"Namanya adalah Anyx," ujar Normen dengan bangga. "Sampai detik ini, baru pertama kali ada yang menyamai kecepatannya."
Orion dan Anyx, tunggangan Normen, sampai di depan kami hampir bersamaan, tetapi kedatangan mereka menghasilkan reaksi yang berbeda bagi pemilik tunggangan yang lain.
Normen sebagai pemilik Anyx, wajahnya lempeng saja saat melihat Orion meskipun dia sempat memuji kudaku karena sanggup menyamai Anyx dalam hal kecepatan.
Sedangkan aku sekali lagi melihat dengan takjub, binatang tunggangan yang dimiliki Normen, karena wujud binatang itu, bukan seeokor binatang yang biasa dijadikan sebuah tunggangan.
"Di... dia tidak akan memakan kita kan?" tanya Amicia ragu-ragu, yang meskipun menyembunyikan ketakutannya dari wajahnya, tapi nada bicaranya sudah menjelaskan semuanya.
Alasan Amicia takut dengan Anyx adalah sama dengan alasanku takjub melihat wujud sang binatang. Wujud dari Anyx yang tidak biasa sebagai hewan tunggangan, menghasilkan reaksi yang tak terduga bagi kami berdua.
Saat masih cukup jauh dari tempat kami berdiri, awalnya aku malah menyangka bahwa Anyx adalah seekor singa, tetapi saat binatang itu sudah sampai di depan kami, baru tampak jelas bahwa wujudnya adalah seekor serigala.
Wujud Anyx adalah seekor serigala yang tingginya hampir setara dengan Orion, tetapi tubuhnya jauh lebih besar dari Orion. Serigala ini memiliki bulu berwarna hitam pekat, juga warna mata merah yang sewarna darah.
Hal yang paling membuat Anyx tampak seram adalah dua gigi taring atas miliknya sangat besar, bahkan hingga keluar dari mulutnya. Hewan ini tampak sangat tidak mungkin menjadi sebuah hewan tunggangan.
Meskipun tampak sangat menakutkan, serigala ini justru merupakan hewan yang tenang. Sorot matanya tidak memiliki aura membunuh sama sekali, meskipun sewarna darah. Dan tingkah laku hewan ini sangat elegan, hingga membuatku berpikir bawah dia setara dengan Orion, yang merupakan hewan abadi.
Normen hanya tersenyum mendengar pertanyaan Amicia, lalu si prajurit mengelus kepala serigalanya dengan santai. "Anyx ini adalah sahabatku sejak kecil jadi dia tidak akan memakan temanku, dan sekarang posisi kalian adalah temanku."
Sang serigala masih tetap memasang wajah datar saat dielus oleh Normen, dia seperti terlalu malas dengan kelembutan yang ditunjukkan Normen.
Aku yakin serigala ini bisa berbicara seperti Orion. Kalau pun tidak bisa berbicara, minimal si serigala ini pasti mengerti apa yang diucapkan oleh Normen. Tebakanku, serigala ini sedang mengumpat dalam hatinya, karena Normen sedang memamerkan kedekatan yang membuatnya risih.
"Nah sekarang giliranku bertanya." Normen mengangkat alisnga dan mengarahkan pandangannya ke Orion.
"Bagaimana kalian bisa memanggil kuda itu tanpa ritual apapun? dan bagaimana cara seekor kuda biasa menyamai kecepatan lari dari Anyx?" berondongnya.
Kalau saja semua kuda bisa berbicara, maka sudah pasti aku tinggal menepuk Orion untuk menjawab sendiri pertanyaan dari Normen. Berhubung kemampuan unik Orion adalah rahasia, maka aku mau tidak mau menjadi juru bicara dari kuda ini.
"Orion memiliki ikatan batin denganku, jadi dia bisa menebak tempatku berada," jelasku. "Selain itu, dia juga dapat mengerti semua yang aku ucapkan padanya, intinya Orion seperti sahabatku sendiri."
"Soal kecepatan berlarinya, aku tidak pernah menyangka kalau Orion berlari secepat itu, bahkan mendapat pujian dari Anda. Bagiku, dia hanya berlari dengan kecepatan biasa," imbuhku.
"Ternyata kau juga pandai menghindar, Lass," ejek suara Orion di pikiranku. "Selain itu, terimakasih sudah memuji kemampuan berlariku adalah berlari yang biasa."
Normen tidak langsung menelan jawabanku bulat-bulat, dia terlihat menimbang bobot kejujuran dari jawabanku.
Mungkin pria tua itu merasa bahwa aku terlalu sombong, karena menyebut kecepatan lari Orion barusan, adalah kecepatan larinya yang biasa. Padahal, ini pertama kalinya sang serigala bernama Anyx bisa disamai dalam hal kecepatan.
Kening orang tua ini mengkerut lalu kembali ke posisi semula, asumsiku adalah Normen sedang berpikir keras tentang Orion, kuda putih yang sangat mencurigakan dan terlalu hebat.
Prajurit tua ini tiba-tiba mengibaskan tangannya. "Kita bicarakan hal ini lain kali, sekarang kita harus pergi dari sini."
Aku sangat yakin, bahwa Normen masih sangat penasaran tentang Orion, tetapi apa yang dikatakannya juga benar bahwa kita harus cepat pergi dari sini.
Kami tidak boleh membuang waktu, karena penculik warga Rebeliand tidak sedang menunggu kami untuk menyelamatkan tawanan mereka.
Selain itu, meskipun kami sudah cukup jauh dari gerbang timur, maupun tembok kota, para pemanah kemungkinan besar masih dapat melihat kami. Apalagi beredar kabar di Donuemont, kalau kami menculik Normen Harv.
"Kemana tujuan kita?" tanya Amicia. "Setelah itu, kita akan membicarakan taruhan yang aku maksud."
Amicia sudah berhasil mengumpulkan keberaniannya yang tercecer saat melihat Anyx sampai didepan kita. Sekarang Amicia kembali menjadi gadis tangguh dan licik yang kukenal.
Aku ingat saat Amicia menawarkan taruhan menggiurkan untuk Normen di terowongan bawah tanah Donuemont. Taruhan yang berhubungan soal perbandingan kecepatan lari tunggangan kami, dan kali ini dia kembali membahasnya lagi dengan Normen.
Normen memutar bola matanya, lalu mendengus kesal, "Oke kau mau taruhan apa Nona Amicia?"
Bukan hanya Normen yang penasaran, sejujurnya aku juga penasaran soal taruhan yang dibicarakan Amicia. Aku hanya berharap dia tidak melakukan kesalahan, dengan bertaruh hal-hal yang kemungkinan kami menang tidak lebih besar dari Normen.
"Katakan dulu tujuan dan rencana kita?" balas Amicia.
"Perhentian pertama kita dari tempat ini adalah hutan di sebelah utara Donadhor, orang menyebutnya Hutan Hitam," papar Normen.
"Hutan tersebut akan membuat kita tersembunyi dari jalan utama pulau Adon, dan utan tersebut akan mengantarkan kita ke dekat Kerajaan Halingga," imbuhnya.
Ada banyak kata yang baru aku dengar sekarang, dari perkataan Normen barusan.
Bagiku batas paling utara dari pulau Adon adalah Kota Donuemont, jadi aku tidak mengerti sama sekali setiap nama daerah yang disebutkan oleh Normen.
Meskipun aku tidak tahu letak nama-nama kota itu, tetapi aku tetap tidak mau tampak lebih bodoh dibanding Amicia, sehingga aku memilih diam, dan mengangguk pelan dengan wajah sok mengerti.
Amicia menimbang rencana Normen. "Aku pernah mendengar kabar soal Hutan Hitam maupun Halingga, dua tempat itu punya kadar berbahaya yang sama."
Normen mengangguk lemah, untuk mengonfirmasi kekhawatiran Amicia. "Dimulai dari tempat ini, perjalanan kita akan menjauhi jalan utama Kerajaan Donater, kita akan menyusuri sisi timur pulau Adon yang sepi penduduk."
"Di utara yang jauh terdapat dua jalan yang merupakan perbatasan antara Donater di selatan dan Halingga di utara," ujar Normen diikuti tarikan napas panjang, sepertinya dia memiliki memori buruk di perbatasan Donater.
"Jalan pertama adalah jembatan Purna yang membelah sungai Hitam," paparnya. "Jembatan itu akan dijaga sangat ketat oleh prajurit Halingga, sehingga pilihan kita tersisa di jalan kedua, yaitu memasuki Hutan Hitam."
Hutan Hitam dan sungai Hitam, mungkin si pemberi nama sedang malas memberi nama kedua tempat itu. Atau mungkin kedua tempat itu dinamakan Hitam karena menyimpan banyak kekuatan gelap.
Sial! Harusnya Rebeliand mengadakan pengajaran rutin tentang tempat-tempat di Adon, agar warganya yang berpergian tidak buta arah. Setelah mennyelamatkan warga Rebeliand, aku harus memberi usul kepada Masterku, untuk menambahkan pelajaran mengenai daerah-daerah lain di Pulau Adon.
"Kenapa hutan dan sungai itu disebut Hitam?" Tanpa sadar aku mengutarakan pertanyaan yang kupikirkan.
Normen menatap langit seolah mengingat informasi yang sudah lama tidak dia bicarakan.
"Dahulu namanya adalah Hutan dan Sungai Perbatasan, nama dua tempat itu berubah sejak perang antara Halingga dan Donater tiga ratus tahun lalu," jelasnya. "Perang itu yang membuat dua tempat itu menjadi tong sampah untuk para mayat dari kedua belah pihak."
Normen berhenti sejenak, lalu dia mengarahkan pandangannya kepadaku. "Sungai dan hutan itu adalah tempat indah sebelum perang. Sekarang di masa setelah perang, kedua tempat itu hanya menjadi tempat kelam saksi bisu kekejaman manusia yang serakah."
Perang beberapa ratus tahun lalu yang ternyata mengubah nama dua tempat itu. Dua tempat yang awalnya indah dan berubah menjadi kelam saat dijadikan pembuangan mayat, ciri khas sifat manusia, sang makhluk perusak alam.
"Oke kita sudah tahu tujuan kita, sekarang aku akan membahas taruhan kami," potong Amicia. "Aku bertaruh jika Orion, aku dan Lass akan sanggup sampai di Hutan Hitam lebih cepat daripada yang kau pikirkan"
Normen memincingkan matanya, lalu pak tua itu tersenyum geli. "Dua tempat itu jauh di utara," katanya. "Kalian tidak bisa sampai kesana dalam waktu cepat, bahkan perjalanan tercepatku bersama Anyx ditempuh dalam waktu satu minggu."
Satu minggu dengan kecepatan Anyx yang setara dengan Orion, artinya sekitar sebulan perjalanan dengan kuda biasa. Aku tidak bisa menebak hadiah apa yang diinginkan Amicia, dengan taruhan yang tidak masuk akal seperti itu.
Amicia mengangkat tiga jarinya, lalu berkata, "Hanya tiga hari waktu yang dibutuhkan Orion untuk sampai di hutan tersebut, kami akan menunggumu dan Anyx didepan hutan itu."
Aku melirik Orion diam-diam, kuda itu memelototi Amicia dari balik punggungnya. Sobatku itu seperti ingin mengatakan 'Akan kuinjak-injak perutmu saat Normen tidak ada disini karena bertaruh sembarangan.'
Lawan bertaruh Amicia hanya manggut-manggut mendengar keyakinan Amicia, dan Normen balas bertanya kepada Amicia, "Apa yang kauinginkan dariku kalau kalian berhasil sampai lebih dulu dariku?"
Kali ini Amicia menyeringai lebar penuh kemenangan. "Aku ingin kau berjanji atas nama Eruer yang Agung bahwa kau akan mengorbankan dirimu saat kami dalam bahaya."
Aku tidak peduli dengan sumpah atas nama Eruer, karena beberapa hari terakhir, otakku banyak mendapatkan nama-nama baru yang sebenarnya cukup penting.
