Bab 59 - Kekuatan Penyihir Agung

2035 Kata
Master Leo Ekkehard adalah guru yang sabar. Tujuh tahun lalu, adalah saat dimana aku memilih pisau kembar, sebagai senjata utamaku. Ayah kandung Amicia itu, tidak terkejut, atau memarahi pilihanku. Sebaliknya, dia malah bertepuk tangan dengan riang, saat aku mengambil pisau kembar, di antara pilihan senjata yang lain. Saat itu, Master Leo hanya berpesan singkat padaku, "Jika kau memilih pisau, maka teruslah incar leher musuhmu." Awalnya, aku tidak langsung melakukan sarannya. Saat latihan bertarung dengan Amicia, atau melatih para calon penjaga pos, aku tidak pernah mengincar leher mereka. Alat gerak, bagian itulah yang menjadi incaranku. Master Leo bukannya tidak tahu, bahwa aku membangkang dari sarannya. Namun, dia juga tidak pernah marah padaku. Kesabarannya, malah membiarkanku untuk mengembangkan gaya bertarungku sendiri. Hasilnya, adalah Vhirlass Udhokh yang sekarang. Siapa pun lawannya, aku selalu mengincar tangan, atau kaki mereka. Bukan leher. Aku baru mengubah gaya bertarungku, saat harus berhadapan dengan Dreyfus dan keenam anak buahnya. Saat melawan mereka, pisauku masih tetap mengarah ke kaki, atau tangan para musuh. Namun, aku menambahkan satu gerakan akhir, untuk memastikan nyawa musuh melayang. Sebuah gorokan. Saran Masterku tujuh tahun lalu, malah mengubahku di saat aku memang harus membunuh orang lain. Itulah perbedaannya. Serangan yang mengarah ke leher, adalah serangan pamungkas yang mematikan. Alasanku tidak pernah melakukannya, karena serangan itu terlalu berbahaya. Amicia, para calon penjaga pos, dan Master Leo sendiri, bukan orang yang tepat untuk serangan ke arah leher. Jika mereka tidak bisa menangkisnya, maka nyawa mereka akan hilang. Seseorang tidak akan langsung mati jika ditusuk di jantung, atau bagian lain dengan pisau kembarku. Tapi, jika aku menyerang leher, maka darah yang keluar akan sangat deras. Pendarahan itu cukup, untuk membuat musuh menjadi kalut dan mencoba menghentikan pendarahan dengan menutupnya memakai tangan. Kekalutan musuh akan langsung berdampak otomatis terhadap pertahanannya. Aku hanya perlu waktu sedikit saja, untuk langsung memberikan serangan mematikan dan mengakhiri hidupnya. Selain saat melawan Dreyfus, kemarin malam aku juga kembali mengubah kebiasaan bertarungku. Lawan kami adalag Ogrotso yang hebat dalam bertahan, terutama di area tubuh bagian atas. Dan kupikir, itu adalah terakhir kalinya aku harus beradaptasi dengan musuh. Ternyata, saat ini aku juga kembali menemui lawan dengan gaya bertarung yang berbeda. Si pria asing dengan jubah dan tudung hitam ini, juga memaksaku untuk mengubah kebiasaan bertarungku. Awalnya, aku menerjang dia dengan cepat, dan aku yakin dia akan terkejut dengan serangan mendadakku. Namun, orang ini dapat menghindar dengan mudah. Dia bahkan tetap menunduk ke arahku. Kedua tangannya juga masih tersembunyi di balik jubahnya. Aku masih teguh untuk menyerangnya dengan kecepatan. Sekali lagi, dia bergerak lebih cepat dariku. Sesuatu yang jarang terjadi di hidupku, saat aku dikalahkan dalam hal kecepatan. Amicia ikut membantuku dengan menyabetkan Oborotni dalam bentuk pedang, ke arah orang itu, namun sekali lagi dia dapat menghindar. Padahal, cewek itu berada di belakangnya. Sekarang, pria berjubah hitam itu berhadapan dengan kami berdua. Amicia mengubah Oborotni menjadi sebuah tombak. Sebuah pemikiran yang brilian dari sahabatku. Menyerangnya dengan pedang dan pisau tidak efektif, karena dua senjata itu memiliki jarak serang yang hampir sama. Sedangkan tombak memiliki jarak serang yang luas. Kami dapat menyudutkannya, dengan terus memaksanya berada di area serang yang kami inginkan. Melihat kami sedang bertarung, para tawanan dari desa Degeo malah kembali masuk ke dalam penjara. Mereka juga tidak lupa menutup jeruji besi, yang menjadi batas antara mereka dan kebebasan. Rakyat Degeo sadar, bahwa memaksakan diri keluar dari sini, berarti harus melewati kami yang sedang bertarung. Resiko itu terlalu besar bagi mereka. Jadi, mereka memilih pilihan yang lebih aman. Sisa-sisa warga Rebeliand, mulai mencari senjata di sekitar mereka. Tidak seperti warga Degeo, warga desaku adalah orang-orang yang sanggup mengangkat pedang. "Kita hanya akan mengganggu mereka!" seru Master Leo selagi para warga Rebeliand mencari sesuatu yang dapat digunakan senjata. Ayah sahabatku itu memberi isyarat kepada wargaku, untuk mengikuti warga Degeo yang masuk ke dalam penjara. "Biarkan Lass dan Amicia yang akan mengalahkannya!" Begitulah sifat guruku. Dia adalah orang yang paling bijak dalam mengambil keputusan. Dari sudut pandang wargaku, aku dan Amicia sedang memerlukan bantuan sebanyak mungkin. Padahal kami berdua tidak ingin mereka turun tangan. Tujuan kami adalah menyelamatkan mereka. Alasan itulah yang membuat kami berdua bisa sampai sejauh ini. Jika aku dapat meminta sesuatu, maka permintaanku adalah agar mereka tetap aman. Dan sekarang, tempat paling aman memang berada di balik jeruji besi penjara Mazrog. Selagi para warga mulai berhambur masuk ke dalam penjara, aku dan Amicia masih tidak bergerak dari tempat kami. Kedua mata kami masih fokus kepada orang berjubah hitam di hadapan kami. "Ada rencana?" bisikku lirih. Amicia hanya diam, yang berarti dia sedang berpikir. Jika cewek ini sedang berpikir, maka yang harus kulakukan adalah mengulur waktu, agar dia dapat menemukan solusi. Begitulah kebiasaan kami. Amicia berpikir, dan aku akan menjadi sasaran sementara. Dari pengalamanku, cara paling efektif untuk mengulur waktu, adalah dengan menyerang musuh. Kedua kakiku kembali berlari ke arah si tudung hitam. Kali ini, hanya tangan kananku yang memegang pisau. Aku harus mencoba cara lain, untuk melukai orang misterius itu. Aku menyabet tepat di dadanya saat dia berada di jangkauanku, namun dia melangkah mundur di waktu yang tepat. Seranganku belum selesai. Tangan kiriku yang kosong langsung meraih jubahnya, dan kali ini dia malah maju ke arahku. Pisau di tangan kananku langsung menyambutnya dengan ganas, dan sekali lagi dia menghindar dengan baik. Si tudung itu berguling ke depan melewatiku. Dia menendangku dari belakang. Namun tendangannya dapat kutangkis dengan tangan kiriku. Aku menyabet kaki yang dia pakai untuk menendangku, dan sekali lagi, dia bereaksi lebih cepat. Selanjutnya, dia melakukan hal yang tidak kuduga. Setelah kaki yang dia pakai untuk menendangku sudah kembali menjejak, dia menendangku sambil melompat dengan kakinya yang lain. Aku yang terkejut dengan serangannya, langsung melindungi wajahku dengan kedua tanganku. Namun tendangannya sangat keras hingga membuatku terhuyung. Tangan kiriku kupakai untuk menahanku tubuhku agar tidak terjatuh. Tapi orang itu sudah kembali berdiri, dan mengarahkan tendangannya ke kepalaku. Beruntung aku bisa menghindar dengan berguling ke samping, lalu secepat mungkin aku kembali berdiri. Aku mengatur nafasku yang masih terengah-engah setelah pertarungan yang cukup sengit. Berbanding terbalik denganku, si tudung hitam tidak terlihat kelelahan sama sekali. Dia dengan tenang mengarahkan kepalanya yang tertutupi tudung kepadaku. Aura intimidasi dari orang itu sangat kuat. Padahal, dia hanya berdiri diam. Aku mengambil pisauku yang lain. Percobaanku untuk melawannya memakai satu pisau, ternyata gagal total. Ada sepersekian detik bagiku, untuk mencari Amicia yang kubiarkan untuk berpikir. Namun cewek itu tidak terlihat dimana pun. Pertarungan sengit tadi membuatku tidak sadar kalau Amicia sudah pergi. Saat aku sedang memikirkan jalur yang diambil Amicia untuk pergi dari sini, tiba-tiba sebuah anak panah dari dalam penjara melesat ke arah orang bertudung itu, dan langsung melesat ke jantungnya. Anak panah itu, masih kalah cepat dengan reaksi si orang bertudung. Musuh kami dapat menghindar, dengan melemparkan tubuhnya ke samping. Tetapi, sepertinya memang itulah yang diharapkan si pemanah. Anak panah itu baru adalah sebuah pengalih perhatian. Sebuah kejadian yang lebih penting, mengiringi anak panah yang melesat cepat. Seluruh tawanan Tequr, menghambur keluar dari sel mereka masing-masing. Dan yang memimpin mereka adalah Master Leo. Si orang bertudung langsung bergegas berdiri untuk menghadang semua tawanan, namun Amicia sudah berada di hadapannya, dengan menggenggam Oborotni dalam bentuk pedang. Di belakang Amicia ada puluhan tawanan yang melarikan diri dari penjara. Ternyata inilah yang dipikirkan Amicia, yaitu mengeluarkan semua tawanan. Kali ini si tudung yang menyerang Amicia lebih dulu. Padahal saat melawanku, dia hanya bertahan dan baru menyerang saat sudah terdesak. Orang itu masih tidak memakai tangannya, namun kedua kakinya ditambah agresifitasnya, ,membuat Amicia yang malah terpojok. Si tudung menendang tangan Amicia yang memegang pedang, hingga senjatanya terlepas. Lalu dia menyerang kepala Cia dengan kaki lainnya. Cewek itu bisa bertahan, namun tendangan orang itu membuatnya terlempar cukup jauh. Setelah melihat Amicia terjatuh, orang itu berlari ke arah para tawanan yang kabur. Namun, Amicia kembali berdiri dan mengambil Oborotni. Senjata ajaib itu berubah menjadi tombak di tangan sahabatku, dan cewek itu langsung melemparkannya ke arah si tudung hitam. Hal yang menyebalkan adalah, si tudung eolah memiliki mata di belakang kepala. Dia memiringkan kepalanya, tepat saat tombak itu hampir menembus kepalanya. Bahkan, dia melakukan sesuatu yang mengejutkan kami. Dia meraih tombak itu saat senjata itu masih di udara, lalu dia berbalik badan menghadap kami, dan melemparkan tombak itu kepada si pemilik tombak dengan kekuatan penuh. Tombak itu melesat cepat. Ujung tombak itu hampir mengenai mata sahabatku. Untungnya dia lebih cepat menghindar. Cewek itu berguling di saat yang tepat, sehingga tombak itu hanya sedikut menggores bagian atas pipi kirinya. Lebih baik, dari pada menjadi buta. Aku berlari mengejar orang itu dengan dua pisau di tanganku. Sekali lagi, kecepatan adalah keahlianku, sehingga orang itu bisa kukejar dengan mudah. Selain karena kecepatanku, orang itu juga tidak mengejar para tawanan. Dia hanya berjalan pelan ke arah tawanan yang sudah mulai menyeberangi jembatan. Wushh Angin berdesing melewati telingaku, yang ternyata berasal dari sebuah anak panah. Sasaran si anak panah, adalah si orang bertudung. Namun, untuk kesekian kalinya, dia kembali menghindari tembakan sahabatku. Amicia tidak kenal kata menyerah. Dia menembakkan anak panah tanpa jeda, hingga orang misterius itu semakin terusik. Akhirnya orang itu membalikkan badan. Tindakan bodoh, karena wajahnya akan langsung disambut dengan sayatan pisauku. Sekali lagi, orang ini sungguh memiliki refleks yang sangat hebat. Dia malah menghindari seranganku dan menendang perutku dengan lututnya. Serangan ke perutku tidak bisa kuhindari. Tendangannya yang kuat membuatku terhuyung kebelakang. Perutku seolah telah ditendang seekor kuda, alih-alih manusia. Aku jatuh berlutut di depannya, dan terbatuk keras. Aku ingin berdiri dan melawannya, namun tubuhku tidak mengikuti kemauanku. Kedua lututku seolah sudah berakar jauh di dalam tanah. Bukannya mengejar para tawanan yang kabur, orang itu malah berlutut di depanku. Dia mengeluarkan tangannya yang sejak tadi tersembunyi di balik jubahnya, lalu membuka tudung besarnya. Sedari tadi, aku membayangkan wajah dibalik tudung itu selama bertarung melawannya. Wajah menyeramkan dengan banyak luka, atau wajah keras yang sangat sesuai dengan gaya bertarungnya. Begitulah wajah yang aku harapkan dibalik tudung gelap. itu. Ternyata aku salah. Wajah dibalik tudung itu adalah wajah manusia, yang sangat tampan, hingga hampir setara dengan elf. Aku tahu dia bukan elf, karena kedua daun telinganya tidak runcing. Namun, dia bagaikan seseorang yang tidak nyata. Seluruh wajah orang ini tampak seperti elf yang diceritakan ayahku saat aku masih kecil. Rambut pirang lurus yang dikuncir kuda, dan panjangnya hingga menyentuh pinggang. Kulit putih yang bersih, rahang bawah dengan lengkungan yang pas, dan dua bola mata berwarna biru laut. Orang ini justru tampak lebih seperti elf, daripada klan Daeron yang berkulit pucat dan bermata merah. Satu-satunya perbedaannya dengan klan Daeron adalah aura yang keluar dari orang ini. Klan Daeron kadangkala menguarkan aura membunuh yang kuat, tetapi mereka tidak akan menyerang, jika teritori mereka tidak diganggu. Sedangkan orang ini, memiliki aura membunuh, bahkan aura yang begitu jahat. Setiap kerutan, lekukan, bahkan senyum di wajahnya Semua itu hanya menunjukkan kejahatan. Setelah menunjukkan wajahnya di depanku, dia memukul wajahku hingga aku terjatuh ke tanah. Seluruh tubuhku berteriak kesakitan. Setiap pukulan dan tendangannya, memiliki kekuatan yang tidak masuk akal. Ada kesakitan luar biasa, yang menjalari seluruh tubuhku. Orang itu berdiri di hadapanku, yang masih bergelung menahan rasa sakit. Dia tertawa terbahak-bahak. Dari sudut mataku, aku melihat para tawanan sudah hampir melewati jembatan. Mereka hampir sampai di sisi lain jurang ini. "Kalian bermimpi terlalu jauh," desis pria setengah elf. Suaranya seperti seorang anak kecil, yang mengajakku bermain. Dia menghadap kepadaku dan Amicia yang masih kesakitan, dan orang itu menyeringai lebar. "Inilah hukuman kalian, karena sudah berani melawanku, Tequr Lolazar." Setelah dia mengucapkan kalimat tersebut, jembatan yang dilewati para tawanan itu tiba-tiba berguncang hebat. Aku melihat semua tawanan mulai panik. Mereka berlarian ke sisi yang paling dekat dengan mereka. Namun, aku tahu bahwa yang mereka lakukan adalah sia-sia. "Amicia Ekkehard dan Raulith Lass, terimalah hukuman kalian," ujar Tequr lirih, dengan senyum lebar yang terpampang mengerikan , di wajahnya yang tampan. Dia menarik napas panjang sambil menutup matanya, lalu dia tertawa pelan sambil menghembuskan napasnya. Jembatan dengan ratusan tawanan dari Rebeliand dan Degeo di atasnya, jatuh ke dalam jurang Mazrog yang gelap. Semua orang yang harusnya kami selamatkan, malah hilang ditelan kegelapan desa neraka ini. Dan semua itu terjadi, hanya karena hembusan napas panjang Tequr Lolazar. Tenggorokanku tercekat. Aku ingin membunuh penyihir gila itu. Namun, aku hanya bisa bergelung di tanah Mazrog yang kotor. Seluruh tubuhku meronta kesakitan, selagi para wargaku terjatuh ke jurang gelap desa ini. Mimpi burukku, ternyata menjadi kenyataan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN