Bab 60 - Bantuan Terbaik

2026 Kata
Selama ini, hidupku tidak pernah bersinggungan dengan tragedi. Aku memiliki dua orang tua yang lengkap. Mereka berdua juga sangat menyayangiku, bahkan lebih dari hidup mereka sendiri. Statusku sebagai anak tunggal keluarga Udhokh, membuatku memonopoli seluruh kasih yang mereka miliki. Masterku, Lozaleo Ekkehard adalah seseorang yang sabar, dan disiplin dalam melatihku. Karena semua ajarannya, aku masih bisa hidup hingga saat ini. Sahabatku juga adalah orang-orang yang baik. Solastra selalu menyembunyikan kenakalanku. Dia juga selalu berada di pihakku, sekali pun aku di pihak yang salah. Orion, sahabatku yang paling terbaru, juga adalah pribadi yang setia. Dia selalu mengutamakan keselamatanku, dan terus berusaha melindungiku. Terakhir, Amicia Ekkehard. Cewek ini sudah memiliki peran yang berbeda di hidupku. Sebelum penculikan warga Rebeliand, kami adalah sahabat. Sekarang, aku berani menyebutnya sebagai bagian dari diriku. Orang-orang itu selalu memberikanku kebahagiaan, semangat, dan hal-hal positif yang lain. Bersama mereka, aku tidak pernah mengenal tragedi. Hingga akhirnya, aku mengenal arti dari kata tragedi, hari ini. Seluruh dunia yang aku kenal, sudah runtuh bersamaan dengan runtuhnya jembatan itu. Aku mengenal banyak orang di antara mereka yang jatuh ke dalam jurang. Ada Tuan dan Nyonya Tosval, yang selalu memberi keluargaku anggur fermentasi terbaik, setiap bulan. Para anak-anak muda calon penjaga pos, yang berada di bawah didikanku, juga ada di antara mereka. Dan yang paling menyesakkan, Master Leo adalah orang yang berada di barisan paling depan. Tidak ada kedua orang tuaku, di antara para tawanan. Namun, melihat orang-orang Rebeliand meninggal di depanku, adalah pemandangan yang mengerikan. Kejadian mengerikan itu membuat perasaan yang tidak pernah ada dalam diriku, perlahan muncul. Kemarahan mendidih dalam diriku. Baru kali ini aku memiliki keinginan kuat untuk membunuh orang. Tequr Lolazar, dia adalah sosok yang ingin kubunuh. Wajah tampannya berbanding terbalik dengan sifat bengis yang dimilikinya. Dalam keadaanku yang kesakitan, orang itu malah tertawa terbahak-bahak, karena membuat semua orang yang kucintai meninggal di dasar jurang. Lolazar kembali berlutut di depanku yang terbaring kesakitan. Penyihir gila itu menendang perutku berkali-kali, hingga membuatku ingin memuntahkan seluruh isi perutku. Sesekali, dia terus tertawa di sela-sela tendangannya ke perutku. Orang ini sangat menikmati apa yang dia lakukan, yaitu menyiksaku. "Mati kau!" seru Amicia sambil berlari ke arah Tequr dengan menggenggam erat sebilah pedang. Kemarahan sahabatku itu, bukanlah sebuah hal penting bagi Tequr. Penyihir itu hanya memandang Amicia dengan geli, selagi cewek itu berlari ke arahnya dengan tekad membunuh. Amicia menyabet Tequr dengan sisa-sisa kekuatannya. Namun, musuh lebih kuat, dan lebih cepat. Si pembuat Ogrotso hanya menghindari setiap serangan Amicia. Bahkan, Tequr masih sempat tertawa selagi sahabatku menyerangnya dengan membabi buta. "Serang aku Nona Amicia!" ejek Tequr. "Bahkan jika kau bisa membunuhku, tetap tidak akan membuat ayahmu kembali hidup!" Gadis itu semakin menggila, karena Tequr sudah berani mencemooh sesuatu yang paling sensitif. Kematian ayahnya. Aku ingin membantu cewek itu. Sialnya, kedua kakiku terlalu sakit untuk digerakkan. Serangan penyihir itu terlalu kuat untuk ditahan oleh tubuhku. Amicia kembali menerjang Tequr. Kali ini, dia menggenggam sebuah pisau di tangannya. Untuk pertama kalinya, sahabatku itu mengubah Oborotni menjadi sebilah pisau. Gadis itu memegang pisau dengan membalik