Aku sampai ke gerbang utara lebih cepat dari pada Amicia.
Perjalananku hingga sampai ke gerbang utara tidak ada halangan sama sekali, mesipun aku harus melewati banyak orang yang baru pulang dari festival dengan wajah yang riang.
Beberapa orang hanya melemparkan senyum ramah kepadaku, bahkan beberapa dari mereka sama sekali tidak peduli padaku saat aku melewati mereka.
Lebih aneh lagi, adalah fakta bahwa Gerbang Utara terbuka lebar – padahal gerbang ini ‘katanya’ yang paling ketat – tanpa penjagaan sama sekali. Jadi aku hanya melenggang santai keluar dari kota ini.
Pemandangan malam hari diluar tembok Donuemont tidak terlalu meriah, bahkan jauh dari kata meriah. Diluar gerbang utara atau lebih tepatnya di tembok bagian luar kota ini terdapat banyak sekali gelandangan.
Mereka hanya memakai kain seadanya untuk alas tidur, yang berdempet dengan tembok kota. Pemandangan yang suram, apalagi di dalam tembok baru saja diadakan festival.
Beberapa orang gelandangan menoleh kearahku saat melihatku keluar dari kota. Tapi tidak ada hal signifikan yang mereka lakukan, mereka hanya melihatku, lalu kembali melakukan apapun yang mereka sedang lakukan sebelumnya. Kebanyakan kembali tidur, sisanya mencari-cari sesuatu di tanah.
Sebenarnya aku ingin sekali memberi mereka makan, tapi saat ini aku belum boleh melakukan sesuatu yang mencolok. Kesampingkan dulu soal memberi mereka makan, aku akan mengurus urusanku sendiri.
“Mana Orion?” tanya sebuah suara dari belakang kepalaku.
Aku menoleh ke sumber suara. Sebuah wajah yang diisi dengan sepasang mata abu-abu, hidung mancung dan bibir tipis yang melengkung dengan senyum sinis kepadaku. Orang ini adalah alasanku ada di gerbang utara.
“Orion pergi,” sahutku muram.
Dia menepuk pundakku pelan, " Santai sayang, Orion akan menjemput kita dalam lima detik."
Amicia berteriak “TIGA, DUA, SATU!"
(Sebuah info penting: Jangan pernah berpikir bahwa gadis cantik dengan karakter aneh, mengarah ke sadis atau gila adalah cewek yang perlu diperjuangkan. Suatu hari dia bisa tiba-tiba mencuri bekalmu, senjata kesayanganmu dan mencuri kepercayaan sahabatmu).
Orion muncul dari cakrawala dengan lari yang cukup kencang, apakah dia sedang bersemangat karena dipanggil oleh Amicia? Kuda putih itu sampai didepan kami tanpa terlihat kelelahan sama sekali.
“lima detik ya?” sindirku.
“Dua detik sudah kuhabiskan untuk menepuk pundakmu,” kata Amicia santai.
Aku berpaling ke Orion, “Jadi ini caramu memperlakukan sahabatmu bro?” gerutuku.
Dia meringkik pelan sambil menunduk. Menurut sinyal ikatan batinku dengannya, dia berkata 'sori bro, tapi rencana Amicia jauh lebih aman daripada rencanamu.'
Untung saja itu hanya terkaanku, kalau saja Orion bisa berbicara dan mengatakan hal tersebut lebih baik aku mati sekarang juga.
Orion menyundulkan kepalanya pelan kepadaku. “Sori bro, tapi rencana Amicia jauh lebih aman daripada rencanamu."
Sepertinya ikatan batinku sudah terlalu kuat kepada Orion, sampai seolah aku bisa mendengar suaranya. Kuputuskan untuk tetap diam. Sudah cukup kegilaan Amicia untuk hari ini, aku tidak mau menambah kegilaannya dengan mengejekku berbicara dengan kuda.
“Jauh lebih aman," kata Amicia kembali menekankan perkataan Orion.
“Apa?” sergahku.
“Orion sendiri yang bilang rencanaku jauh lebih aman,” ejek Amicia.
Harus kuakui memang rencana Amicia jauh lebih aman. Rencana awalku soal Orion adalah dia menungguku diluar jendela rumah, dan langsung membawaku kabur dari kota setelah mendapatkan pedang Raja.
Dengan segala macam bangsawan dan kepadatan di kompleks timur laut, maka membawa Orion masuk akan semakin mencurigakan. Dan Orion juga susah menyembunyikan tubuhnya yang besar.
Tapi tunggu, kenapa Amicia tiba-tiba mengatakan jauh lebih aman?
Seolah membaca pikiranku, Amicia tersenyum kearahku dan berkata pelan, “Orion bisa bicara Lass. Dia merahasiakannya darimu, karena ternyata kalian bisa bicara lewat pikiran.”
Selama sepersekian detik aku hanya bisa melongo, karena ucapan Amicia terdengar tidak rasional ditelingaku.
“Jadi selama ini yang kudengar bukan dia meringkik?” tanyaku mencoba tetap tenang.
“Kau hanya berusaha tidak menjadi gila,” jawab Orion.
Astaga, jadi kudaku memang benar-benar bisa berbicara. Dan berpikir bahwa rencana iblis itu lebih aman daripada rencana sahabatnya.
“Kita pergi sekarang,” tegas Amicia. "Orion akan memimpin jalannya, jadi kita bisa tidur di punggungnya.”
“Tidak, kita tetap harus terjaga,” sergahku.
“Lass, Orion bukan kuda biasa, dia akan menjaga kita sampai rumah,” sahut Amicia tenang. "Lagipula kita harus tidur.”
“Iya bro, kau bisa percaya padaku,” Orion sepakat.
Karena aku kalah suara dengan mereka berdua, maka aku pun langsung tertidur saat sampai diatas punggung Orion. Kalian mungkin mulai menghujatku dengan kalimat seperti 'Hei bukankah sebelum ini kau sudah tidur! atau Harusnya kalian bertiga tidur bersamaan!'
Nyatanya aku tetap mengantuk dan butuh tidur. Pencurian ini cukup melelahkan.
Aku tidak tahu apakah sebelum ini Orion sudah tidur. Aku tidak tahu apakah saat aku tidur di kamar penginapanku, pada saat yang sama Amicia juga tidur di kamarnya – bukan berarti aku peduli padanya loh ya – tapi saat membangunkanku dia tampak segar.
Harusnya dia juga sudah tidur. Angin malam diluar tembok Donuemont dan guncangan pelan yang membuat kami naik-turun di punggung Orion benar-benar obat tidur yang ampuh.
Aku memeluk leher Orion ditengah lari kencangnya dan mengikuti saran Amicia untuk tertidur pulas.
*****
Aku terbangun lebih dulu ketimbang Amicia.
Masih dalam keadaan setengah sadar, aku melihat situasi sekitar. Aku tertidur di rerumputan rupanya, dengan Amicia tepat disebelahku yang masih tertidur pulas.
Tak jauh dari kami ada Orion yang sedang duduk santai – atau berbaring aku tidak tahu – intinya dia sedang melipat keempat kakinya dan menikmati rumput didepannya.
Aku menghampirinya lalu duduk disebelahnya. “Jadi kau ini sebenarnya apa?” tanyaku penasaran.
Orion tidak mengalihkan pandangannya dari rerumputan didepannya, “Menurutmu?”
“Semacam makhluk sihir?” kataku. “Atau mantan manusia?”
“Mungkin keduanya.” Orion tertawa – maksudku dia benar-benar tertawa bukan meringkik. "Aku adalah saudara dekat dari serigala abadi, kami berdua adalah ciptaan Yang Mulia Cyprian."
Cyprian? Rasanya aku pernah mendengar nama itu di suatu tempat. Seperti biasa aku suka melupakan hal-hal remeh.
“Xenia.. begitu kami menyebutnya, kalian menyebutnya Dewa,” Orion menjelaskan. “Dan kau barusan mencuri, tepat disaat festival untuk Penciptaku diadakan."
Oh ya! Festival di Donuemont tadi adalah festival untuk menghormati Cyprian, dan Cyprian adalah pencipta sahabatku. Astaga aku sungguh tidak mengerti tentang kasus penciptaan ini. Yang kutahu adalah aku anak ayah dan ibuku, fakta lainnya aku tidak peduli.
Ayahku pernah mengatakan padaku bahwa Ueter didiami banyak ras yang diciptakan oleh Tuhan. Elf – si kuping lancip, kurcaci – cowok berjanggut tapi pendek, dan banyak lainnya.
Aku tidak pernah peduli dengan dongeng itu, karena menurutku tidak masuk akal. Seumur hidup aku hanya bertemu manusia – dan hewan-hewan yang tidak aneh – dengan segala macam warna kulit, mata maupun rambut. Tapi toh, tetap manusia, sama denganku.
Sekarang kuda yang setiap hari diberi makan sayur oleh ibuku malah bercerita bahwa dia bukan hewan biasa, dan dia tidak memiliki Pencipta yang sama denganku.
Aku lumayan penasaran, lalu mengajukan pertanyaan pada Orion, “Maksudmu Cyprian adalah Tuhan?”
“Bukan Bro,” Orion menggelengkan moncongnya. “Keluargamu menyembah Ulea dan Ya... Dia adalah Tuhan. Dia dikenal dengan nama itu di pulau Adon”
Orion berdiri sambil memuntahkan ampas rumput yang terselip di giginya, “Jauh sebelum Ulea menciptakan elf, manusia, lalu kurcaci, Dia menciptakan dua belas makhluk yang lebih berkuasa daripada tiga makhluk tersebut. Mereka adalah Xenia.”
Aku melongo. “Jadi Xenia adalah penjaga Ulea?”
Orion berdecak, “Masih salah. Xenia adalah perpanjangan tangan Ulea untuk menjaga Ueter. Ulea terlalu berkuasa, terlalu kuat, Dia tidak bisa ditemui. Xenia bisa, dan Xenia adalah wakil Ulea.”
“Jadi Xenia bisa ditemui?” tanyaku. “Dimana mereka tinggal?”
Orion mengarahkan moncongnya ke Utara. “Diujung arah utara adalah rumah mereka.”
Jadi para makhluk yang kuat dan hampir tidak terbatas itu tinggal satu dunia dengan kami? Terlebih mereka mengawasi kami untuk mematuhi perintah atasan mereka, yang adalah makhluk terkuat yang disembah keluargaku.
Jika cerita Orion adalah fakta, maka ayahku tidak salah memilih sesembahan. Ayolah! Kita menyembah yang Tertinggi bukan Cuma bawahan!
Aku mencabuti rumput dibawah kakiku.“Jadi kau diciptakan oleh Xenia?”
“Ya,” Orion mengangguk. “Ada dua belas Xenia, setiap dari mereka mengatur sebuah aspek penting di Ueter. Tuan Cyprian adalah Xenia untuk alam liar, dia disebut sang pelindung, dan dialah yang menciptakan semua hewan yang ada di Ueter.”
“Setelah melihat bahwa semua hewan yang dia ciptakan ternyata saling bermusuhan maka atas nasihat dari Juriore, sang penyeimbang, maka Cyprian menciptakan tiga ras hewan paling kuat yang bertugas untuk menjadi pemimpin para hewan. Jembatan antara setiap hewan" lanjutnya.
Kembali nama aneh muncul lagi dari mulut sahabatku. Tapi kurasa nama itu cukup penting.
“Tunggu,” potongku. "Jadi kau termasuk semacam hewan bangsawan? Raja hewan?”
“Salah lagi,” kata Orion. “Kami bukan Raja, kami adalah pelayan. Kami melakukan hal-hal yang penting untuk tetap menjaga hutan tetap terlindungi, hewan tetap berkembang biak, dan membuat perjanjian dengan ras lain untuk keamanan hidup para hewan. Sekali lagi, kami adalah jembatan”
Jembatan adalah kata yang cukup mudah diterjemahkan. Sebuah jalan panjang dari kayu yang berfungsi menghubungkan dua ,atau lebih daratan yang terpisah oleh air. Dalam kasus Orion, daratan itu adalah hewan dan ras lain, dan airnya adalah ego setiap ras.
“Jadi hanya tiga ras tersebut yang bisa berbicara kepada manusia? Sedangkan hewan lain hanya hewan biasa,” aku menyimpulkan.
“Tepat sekali,” Orion sepakat. “Kami akan berbuat apapun yang membuat hewan-hewan lain dapat sejahtera.”
Tidak kusangka bahwa aku sudah berteman dengan seekor kuda yang begitu mementingkan kepentingan hewan lain daripada dirinya sendiri.
“Dua ras yang lain adalah?” tanyaku.
“Selain rasku, yaitu kuda abadi yang mewakili hewan pemakan tumbuhan, ada ras serigala abadi yang mewakili hewan pemakan daging, dan ras Garuda sebagai wakil hewan yang bisa terbang.”
“Selain kau? Siapa kuda abadi yang lain?” tanyaku.
Ternyata pertanyaanku tepat sasaran. Lain kali, saat Orion mulai mendongeng maka aku cukup hanya mendengar.
Orion menatap langit yang dipenuhi bintang, “Tidak ada, setiap ras hanya ada tiga ekor. Satu untuk setiap pulau. Seingatku hanya wakil dari pulau Adon yang masih hidup dari setiap ras," Katanya muram.
Aku menafsirkan bahwa dongeng hari ini sudah cukup. Orion akan berbagi soal cerita itu dilain hari, mungkin. Tapi aku tidak mau membebaninya dengan ingatan yang menyakitkan itu. Oke saatnya mengganti topik.
“Apa yang membuatmu memutuskan akhirnya berbicara kepadaku?”
Orion melihatku dengan kedua matanya yang besar.
“Firasat,” dia berkata pelan. “Sesuatu yang besar akan terjadi di Adon atau bahkan Ueter.”
Aku tersenyum, “Kau mengkhayal!"
Ekspetasiku Orion akan tertawa atau berteriak KAU TERTIPU!! Karena aku sudah menebak leluconnya.