Dalam ingatanku, sepertinya aku pernah mendengar tentang Eruer. Ayahku mungkin pernah bercerita bahwa orang itu bagaikan lambang dari sebuah sumpah sakral, yang akan memberikan kutukan bagi setiap orang yang bersumpah palsu atas namanya.
Fokusku tertuju pada hadiah yang diminta oleh Amicia. Dia pasti sudah gila karena meminta keseluruhan hidup Normen didedikasikan untuk kami, hanya karena dia kalah cepat dari kami. Untuk ukuran orang yang bijak seperti Normen, sudah pasti dia menolaknya.
"Aku terima taruhanmu," ujar pak tua itu. Dia mengulurkan tangannya pada Amicia, sambil berkata, "Jika Anyx yang lebih cepat, maka pedang itu akan kembali ke tanganku dengan sukarela dan aku tidak harus membantu kalian ke Preant. "
Normen jelas lebih cerdik, meskipun dia sempat mengejutkanku karena menerima tawaran Amicia. Sekarang pilihannya jadi hidup mati untuk kami, dibantu Normen atau ditinggal oleh Normen.
Jika Anyx yang lebih cepat, maka bukan hanya pedang hebat itu yang hilang dari kami, melainkan kekuatan dan bantuan berharga daei Normen juga hilang.
"Sudah selesai soal tawar menawarnya?" tanya Normen.
Amicia menjawab tanpa menoleh ke arahku maupun Orion, "Aku setuju dengan syaratmu, lagi pula kami yang akan memenangkan taruhan ini.
Normen mengembalikan senyum ramah diwajahnya yang hilang setelah menceritakan sejarah kelam. Pria tua ini memang terlihat sangat baik, padahal dia sudah ditantang habis-habisan oleh cewek iblis gila ini.
"Aku akan memberi kalian sedikit informasi tantang Hutan Hitam yang menjadi tujuan kita," terangnya. "Hutan tersebut tidak sehitam sebutannya, jika kita memiliki seorang pemandu. Aku memiliki teman yang tinggal di dalam hutan itu, dan dia pasti akan membantu kita dalam perjalanan"
"Teman yang tinggal dalam hutan?" tanyaku setengah memekik, lalu aku kembali memelankan suaraku, "Manusia macam apa yang tinggal dalam hutan angker dan jorok itu?"
"Dia bukan manusia, melainkan makhluk pertama yang hidup di Ueter dan mereka adalah ras yabg menyembunyikan diri di kegelapan hutan," jawab Normen.
Makhluk yang pertama hidup di Ueter? Selain pelajaran soal peta dan nama daerah di seluruh Adon, sebaiknya aku juga mengusulkan ke Masterku untuk menambahkan pelajaran sejarah, setelag Rebeliand berdiri lagi.
Orion meringkik dengan bersemangat, dan kuda tidak tahu diri ini malah memamerkan kemampuannya yang sudah kusembunyikan dari Normen
"Ras yang diciptakan oleh Ulea dibawah cahaya Ueter yang pertama. Kaum yang memilih hutan sebagai rumah yang mereka jaga, dan menjadi sahabat bagi para hewan di dalam hutan. Mereka adalah kaum Elf," ujar Orion dengan bangga.
Aku melirik Normen, untuk melihat reaksinya saat melihat Orion dengan seluruh kebodohannya, malah mengungkapkan rahasia yang sedang aku dan Amicia sembunyikan.
Pak tua itu terkesiap melihat moncong si kuda putih bergerak dan mengeluarkan suara, yang adalah bahasa manusia. Sepertinya, Orion untuk kesekian kalinya berhasil membuat Normen terkagum.
Lain kali, aku akan membawa sesuatu untuk menutup mulut milik kuda yang paling suka pamer ini. Sekarang, akibat Orion yang sok pintar, maka rahasia kuda itu yang harus kami lindungi dari Normen, tersisa soal sihir hutan.
Jika kuda tengil ini juga memamerkan sihir hutannya, maka bukan tidak mungkin kalau Normen lebih tertarik memiliki Orion, ketimbang Oborotni.