ujungnya, dan mulai menyerang Tequr, yang semakin kegirangan. Penyihir itu persis seperti Ogrotso yang tidak memiliki stamina. Kecepatan geraknya masih sama persis, seperti saat melawanku. Di sisi lain, kekuatan tekad Amicia, harus kalah dengan staminanya sendiri. Gadis itu sudah di ambang batas energinya. Kecepatan serangannya sudah melambat. Pola serangannya juga sudah tak beraturan. Sebentar lagi, dia pasti ambruk sepertiku. "Tequr Lolazar, kau sudah membunuh ayahku. Aku membunuhmu!" ujar Amicia di tengah serangannya yang sudah tidak memiliki kekuatan. Si penyihir hanya tertawa geli, mendengar ancaman sahabatku. Dia menghindari serangan terakhir Amicia, dan menendang perut gadis itu cukup keras, hingga tubuhnya berguling hampir ke dekatku. Tequr bukan hanya mempermalukan kami, tapi dia sudah menghancurkan kami. Seluruh tubuhku seakan sudah hancur, hingga aku tidak bisa mengerang kesakitan lagi. Amicia masih mengunci mulutnya. Aku yakin bahwa sekujur tubuhnya sedang kesakitan, tapi cewek itu memang terbiasa untuk tidak merintih kesakitan. "Kalian berdua adalah yang paling memuakkan," ejeknya setelah menendang perut sahabatku. Suaranya yang seperti anak kecil, adalah salah satu hal dalam dirinya, yang membuatnya semakin menyebalkan sekaligus mengerikan. Aku terus memikirkan cara untuk kabur dari tempat ini. Kami berdua tidak boleh mati di tangannya. Amicia yang terbaring tidak jauh dariku, sudah hampir pingsan, namun dia tetap berusaha bertahan. "Kenapa kau terus berpura-pura?" ujar Tequr. "Kau dapat membodohi semua orang, tetapi aku tidak akan terkecoh." Dia menghela napas, lalu kembali menendang perutku dengan keras. "SUDAHI SEMUA KEBOHONGANMU, RAULITH LASS!" Setiap tendangan Tequr ke perutku, membuatku terus memuntahkan darah dari mulutku. Entah berapa banyak organ tubuhku yang sudah rusak, karena kebengisan orang ini. Dia terus berganti ekspresi dari tertawa, berubah menjadi kesal. Segala hal dari orang ini membuatku terus mengutuknya dalam hati. Setelah puas membuatku memuntahkan banyak darah, kali ini dia berjalan ke arah Amicia dan menarik rambut panjang cewek itu, hingga dia beranjak berdiri. Wajah sahabatku sudah babak belur, tapi dia tetap menggigit bibirnya untuk tidak mengerang kesakitan. Dalam daftarku, Amicia tetap menjadi orang nomor satu jika berbicara soal ketangguhan. Si gila itu menyentuh pipi Amicia dengan jari-jarinya secara perlahan. Dia memandangi sahabatku dengan tatapan geli. Dari udara kosong, sebuah pisau muncul di tangan kiri Tequr. Dia menempelkan bagian tajam pisau itu di leher Amicia, yang langsung membuat darah segar mengalir dari leher sahabatku. "Ja... jangan lukai dia!" seruku dengan sekuat tenagaku. Aku sudah kehilangan banyak warga Rebeliand sekaligus, dan aku tidak mau juga harus kehilangan Amicia. Hanya dia yang membuatku masih kuat, untuk mencari kedua orang tuaku. Melihatku memohon dengan putus asa, membuat Tequr kembali tertawa. Bukan tertawa keras seperti sebelumnya, tapi tertawa cekikikan seperti seorang anak yang baru saja mendapat hadiah. "Karena itu," desisnya sambil menatapku. "Keluarkan kemampuanmu, yang hampir membunuh Tuan Ashtoret dua ribu tahun lalu." Aku tidak tahu apa maksudnya. Sejak warga Rebeliand diculik, banyak orang yang sudah mengatakan hal aneh padaku. Memanggilku Raulith Lass, penguasa pedang jiwa, pewaris Foeter, dan bahkan kali ini Tequr juga memaksaku untuk mengeluarkan kekuatan asliku, dengan menyebut nama yang tidak kuketahui. Aku ingin mengeluarkan kemampuan yang dia maksud, namun nyatanya aku tidak memiliki apapun, selain rasa sakit disekujur tubuhku. Semua orang terlalu berekspetasi tinggi padaku. Mereka ingin aku melakukan sesuatu yang besar dan hebat. Mereka semua salah orang. Aku hanya seorang pencuri dari desa kecil bernama Rebeliand. Aku bahkan bukan dari keluarga terpandang di desaku. Kekuatan atau kekuasaan tidak cocok untukku. Selama perjalanan ini pun, aku tidak pernah menjadi pemimpin. Aku bahkan tidak bisa membayangkan diriku, memiliki kuasa dan kekuatab yang besar. Selagi aku masih kebingungan dengan permintaan penyihir itu, dia semakin tidak sabar. Pisau yang dia pegang, terus menembus kulit Amicia hingga darah yang keluar dari leher cewek itu semakin deras. Aku tahu, kalau dia tidak segan untuk membunuh, dan hal itulah yang membuatku frustrasi. Kematian Amicia adalah pemandangan yang paling kuhindari dalam hidupku. Jika harapan sudah musnah bagi kami, aku memilih untuk mati lebih dulu, dari pada melihat Amicia mati. Tequr memiringkan kepalanya, lalu berkata pelan. "Masih ingin berkata bahwa kau tidak tahu?" Penyihir gila itu mengangkat pisaunya, dan bersiap mengambil nyawa sahabatku. Inilah akhirnya. Aku akan melihat Tequr membunuh Amicia di depanku, sebelum akhirnya juga membunuhku. "Kalau memang begitu maumu, maka aku akan membunuhnya di depanmu." Tequr sudah akan menggorok leher Amicia, namun tiba-tiba sebuah tongkat kayu melesat kearahnya. Tidak seperti seranganku dan Amicia yang dapat dihindari dengan mudah. Tongkat itu tepat mengenai kepala Tequr, hingga dia terjerembab. Amicia terlepas dari tangannya, dan aku menggunakan sisa tenagaku untuk menangkapnya. Aku memeriksa luka yang mengeluarkan darah di lehernya. Dia beruntung, karena lukanya tidak dalam. "Siapa yang berani melemparku dengan tongkat kayu!" teriak Tequr hingga menggema di seluruh jurang Mazrog. Tongkat yang mengenai kepala Tequr itu melayang rendah, lalu melesat ke arah yang berlawanan, hingga akhirnya mendarat di tangan seseorang. Aku tidak bisa menahan untuk tertawa, meskipun itu membuat seluruh tubuhku sakit. Namun aku tidak peduli, pemilik tongkat itu adalah orang yang pasti akan membantai Tequr. Si pemilik tongkat memiliki tubuh kekar sempurna. Dia memakai pakaian santai berwarna biru langit, dengan lengan pendek. Untuk tubuh bagian bawahnya, dia memakai celana panjang berwarna sama, dan juga sepatu berbahan dasar jerami. Rambut putih orang itu cukup berantakan, seolah menandakan bahwa dia baru saja bangun dari tidur. Dia memiliki garis wajah yang sangat keras dan kaku, khas seorang petarung. Namun, dia malah melempar senyumnya padaku dengan sangat ramah. Dari semua orang yang memungkinkan untuk muncul tiba-tiba dan menolong kami, dia adalah yang paling kuat, dan paling tidak mungkin. Kata mukjizat, adalah yang paling tepat untuk menjelaskan situasi saat ini. Bukan karena dia tidak bisa, atau tidak dekat denganku. Melainkan karena dia adalah pribadi yang kekuasaannya sangat besar, hingga tidak memperbolehkannya mengurus masalah ras lain. Orang yang menyerang Tequr adalah makhluk hebat yang lebih tinggi dari elf. Dia juga yang berkunjung ke mimpiku dua kali. Xenia pelindung alam liar, Cyprian. "Aku orangnya," jawab Cyprian santai. "Dan tongkat ini, adalah milikku." Dia memasukkan tongkat yang baru saja menggetok kepala Tequr hingga terpental, ke saku celananya. Tongkat itu menyusut hingga masuk sepenuhnya, ke dalam saku celana sang Xenia. Tequr mendengus dan berlari menerjang sang Xenia dengan memegang pisau di tangannya. Penyihir gila itu menyerang Cyprian dengan membabi buta. Dan hasil serangannya, sama seperti saat aku dan Amicia menyerangnya. Tidak ada satu pun serangan Tequr yang berhasil melukai Cyprian. Cyprian hanya menghindar dari setiap serangan Tequr. Beberapa saat lalu, aku dan Amicia dipermainkan seperti itu oleh Tequr. Kali ini, Cyprian yang balas mempermainkannya. Aku mengakui kalau kemampuan bertarung Tequr sangat hebat, saat melihatnya bertarung dengan Cyprian. Meskipun terkesan seperti bertarung sembarangan, tapi semua serangannya terarah. Kecepatan serangan Tequr juga sangat mengagumkan. Dia bisa dengan mudah mengubah target serangnya, dari d**a ke kepala, lalu ke kaki, kembali ke d**a. Padahal dia hanya bersenjatakan pisau. Aku tidak mau membayangkan bagaimana kekuatannya, jika ditambah dengan sihir yang dia miliki. Aku baru mengingatnya. Sejak tadi, Tequr belum sekali pun menggunakan kekuatan sihirnya. Jika dia bisa menyamai Cyprian tanpa kekuatan sihir, maka reputasinya sebagai penyihir agung memang tak terbantahkan. Semua kehebatan Tequr saat bertarung denganku maupun Amicia, redup saat berhadapan dengan Cyprian. Sang Xenia sejauh ini hanya menghindar, namun dia tidak terpojok sama sekali. Malah sebaliknya, dialah yang menekan Tequr untuk terus menyerangnya. Cara Cyprian menghindari setiap serangan Tequr sangat elegan, namun juga tegas. Gaya bertarungnya melambangkan alam liar yang indah, namun juga berbahaya. Pertarungan ini sudah jelas pemenangnya. Tetapi, Tequr terus memaksa dirinya untuk menyerang Cyprian tanpa henti. Harga dirinya terlalu besar, untuk menyerah di hadapan sang Xenia. "Kau hanya bisa menghindar?" desis Tequr. "Apakah karena kau adalah seorang pengecut?" Cyprian hanya tersenyum dan mengabaikan provokasi dari si penyihir agung. Sang Xenia terlihat semakin tenang, saat Tequr mulai banyak bicara. Si penyihir gila akhirnya menghentikan serangannya, dan mundur selangkah. Dia kembali menyeringai seperti orang gila. Tequr mengangkat tangan kanannya. "Aku sudah selesai bermain denganmu. Saatnya untuk mengakhiri pertarungan membosankan ini." Debu tanah di sekeliling Tequr, terangkat dan berputar melayang mengelilinginya. Si penyihir mengepalkan tangannya, dan debu itu berubah menjadi puluhan pisau kecil. "Tidak mau mengucapkan kata terakhir?" desis Tequr dengan bangga. Cyprian memiringkan kepalanya sambil tersenyum geli. "Kau akan menyesali apa yang kau lakukan, Tequr Lolazar." "Itu kata terakhirmu?" Tequr menjentikkan jarinya, dan semua pisau itu melesat cepat ke arah Cyprian diiringi suara tawa Tequr yang menyebalkan. Aku agak gugup setelah melihat puluhan pisau yang diciptakan Tequr dari debu tanah itu, melesat ke arah Cyprian. Tapi kegugupanku tidak berlangsung lama. Puluhan pisau itu berhenti tepat di depan Cyprian, lalu semuanya terjatuh di kaki sang Xenia. Tequr berhenti tertawa setelah sihirnya digagalkan tanpa usaha. Kedua mata penyihir itu, membelalak kaget. Untuk pertama kalinya, sihir yang dia banggakan dapat dikalahkan "Siapa kau!" teriaknya ngeri. "Tidak ada yang bisa mengalahkan, bahkan menghancurkan sihirku seperti tadi." Cyprian tersenyum penuh kemenangan saat melihat ketakutan di wajah Tequr. Dia membungkukkan badannya, di depan si penyihir yang sedang kalut. "Salam, aku adalah Cyprian, Xenia pelindung alam liar." Setelah mengatakan kalimat itu, Cyprian menghilang dari tempatnya, lalu muncul di belakang Tequr yang masih terkejut dengan pengakuan sang Xenia. Cyprian menggetok kepala Tequr dengan pelan, namun si penyihir gila itu langsung ambruk di tempat. Setelah itu, sang Xenia berjongkok di sebelah Tequr yang terbaring. Dia mengarahkan jari telunjuknya ke hidung Tequr, dan sang Xenia teesenyum lega. "Dia sungguh pingsan," gumamnya. Lalu Cyprian menoleh kearahku. "Halo Tuan Lass, bisa langsung panggil Orion?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN