliki kekuatan seperti itu. Beberapa kali Normen menahan langkahku, dengan berhenti di depanku, lalu terdengar suara kuda berderap diatas kami, atau suara percakapan. Intinya, Normen sang pemandu menjaga kami, agar tidak ada orang di atas kami yang sadar, bahwa kami berjalan dibawah mereka. Mungkin sudah sekitar dua puluh menit kami ada di bawah tanah. Aku selalu mencoba memperkirakan waktu, agar kami tidak terlalu lama berada di bawah sini. Normen berjanji akan membawa kami keluar dari jalan rahasia ini dalam waktu dua puluh lima menit. Artinya, kami akan menghirup udara bebas sekitar lima menit lagi. Membayangkan udara bersih yang sebentar lagi akan masuk ke hidungku, membuat fokusku untuk mengikuti Normen sedikit kabur. Aku menabrak tubuh Normen yang tiba-tiba berhenti, sehingga Amicia juga menabrakku dari belakang. Di depan wajahku, aku merasa seseorang sedang memelototiku, yang sudah pasti wajah Normen. Nafas pria tua ini sangat dekat dengan wajahku."Donuemont sedang panik, mereka mengira kalian menculikku," desisnya. Meskipun dia mengucapkan dengan pelan, tapi suaranya bergema sehingga Amicia pun bisa mendengar perkataannya. Aku cukup waswas dengan suara kami yang mungkin terdengar dari atas. "Lalu bagaimana solusimu?" tanya Amicia. "Yang Mulia Hartash mungkin akan menyuruh sebuah pasukan mengejar kita, dia sangat bergantung padaku," papar Normen. Setelah itu dia diam selama beberapa saat, dan akhirnya melontarkan pertanyaan, "Kuda kalian bisa berlari cepat?" Aku pikir pelarian kami melalui terowongan rahasia ini tidak akan tercium oleh sang Raja, ternyata aku salah. Kali ini aku dan Amicia akan dihadang oleh sepasukan prajurit bersenjata lengkap, hasilnya sudah jelas bahwa kami yang akan tumbang. Selain itu pertanyaan yang dilontarkan Normen juga cukup susah untuk dijawab olehku maupun Amicia. Kekuatan Orion adalah rahasia yang harus kami simpan rapat, tapi di sisi lain ada sepasukan tentara elite yang mengejar kami. "Tungganganku cukup istimewa dalam hal berlari" kata Normen, "Aku bisa menyuruh tungganganku untuk menarik tunggangan kalian." Fakta lain dari Normen Harv adalah dia tidak hanya istimewa dalam hal kekuatan pribadi, tapi juga dalam hal kepunyaannya. Pedang di punggungku yang adalah mantan pedangnya adalah salah satu senjata terkuat bahkan di Ueter, dan sekarang dia dengan santai mengatakan bahwa tunggangannya memiliki keistimewaan dalam berlari. Orion sekarang memiliki saingan. "Kuda kami sanggup berlari cepat."Orang yang membeberkan rahasia Orion adalah Amicia Ekkehard. "Kita dapat bertaruh sesuatu jika ternyata kuda kami lebih cepat dari tungganganmu, berani?" tantang Amicia dengan suara licik yang khas. Aku merasa Normen tersenyum dalam kegelapan, mungkin pak tua ini baru pertama kali bertemu dengan seorang anak muda yang tidak tahu diri seperti kami. "Kau mau bertaruh apa Nona Amicia?" tanya Normen. Amicia merangsek maju kedepan sehingga aku yang terlempar ke barisan paling belakang. "Yang kutawarkan pasti sangat menarik untukmu, tapi pertama-tama keluarkan kami dari jalan gelap ini." Normen tidak menjawab usul Amicia, mungkin dia sedang menimbang kemungkinannya untuk menang di taruhan misterius yang diajukan oleh si cewek iblis garis miring sahabatku. "Oke Nona Amicia, kita bicarakan soal taruhan ini nanti," Akhirnya Normen menjawab. Amicia merangsek kembali ke posisi paling belakang, apakah dia masih tidak ingin menyentuh Normen, yang adalah orang asing? Atau karena alasan lain, seperti... ingin menyentuh tanganku? Apa pun alasannya, aku setuju dengan Amicia yang ingin cepat-cepat keluar dari terowongan ini. Paru-paruku butuh udara segar, bukan udara pengap bawah tanah. Dan kulitku butuh sinar matahari yang hangat. Normen masih memimpin kami melalui tiga tikungan lagi, hingga akhirnya dia berhenti. "Sebentar lagi kalian akan menaiki tangga, dan kita akan keluar dari sebuah pohon yang tidak jauh dari gerbang timur," jelasnya. Aku masih belum terbiasa dengan sihir, atau keanehan yang berisi hal-hal diluar nalar. Dari sekian banyak opsi tempat yang bisa dipilih oleh Normen untuk menjadi pintu keluar terowongan yang menembus lantai rumahnya, dia malah memilih sebuah pohon pinus untuk menjadi jalan keluar. Lalu perkataannya soal keluar tidak jauh dari gerbang timur adalah salah total. Kami ternyata keluar sangat jauh dari gerbang timur, bahkan kami hanya akan terlihat seperti titik hitam di cakrawala di mata para pemanah Donuemont. "Pohon pinus ini tidak akan layu, mati, dimakan binatang atau apapun karena aku sudah memberinya mantra istimewa," ujar Normen bangga. Pria tua itu mengatakan hal tersebut, karena melihatku dan Amicia yang masih memandangi pintu keluar kami dengan terpesona. Pintu tersebut tidak terlihat dari bagian luar, bahkan tidak ada garis atau potongan yang membuat pohon ini terlihat mencurigakan. Dari jauh, pohon pinus ini pasti terlihat sebagai pohon biasa, padahal pohon ini menyimpan sebuah jalan rahasia yang akan membawamu ke pusat kota Donuemont. "Kau tidak takut pintu ini ditemukan oleh orang asing?" tanyaku tanpa melihat Normen. Pertanyaanku adalah murni karena penasaran. Aku sempat membayangkan kalau ada orang iseng yang menemukan jalan rahasia di balik pohon ini, dan tiba-tiba keluar di rumah milik kepala pengawal Raja. Normen menggeleng tegas. "Pintu ini hanya bisa dibuka dari dalam, jadi tidak ada yang bisa membuka dari luar." "Mengapa kau membuat jalan rahasia ini cuma satu arah?" tanya Amicia. Dia masih mengibaskan debu hasil perjalanan bawah tanah kami dari jubah yang dia ambil dari Yared. Memikirkan Yared membuatku lumayan khawatir dengan nasib anak itu. Semoga saja dia tidak dalam keadaan terancam, karena akan sangat menakutkan untuk orang yang mengancamnya. "Karena aku punya banyak urusan yang tidak perlu diketahui oleh anak buahku," jawab Normen. "Masih ada pertanyaan lain?" Aku dan Amicia saling berpandangan, dari sorot matanya, aku tahu kalau sahabatku itu tidak memiliki pertanyaan lain. Akhirnya kami menggeleng bersamaan. "Terima kasih kalau begitu, sekarang bisa kalian panggil tunggangan kalian?" tanya Normen. Sebuah hal sederhana yang cukup rumit, karena biasanya Orion selalu tahu cara menemukanku, jadi sederhananya aku tidak pernah memanggil dia. Sekarang bagaimana caraku memanggil dia? Siku Amicia menyodok pinggangku cukup keras karena aku terdiam cukup lama, tetapi aku memang tidak tahu harus berbuat apa? Bersiul? Memanggil Orion dengan keras? atau apa? Normen memelototi kami, lalu dia menggerutu, "Kalian punya tunggangan kan?" Aku hanya bisa mengangguk sambil memasang senyum menenangkan di wajahku. "Orion dimana kau!" seruku dalam hati. Normen menghembuskan nafas panjang, dan raut wajahnya memperlihatkan bahwa kami telah mengecewakannya. "Padahal aku ingin melihat tunggangan kalian," ujarnya. "Tetapi sepertinya kalian masih malu untuk pamer. Kalau begitu aku akan memanggil tungganganku." Prajurit tua itu bersiul dengan nada tinggi cukup lama, setelah itu dia mengedipkan matanya ke arah kami. Beberapa saat setelah itu, dia menunjuk bayangan hitam yang berjarak cukup jauh depan kami, perlahan namun pasti ada bayangan itu semakin membesar di cakrawala. Dari tempatku sekarang, aku masih belum bisa dengan jelas melihat tunggangan Normen berwujud binatang apa. Diam-diam, aku sedikit berharap kalau pria ini menjadikan elang atau naga sebagai tunggangannya. "Master Udhokh," bisik Amicia di telingaku. Dia menunjuk sebuah bayangan hitam lain di cakrawala, yang juga mendekat ke arah kami. "Temanmu juga sedang berlari dari timur." Sepenasaran apa pun aku dengan wujud tunggangan Normen, aku lebih rindu dengan sobatku si kuda putih tengil. Aku langsung mengarahkan mataku ke arah yang ditunjuk Amicia, sesuai bisikan Amicia dari arah timur kami, Orion juga berlari ke arah kami. Tunggangan kami sudah datang, saatnya penyelamatan warga Rebeliand!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN