Bab 4 - Di Bawah Papan Nama Alestora

1891 Kata
Amicia Ekkehard benar-benar iblis. Setelah menciumku secara mendadak didepan penginapan, dia masuk ke penginapan sambil membawa kudaku dengan tampang sengak tidak berdosa. Sekarang, iblis itu malah tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali selama beberapa jam terakhir. Bukan berarti aku mencarinya atau apa, tapi kan aku butuh penjelasan untuk rencana nanti malam. Penginapan Alestora dari luar hanya terlihat seperti rumah biasa, dengan dua tingkat lengkap, dan balkon yang bisa untuk melihat bawah. Papan nama Alestora di depan pun, terlihat sudah ribuan tahun tidak diganti, sehingga beberapa huruf sudah hilang. Alih-alih bertuliskan Alestora, papan nama didepan malah hanya bertuliskan A E S O R A. Penginapan ini tidak memiliki meja penerima tamu selayaknya penginapan lain, sehingga aku cukup penasaran bagaimana cara menyewa kamar di penginapan ini. Jadi, sejak masuk melewati pintu depan, isi penginapan ini adalah lorong dengan kamar di sisi kiri kanannya. Tingkat kebersihan dari bagian dalam penginapan ini jauh lebih tinggi dari bagian depannya. Bahkan tangga ke lantai dua yang terletak di ujung lorong ini, tidak berbunyi apapun saat kuinjak. Sungguh bagian dalam penginapan ini benar-benar terawat dengan baik. Aku sampai di lantai dua yang juga berbentuk lorong seperti lantai bawah, dan dengan cepat aku langsung mencari kamar nomor 8 dan membuka pintunya. Aku melepas tas dan sepatuku, lalu langsung mengambil gulungan kertas yang diberikan Amicia kepadaku. Gulungan kertas yang diberikan oleh cewek itu bukan sebuah kode rahasia, tapi juga bukan kalimat yang terlampau sederhana. Gambar dikertas itu adalah sebuah kotak, dengan banyak titik merah ditengahnya dan dua titik hitam di luarnya. Sedangkan di tengah kotak itu terdapat garis biru yang melintang, terakhir dibawah kotak itu terdapat sebuah garis hitam dengan dua titik diatasnya. Sebenarnya aku cukup pintar untuk menebak rencananya. Dua titik hitam itu kemungkinan adalah aku dan dia (hal ini semakin membuatku takut berurusan dengan iblis, karena mendadak dia punya kemampuan meramal bahwa aku akan disini membantunya). Titik merah yang bertaburan di tengah kotak adalah para tentara, yang mungkin mengawal raja dan pedangnya. Lalu garis biru ditengah kotak adalah pedangnya, dan garis hitam dibawah kotak mungkin Orion. Yang membuatku tidak paham adalah jika rencananya seperti ini, artinya ini bukan pencurian, tetapi menonton pedang raja. Suara menyebalkan itu membuyarkan lamunanku, “Titik hitam didalam kotak itu adalah kau.” Iblis ini kemungkinan baru selesai mandi karena rambut pirangnya yang biasa digelung kini sedang terurai dan setengah basah. Selain itu, dia juga memakai gaun hijau terusan tanpa lengan, yang terlampau pendek hingga diatas lutut, dan menunjukkan paha putihnya. Di tangan kanannya dia memegang sebuah botol besar berisi air, yang menurut tebakanku itu Donarak (Minuman keras khas Donater yang sudah melalang buana ke banyak kerajaan). Amicia menyunggingkan senyum setengahnya yang amat menyebalkan saat memergokiku memelototinya dari atas sampai bawah, “Aku tebak kau sedang membutuhkan Amicia tersayang untuk menjelaskan arti gambar dalam kertas itu.” “Rencanamu terlalu sederhana untuk pencuri yang sudah dua tahun ke banyak kerajaan besar,” ejekku. Aku merebut botol itu dari tangannya dan meminum satu tegukan penuh. Donarak adalah minuman terbaik di seluruh Adon. “Balik kertasnya,” sahutnya santai. Aku membalikkan kertas itu dan menemukan bahwa diantara titik-titik merah yang samar terdapat titik hitam yang mencolok. Titik hitam itu digambar lebih dulu dibanding titik-titik merah itu. Dan akupun paham maksudnya. “Siapa yang akan menyamar?” tanyaku, dan sebelum dia menjawab aku sudah menjawab pertanyaan yang baru saja kulontarkan. “Kau lagi? Jelas karena kau sang pencuri dan penyamar terbaik,” kataku sinis. Mendengar nada sinis dariku maka Amicia langsung mengambil botol Donaraknya dan meneguknya hingga tidak tersisa lagi. Setelah puas menghabiskan minuman terbaik di depanku yang masih merasakan satu teguk, dia kembali tersenyum. “Ini harimu Lass, jadi aku tidak akan mengganggumu.” Dia duduk dikasurku dan membelai rambutku. “Kau pencurinya malam ini, dan aku yang mengalihkan perhatian, setuju