Bab 13 - Kunjungan Kedua di Donuemont

1859 Kata
Kami memanjat tembok dekat Gerbang Timur tanpa kesulitan sama sekali, karena memanjat tebing tinggi sudah biasa kami lakukan saat berlatih bersama Master Ekkehard. Setelah kami tiba di atas tembok timur, kami mengendap agar tidak ada orang di bawah tembok yang melihat dua orang asing sedang berada di atas tembok. Untungnya, tembok timur tidak dijaga oleh para pemanah, yang kemungkinan besar diperintahkan untuk berkumpul ke tembok selatan. Aksi Falereus Knox sangat membantu kami untuk dapat masuk ke Donumont dengan mudah. Setelah beberapa saat mengendap, kami akhirnya menemukan tangga untuk menuruni tembok kota. Tanpa aba-aba, aku dan Amicia langsung memakai tudung kepala masing-masing dan mulai menuruni tangga itu, untuk segera masuk ke dalam kota Donuemont. Suasana dalam kota Donuemont berbeda sekali dengan kericuhan yang barusan terjadi di luar gerbang selatan. Kota ini masih damai seperti terakhir kali aku kesini. Tidak ada seorang pun yang mencurigai kami, padahal kami baru saja turun dari atas tembok kota. Mungkin, di gerbang timur, warga sudah terbiasa untuk melihat warga naik turun dari tembok kota. Dari raut wajah para penduduk, dan suasana di dalam kota, mereka terlihat tidak terlalu peduli dengan kegaduhan yang terjadi di luar gerbang, atau mereka malah tidak mendengar sama sekali. Pertanyaanku langsung terjawab setelah kami berada di sudah membaur dengan para rakyat Donuemont, yang sedang bercengkrama di dekat tangga gerbang timur. "Puluhan prajurit dipenggal oleh seseorang di depan gerbang selatan," ucap seorang wanita yang sedang menggendong bayinya. Lawan bicara wanita itu, adalah seorang wanita paruh baya. "Aku juga mendengarnya, lebih baik kita jauh-jauh dari gerbang selatan." Ternyata kedamaian kota ini hanya tampak dari wajah para penduduk, namun hati mereka juga takut, karena kejadian yang menimpa para prajurit yang gugur. "Lass, kita naik ke tembok lagi," usul Amicia setengah berbisik. "Ketakutan mereka, akan melahirkan kewaspadaan yang tinggi." Aku paham dengan maksud Amicia. Saat seseorang sedang diliputi ketakutan, indra mereka biasanya lebih awas terhadap sekitarnya. Dari sekian banyak orang yang berlalu-lalang di bawah gerbang timur, pasti ada beberapa orang yang melihat kami menuruni tangga tembok timur. Usul Amicia adalah jalan teraman bagi kami, agar tidak banyak orang yang menjadi saksi mata yang melihat kami berjalan-jalan di sekitar gerbang timur. Kami kembali menaiki tangga tembok gerbang timur dengan langkah tegap, lalu kami langsung membungkuk, dan mengendap saat kami sampai di atas tembok. Beberapa kali, aku dan Amicia bergantian menengok ke bawah tembok untuk memastikan tidak ada orang yang mencurigai kami. Jika ada orang yang terlihat mencurigai kami, maka yang kami lakukan adalah bersembunyi di balik tembok atas. Intinya, kami mengurangi resiko untuk ketahuan, karena tidak boleh ada waktu yang terbuang. "Dua puluh menit," ujar Amicia sambil melihat bayangannya sendiri. "Sebentar lagi, kita akan turun di salah satu atap rumah yang menempel di tembok ini." Di bawah terik sinar matahari yang sangat panas di Donuemont, dua orang dari Rebeliand sedang mengendap di balik tembok batu yang asing. Ini baru permulaan, karena selanjutnya, kami akan terus bertemu dengan banyak tempat dan orang asing. Sebuah rumah kecil yang menempel dengan tembok kota menjadi tempat pilihan kami untuk turun. Alasannya sederhana, atap rumah itu memiliki sebuah beranda, yang akan menutupi kami, jika kami berada di atasnya. Kami perlahan mendarat di atas rumah kecil yang menjadi target pertama. Sambil menuruni tembok timur, aku menggulung tali yang menjadi alat bantu kami untuk turun, selagi Amicia mencari celah jalan masuk ke rumah itu. Jari telunjuk Amicia menunjuk lubang yang terbuka dibawahnya dengan wajah memaksa. Pasti itu jalan masuk untuk ke rumah itu. Dia membuka pintu loteng (tebakku) dan langsung melompat masuk, di belakangnya aku mengikuti dia. Sebisa mungkin kami mencoba untuk tidak bersuara sama sekali, saat kami turun dari atap rumah. Sehuah hal yang sangat mudah untuk pencuri terlatih seperti kami. Melakukan segala sesuatu tanpa suara sekecil apa pun, adalah kebiasaan yang menjadi kemampuan paling dasar dari pelatihan kami. Pintu loteng tersebut ternyata membawa kami ke sebuah ruangan, dengan sebuah tempat tidur kecil yang hanya muat oleh satu orang. Kami ada di kamar seseorang. Kamar tidur si pemilik rumah memiliki interior yang tampak mengenaskan. Tembok yang terbuat dari kayu sudah lubang dimakan rayap pada beberapa bagian, busa kasur yang menyembul keluar dari balik selimut, belum lagi pakaian kotor yang ada disetiap sudut ruangan. Selain itu, bertebaran dua hingga tiga bangkai serangga yang menggelepar di lantai kamar. Pemilik kamar ini bukan hanya tidak suka bersih-bersih, melainkan dia adalah seorang yang terlahir jorok. Aku bahkan tidak mau untuk hanya sekedar bertamu ke rumah sekotor ini. Sepeninggal kamar tidur, kami mulai melihat ruangan lain. Ternyata hanya ada satu kamar mandi, yang langsung ditutup oleh Amicia karena baunya bukan main, dan sebuah ruang tamu setara dengan kamar tidur dalam tingkat kebersihan. Pemilik rumah ini pasti bukan orang terpandang di kota Donuemont, dan dia pasti salah satu pemegang rekor untuk kategori orang terjorok di kota ini. Amicia mendekatkan dirinya kepadaku, dia berbisik padaku, "Ada aura aneh di rumah ini, aku merasa kita seperti diawasi." Mendengar bisikan Amicia, membuatku langsung memfokuskan semua indraku untuk menangkap aura aneh yang dikatakan Amicia. Sejauh kepekaan indraku, yang aneh dari rumah ini adalah kadar kebersihannya. Tidak ada aura aneh yang tercium, terdengar atau terlihat olehku. Mungkin Amicia yang terlalu peka. Aku memberi kode ke Amicia untuk segera keluar dari rumah ini. Dan tepat saat aku akan memutar kenop pintu depan, tiba-tiba sebuah suara tabrakan keras terdengar. Brakkk Pintu depan didobrak oleh seseorang, membuatku perlahan mundur ke sebelah Amicia. Dari suaranya, orang itu pasti memiliki tubuh yang besar, karena pintu rumah ini terus bergeming. Brakkk Pintu depan kembali ditubruk oleh seseorang. Sontak aku maupun Amicia langsung mengenakan tudung kami, dan mengeluarkan senjata kami, saat engsel pintu bagian atas terlepas. Brakkk Orang disisi luar kembali mendobrak. Aku tidak tahu siapa yang ada diluar pintu, tapi sepertinya orang tersebut sangat ingin masuk ke rumah ini. Sial! Apakah kita ketahuan? Namun, jika suara itu berasal dari warga yang ingin menangkap kami, maka seharusnya terdengar suara riuh. Sedangkan, orang yang di mendobrak di depan, tidak mengeluarkan suara apa pun. Satu dobrakan lagi, maka engsel terakhir akan terlepas, dan pintu akan terbuka. Saat aku dan Amicia sudah bersiap untuk pertarungan terbuka, keadaan menjadi sunyi. Pintu tidak didobrak lagi. Apakah si pendobrak akhirnya menyerah? Aku melirik Amicia disebelahku, dia membalas dengan menggeleng pelan. Bisa jadi, si pendobrak memanggil teman-temannya, atau dia mengambil alat yang lebih efektif untuk membuka pintu tersebut. "Oh, halo," sapa sebuah suara ramah dari belakangku. Tanpa basa-basi aku langsung berbalik, lalu dengan cepat menjegal si pemilik suara hingga terjatuh dan selanjutnya menaruh pisauku di lehernya, dengan aku duduk diatas tubuhnya yang terlentang. Si pemilik suara ramah itu ternyata adalah seorang pemuda yang mungkin seumuran denganku. Dengan pisau yang sudah menyentuh kulit lehernya, sudah cukup untuk membuat matanya berkaca-kaca. "Siapa kau?", kataku dengan nada dingin. "Jawab atau pisau ini menancap di lehermu." Wajah pemuda ramah itu memelas. "Tolong... tolong jangan bunuh saya tuan, saya Yared salah satu pekerja di Alestora. Kita pernah bertemu." Amicia berlutut di sebelahku, dia menyibakkan rambut hitam yang menutupi wajah pemuda ini. "Dia tidak berbohong Lass, orang ini adalah yang merawat kudamu selama kau menginap di Alestora." Perlahan aku mengingat wajah si pemuda ini, dia adalah pemuda yang tangannya hampir kupatahkan karena mengantarkan kunci kandang Orion. Ya ampun, aku hampir mencelakai orang baik ini dua kali. Aku menarik pisauku dari lehernya, lalu mengulurkan tanganku untuk membantunya berdiri. "Sori bro, aku hanya melakukan pembelaan diri." "Tenang saja, aku mudah memaafkan," sahut Yared tenang. "Kalian kenapa kembali ke sini?" Aneh sekali melihatnya berbicara dengan tenang. Padahal beberapa saat lalu, dia adalah pemuda yang memohon hidupnya untuk diampuni, bahkan air mata yang menetes di pipinya masih belum kering sepenuhnya. Suasana hati orang ini cepat sekali berubah. "Kami butuh bertemu seseorang di Donuemont, ini rumahmu?" tanyaku. Yared mengangguk. "Siapa yang akan kalian temui?" "Normen Harv," jawabku. Mendengar nama Normen Harv membuat Yared tersenyum, tapi senyumnya tidak mencapai mata, seolah dia hanya berusaha menampakkan senyum diwajah. Sebuah senyuman yang malah membuatku tidak nyaman melihatnya. Aku merasa dia bukan pemuda culun biasa. Yared memiliki sebuah sisi yang cukup menakutkan. Hanya beberapa saat aku berbincang dengan Yared, aku bisa merasakan aura aneh yang dirasakan Amicia dengan melihat senyum janggal yang ada di wajahnya "Kau tahu dia siapa?" Amicia mengambil alih pembicaraan, sepertinya Amicia juga sadar dengan keanehan sikap Yared. Yared menggeleng pelan dengan masih tetap mempertahankan senyumnya yang aneh. "Maaf, aku tidak tahu orang yang Tuan Lass dan Nona Amicia cari." Sekali lagi, aku merasakan keanehan dari Yared. Dia meminta maaf tapi nada bicaranya tidak mengindikasikan dia merasa bersalah, belum lagi kebohongan soal dia yang tidak tahu tentang Normen, bagiku sangat jelas. "Yared, aku dan Lass tidak memiliki waktu untuk meladeni keanehanmu," pungkas Amicia. Cewek itu berjalan melewatiku, dan aku melihat tangan kanannya meraih pedang bergerigi yang tersampir di balik punggungnya. Secepat kilat, Amicia melesat ke belakang Yared, lalu menempelkan mata pedangnya di leher pria culun itu. Hari ini, leher Yared sudah dua kali sobek karena pedang. "Katakan, apa yang kau rencanakan!" perintah Amicia. Kedua matanya tidak memancarkan sesuatu yang jahat, namun aku yakin kalau cewek itu tidak pernah menahan diri. Si sandera hanya diam tanpa kata, padahal beberapa saat lalu dia memelas padaku agar tidak dibunuh. Akan menjadi sebuah kesalahan fatal bagi Yared, jika dia meremehkan Amicia. Dibanding aku, Amicia lebih memiliki potensi untuk mengambil nyawa orang. Bahkan aku berani bertaruh, kalau cewek itu sudah pernah membunuh orang lain di saat dia melakukan aksi pencuriannya. Aku tidak suka ada pembunuhan dilakukan di depan mataku, namun Amicia tidak akan mau mendengar saran apa pun saat ini. Tekadnya sudah bulat, dia akan memaksa Yared buka mulut. Sebuah kesunyian mendadak menguar di udara, dan aura aneh yang dirasakan Amicia, akhirnya dapat kurasakan. Bersamaan dengan itu, Yared terkekeh pelan. Selanjutnya, adalah rentetan kejadian aneh yang menimpaku dan Amicia. Dimulai dengan Amicia yang tiba-tiba memegangi lehernya, dengan mata membelalak. Cewek itu tampak sangat kesakitan. "Apa yang kau... Yared kau.... Argggh!" Yared si cowok culun mengambil pedang Amicia yang terjatuh di lantai, lalu mengacungkannya padaku. Di belakangnya, Amicia masih meraung kesakitan, sambil memegangi lehernya. Kedua tanganku langsung meresponi tantangan Yared dengan menarik pisauku yang berada di balik punggungku, tetapi tanganku tidak bisa digerakkan. Bahkan seluruh tubuhku seperti disiram oleh air yang sangat dingin, hingga membuatku membeku di tempat. "Bagaimana Tuan dan Nona?" cemooh Yared, sambil menunjukkan senyum anehnya itu. "Kalian masih mau mengancamku?" Dia masih diam di tempatnya, sambil mengacungkan pedang Amicia ke arahku. Aku tidak menyangka, kalau Yared memiliki kekuatan yang sanggup membuat dua petarung terhebat Rebeliand tampak bodoh Aku bergelut dengan seluruh otot yang ada di tubuhku, namun mereka semua menolak untuk bergerak sesuai perintahku. Kekuatan macam apa, yang sanggup membuatku begitu tidak berdaya? Yared mendekatiku, dengan tangan kanannya memegang pedang menakutkan milik Amicia. Dia tampak sangat tenang, namun juga penuh kelicikan. "Sekarang giliranku yang bertanya kepada kalian," ujarnya enteng. Setelah itu, dia menarik kursi di sebelahnya dan duduk dengan santai. "Vhirlass Udhokh," kata Yared pelan."Berlutut di depanku!" Dan begitulah rintangan berat pertama yang harus kami lewati, untuk menyelamatkan warga Rebeliand bukanlah seorang monster, atau penyihir yang kuat. Melainkan seorang pria muda penjaga penginapan, yang sanggup membuat Amicia terkapar karena berjuang melawan rasa sakit di lehernya, dan membuatku, untuk pertama kalinya malah berlutut di depan seseorang. Yared, satu lagi nama yang harus kuingat, bahkan kumasukkan di daftar orang-orang yang tidak ingin kujadikan musuhku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN