Permintaan orang gila ini (baru saja dia mengumumkan, kalau namanya adalah Falereus Knox) tidak dituruti oleh penjaga Gerbang Selatan.
Karena permintaannya tidak dituruti maka hasilnya sudah jelas, pertumpahan darah yang lebih besar akan terjadi.
Falereus Knox melanjutkan pembunuhan prajurit Donuemont hingga berjumlah puluhan orang, dengan metode yang sama, yaitu pemenggalan kepala tanpa menyentuh target.
Dugaanku, setengah penjaga gerbang selatan sudah tewas di tangan orang gila ini.
Beberapa prajurit yang kepalanya masih utuh perlahan mundur selangkah demi langkah. Raut wajah para prajurit itu menunjukkan kengerian yang besar, mereka tahu bahwa nyawa mereka sedang di ujung tanduk.
Berbeda dengan para target yang mundur perlahan, si pemenggal hanya tetap berdiri di tempatnya sambil terus berteriak memanggil Normen Harv.
Sesekali ditengah kebosanannya, dia akan melakukan hobi barunya yaitu memenggal kepala prajurit terdekat. Knox si pemenggal bahkan tidak menggerakkan anggota tubuhnya, saat dia melakukan aksinya.
"Tiga puluh dua kepala!" raung Knox. "Kau benar-benar menantangku memenggal semua kepala di kota ini?"
Aku terkesan kepada orang gila ini, atau harusnya sekarang aku harus menyebutnya pemenggal kepala, karena dia ternyata menghitung jumlah korbannya. Aku berpikir kalau dia tidak menghargai nyawa orang lain sama sekali, atau malah dia melihat nyawa orang lain sebagai mainannya.
"Normen!" Knox kembali meraung liar, "Pengecut! Kau bersembunyi di balik tembok sedangkan prajuritmu mati satu per satu!"
"Ada banyak keluarga yang akan kehilangan ayah, atau suaminya hari ini, dan itu semua karena sifat pengecut yang kau miliki," imbuhnya.
Sejujurnya aku berpikir sama dengan Knox, jika saja Normen mau keluar sejak awal, dan mengurus amarah si pemenggal ini, mungkin tidak akan ada adegan puluhan kepala tercecer di depan gerbang selatan seperti sekarang.
Pertanyaannya, kenapa Normen tidak mau keluar? Apakah dia takut dengan kekuatan Falereus Knox?
Sesaat aku berpikir tentang Normen Harv yang rencananya akan kami mintai tolong untuk mengantar kami ke Preant. Pertanyaan yang terbersit di otakku adalah, apa yang dilakukan Normen hingga dia dapat menyulut kemarahan Falereus Knox?
Aku sedikit berharap agar kami tidak berurusan dengan Normen, setelah melihat kekuatan musuh dari si pengawal raja. Jika Normen menyetujui untuk menjadi pemandu kami, maka artinya kami berada di pihak prajurit tua itu.
Dan jika kami berada di pihak Normen Harv, maka kepala kami juga menjadi sasaran amarah Falereus Knox.
Mengapa kami harus berurusan dengan orang tua bermasalah, seperti Normen? Amicia harusnya mengenal pemandu lain, yang tidak memiliki musuh sekuat Falereus Knox.
Gerbang selatan mendadak terbuka, saat aku sedang tenggelam dalam lamunanku. Falereus Knox menyeringai lebar, karena permintaannya akhirnya tercapai. Seseorang dari dalam tembok Donuemont akhirnya berani menemui si gila ini.
Ternyata bukan Normen yang muncul dari gerbang tersebut, melainkan seorang pemuda berambut coklat yang menaiki kuda dengan warna yang sama dengan rambutnya.
Pria ini memakai pakaian santai, yang dibalut jubah mewah berwarna ungu, khas para bangsawan. Dia berkalungkan emas mengkilau, namun tidak berlebihan. Terakhir, di kepalanya terdapat sebuah mahkota, benda yang tidak pernah aku lihat di Rebeliand.
Aku tidak tahu siapa pria ini, tetapi pria ini jelas mengeluarkan aura wibawa yang besar dari dalam dirinya. Dia pasti bukan orang yang kuinginkan menjadi lawanku dalam pemilihan kepala desa, karena dengan wibawa sebesar ini, dia pasti akan memenangkan hati banyak orang.
Pria itu turun dari kudanya dengan elegan. Saat kedua kakinya menyentuh tanah, seketika seluruh prajurit yang masih hidup langsung berlutut dengan kepala tertunduk. Mereka semua meletakkan pedangnya di tanah sebelah kanan mereka.
"Falereus Knox," sapa pria itu dengan nada tegas. "Kehadiranmu tidak diterima disini, seharusnya kau tahu itu, atau harus aku jelaskan lagi?"
Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat dengan mataku. Falereux Knox yang memiliki hobi memenggal kepala orang dengan raungan gilanya, membungkukkan badannya untuk memberi salam kepada seorang pria yang lebih muda darinya. Pasti orang itu bukan pria biasa.
"Hartash, aku tidak tahu kalau kau ada di Donuemont," kata Knox dengan nada khidmat, sambil tetap berlutut di depan Hartash. "Maaf mengganggu kota kecilmu, bahkan membunuh para prajuritmu, tetapi aku ada urusan dengan kepala pengawalmu."
"Beberapa hal yang dilakukan kepala pengawalmu itu, membuatku dan Skardolav ada di masa genting," imbuhnya.
Hartash tersenyum kalem. "Normen sudah pergi ke utara, ada hal penting yang harus dia urus. Kalau kau ingin bertemu dia, pergilah ke Donadhor."
Pandangan Hartash masih lurus tertuju kepada Knox. "Kali ini, kekacauan yang sudah kau buat akan aku lupakan. Kita berdua tidak mau Donater dan Skardolav bermusuhan hanya karena hal kecil seperti ini bukan?"
Raja yang menganggap bahwa nyawa tiga puluh dua orang prajurit adalah masalah kecil, adalah Raja yang tidak layak mendapat hormat.
Namun, Hartash juga bijak dalam mengambil keputusan. Melawan Falereux Knox tanpa memiliki kekuatan yang setara dengannya, adalah hal yang akan membuat kepalamu terpenggal dengan cara konyol.
Aku sangat yakin kalau penghormatan yang dilakukan Knox kepada Hartash hanya sebatas formalitas. Aku bertaruh, kalau nasib Raja Donater akan sama dengan para prajuritnya, jika dia berani menantang Knox.
Keputusan untuk tidak membahas soal p*********n yang dilakukan Knox adalah keputusan bijak dari sang Raja. Dia mengambil keputusan tersebut untuk keselamatan warga Donuemont yang dia jaga.
Falereus Knox mengangguk pelan, lalu dia beranjak berdiri. "Anda juga harus mengingat soal penghormatanku, Hartash. Aku tidak pernah berlutut di depan Raja lain, namun aku melakukannya untukmu, karena hormatku yang begitu besar kepada ayahmu."
"Namun, kau harus ingat satu hal, bahwa aku tidak pernah segan untuk membunuh orang yang berani berbohong kepadaku, ayahmu juga tahu fakta itu," imbuh Knox dengan nada tenang.
Knox mundur beberapa langkah, lalu seperti kedatangannya yang diiringi gemuruh petir, dia menghilang bersama sebuah petir yang menyambar tempatnya berdiri.
Aku menangkap dengan mataku, bahwa selama sepersekian detik, Hartash menghembuskan napas panjang yang membuktikan bahwa dia lega karena dapat lolos dari Knox.
Setelah menenangkan dirinya, Hartash berbicara lantang kepada para prajuritnya, "Bersihkan area ini, makamkan seluruh prajurit yang tewas dengan pemakaman yang layak, dan terakhir, tutup rapat Donuemont!"
Setelah memberi daftar perintah itu, Hartash kembali masuk ke dalam Donuemont, hingga gerbang selatan kembali tertutup.
Aku yang pertama kali membuka suara setelah tontonan mengejutkan barusan, "Siapa Knox dan siapa Hartash?"
"Hartash adalah raja Donater yang pedangnya kau curi," jelas Amicia sambil menunjuk pedang yang tersembunyi di balik punggungku." Sedangkan tentang Knox, aku baru pertama kali melihatnya."
Pantas saja pria itu dihormati oleh para prajurit Donuemont, hingga mereka semua berlutut di depannya saat dia keluar dari gerbang, ternyata dia memang Raja Donater. Tersisa satu pertanyaan, siapa sebenarnya Falereus Knox?
"Orion apa kau tahu siapa Falereus Knox?" tanyaku.
Kuda putih itu hanya menggelengkan moncong besarnya. "Tebakanku Knox adalah raja Skardolav, dan Skardolav adalah kerajaan tetangga dari Preant."
Skardolav adalah tetangga Preant, dan jika memakai asumsi Orion, bahwa Knox adalah Raja Skardolav, maka mungkin ada satu benang merah besar yang membuat banyak peristiwa aneh saling terkait. Penculikan warga Rebeliand salah satunya.
Kedatangan Knox ke Adon hanya untuk mencari Normen juga perlu dipertanyakan. Apakah terjadi sesuatu di Skardolav, yang membuat Knox sampai pergi jauh-jauh menyeberang ke pulau Adon?
Terlalu banyak kemungkinan dan dugaan. Sedangkan kunci utama kami untuk ke Preant malah sudah bertolak ke Donadhor, kami kehilangan Normen Harv karena menurut kesaksian Hartash, dia sudah pergi ke Donadhor di utara.
"Lass kita pakai rencana cadangan," usul Amicia mendadak.
"Normen tidak ada didalam," sahutku santai. "Tadi kau dengar kalau Raja berkata, bahwa Nor-"
"Hartash berbohong, terlihat dari gelagatnya," potong Amicia. "Kita harus cepat bergerak, sebelum Normen benar-benar pergi ke Donadhor."
Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan Amicia. Bagaimana dia bisa tahu kalau Hartash berbohong, dan apa yang ada di Donadhor?
Tetapi aku lebih memilih untuk tidak bertanya apapun padanya. Melihat mata Amicia yang bersemangat, aku yakin kalau perintahnya kali ini tidak mudah ditentang.
"Intinya kita tidak akan bisa bertemu Normen jika dia keluar dari Donuemont. Ini satu-satunya kesempatan kita," Amicia menyimpulkan.
"Jadi bagaimana, sekarang kita memanjat gerbang timur?" usulku.
Amicia mengangguk. "Gerbang timur tidak memiliki menara di atasnya, karena sisi timur Donuemont adalah sebuah padang rumput luas yang tidak memerlukan penjagaan."
"Kedatangan Knox membuat situasi setiap gerbang berubah," papar Amicia. "Pintu rahasia di tenggara yang adalah rencana utama kita, adalah pintu yang paling dekat dengan gerbang selatan, mungkin sudah penuh sesak oleh warga yang ingin melihat prajurit yang terbantai."
"Memaksakan diri melalui pintu itu, malah akan membuat kita terlalu mencolok," imbuh Amicia.
"Apakah tidak akan ada yang melihat kita, saat kita memanjat gerbang timur?" tanyaku ragu.
Orion menggelengkan moncongnya. "Menurutku tidak, karena gerbang timur juga adalah gerbang yang tingginya paling rendah di antara sisi yang lain."
"Pilihan terbaik untuk saat ini, adalah memanjat gerbang timur," pungkas Orion.
Setelah itu Amicia langsung berlari ke arah gerbang timur, dengan aku yang menyusul di belakangnya.
Sebelum itu, aku berpamitan dengan Orion, "Bung, kami mengandalkanmu untuk pelarian. Berjagalah diluar, selagi kami mencari Normen, kami mengandalkanmu."
Orion meringkik pelan, dan menjawab, "Hartash memang berbohong, tadi aku melihat Normen saat sedang mengintai di utara."
"Tetapi perkiraan Amicia mungkin benar, bahwa Normen sungguh sedang ditugaskan ke Donadhor oleh Hartash sendiri. Kau harus cepat menemukan Normen, karena bisa jadi, dia adalah satu-satunya tiket kita ke Preant," imbuh Orion.
Pemenggalan yang dilakukan Knox membuatku lupa bahwa Orion sempat mengawasi gerbang di utara. Lagi-lagi Amicia selangkah didepanku, karena informasi kecil yang selalu bertahan di otaknya untuk jangka waktu yang lama.
Aku pun meninggalkan Orion untuk menyusul Amicia. Gerbang timur kemungkinan besar akan menjadi gerbang yang paling sepi, karena momen pemenggalan kepala yang dilakukan Knox di depan gerbang selatan.
"Hartash dan Knox bukan urusan kami, tugas yang kami emban adalah menyelamatkan warga Rebeliand," kataku dalam hati.
Kami harus cepat menemukan Normen.