sayang?” Aku mundur dari belaian halus iblis ini lalu menunjuk kertas rencananya tepat pada dua titik hitam di luar kotak “Lalu jika kau didalam dan berbaur bersama mereka, bagaimana dengan dua titik ini? Siapa yang satu lagi berjaga diluar selain aku?” “Aku memperkirakan kau akan menculik Sol kesini," tebakku, lalu Amicia membelai rambutku dengan lembut, “Ternyata Lass kecil sanggup untuk pergi sendirian ke misi berbahaya ini.” Sial!! Apa dia masih menganggapku bocah empat belas tahun yang belajar mencuri? “Rambut putih keluarga Udhokh selalu mempesona setiap mata di Rebeliand, belum lagi kau memiliki wajah tampan yang agak tidak cocok untuk Rebeliand,” puji Amicia sambil mendekatkan wajahnya hingga tepat didepan wajahku hingga hidung kami bersentuhan. "Tapi, rambutmu hanya salah satu alasanku mencintaimu. Alasan utamanya adalah rahasiaku," ujar Amicia dengan nada yang membuat sekujur tubuhku menggeliat. Meskipun aku selalu menyebutnya iblis, tetapi aku juga selalu ingat bahwa Amicia adalah gadis yang terlampau cantik, apalagi dengan wajahnya yang sekarang sedekat ini denganku. Hanya saja dia tetap iblis. Mencintai iblis akan membuat hidupku sengsara. “Iblis hanya mencintai untuk membunuh,” sahutku dingin. Amicia menjauhkan wajahnya dariku dan dia tertawa cukup keras, lalu berkata, “Oke aku setuju denganmu.” Gadis itu sudah siap untuk keluar dari kamarku. Sesaat sebelum menutup pintu kamarku dia berkata dengan riang, “Buat Iblis ini tetap mencintaimu dengan pencurianmu malam ini!" "Jam 6 tepat aku akan menjemputmu, sekarang tidurlah!” perintahnya dengan nada sok manis. Lalu dia menutup pintu kamarku. Kemungkinan masih enam jam lagi hingga waktu perjanjian kami. Sejujurnya perkataan Amicia memang tepat sekali. Bahwa aku perlu tidur. Meskipun kemarin malam tidurku sudah lebih dari cukup, tapi nanti malam hingga besok pagi aku tidak akan tidur, melainkan menjadi pelarian. Sehingga tidur adalah pekerjaan yang tepat untuk kulakukan, sebelum aku melakukan aksiku. Enam jam lagi aku akan beraksi dengan si gadis iblis untuk pencurian pertamaku di Donuemont, dan mungkin menjadi pencurian terbesarku. **** Aku bermimpi berada di tengah-tengah sebuah pertempuran besar. Seluruh ras yang tidak pernah kulihat seumur hidupku berkumpul di tempat ini dan saling membunuh satu sama lain. Para manusia, lalu manusia lain dengan daun telinga runcing dan rambut pirang (mungkin elf), para orang-orang pendek berjenggot yang membawa palu, monster menakutkan dengan kulit hitam legam dengan mata besar, raksasa batu, sekumpulan tentara yang dibalut api merah, para penyihir yang sedang merapalkan mantra, dan beberapa ras lain yang bahkan sulit untuk dideskripsikan. Intinya mereka sedang berjuang mati-matian untuk sebuah tujuan besar. “Raulith Lass!" sebuah teriakan membuatku menoleh kearahnya. Sosok itu adalah seorang pria dengan tinggi sedang, namun berpakaian serba hitam dari atas ke bawah. Wajah sosok itu tidak terlihat, karena ditutupi tudung hitam yang menyatu dengan jubahnya, tapi aku tahu dia melihat kearahku. Pria itu cukup jauh dariku, tapi suaranya benar-benar dapat menutup seluruh suara hingar bingar perang disekitarku, “Perang besar didepan mata, dan Foeteran adalah hamba utama dari Eruer, kau harus pulang! Eruer menyerahkan pedang jiwa padamu, kau adalah orang yang dianugerahkan benda itu.” Mimpi itu lenyap dan berganti lagi. Kali ini aku berada di depan sebuah istana yang amat sangat besar. Istana ini memiliki empat menara bundar di setiap sudutnya, dan gerbang kayu besar yang tertutup rapat didepanku. Istana ini terlihat tidak ada tanda kehidupan didalamnya. Malam hari disini pun seolah bukan menjadi alasan untuk setiap hewan bisa bersuara dengan bebas, bahkan terlampau sepi hingga tidak ada suara jangkrik. Sebuah bayangan hitam mendekat kearahku dengan sangat cepat, dan perlahan bayangan itu memadat menjadi sosok yang lebih tinggi dariku dengan pakaian hitam dari atas ke bawah. Di bawah tudungnya aku tidak bisa melihat kedua matanya namun sekilas aku melihat wajah yang berwibawa dengan rahang tegas, hidung mancung juga bibir yang sobek dibagian bawahnya. Tapi wajah itu terlihat samar dan hampir tembus pandang, membuatku bertanya-tanya apakah ini wajah aslinya atau dia hanya ingin memperlihatkan wajah ini kepadaku. Sosok ini hanya berdiri tepat didepanku, seolah hanya ingin memamerkan kemampuannya yang dapat berubah menjadi bayangan. “Lass,” suaranya yang seperti kertas sobek itu menyapaku dengan suara lirih. Aku sering menyebut Amicia iblis di pikiranku, bahkan seringkali aku memanggilnya iblis dengan mulutku. Aku tidak pernah mempersiapkan diriku jika aku bertemu iblis sungguhan, dan sosok didepanku ini memiliki aura jahat yang sangat besar. Jadi, alih-alih aku memasang tampang berani dan menjawab tegas sosok ini, aku malah takut setengah mati kepadanya. “Siapa kau?” cicitku. “Siapa kau? Itu pertanyaan yang seharusnya kaujawab,” balasnya lirih. Setelah menyapaku dengan santai, kini dia membalikkan pertanyaanku dengan santai. Dan kenapa dia harus berbicara dengan suara sepelan itu? Sosok ini kembali berbicara “Kami selalu menunggumu, Raulith Lass,” ujarnya, lalu sosok ini berubah lagi menjadi bayangan dan menghilang. Saat sosok itu mengatakan kalimat terakhir itu, aku sudah berani melihat wajahnya. Dan aku sadar kalau bibir itu tidak bergerak sama sekali saat dia berbicara kepadaku. Aku sadar sosok ini mungkin memang hanya sebuah bayangan. **** Setelah dua mimpi aneh yang bertaburan di tidurku, aku tetap tertidur nyenyak hingga Amicia membangunkanku dengan menampar pipiku berkali-kali. Tidak terlalu kencang, tapi cukup untuk membangunkanku. Saat aku mulai membiasakan diri dengan lampu kamar penginapan yang remang-remang, maka akupun kembali memasang tampang sinisku. “Apa?” kataku yang masih mengantuk. Amicia sudah duduk di kasurku dengan gaun hijau yang sama saat dia meninggalkan kamarku tadi. Yang membedakan dia sekarang, dengan dia yang tadi adalah rambutnya yang sudah digelung rapi. Ditambah beberapa gelang juga sudah ada di pergelangan tangan kanannya. “Jam 6,” katanya santai. “Festival dimulai jam 7 malam, dan itulah momen pencurian kita.” Sebenarnya aku tahu kalau ini sudah jam 6, karena Amicia adalah pecinta ketepatan waktu, tapi kalimat selanjutnya yang cukup menggangguku. “Kenapa tepat saat festival?” tanyaku penasaran. Sepertinya pertanyaanku tidak terlalu penting untuk dia, karena dia langsung menepuk pipiku dengan lembut lalu berdiri. “Cari sendiri jawabannya,” ledeknya. “Dan satu lagi, aku harus pergi sekarang, misiku berbeda dengan misimu.” Dia tersenyum kepadaku lalu keluar dari kamarku. Kepergian Amicia menandakan bahwa sudah waktunya untuk aku harus mempersiapkan peralatanku dengan baik. Aku turun dari kasurku dan berjalan ke arah tasku untuk mengeluarkan tali tambang, kotak jarum dan kedua pisauku. Aku memasukkan pisau di dalam jubahku dan kotak jarum di kantong celanaku. Tali tambang akan kuikatkan di pinggang belakangku dan akan tersembunyi aman dibalik jubahku. Botol minum akan kubiarkan ditasku, dan tasku ini masih cukup longgar untuk bisa menyimpan barang lain. Semoga pedang itu tidak kebesaran untuk tasku. Setelah menyampirkan tas di kedua pundakku maka aku pun sudah siap mengunci pintu kamarku saat kemudian ada tangan yang menyentuh bahuku. Aku langsung memegang si pemilik tangan itu, lalu memelintir tangan itu kebalik punggungnya. Pemilik tangan itu mengerang, “Sa.. saya hanya memberikan kunci untuk kandang kuda Anda.” Aku melepaskan lengan orang itu dan dia langsung buru-buru memberikan kuncinya kepadaku. Bahkan tanpa menungguku mengatakan terima kasih, dia langsung kabur dari lantai dua. Cukup membuatku merasa bersalah dan cukup membuatku ingin membalas Amicia. Bahkan aku tidak tahu kalau kandang Orion sampai memiliki kunci, dan orang yang mengantar kunci hampir kupatahkan lengannya. Amicia adalah pribadi paling bersalah disini karena tidak menyebut soal kandang Orion sama sekali, padahal dia yang menuntun Orion ke kandangnya saat aku pertama kali datang di penginapan ini. Kemungkinan bahwa dia lupa akan Orion harus dicoret, karena Amicia jarang melupakan sesuatu yang penting. Satu-satunya alasan kunci ini diantar oleh orang lain adalah karena dia ingin membuatku mematahkan lengan seseorang yang tidak jahat sama sekali. Keisengan gelap khas Amicia. Lupakan soal Amicia dan pemuda culun itu, hari istimewaku akan mulai sampai pada intinya. Aku hanya perlu menjemput sobatku. Bukan Amicia, bagiku dia tetap iblis. Maksudku adalah Orion.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN