Bab 11 - Si Pemenggal

1539 Kata
"Kita akan masuk lewat tenggara," gumam Amicia. "Hanya itulah jalan yang paling aman." Aku dan Amicia menghabiskan waktu hingga tengah hari dengan mengintai Donuemont dari kejauhan. Sesekali, Orion datang ke tempat kami sambil membawa informasi penting. Informasi penting yang dibawa Orion berisi banyak hal yang tidak dapat kami lihat, seperti gerbang timur dan barat ditutup, para gelandangan di depan gerbang utara diusir ke barat, dan seluruh pemanah dipindahkan ke menara kembar di gerbang utara. Setiap informasi yang diberikan oleh Orion membuatku dan Amicia dapat memetakan penjagaan yang ada Donuemont. Sekaligus menentukan rencana untuk memasuki Donuemont. Orion adalah sosok yang membantu kami mengerti situasi di gerbang lain, yang tidak bisa kami lihat dari tempat kami sekarang. Akan sangat sulit, jika aku dan Amicia yang berjalan-jalan melihat keadaan gerbang lain. Kami beruntung memiliki Orion di pihak kami. Selain sihir hutan, dan kecepatan berlarinya yang diluar akal sehat, dia juga hebat dalam mengintai. Pengintaian dapat dia lakukan karena dia adalah seekor kuda, sehingga tidak akan ada yang mencurigainya. Sejauh ini, fakta yang kami lihat dari gerbang selatan adalah, para prajurit berkuda dan pembawa pedang yang berpatroli secara bergantian. Donuemont sebelah selatan sedang dalam keadaan siaga penuh. Sepertinya, kabar soal hilangnya pedang Raja sudah tersebar. Kota benteng Donuemont dapat menjadi kandang hidup untuk kami, jika langkah yang kami ambil tidak memiliki perhitungan matang. Selagi aku bergelut dengan pikiranku, sebuah uara derap kuda mendekat ke arah kami, dan tiba-tiba saja seekor kuda putih yang tidak asing sudah berada di depan kami. Dengan nafas yang masih terengah-engah, Orion mengatakan satu kalimat yang langsung membuatku fokus penuh dengannya. "Normen ada di utara." Aku menoleh kepada Amicia. "Bagaimana, kita langsung ke utara?" tanyaku. "Tunggu, Lass," sergah Amicia sambil memegang tanganku. "Kita masuk ke Donuemont lewat tenggara, jalan itu adalah yang paling aman." Aku tidak paham dengan pikiran Amicia. Sosok yang 'katanya' akan membantu kami mencari warga Rebeliand yang diculik, ada di Utara, sedangkan dia tetap ingin masuk lewat tenggara sesuai rencana awal. Aku melepaskan tanganku darinya. "Aku tahu kalau kau selalu ingin rencanamu diikuti. Tetapi, kali ini taruhannya adalah nyawa orang-orang yang kita kasihi, kau masih mau menukar itu dengan kebanggaanmu?" "Aku tahu, karena itu kita harus mengikuti rencanaku," paksa Amicia. Kali ini Amicia memegang kedua pergelangan tanganku, sambil menatap kedua mataku penuh harap. "Kita masuk lewat Tenggara." Amicia semakin berubah setelah kejadian memalukan di bawah pohon besar beberapa saat lalu. Dia tidak pernah sampai memaksaku untuk mengikuti rencananya, selama ini dia selalu membiarkanku untuk memilih jalan sendiri. Bukannya aku menaruh perasaan padanya, tetapi aku merasa kalau sarannya untuk masuk lewat tenggara, memang bertujuan untuk menjaga keselamatanku. "Kalian masih berdebat soal rencana?" sindir Orion si kuda banyak oceh. Sindiran Orion kubalas dengan mengibaskan tanganku di udara, sambil berkata, "Silahkan si pembuat rencana untuk menjelaskan rencananya." "Oke aku jelaskan rencanaku," ujar Amicia. Di memberikan kode kepadaku dan Orion untuk mendekat. "Di tenggara, ada pintu rahasia yang dipakai oleh para penjual roti untuk menjual dagangan mereka kepada orang-orang yang dilarang masuk oleh Donuemont," papar Amicia. "Kita akan menggunakan pintu itu untuk masuk." "Kau yakin tidak ada yang menjaga pintu itu?" tanya Orion. Aku mengangguk setuju dengan pertanyaan Orion. "Benar kata Orion, sekarang Donuemont sedang dalam posisi siaga. Bisa jadi pintu itu akan ketahuan, atau malah sudah ketahuan." Amicia menggeleng dengan yakin. "Tidak mungkin pintu itu ditemukan oleh para prajurit, pintu itu tersembunyi dengan baik." "Lagipula, pintu itu berada di balik dua toko roti. Keamanan pintu itu adalah yang terbaik ketimbang empat gerbang lainnya," imbuh cewek itu dengan wajah bangga. "Tetap saja kita perlu rencana cadangan." sergahku. "Kita tidak bisa menggantungkan misi ini hanya dengan rencana Cia." Tunggu, kenapa aku memanggil Amicia dengan kata 'Cia'. Padahal biasanya aku memanggilnya dengan sebutan 'kau' atau 'iblis'. Ciuman, dan janjinya kepadaku, mungkin juga mengubahku. Orion yang tidak peka dengan panggilanku ke Amicia, hanya menganggukkan moncongnya. "Aku setuju dengan Lass, kita butuh rencana cadangan." Amicia mengeraskan wajahnya, tapi toh akhirnya cewek itu juga ikut mengangguk setuju. Perubahan lain dari Amicia, bahwa dia lebih terbuka kepada kritikan atas rencananya. Senang rasanya saat Orion dan Amicia sepihak lagi denganku. Lagipula ini bukan lagi masalah harga diri dan kebanggaan pribadi, misi ini berdampak kepada keselamatan seluruh warga Rebeliand. Sekarang saatnya kami membuat rencana cadangan dengan dasar seluruh informasi yang sudah kami kumpulkan. "Jika kita membuat rencana dari hasil pengintaian Orion maka kita hanya punya 2 pilihan," Amicia mengumumkan. Satu, kita pilih gerbang yang sudah ditutup, tetapi kita masuk tanpa Orion. Atau kita masuk lewat Gerbang selatan dengan mengandalkan keberuntungan." Amicia benar, dengan mengabaikan gerbang utara yang dijaga terlalu ketat, hingga terjadi pengusiran gelandangan, maka hanya tersisa gerbang barat dan timur yang ditutup sepenuhnya. Mungkin kedua gerbang itu punya memiliki celah, namun Orion tetap tidak bisa masuk. Atau gerbang selatan yang dipenuhi oleh prajurit yang berpatroli. Namun, gerbang ini tidak sepenuhnya tertutup, melainkan pemeriksaan masuk yang diperketat. Sesuai kata Amicia, bahwa keberuntunganlah yang akan membuat kami bisa lolos dari penjaga Gerbang Selatan. Namun, jika misi ini hanya menyangkut keselamatanku maka aku bisa bertaruh dengan keberuntungan. Karena misi ini juga menentukan takdir warga Rebeliand, maka kali ini kami harus memastikan bahwa sedikitpun tidak ada kesalahan. Aku memandang Orion dan perlahan mengelus kepalanya. "Bro, jika ternyata pintu di tenggara tidak bisa kita lewati, maka hanya aku dan Amicia yang masuk lewat Gerbang Barat," ujarku. "Kami bisa mengandalkanmu diluar gerbang?" Orion menyundulkan kepalanya ke tanganku dengan lembut. "Aku mengerti Lass, harus ada yang menjaga kalian dari luar gerbang." "Kalau begitu kita tidak perlu menunggu tengah hari untuk ke pintu rahasia," kata Amicia."Sekarang kita ke pintu tenggara, untuk memeriksa apakah pintu itu layak dipakai atau tidak." Aku dan Orion mengangguk untuk menyetujui saran Amicia. Kami sudah bersiap untuk pergi ke tembok tenggara. Lalu tiba-tiba, langit menjadi gelap, seolah matahari ditutup awan yang sangat tebal, tepat saat aku dan Amicia sudah di punggung Orion. Duar! Petir menggelegar keras menyambar seorang prajurit yang menjaga Gerbang Selatan Donuemont. "Normen Harv, keluar kau dasar b******n!" teriak orang yang tersambar petir. Sama sepertiku, Amicia dan Orion ternyata cukup terkejut melihat kejadian didepan kami. Bahkan Amicia masih melongo hingga kini. "Siapa orang gila itu?" kata Amicia setengah bergumam dari sebelahku. Aku dan Orion juga memiliki pertanyaan yang sama didalam hati kami. Hanya saja kami masi terlampau terkejut dengan petir yang memiliki suara. "Dia tidak tersambar petir," ujar Orion yang berhasil mengatasi keterkejutannya lebih dahulu. "Petir itu berasal darinya, bahkan langit yang menggelap ini." Aku memincingkan mataku untuk melihat sosok yang ditunjuk Orion dengan moncong putihnya Sosok tersebut memiliki rambut hitam yang tergerai hingga menutupi punggungnya. Aku tidak bisa melihat wajahnya, tapi dari belakang terlihat bentuk tubuhnya yang kekar meskipun dibalut dengan baju lengan panjang. Orion benar, dia tampak tidak terbakar sedikit pun. Sudah pasti dia juga bukan salah seorang prajurit Donuemont, karena semua pedang penjaga gerbang selatan tertuju kepadanya. Alih-alih memasang kuda-kuda untuk melawan para penjaga gerbang, orang gila ini malah hanya berkacak pinggang di depan puluhan pedang yang diacungkan kepadanya. Amicia menepuk pundakku, dia berkata pelan namun cukup untukku dan Orion dapat mendengar perkataannya. "Kita mendekat ke jarak pendengaran pembicaraan mereka." Seharusnya kami fokus ke misi mencari Normen Harv, bukan kalah dengan rasa penasaran kami. Masalahnya orang gila ini memanggil Normen dengan penuh kebencian, jadi kemungkinan besar, Normen yang kami cari akan keluar dari Donuemont. "Kita mendekat ke jarak yang cukup untuk mendengar percakapan mereka," pinta Amicia ke Orion. "Bisa tolong sembunyikan kita dengan sihirmu?" Orion mengangguk, lalu dia menghentakkan kedua kaki depannya ke tanah. Kami yang sudah tidak terlihat oleh orang lain, dibawa mendekat oleh Orion dengan masih berada di punggungnya. Jika ini adalah demonstrasi sihir pertama dari Orion, maka sudah pasti aku dan Amicia sudah bingung setengah mati. Tetapi begitulah sihir Orion, dia hanya perlu menghentakkan dua kaki depannya ke tanah, dan kami sudah tersembunyi dari pandangan orang lain dengan sihir hutan. Perlahan namun pasti, Orion membawa kami mendekat ke tempat si orang gila itu. Semakin dekat dengan kerumunan itu, Orion mulai memelankan langkah kakinya untuk tidak menimbulkan suara. Meskipun kami tidak terlihat, tapi jika suara langkah kami terlalu besar maka kami pasti ketahuan. "Suruh Normen keluar dari rumahnya!" seru si orang gila itu dengan suara lebih keras. Salah satu prajurit Donuemont perlahan maju ke tempat orang gila itu dengan tetap mengacungkan pedangnya. "Maaf pak, Tuan Normen tidak bisa diganggu untuk saat ini. Silahkan pergi atau kami akan menangkap Anda." "Kau bisa turunkan pedangmu itu?" tanya si orang gila sinis. "Aku hanya ingin bertemu Normen Harv. Panggil dia!" Sang Prajurit malah mengarahkan pedangnya ke leher orang gila itu "Pak, maaf kami tidak bisa menuruti-" Crashhhh Kepala si prajurit tiba-tiba terpenggal , dengan tubuhnya tersungkur didepan orang gila itu. Kejadiannya terlalu cepat untuk ditangkap oleh kedua mataku. Si orang gila itu terlihat tidak melakukan apapun, bahkan orang gila ini tidak bergerak sama sekali. Orang itu mengambil kepala si prajurit lalu mengangkatnya di depan semua prajurit lain. Dia berteriak, "Panggil Normen Harv! Atau aku, Falereus Knox akan memenggal semua orang yang ada di Donuemont!" Sebenarnya apa yang terjadi selama dua malam terakhir, selain warga Rebeliand yang diculik, dan pedang Raja Donuemont yang kami curi? Apakah sesuatu yang lebih besar telah terjadi, sehingga orang ini sangat marah kepada Normen Harv? Semua yang kami lihat di depan gerbang selatan, begitu menakutkan, sekaligus menakjubkan. Namun, hanya ada satu pertanyaan besar yang mengambang di antara kami bertiga. Siapa sebenarnya Falerus Knox?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN