Mimpi burukku dimulai sejak Orion menambah kecepatannya.
Kuda yang merangkap sebagai sahabatku itu, memacu dirinya untuk berlari lebih cepat dari biasanya.
Alasannya sederhana. Dia ingin menjadi pahlawan di misi ini. Sifat khas dari Orion.
"Lass, tolong beri tahu kepada Tuan Daeron, bahwa aku dapat memutari Mazrog, hanya dalam waktu sepuluh detik!" seru kuda itu sembari mencarikanku dan Amicia tempat yang aman untuk bersembunyi.
Permintaan Orion membuatku dan Amicia menghela napas. Namun, kuda itu berhasil membuat kami berdua agak tenang, meskipun di depan kami ada maut yang membentang.
Kami sampai di sisi belakang Mazrog dengan cukup cepat, berkat Orion.
Desa neraka itu sudah tidak seramai sebelumnya, karena hampir semua Ogrotso sudah keluar, untuk mengikuti si pemimpin.
Sahabatku, Orion, sudah memincingkan mata besarnya, untuk mengawasi sekeliling kami.
Dia siap menjaga bagian luar, untuk menjagaku dan Amicia yang akan masuk kedalam Mazrog.
Semakin kakiku melangkah maju ke desa menyeramkan itu, aku semakin merasa takjub, sekaligus bangga.
Aku tidak pernah membayangkan, bahwa kemampuan mencuriku, akan dipakai untuk menyelamatkan.
"Sihir hutan bisa kugunakan," ujar Orion, sebelum aku dan Amicia meninggalkannya. "Beri aku tanda kalau kalian butuh untuk dijemput."
Pesan Orion menjadi pengantar manis, bagiku dan Amicia untuk masuk ke Mazrog.
Kami memutuskan untuk mengendap perlahan ke pagar berduri, yang melilingi desa neraka ini.
Kami juga tidak lupa untuk memasang tudung jubah. Sebuah kebiasaan kecil, yang akan selalu kami lakukan, ketik akan beraksi.
Mazrog sungguh merupakan desa yang jahat.
Aku mengumpat dalam hati, saat aku sudah sampai di depan pagar berduri itu.
Ternyata, pagar yang mengelilingi Mazrog, juga dilapisi oleh cairan berwarna biru kehijauan, yang lengket dan berbau busuk.
Amicia dengan cepat menarikku menjauh dari pagar, sebelum rasa penasaranku membuat diriku melakukan hal bodoh.
"Itu racun," sergah Amicia. "Jangan menyentuh apa pun, di tempat yang tidak kau kenal."
Aturan itu tidak pernah dibuat oleh Master Ekkehard. Namun, anaknya memilih waktu yang tepat, untuk membuat sebuah aturan baru.
Karena Amicia sudah melarangku untuk memegang sesuatu, maka kami mulai bergerak untuk mencari semacam gerbang belakang, atau lubang yang bisa kami lewati .
Tequr Lolazar adalah orang yang sangat detail dalam setiap tindakannya.
Penyihir gila itu, atau Ogrotso suruhannya, melapisi racun di sepanjang pagar belakang desa ini.
Dia seolah bisa meramal, kalau suatu saat, tempat ini akan menjadi jalan masuk bagi para pencuri.
Namun, tekadku dan Amicia tidak mudah dikalahkan.
Dengan pimpinan sahabatku, dan kejelian dari kedua mataku. Akhirnya kami menemukan sebuah jalan masuk.
Aku harus berterima kasih kepada klan Daeron. Hampir tiga hari tinggal di Hutan Hitam yang gelap, membuat kedua mataku bekerja semakin baik, dibawah terik matahari.
Jalan masuk bagi kami, adalah sebuah keberuntungan.
Di sela-sela pagar berduri Mazrog, sebuah lubang kecil mencuat di bagian tengah. Lubang itu cukup bagi kami berdua, untuk menerobos masuk.
Apalagi, sisi pagar ini, tidak memiliki racun di permukaannya.
Kami menerobos lubang itu bergantian. Tentunya, Amicia yang masuk lebih dahulu.
Akhirnya, kami berdua menjejakkan kaki di Mazrog. Dari dalam, tempat ini bahkan lebih suram daripada malam di Hutan Hitam.
Tebakan Briaron, bahwa ada lubang di tengah desa, untuk tempat tinggal para Ogrotso ternyata benar.
Namun, itu bukan sekedar lubang, karena para Ogrotso menggali sangat dalam.
Lubang bukan kata yang tepat. Menurutku, jurang jauh lebih tepat untuk mendeskripsikannya.
Pagar berduri yang mengelilingi Mazrog, bukan berperan sebagai pelindung untuk serangan dari luar. Namun, sebagai batas dari jurang besar yang luasnya, sama dengan luas dari desa Mazrog itu sendiri.
Amicia sudah melangkahkan kakinya di tepi jurang itu, dan mulai menengok ke bagian dalamnya.
Aku mengikuti tindakan cewek itu, dengan sebuah alasan. Penasaran.
Jurang itu memiliki lereng memutar yang menempel di pinggirannya. Lereng curam itu adalah jalan yang dipakai oleh para Ogrotso untuk turun.
Selain itu, ada banyak jembatan yang berfungsi sebagai penghubung kedua sisi lereng, yang membentang membelah kedalaman jurang.
Berapa pun aku dibayar, aku tidak akan pernah melangkahkan kakiku untuk memijak jembatan menyeramkan itu.
Dasar dari jurang dalam itu tidak terlihat. Suasananya sangat mirip, dengan jurang yang hampir membuat pasukan klan Daeron terjun bebas di tengah Hutan Hitam.
Bedanya, jurang di Hutan Hitam tidak terlihat dasarnya, karena hutan itu tidak mengijinkan setitik cahaya pun masuk.
Sedangkan jurang ini, memiliki kegelapan pekat, bahkan di kala matahari pulau Adon, sedang bersinar sangat terik.
Aku hampir merasakan bahwa kegelapan jurang ini, adalah kegelapan yang bernyawa.
Amicia mengambil sebuah batu di bawah kami, lalu melemparkan batu itu ke dalam jurang.
Hasilnya, batu itu memantul beberapa kali ke tepian jurang, hingga akhirnya di telan gelap. Jurang ini bahkan tidak mengijinkan gema bersuara dari dalamnya.
Cewek itu memandangku dengan tatapan ngeri. "Kita harus secepatnya menyelamatkan para sandera. Aku tidak mau berada terlalu lama di tempat ini." Dia mengakhiri kalimatnya dengan menelan ludah.
Aku mengangguk kaku padanya.
Firasatku juga buruk akan tempat ini, tetapi aku tidak bisa lari. Warga desaku dan Degeo, kemungkinan besar ditawan pada salah satu bagian jurang ini.
Kengerian di wajah Amicia, memaksaku untuk mengambil inisiatif memimpin jalan. Sedangkan gadis itu berjalan tepat di belakangku.
Aku membayangkan jika para Ogrotso menjaga tempat ini, maka kami pasti akan sangat kesulitan.
Bahkan, kemungkinan bagi kami untuk menang, adalah nol besar.
Mazrog bukan tempat bertarung yang nyaman. Jika memaksakan diri bertarung di sini, maka pilihannya adalah jatuh ke dasar jurang tak berujung, atau menyentuh racun di pagar berduri.
Dari dua pilihan itu, hasilnya tetap sama. Mati.
"Tidak ada teriakan perang dari luar," ujar Amicia selagi aku memikirkan cara bertarung di lereng sempit desa ini.
Aku juga tidak mendengarnya. Diam-diam aku berharap, kalau Eleandil dan yang lain berhasil menjauhkan Ogrotso dari tempat ini, dan mereka bisa selamat.
Kemungkinannya memang kecil. Tetapi, pasukan di luar sana memiliki banyak elemen kejutan.
Para tunggangan yang dapat berlari secepat Anyx, dan anugerah Yared yang dipastikan kembali aktif, sudah merupakan kemewahan bagi pasukan di luar.
Dan aku bersyukur memiliki kemampuan yang hebat dan berguna. Memaksa diri untuk berpikir hal yang baik, adalah sebuah kemampuan yang berguna.
Jika tidak terdengar suara perang dari luar Mazrog, artinya para Ogrotso sudah jauh dari markas mereka.
Aku semakin mempercepat langkahku.
Menuruni jurang ini hanya butuh fokus penuh, untuk melihat jalan yang ada di depan. Lereng yang sempit, adalah alasan kuat untuk menuruninya dengan fokus dan kehati-hatian yang ekstra.
Jalur ini memang sengaja dibuat untuk para Ogrotso. Jadi, Tequr tidak perlu memikirkan keamanan, atau membuat jalur yang nyaman. Dia cukup membuat jalur yang bisa dilewati.
Aku terlalu sombong.
Setelah beberapa hari menjadi warga Hutan Hitam, aku merasa bahwa paru-paruku siap untuk menerima udara yang lebih kejam.
Ternyata, udara Mazrog lebih menyesakkan.
Nafasku semakin pendek selagi aku melangkah turun, semakin dalam ke jurang ini. Bahkan, udara bersih juga sudah menyerah, untuk berhembus, atau sekadar lewat di jurang gelap ini.
"Sampai sejauh mana kita harus turun?" gumamku dengan gelisah.
Amicia menunjuk sebuah cahaya kecil yang berada di tidak jauh di bawah kami, namun letaknya di sisi lain jurang ini.
Cewek itu sudah menutup hidung dan mulutnya, dari sobekan kain jubah panjangnya.
"Kita mulai mencari dari cahaya itu," ujarnya.
Aku memincingkan mataku, untuk melihat ute yang harus kami tempuh.
Kami masih harus menuruni lereng temoat kami berpijak, dan melewati sebuah jembatan kayu (sial!) yang membelah jurang ini, untuk sampai ke sisi sebelah sana.
"Hanya itu cahaya terdekat dari sini," tambahnya. "Semoga tempat itu memang menjadi penjara untuk para tawanan.
Aku mengangkat tanganku, dan memberi isyarat 'oke' padanya.
Lain kali, aku menjaga mulutku, agar tidak mengucapkan sesuatu yang akhirnya harus kulakukan. Menyeberangi jembatan kayu yang terlihat rapuh itu, malah menjadi satu-satunya rute bagi kami.
Alasannya, cahaya terdekat hanya muncul dari tempat yang berada di sisi lain jurang ini.
Kami melanjutkan menyusuri lereng jurang, dalam keheningan. Karena kami tidak ingin menghirup udara kotor dari jurang ini terlalu banyak.
Kedua mata kami juga harus tetap fokus, untuk melihat tanah, agar kaki kami tidak melangkah di tempat yang salah.
Waktu terasa berjalan sangat lambat saat kami menuruni lereng itu, hingga akhirnya kami sampai di tepi jembatan kayu yang akan membawa kami, semakin dekat dengan sumber cahaya.
Kami berdua saling bertatapan dengan gelisah bercampur takut. Jembatan kayu itu terlihat lebih rapuh saat kami sudah di depannya.
Aku mendahului Amicia, dan mengambil langkah pertama untuk menyeberangi jembatan kayu. Ternyata, jembatan itu hanya terlihat rapuh, namun sangat stabil dan kokoh saat diinjak.
Aku mengangguk kepada Amicia, sambil mengulurkan tanganku. Cewek itu masih terlihat ragu, namun dia menggapai uluranku dan ikut melangkah di jembatan itu.
Aku terus memegang tangannya hingga dia bisa menenangkan diri. Amicia mulai melihat sekitar, bahkan dia memberanikan diri melihat ke bawah, tempat kegelapan tidak berujung.
Akhirnya sahabatku berhasil menarik nafas panjang, dan melepaskan tanganku. Aku berbalik untuk memimpin jalan ke sisi seberang lereng jurang ini.
Langkah kami sangat ringan setelah mulai terbiasa dengan jembatan kayu Mazrog, hingga akhirnya kami sampai di ujung jembatan.
Selanjutnya, kami hanya perlu menuruni lereng ini sedikit lagi, untuk sampai ke sumber cahaya itu.
"Arghh!" seseorang mengerang kesakitan.
Aku mengenali suara itu, sehingga aku langsung berlari ke sumber suara. Cahaya kecil itu ternyata berasal dari sebuah penjara besi yang berisi para tawanan.
Warga Rebeliand dan orang-orang lain yang tidak kukenal, ada dibalik jeruji besi penjara itu.
Mereka tampak sangat lusuh, dengan baju yang sobek di beberapa bagian, dan rambut yang tidak terurus.
Para warga Rebeliand langsung menghambur ke pintu penjara saat melihatku dan Amicia. Beberapa dari mereka bahkan menangis.
Dari raut wajah mereka, aku yakin kalau para Ogrotso hanya memberi mereka makan sekali sehari.
Aku langsung menyusuri penjara itu untuk mencari dua orang tuaku.
Pertama, aku berhasil menemukan Master Leo, ayah Amicia. Guruku yang biasanya sangat berwibawa dengan balutan baju zirah lengkap, juga terlihat sangat lusuh.
Ayah dan ibuku masih belum terlihat, meskipun aku yakin kalau mereka ada di sini. Aku menguatkan hatiku, karena prioritas utama, adalah mengeluarkan mereka dari tempat ini.
"Bagaimana cara membobol penjara besi ini?" batinku.
Pandanganku tertuju pada lubang kunci yang melekat di pintu penjara.
Aku menepuk Amicia yang sedang memeluk ayahnya di sela-sela jeruji besi, lalu menunjuk lubang kunci di pintu penjara itu.
Cewek itu mengangguk tegas, dan mengusap air matanya.
Sekarang, saatnya untuk menunjukkan keahlian mencuriku, di depan Master Leo. Aku merogoh kantong celanaku, untuk mengeluarkan jarum yang selalu kubawa.
Selanjutnya, aku berjongkok di depan pintu penjara. Lalu aku menempelkan telingaku di lubang kunci, sedangkan dua tanganku sibuk memasukkan jarum ke dalamnya.
Untuk membobol sesuatu yang terkunci, hanya perlu jarum dan kepekaan. Di pintu satunya, Amicia juga sedang melakukan hal yang sama denganku.
Di tempat ini, ada empat pintu penjara yang harus kami buka. Jadi, kami tidak boleh terlalu lama meluapkan emosi. Keluar dari sini hidup-hidup, adalah yang paling penting.
Amicia selesai lebih dulu, lalu dia bergegas ke pintu selanjutnya.
Beberapa saat setelah dia selesai, akhirnya jarumku juga berhasil membuka pintu pertama.
Saat aku sedang bergegas ke pintu keduaku, seseorang tiba-tiba menghadang langkahku.
Dia mewujud dari udara kosong seperti yang dilakukan Normen.
Aku tidak bisa menebak jenis kelaminnya.
Orang itu memakai jubah hitam legam, dengan tudung kebesaran, yang menutupi seluruh wajahnya.
Kedua tangannya tersembunyi dibalik jubahnya. Sepertinya senjata.
Orang itu hanya menunduk diam, sehingga membuatku lebih gelisah. Di belakang orang itu, Amicia sudah berhenti membuka pintu, karena menyadari kehadiran tamu tak diundang.
Ada ketakutan yang muncul dari dalam benakku, karena kemunculan orang ini. Otakku terus menyuruhku untuk lari dan meninggalkan semua orang, bahkan Amicia.
Orang bertudung itu hanya diam, namun
ketegangan sudah meliputi udara disekitar kami. Auranya mengintimidasi siapa pun yang ada di sini.
Aku tidak tahu siapa orang ini, namun aku harus mengalahkan rasa takutku. Akan lebih berbahaya jika para Ogrotso sudah kembali.
Jadi, dengan segala pertimbangan, aku memutuskan untuk menerjang orang bertudung itu, dengan dua pisau kembar di tanganku.
Setelah memamerkan kehebatanku dalam membobol pintu, saatnya kemampuab bertarungku untuk unjuk gigi.