Kami hanya diam saat Orion berlari kencang.
Hanya sekilas yang tertangkap oleh mataku, yaitu banyak warna hijau, coklat, putih, yang berseliweran disebelah kami. Apakah kekuatan lain dari Orion adalah lari cepat? Jika jawabannya iya, maka aku bertekad untuk menggebuki dia hingga biru – bukan lagi merah.
Tekadku harus kupendam dahulu karena ada masalah serius didepan kami. Selusin tentara yang tebakanku bukan dari pulau Adon berpapasan dengan kami dalam perjalanan kami pulang ke Rebeliand.
Sejak itu Amicia jadi ketakutan setengah mati, sedangkan Orion jadi kuda tukang perintah – hai bro apa kabar dengan kami adalah pelayan bla bla bla – intinya mereka berdua merasakan sesuatu yang tidak beres.
Kesimpulan Orion, sumbernya adalah Rebeliand alias rumah kami.
Dalam kesunyian perjalanan pun, aku mulai mengingat saat para tentara itu melewati kami yang sedang dalam lingkup sihir Orion. Helm, baju zirah, bendera, pedang. Oh astaga! Aku ingat detail penting yang membuat Amicia ketakutan.
Beberapa pedang mereka meneteskan cairan merah segar – darah? – yang membuat Amicia ketakutan setengah mati. Artinya mereka baru pulang dari p*********n. Lalu kenapa Orion menyimpulkan Rebeliand?
Tidak mungkin yang dibantai adalah Rebeliand kan? Desa kami tidak pernah bermusuhan dengan kerajaan lain. Ataukah akibat pencurian hari ini? Tapi kami baru keluar dari kota Donuemont dalam beberapa jam.
Mereka tidak mungkin secepat itu menyimpulkan bahwa orang Rebeliand yang mencuri pedang Raja.
Aku tidak suka berada dalam situasi serba tidak tahu.
“Adakah dari kalian yang mau menceritakan apa yang sedang kalian takutkan!” teriakku mencoba mengatasi angin kencang.
“Mereka salah satu pasukan elit Kerajaan Preant!" Amicia berteriak dibelakangku. “Setahuku jika mereka sampai bergerak maka akan ada pertumpahan darah," tambahnya.
Aku menoleh ke Amicia, lalu bertanya, “Lalu kenapa Orion menyimpulkan Rebeliand?”
Amicia hanya mengangkat bahu. “Itu kesimpulan Orion, bukan kesimpulanku.”
Aku kembali menoleh ke depan lalu menepuk leher Orion. “Giliranmu menjawab bro!"
“Firasat!" teriak Orion.
Apa hubungan seekor kuda dengan firasat? Bukannya kuda lebih punya hubungan istimewa dengan pelana atau poni?
“Bisa kau jelaskan!” teriakku.
“Sebentar lagi kita sampai, kita akan memeriksanya!” balasnya.
Beberapa saat lalu, Orion membuka rahasia soal kemampuannya bisa berbicara, lalu kami mengobrol santai. Orion menceritakan soal bagaimana Ueter diciptakan termasuk segala ras didalamnya, tentang dia termasuk ras apa – yaitu kuda abadi – dan sampai di momen dia mendemonstrasikan kekuatan sihir ‘hutannya’.
Lalu dia bermain dengan firasat, dan kali ini dia berkata, bahwa dalam waktu tidak sampai satu jam dia sudah membawa kami ‘hampir’ sampai di Rebeliand. Sungguh ingin kugetok kepala kuda sok keren ini.
Firasatku dia punya kekuatan lari cepat. Kenapa aku juga ikut berfirasat sih?
“Pos utara,” Amicia berbisik di telingaku, sambil menunjuk ke sebuah titik hitam di cakrawala.
Dalam keadaan biasa, sudah pasti aku akan menjauhkan diriku dari kemesraan fana yang ditunjukkan iblis ini padaku. Tapi situasi kali ini tidak mendukungku untuk menunjukkan sikap anti-iblis kepadanya.
Aku memincingkan mata ke arah yang ditunjukkan Amicia kepadaku, pos Utara tampak baik-baik saja dari kejauhan. Tapi perlahan saat kami mendekatinya dengan kecepatan ekstrem dari Orion, ternyata pos utara tidak sebaik itu.
Saat Orion berhenti didepan pos utara, kami baru sadar bahwa pos utara sangat aneh untuk ukuran pos paling ketat di desa kami. Pos ini tidak memiliki penjaga.
Amicia turun dari punggung Orion, sembari memberi perintah, “Kita berpencar!” katanya.
“Lass susuri area perumahan bagian selatan, termasuk pelabuhan. Orion akan menelusuri semua pos. Aku ke penginapan dan utara perumahan, dan kita bertemu lagi disini!” tambahnya.
Lagi-lagi Amicia yang memberi perintah. Tapi kali ini bukan saatnya untuk berdebat, Rebeliand sungguh aneh kali ini. Aku memasang wajah serius dan mengangguk tegas kepada mereka berdua, dan kami pun berpencar.
Sebenarnya kami baru berpencar saat Orion selesai memberi kami berdua tumpangan. Mula-mula Orion menurunkan Amicia di penginapan Master Ozihel, kemudian dia menurunkanku di pelabuhan Master Tosval. Baru setelah itu Orion pergi ke pos barat laut.
Keanehan Rebeliand semakin jelas saat aku didepan pelabuhan. Meskipun saat ini sudah hampir fajar, tapi tidak ada satu orang nelayan pun yang menjaga pelabuhan. Tidak mungkin semua nelayan itu pergi ke laut bersamaan.
Aku mulai mengecek rumah singgah para nelayan yang terletak disamping pelabuhan, dan rumah ini tidak dikunci seperti biasa. Ruang depan yang luas untuk tempat mengobrol santai para nelayan kosong melompong.
Tujuh kamar yang ada juga tidak dikunci, namun sama saja, tidak ada orang sama sekali.
Berbeda dengan pos utara yang seolah 'ditinggalkan' dengan rapi. Rumah singgah ini terlihat seperti ada adegan pembelaan diri. Di beberapa sudut rumah terdapat bercak-bercak darah.
Tempat paling banyak darah malah ada di bagian belakang rumah, yang memiliki akses langsung ke laut. Sebuah pertengkaran yang mungkin mengarah pada pilihan ‘tenggelam atau ditawan’.
Jejak darah yang sangat banyak di bagian ini, membuatku berharap semoga ini milik orang yang bukan bekerja disini.
Aku ingin sekali cepat lari kerumahku dan melihat keadaan kedua orang tuaku. Tetapi aku tidak boleh kalah dengan emosiku saat ini.
Aku harus memeriksa setiap rumah dengan seksama, mungkin ada tanda siapa penculik orang-orang desaku. Rumah lain juga tidak ada bedanya. Perumahan warga tidak memiliki tanda kehidupan sama sekali. Dari tiga belas rumah yang harus aku periksa, aku kebagian enam rumah paling selatan.
Ini Gila! Penculikan macam apa yang sampai mengosongkan desa?
Aku sampai di depan rumahku. Karena rumahku terletak di bagian paling selatan desa ini maka aku juga kebagian jatah memeriksa rumahku. Aku hanya berharap sedikit keajaiban di tengah kekacauan ini.
Meskipun rasanya tidak adil, diam-diam aku berdoa supaya orang tuaku ada didalam. Ternyata rumahku tidak mendapat keajaiban.
Aku memasuki rumahku dengan cepat, untuk langsung memeriksa apakah kedua orang tuaku ada didalam. Hasilnya nihil.
Jadi aku mulai memeriksa setiap detail kecil seperti yang kulakukan di rumah lain. Aku harus menemukan kedua orang tuaku, dan tersangkanya harus membayar dengan mahal saat berurusan dengan Rebeliand.
Ruang depan tidak terdapat tanda apapun, jadi aku melanjutkan ke dapur. Sebelumnya aku hanya sekilas di dapur, sekarang saat aku kembali kesini dan memeriksa dengan teliti membuat mataku langsung panas.
Kursi yang tergeletak di bawah meja memiliki banyak tetes darah yang masih segar di kakinya. Aku tidak mau tahu siapa pemilik darah tersebut.
Hanya saja, jika pemilik darah itu adalah salah satu dari kedua orang tuaku maka yang melakukannya harus membayar sangat mahal. Mereka berani bermain api dengan kedua orang yang paling kusayang.
Tapi siapa mereka? Tidak mungkin mereka bisa dengan cepat membawa seluruh warga desa tanpa sebuah perang besar. Hanya percikan darah segar yang ada disetiap rumah, bukan genangan darah.
Pikiranku tertuju kepada para tentara perak yang membuat Amicia ketakutan. Tapi jika mereka melakukan penculikan, lantas kemana mereka membawa warga desa kami? Bukankah kami melihat bahwa mereka tidak membawa tawanan? Atau ada detail kecil yang kami lewatkan?
Sebuah langkah mendekat kearahku. Sial!!
Pisauku masih ada dalam tas.
Tapi dengan tangan kosongpun, aku tetap bukan lawan yang mudah dikalahkan.
Apakah penyerang desa kami masih ada disini?
Tepat saat aku berbalik dan bersiap melawan si penyerang, ternyata Amicia menubrukku dengan sebuah pelukan.
Dia menangis – tidak keras atau sesenggukan – tapi merasakan tubuhnya bergetar membuat amarahku meluap.
Sebenarnya aku bisa saja menangis bersama Amicia, hanya saja aku tidak akan pernah melakukan itu. Bukan karena alasan aku masih ingin terlihat lebih baik darinya, tapi karena salah satu dari kami harus menenangkan yang lain.
Aku kebagian peran itu di situasi sekarang.
Aku memutuskan tidak bertanya apapun kepadanya, dan hanya membalas dengan lembut pelukan Amicia kepadaku, menurutku itu akan lebih menenangkannya.
Setelah dia sudah puas menangis dengan lirih di pelukanku, Amicia mengelap matanya dengan kedua tangannya. Meskipun masih sembab karena bekas tangisan, tapi Amicia terlihat jauh lebih baik daripada beberapa saat lalu saat masih dalam pelukanku.
“Ada darah di ruang latihan kita,” rintihnya, suaranya masih bergetar. “Dan jauh lebih banyak darah di penginapan, ini... ini... mimpi buruk Lass!"
Alasan Amicia menangis sudah jelas, ruang latihan kami artinya tempat kesukaan Masterku. Kemungkinan darah di ruang itu adalah darah Masterku, yang adalah ayahnya.
Tapi darah yang banyak di penginapan? Ditambah temuan darah di pelabuhan olehku, artinya yang diincar penculik itu bukan orang Rebeliand asli, melainkan semua orang yang ada di Rebeliand.
“Rumah para nelayan juga terdapat bercak darah di ruang depan,” kataku muram.
Amicia memandangku dengan nelangsa lalu menarik salah satu kursi meja makanku, sambil bergumam, “Astaga, Iblis mana yang menyerang desa kita?” Dia kembali menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “Ini Gila, Lass!"
Amicia benar. Iblis yang menyerang desa kita adalah iblis yang gila. Lebih gila lagi saat aku melihat Amicia menangis didepanku. Tetapi aku tidak bisa menghakimi sikapnya, aku pun ingin ke lantai atas lalu bergelung di kasurku sambil menangis. Toh aku masih dirumahku.
Tapi yang ada di otakku hanya mencari jawaban soal pelaku semua ini. Iblis gila mana yang berani menculik semua orang di desa kami?
'Ulea, semoga Kau mendengarku. Tolong jaga warga desaku, hingga kami menyelamatkan mereka' doaku dalam hati.
Suara derap kuda berhenti di tepat didepan pintu rumahku.
“Lass! Amicia!” teriak Orion.
Aku bergegas keluar rumahku meninggalkan Amicia yang masih menangis di meja makanku. Aku harus membiarkan Amicia menenangkan diri sejenak, cewek itu bukan tipe orang yang suka dikasihani.
“Apa yang kau temu...,” ucapanku terhenti saat aku melihat apa yang ada diatas punggung Orion.
Sebuah tubuh yang sedikit lebih tinggi dariku tergolek lemas seperti boneka dipunggung Orion. Seorang pria muda dengan kulit putih – lebih gelap dibanding kulitku – dengan rambut hitam panjang awut-awutan.
Terakhir kali kulihat rambut panjang itu masih terkuncir rapi. Bajunya memiliki banyak sobekan dengan darah mengalir dari setiap sobekan, seperti mengatakan bahwa dia telah berjuang mati-matian untuk membela diri. Di paha kanannya, terdapat sebuah luka tusukan cukup besar – tombak tebakku – yang terlihat menyakitkan.
Aku tidak tahu mana yang lebih baik. Tidak menemukan orang sama sekali, melainkan hanya darah segar, atau malah menemukan orang yang kita kenal meninggal mengenaskan didepan mata kita. Keduanya bukan pilihan yang layak dipilih.
“Solastra!” teriak Amicia yang sudah ada dibelakangku.
Amicia melewatiku yang masih terdiam didepan pintu, melihat tubuh sahabatku tampak begitu mengerikan. Amicia langsung meminta penjelasan dari Orion.
Amicia menunjuk tubuh Solastra, “Dimana kau menemukannya?”
“Pos timur laut,” jawab Orion dengan lirih. Bahkan kuda ini pun tidak bisa menyembunyikan kesedihannya melihat Solastra.
“Lass bantu aku menurunkannya,” pinta Amicia.
“Sebenarnya dia harus tetap ada di punggungku karena kita harus bergegas ke hutan terdekat,” tukas Orion. “Dia masih hidup.”
“Apa!” pekikku dan Amicia bersamaan.
Secepat kilat maka Aku dan Amicia langsung mengecek nadi dari Solastra. Amicia ke pergelangan tangannya dan aku ke lehernya. Orion benar, ada denyut lemah di lehernya.
Amicia mengangguk kepadaku, untuk mengkonfirmasi bahwa dia juga menemukan denyut nadi lemah di pergelangan tangan Solastra.
“Masih tidak percaya?” tanya Orion. Dia menghentakkan kedua kaki depannya
“Dudukkan dia, lalu kalian berdua cepat naik ke punggungku" perintah kuda putih itu.
Aku dan Amicia menurut pada Orion. Kami mendudukkan Solastra, lalu naik ke punggung Orion. Aku di depan, Amicia di belakang, dan Sol di tengah. Orion langsung memacu keempat kakinya untuk kembali berlari kencang saat kami sudah diatasnya.
Kami harus percaya pada Orion kalau dia sanggup melakukan sesuatu kepada Solastra.
Karena alih-alih menyarankan kami untuk pergi ke kota atau desa terdekat, Orion malah mengusulkan untuk ke hutan terdekat. Untuk kesekian kalinya, kami membutuhkan sihir dari Orion.
Semoga saja Orion bisa membantu Sol sadar.
Kami punya banyak pertanyaan saat dia sadar.
Dimulai dengan Siapa yang menyerang desa? Sampai Kenapa cuma dia yang ditinggalkan?
Namun sebelum itu, Solastra harus sadar lebih dulu.
Dia harus sadar.