Tapi ternyata Orion tidak bergeming sama sekali, dia serius.
Aku membelai kepalanya dengan lembut. “Hanya firasat, bung,” kataku menenangkan.
Orion hanya diam. Tapi sorot matanya menyiratkan ketegasan.
“Jadi aku melewatkan apa?” suara riang Amicia mengejutkanku.
Amicia masih berbaring di rumput dengan alas kain seadanya – aku tidak tahu Orion mendapat itu darimana – matanya sangat sayu. Dia mengangkat kedua tangannya untuk meregangkan badan.
“Hanya obrolan lelaki," jawabku sinis.
Amicia menaikkan alisnya “Oke, lain kali akan kurahasiakan rencanaku dari para ‘lelaki.”
“Padahal siapa yang minta untuk dibuatkan rencana,” gerutuku.
Iblis itu bertepuk tangan. “Sama-sama.”
Nah kan! Iblis ini benar-benar sudah tidak waras, untungnya dia masih anak Masterku.
“Sssssttt!” desis Orion yang menghentikan debatku dengan Amicia. “Cia sini, kedekatku!” perintahnya dengan suara pelan.
Dia berjalan dengan pelan ketempatku dan Orion. “Ada apa?” bisik Amicia.
Orion menghentakkan satu kaki depannya ke tanah. “Tetap diam!" perintah Orion. “Aku sudah memagari kita dengan sihir hutan. Jadi orang-orang itu tidak bisa melihat kita. Hanya saja mereka masih bisa mendengar kita.”
Jika situasinya lain, sudah pasti aku akan menggebuki tubuh Orion sampai kulitnya berubah jadi merah. Empat bulan! Dan dia tidak memberi tahuku bahwa dia bisa memakai sihir hutan. Aku cukup mengumpat dalam hati dan semoga Orion bisa mendengarkan umpatanku.
Perlahan tapi pasti aku mendengar apa yang didengar oleh Orion. Suara kaki kuda yang berlari kencang, tapi suara ini sangat keras. Mungkin lusinan kuda yang berlari kencang.
Sekitar selusin kuda muncul dari tengah kegelapan, dengan penunggang yang berbaju zirah lengkap dari ujung kaki hingga kepala. Helm mereka yang hanya memperlihatkan mulut dan mata setiap orang, dihiasi dengan bulu-bulu perak diatas bagian ubun-ubun. Dua orang dibagian paling depan mengangkat bendera dengan tangan kanannya, sedangkan yang lain mengangkat pedang.
“Siapa mereka?” bisikku.
Amicia menggeleng, tapi Orion masih menatap orang-orang itu dengan serius.
Akhirnya para penunggang kuda itu melewati kami seolah kami adalah bagian dari hutan.
Mereka bahkan tidak melihat kami sama sekali. Orion benar-benar harus kugebuki saat pulang, sihirnya benar-benar manjur. Sekilas kami melihat gambar yang ada di bendera tersebut adalah pedang berwarna perak, saat dua orang pemegang bendera tersebut melewati kami.
Selepas itu, Orion mematikan sihirnya dengan kembali menghentakkan kaki depannya ke tanah. Karena Amicia hanya menggeleng saat aku bertanya soal mereka, maka aku memutuskan bertanya kepada Orion.
Akhir-akhir ini aku sungguh sangat mengecewakan. Dibuatkan rencana oleh perempuan, meminta nasihat pada kuda. Yah, apalagi yang bisa kulakukan?
Ternyata aku meremehkan Amicia, cewek itu tiba-tiba berkata, “Mereka adalah pasukan pedang perak dari Preant,” kata Amicia.
Tunggu, Aku tidak salah lihat kan? Bibir Amicia bergetar saat mengucapkan nama itu. Amicia tidak pernah terlihat setakut ini.
“Kalian berdua naik ke punggungku!" perintah Orion tiba-tiba.
Aku mengangkat tanganku, “Tunggu, kau bisa jawab dulu pertanyaanku kan?”
“Tidak ada waktu Lass!!” Orion berteriak. “Rebeliand mungkin dalam bahaya sekarang. Cepat naik!”
Aku ingin berdebat dengan Orion lebih lanjut, tapi saat dia menyebut Rebeliand maka otakku berhenti. Para tentara dengan senjata lengkap, Amicia yang ketakutan, Orion yang serius, dan Rebeliand dalam bahaya.
Jika potongan itu disatukan maka hasilnya benar-benar tidak bisa aku terima. Aku putuskan untuk mangambil tasku – begitu juga dengan Amicia – lalu kami berdua naik ke punggung Orion.
Tanpa menunggu perintahku, Orion langsung memacu larinya sekencang mungkin. Menuju tempat tujuan kami.
Rumah.