Pemuda kunci itu memang pengecut setengah mati.
Dilantai bawah aku mencoba mencarinya dengan mengetuk setiap kamar, tapi tidak ada satupun pintu terbuka yang menyambutku.
Aku curiga kalau pemuda itu bersembunyi di salah satu kamar, dan sedang menangis ketakutan dibawah selimutnya karena hari ini keseluruhan lengannya hampir patah.
Aku semakin merasa bersalah saat melihat kandang Orion. Kandang Orion terletak di belakang penginapan Alestora yang bahkan hampir sama besarnya dengan penginapan Alestora.
Bedanya di kandang ini isinya bukan kamar melainkan sepuluh bilik besar yang dilengkapi pintu dengan gembok rapat.
Kandang ini bahkan tidak berbau, yang menandakan tempat ini rutin dibersihkan. Dan kemungkinan terbesar, oleh pria yang lengannya hampir kupatahkan di depan kamarku tadi.
Dari sepuluh bilik yang ada di kandang ini, hanya dua bilik terdepan yang terisi kuda. Bilik sebelah kiri diisi oleh Orion, dan bilik depannya diisi oleh kuda hitam pekat yang terlihat sedikit lebih gagah dari Orion. Pasti pemilik kuda itu adalah bos penginapan ini.
Orion mulai meringkik pelan saat melihatku berjalan ke arahnya.
“Hei, bro!" Sapaku sambil mengelus kepalanya.
Aku membuka kunci bilik Orion, yang membuat Orion keluar dengan santai dari bilik itu. Karena sekarang Orion sudah bersamaku, maka tinggal mencari rumah tempat pedang itu disimpan.
Jika mengingat gambaran rencana Amicia soal pencurian kali ini, maka Orion akan menunggu di bagian selatan rumah dan aku akan masuk dari sisi barat. Kebiasaan khas Amicia yang sok misterius.
Hanya saja, aku tidak tahu rumah itu menghadap kearah mana. Jika selatan adalah tempat pintu masuknya, bagaimana cara lari dari rumah itu, saat kudaku jadi tontonan seluruh orang dirumah itu.
Apapun itu, yang penting sekarang aku harus mencari rumah itu untuk melihat keadaan, dan jika memungkinkan, maka aku bisa merombak beberapa rencana si iblis itu.
Aku dan Orion masuk lagi kelorong penginapan, karena memang lorong ini satu-satunya akses keluar masuk ke kandang. Saat akhirnya kami tiba diluar penginapan, kami disuguhi pemandangan kota Donuemont pada malam hari.
Seluruh toko, pabrik, penginapan, dan semua bisnis di kompleks tenggara sudah menyalakan obor yang terpasang di dinding luar, dan didalam mereka memakai kaki dian, maupun pelita kecil untuk penerangan didalam toko.
Malam hari di Donuemont tidak jauh berbeda dengan keadaan kota ini pada siang harinya. Kota ini masih dipenuhi suara riang anak-anak, tawa dari orang-orang yang sedang bercakap-cakap.
Bedanya, di malam hari komplek tenggara tidak beraktifitas, sehingga kompleks ini sangat sepi karena hanya beberapa toko dan pabrik yang masih tetap buka tapi tidak menerima pesanan.
Para pekerja hanya menyelesaikan pekerjaan hari ini yang belum selesai, atau sekedar bersantai dengan teman-teman kerja mereka sebelum pulang kerumah masing-masing.
Menyusuri kompleks bisnis yang sempit, dengan penerangan seadanya membuatku dan Orion harus cukup berhati-hati. Bisa jadi dibawah kami ada sampah, atau benda-benda aneh lain yang malah akan membuat kami meninggalkan jejak di tempat kami beraksi.
Kaki Orion juga terlampau besar, dan karena dia seekor kuda, berarti aku harus menjaga diriku juga menjaga Orion agar tidak melakukan hal bodoh.
Samar-samar aku melihat beberapa orang memperhatikan kami saat kami melewati depan tokoh mereka.
Di pagi hari mereka hanya melihat uang dari setiap orang yang lewat, tapi dimalam hari orang-orang ini pasti mulai akan memperhatikan orang dari penampilan.
Andai saja aku tidak terbiasa untuk menjadi pusat tontonan maka aku pasti tidak akan memakai tudungku dan mulai memamerkan rambut putihku, tapi hari ini aku sedang berusaha menjadi bayangan.
Jalan utama kota Donuemont pada malam hari adalah yang pertama kali menyambut kami, setelah keluar dari kompleks Tenggara. Jalan utama ini membuat perasaanku cukup tenang, karena banyaknya orang yang berlalu lalang.
Jadi aku membuka tudungku dan membiarkan angin menyentuh rambutku. Di sepanjang jalan utama terdapat obor yang diletakkan dengan jarak tertentu di kedua sisi jalan utama. Obor-obor itu memiliki peran besar untuk penerangan kota pada malam hari.
Aku menyusuri jalan utama hingga tiba di taman tengah kota. Taman ini berbentuk besar dan cukup luas, lalu ditengah taman ini terdapat sebuah patung yang besarnya kira-kira lima kali tinggiku dengan balutan perak yang terlihat menawan di bawah cahaya bulan.
Dibawah patung itu terdapat ukiran tulisan yang berbunyi:
"ARASH: PENGUASA ADON, PEMILIK PERTAMA HARTASH"
Setiap kali aku mengunjungi Donater, aku selalu terpesona sekaligus bingung dengan patung ini. Patung ini begitu indah baik dibawah matahari maupun ditengah cahaya bulan, tapi tulisan dibawah patung ini benar-benar membingungkan.
Semua pertanyaanku soal arti kalimat dibawah patung ini selalu lenyap saat aku sudah kembali ke Rebeliand. Begitupun hari ini.
Patung itu merupakan pusat kota Donuemont, jadi aku mengarahkan Orion ke kanan untuk menuju ke kompleks bangsawan di timur laut.
Jalan utama yang membelah kompleks bangsawan di sisi kiri dan kompleks bisnis di sisi kanan ini jauh berbeda dengan jalan yang sebelumnya kulalui.
Perbedaannya adalah jalan ini dilalui banyak sekali orang-orang dengan baju yang sangat mewah, juga tentara yang lalu lalang dengan berisik. Orang-orang dengan pakaian yang terlalu biasa akan terlihat mencolok jika melewati jalan ini.
Wajar saja, karena beberapa saat lagi festival besar yang dihadiri Raja akan diselenggarakan disini. Tentu mereka akan mempersiapkan dengan baik untuk raja mereka.
Tiba-tiba seseorang menabrakku dari belakang hingga membuatku hampir terjatuh, untung saja aku masih memiliki keseimbangan yang hebat untuk tetap menjagaku berdiri. Aku mulai mencari tersangka utama yang menabrakku barusan.
Wanita bertudung yang beberapa langkah ada didepanku terlihat berlari-lari kecil untuk masuk ke kompleks tenggara, tentara di sebelahku terlihat tergesa-gesa untuk mengambil pedangnya yang terjatuh.
Seorang dengan jubah ungu berjalan masuk ke kompleks bangsawan sambil mengibaskan debu di bajunya. Salah satunya mungkin menabrakku karena terburu-buru.
Orion tidak setuju dengan pemikiranku. Dia menghentakkan kedua kaki belakangnya dengan pelan. Benar saja, ada sebuah kertas di bawah telapaknya.
Kertas itu hanya berisi empat kata yang ditulis dengan tinta hitam: TIGA LIMA KANAN BIRU.
Pesan itu jelas dari Amicia, entah dia menaruh kertas itu sejak awal di kaki Orion, lalu secara kebetulan aku tersadar karena orang yang menabrakku dari belakang membuatku bisa fokus. Atau pesan itu memang baru saja dia tinggalkan disini saat perhatianku teralihkan untuk mencari orang yang menabrakku.
Aku berpikir bahwa Amicia yang tidak memberiku informasi tentang rumah, atau penginapan yang akan ditempati Raja untuk malam ini, menandakan bahwa tempat tersebut pasti adalah tempat yang terbesar dan paling mencolok disini. Nyatanya, tempat itu juga butuh kutemukan dengan mengikuti petunjuk arah yang dia berikan.
Tujuh tahun menjadi teman seperguruan Amicia membuatku cukup mudah mengartikan sandi itu. Kata TIGA sudah pasti adalah kata ganti untuk jalan masuk ke kompleks bangsawan. Dari patung hingga pintu gerbang timur terdapat delapan sampai sepuluh jalan masuk ke kompleks tersebut. Jalan ketiga dari patung berarti didepanku.
“Jalan didepan kita bro” kataku kepada Orion
Biasanya Orion selalu tahu arti perkataanku dan mengikutinya dengan patuh, tapi kali ini Orion tetap bergeming. Karena itu aku memakai cara biasa. Aku menunjuk jalan itu kepada Orion dengan tangan kananku. Tapi sekali lagi Orion tetap bergeming.
Tiba-tiba Orion meringkik pelan lalu berjalan ke arah timur yang berarti kearah gerbang. Aku berlari untuk mengejarnya, tapi sebelum aku tiba disebelahnya dia malah menaikkan kecepatan.
Beberapa orang sempat kaget saat melihat Orion berlari kencang di jalan utama kota, tapi perlahan Orion tampak semakin kecil hingga akhirnya dari jauh aku melihatnya keluar dari Donuemont melewati gerbang timur.
Setelah membanggakan ikatan batinku dengan Orion, kini kuda itu meninggalkanku sendirian disini. Hanya padang rumput yang membuat Orion mengabaikanku, tapi meskipun diluar gerbang timur terdapat padang rumput bukan berarti alasannya meninggalkanku sekarang menjadi sah. Aku berharap semoga kuda itu pulang ke Rebeliand.
Aku memasuki jalan ketiga ini sendirian. Jalanan di kompleks bangsawan lebarnya setengah dari jalan utama kota, tidak terlalu besar tapi cukup untuk empat orang berpapasan.
Kompleks bangsawan berisi rumah-rumah yang dibagi dengan sebuah jalan, di setiap kompleks yang lebih kecil lagi yang kulewati.
Setiap kompleks kecil memiliki empat rumah yang membentuk kotak dengan rapi, yang dibelah oleh persimpangan. Sehingga meskipun di kompleks ini memiliki banyak persimpangan, tapi kompleks ini terllihat rapi dan teratur.
Kompleks bangsawan tidak berisi rumah besar atau istana, tapi kebanyakan rumah tingkat dua hingga tiga dengan ukuran sedang.
Rumah-rumah ini masih kalah jauh dibanding rumah keluarga Ekkehard, apalagi keluarga Ozihel. Rumah-rumah disini bahkan tidak jauh berbeda ukurannya dengan rumahku. Bedanya, pemilik rumah-rumah dikompleks ini adalah bangsawan yang memiliki akses langsung kepada Raja.
Ada banyak kemungkinan untuk kata selanjutnya di sandi yang diberikan Amicia. Kata LIMA dapat berarti ‘persimpangan yang membelah kompleks ini dengan rapi’, bisa juga berarti obor penerangan yang berhadapan di kedua sisi jalan, atau kandang kuda yang dimiliki bersama oleh setiap kelompok kecil?
Biasanya, sandi dari Amicia selalu bisa kupecahkan karena rahasia dasar dari sandinya adalah dia membuatnya sesuai dengan pikiranku. Jadi aku memutuskan kata Lima harusnya memiliki arti persimpangan yang kulewati.
Aku hanya fokus berjalan ke depan sambil tetap menghitung persimpangan yang kulewati.
'Satu, dua, tiga,' aku menghitung dalam hati.
Formasi rumah setelah persimpangan ketiga berubah menjadi satu rumah untuk satu kompleks kecil, dan ternyata semakin ke arah utara maka pemilik rumahnya pun semakin penting.
Empat, jalanan semakin sepi. Mungkin butuh ijin khusus saat memasuki area ini. Aku mencoba untuk tetap berjalan santai karena sisa satu persimpangan lagi.
Lima, ternyata adalah persimpangan terakhir yang hanya memiliki dua arah yaitu kiri dan kanan. Dan tepat didepanku sudah dibatasi dengan tembok kota.
KANAN adalah kata yang paling mudah diartikan dari keseluruhan sandi ini, jadi aku hanya belok ke kanan. Tapi kata selanjutnya jauh lebih sulit memecahkannya.
Kata terakhir, BIRU.
Sederhananya, kata itu mungkin menggambarkan warna rumah tersebut. Hanya saja kali ini Amicia menolak untuk ditebak semudah itu, karena jalan terakhir ini, tidak ada rumah yang berhubungan dengan biru.
Kelima rumah di jalan ini tidak ada yang memiliki warna, benda maupun perkakas biru. Belum lagi, jalanan di persimpangan terakhir ini lebih sepi dari persimpangan sebelumnya.
Tembok kota yang tepat didepanku akan membuka kemungkinan untukku dicurigai oleh pemanah diatas, dan daripada aku mencoba berdebat dengan salah satu tentara lebih baik aku mengamankan diriku.
Sudah saatnya aku memakai tudungku.
Tetap bertahan dalam gelap, adalah kalimat pertama yang disampaikan Masterku saat memulai setiap kelas mencuri. Sampai tujuh tahun berikutnya, kata itu selalu terngiang di otakku.
Tidak seperti jalan di depan kompleks, yang memiliki penerangan berupa tiang-tiang dengan obor diatasnya, setiap rumah disini tidak memiliki penerangan yang terlalu baik. Alasannya mungkin karena rumah yang lebih sedikit jadi hanya ada lima sumber cahaya di jalanan ini.
Semua rumah di kompleks ini menghadap ke jalan paling dekat, yang artinya kelima rumah ini memiliki pintu yang menghadap ke utara. Pintu belakang mereka berarti ada di selatan.
Aku mulai menyusuri pekarangan belakang dari rumah terdekat, sambil tetap memincingkan mata terhadap setiap hal yang berhubungan dengan biru sekaligus tetap menjaga diriku dalam kegelapan.
Rumah pertama sangat gelap dibagian dalam, dengan jendela yang mengarah ke pekarangan belakang terkunci.
Aku mungkin bisa langsung membobol jendela ataupun pintu yang terkunci, hanya saja rumah ini tidak ada sesuatu berwarna ‘biru’. Amicia tidak pernah memberikan petunjuk yang terlalu sulit untuk ditemukan olehku.
Aku melanjutkan ke rumah kedua, sebelum aku ke pekarangan belakang rumah ini, aku sekilas melihat bahwa rumah ini sama saja gelapnya dengan rumah pertama.
Hanya saja saat aku sampai di belakang rumah. Tidak ada jendela, pintu atau akses apapun untuk masuk kerumah ini yang berasal dari pekarangan.
Aku ingat sesuatu. Titik hitam gambaran Amicia ada di barat. Bukan pekarangan belakang yang harusnya aku perhatikan, melainkan sisi barat rumah yang harusnya kuperhatikan!
Aku kembali untuk mengecek rumah pertama lagi. Tapi kali ini sisi baratnya.
DUARRRR!!!!
Sebuah bunyi keras meledak dilangit malam kota Donuemont. Aku melihat kelangit, sebuah simbol perisai besar warna merah, simbol kerajaan Donater kurasa. Apakah kembang api itu menandai festival sudah dimulai?
'sial aku harus mempercepat gerakanku!!' Pikirku
Aku menyusuri jendela barat rumah pertama lebih dulu, hasilnya tetap nihil. Tapi jika semua rumah di sepanjang jalan ini dibangun dengan bentuk yang sama maka aku paham kenapa Amicia menyuruhku lewat jendela barat. Jendela barat mengarah langsung ke kamar, dengan kuncinya yang hanya sebuah slot dibagian bawah.
Akhirnya kutemukan! Itu adalah rumah keempat. Tepat dibawah jendela barat rumah ini, ada syal biru yang mengganjal jendela ini. Kali ini aku akan mengakui Amicia benar-benar membuat rencana yang sangat rapi.
Dalam kegelapan, kamar ini masih terasa sangat besar. Ranjang yang bahkan muat untuk empat orang ada diseberang jendela tempatku masuk. Berbagai lukisan besar menghiasi kamar ini, menandakan pemilik keseluruhan rumah ini adalah orang yang sangat kaya.
Targetku ternyata menungguku sejak tadi. Pedang itu tidak terlalu besar, pedang dengan panjang yang umum. Tidak ada pertanda apapun bahwa pedang itu adalah milik raja. Dia dipajang dengan rapi diatas tatakan perak. Ditatakan itu tertulis : OBOROTNI.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Sesosok wanita mendorongku dengan lembut, saat aku masih menimbang soal pedang itu adalah milik raja atau bukan. Lalu dia mengambil pedang itu dari tatakannya.
“Hei, siapa kau!” sergahku.
Wanita itu menaruh jari telunjuknya di bibirku. Lalu dia mendekatkan wajahnya kepadaku, membuatku sadar bahwa dia adalah si pembuat rencana. Iblis itu lagi.
“Kau pikir siapa lagi yang tahu rencana ini dasar bodoh” sahutnya sebal.
Nah kau sudah tahu kan? Inilah Amicia yang sebenarnya. Kasar, tukang perintah, dan memandang rendah orang lain. Manisnya diawal adalah topeng.
Dia menjauhkan wajahnya dariku, lalu memberi perintah, "Kita pergi!"
Setelah itu Amicia membuka paksa tasku, lalu memasukkan pedang itu kedalamnya dalam diam. Cewek itu lalumembuat gerakan dengan tangannya, yang kira-kira berarti Ikuti aku.
Kami keluar dari rumah itu lewat jendela tempatku masuk. Cahaya bulan diluar rumah ditambah penerangan obor membuat Amicia terlihat jelas didepanku.
Aku pikir dia mengalihkan perhatian sang pemilik rumah lewat menyamar dengan memakai gaun mewah untuk menarik perhatian para lelaki, nyatanya dia hanya memakai pakaiannya yang biasa. Jadi sebenarnya cara apa yang dia lakukan untuk menarik perhatian?
Aku mempercepat langkahku agar bisa bersebelahan dengan dia.
“Hei” kataku lirih. “Pengalih perhatian macam apa? Kau hanya memakai setelanmu yang biasa”.
Amicia bahkan tidak menolehku sama sekali, saat dalam misi pencurian maka iblis ini berubah dari gadis yang riang menjadi gadis tangguh. Memberikan pertanyaan bodoh saat situasi masih belum aman adalah layak untuk tidak diacuhkan.
Kami sampai ke persimpangan, tapi kami masih tetap menjaga diri dengan tetap dalam gelap. Sayup-sayup terdengar kemeriahan festival dari kejauhan. Taman tengah kota? Kompleks perumahan warga? Aku tidak tahu dimana festival itu berlangsung, dan Amicia sedang dalam mode tidak mau ditanyai apapun.
DUAAAARRR!!!
Ledakan lagi di langit. Kali ini bentuknya adalah kapak dengan cahaya hijau.
“sial, festival sudah berakhir!” Amicia mengumpat dengan pelan.
Sesuai dugaanku, sudah pasti festival akan diakhiri dengan kembang api. Cara mereka mengakhiri, biasanya sama dengan cara mereka mengawali.
“Gerbang Utara Lass, tunggu aku disitu!" Bisiknya, sambil menggenggam tanganku.
“Berjanjilah bahwa kau harus sampai disana lebih dulu, cari tempat persembunyian, dan kita pergi bersama” lanjutnya.
Aku mengerutkan kening, lalu berkata "Oh oke, aku janji"
Cukup aneh melihat Amicia berbicara kepadaku sangat serius. Tapi apapun alasannya aku akan tetap melakukan permintaannya.
Dia mengangguk pelan kepadaku, lalu pergi kearah jalan masuk kompleks timur laut ini. Sedangkan aku tinggal menyusuri jalan ini hingga keluar ke Gerbang Utara. Sejak tadi aku merahasiakan soal kepergian Orion kepada Amicia, cukup memalukan mengatakan hal tersebut kepada sainganmu.
Setidaknya sampai di gerbang utara nanti aku memiliki misi baru. Aku harus mencari kuda baru untuk membawa kami pulang ke Rebeliand. Karena aku tidak boleh membuat rencana Amicia gagal hanya karena kebodohanku melepas Orion.
Suara-suara langkah kaki mulai mendekat, bercampur dengan tawa, maupun percakapan dengan suara keras.
'Festival sudah selesai' batinku.
Berarti para pemilik rumah di sepanjang jalan ini akan kembali. Tinggal menunggu sebuah keributan besar yang disebabkan karena sebuah pedang istimewa yang hilang.