Mazrog tidak sesuai dengan bayanganku.
Aku sempat membayangkan bahwa Mazrog merupakan sebuah desa, atau kota, yang dikuasai oleh Tequr, dan diubah menjadi markas bagi para Ogrotso.
Nyatanya, Mazrog bukanlah desa, atau kota.
Tempat itu adalah sebuah neraka.
Kesimpulan itu aku buat, karena ayahku pernah berkata, bahwa neraka adalah tempat untuk menyiksa roh orang-orang yang jahat, selama hidupnya.
Aku, Yared, Amicia, dan Briaron, adalah kelompok yang berangkat paling terakhir. Alasannya, karena kelompok lain butuh bersembunyi, dan melihat keadaan, agar kami dapat memakai jalan memutar dengan aman.
Setelah pasukan Eleandil berangkat, Orion dan harimau milik Briaron langsung mengambil rute memutar yang cukup jauh, untuk mencapai bagian belakang Mazrog.
Sesuai rencana Daeron, kami berempat akan melakukan tugas yang paling penting, dari keseluruhan strategi ini. Dan, untuk tugas penting itu, kami harus masuk ke Mazrog, dari pintu belakang.
Briaron akan memimpin kami, untuk menyelamatkan seluruh warga Rebeliand dan Degeo yang diculik.
Selagi pasukan Eleandil menjadi umpan, dan dua pasukan sisanya, akan membuat para Ogrotso tersebar ke berbagai arah.
Harimau Briaron (namanya adalah Ram), ternyata cukup hebat dalam berlari. Orion juga memujinya, karena Ram memiliki kecepatan yang tidak jauh berbeda dengan Anyx. Bahkan menurut Orion, Ram bisa saja lebih cepat dari serigala milik Normen.
Kami berempat tiba di bagian belakang Mazrog dengan aman. Berkat Ram dan Orion yang berlari sangat kencang, hingga para Ogrotso di dalam markas, tidak menyadari keberadaan kami.
Briaron memutuskan agar kami bersembunyi di bebatuan besar yang tersebar di dekat Mazrog. Elf itu juga terus mengingatkan kami, agar tetap menjaga jarak.
Intinya jarak yang cukup bagi kami, untuk melihat situasi di dalam desa kecil itu, sekaligus tidak terdeteksi oleh para makhluk di dalamnya.
Dari kejauhan, aku memperkirakan bahwa luas Mazrog, sekitar setengah dari luas Rebeliand. Kesimpulan itu aku dapatkan karena aku bisa melihat kedua ujung Mazrog, dari jarak yang tidak terlalu jauh.
Selanjutnya, Mazrog merupakan sebuah desa yang sangat menguarkan aura jahat.
Tempat itu memakai pagar kawat berduri, alih-alih sebuah pos dari kayu, untuk menandai batas teritori mereka.
Mungkin, Tequr tidak ingin para Ogrotso keluar dari jalan lain, selain gerbang depan desa. Atau, si penyihir gila itu tidak ingin ada tamu yang tak diundang, untuk masuk ke pabrik jahatnya.
Hanya dengan mengamati dari jauh pun, aku sudah merasakan bahwa Mazrog, alih-alih dipenuhi kehidupan yang damai, desa itu dipenuhi Ogrotso yang berjalan lalu-lalang, atas perintah atasan mereka.
Satu hal yang aneh adalah, para Ogrotso itu kebanyakan muncul dari bawah tanah. Sebuah kecurigaan muncul di pikiranku, yang menebak kalau tanah di bawah Mazrog, telah digali cukup dalam, untuk membuat ratusan Ogrotso bisa tinggal di situ.
Namun, itu hanya sebuah tebakan.
Alasannya, karena pagar kawat berduri yang mengelilingi desa itu, memiliki tinggi setengah manusia dewasa.
Karena itu, dari tempat kami, hanya terlihat bagian d**a ke atas dari para Ogrotso.
Mereka semua memiliki tatapan kosong yang identik, tapi dibanding Ogrotso yang kami lawan kemarin, perlengkapan mereka lebih lengkap.
Di punggung setiap Ogrotso, terdapat sebilah pedang ukuran sedang, dan seluruh tubuh bagian atas mereka, dilapisi baju zirah sederhana.
Apakah mereka memang Ogrotso tipe agresif seperti perkiraan Briaron?
"Dimana para warga Rebeliand maupun Degeo?" gumam Amicia di sebelahku. Cewek itu mengerutkan dahinya untuk mencoba memikirkan pertanyaannya sendiri.
Briaron menunjuk sesuatu di depan kami. "Mereka pasti berada di dalam lubang itu, kita harus menuruninya untuk bisa menyelamatkan mereka."
"Bagaimana rencananya?" tanya Yared. "Dan bagaimana kau bisa tahu, bahwa ada lubang di dalam desa itu?"
Ketidaksopanan milik Amicia, ternyata juga menular kepada Yared.
Aku ingin sekali menjahit mulut kedua anak kurang ajar itu, karena cara mereka berbicara kepada elf.
Lawan bicara mereka adalah seorang pria yang usianya sudah beberapa abad. Dan umur mereka berdua hanya sekitar seperduapuluh dari umur Briaron.
Padahal, mereka tinggal mengganti kata kau dengan Anda, juga kata aku dengan saya.
Briaron mengerucutkan bibirnya, karena dua pertanyaan beruntun dari mulut Yared. "Saya tahu, karena saya pernah ke tempat ini."
Elf itu pernah ke tempat ini?
Jadi, itulah alasannya dia menjadi salah satu yang mengerti tujuan kami, selain Daeron.
"Rencananya, kita tunggu Eleandil dan pasukannya menarik keluar sebanyak mungkin Ogrotso," timpal Briaron dengan cepat. "Saya dan anugrah Tuan Yared akan bertarung berdampingan, sedangkan sisanya akan mencari tawanan."
Rencana Briaron terdengar efektif. Yared yang sudah memastikan anugrahnya bisa kembali digunakan, sehingga akan membuat Ogrotso kewalahan, dan Briaron tinggal mengeksekusi.
Sedangkan, aku dan Amicia yang merupakan pencuri, memiliki kecepatan dan ketelitian untuk mencari sesuatu.
Kami mengangguk bersamaan untuk menyetujui rencana itu.
"Ogrotso yang agresif akan selalu tertarik dengan pertempuran. Jadi, saat Eleandil beraksi, sejauh apapun para Ogrotso, tetap mereka akan bergerak mendekati pertempuran," papar Briaron.
Artinya, kami harus menunggu sedikit lagi. Eleandil dan pasukannya harus membuat kekacauan besar, agar ratusan Ogrotso ini dapat meninggalkan markas.
Jantungku hampir meledak karena kegelisahan dan kegugupan.
Tugas terpenting dari semua rencana ini ada di pundak kami, meskipun pembukanya adalah para pasukan Eleandil.
"Mereka mulai bergerak," gumam Yared.
Wajah cowok itu mengeras, dengan tatapannya yang hanya menatap ke satu arah.
Aku mengikuti arah pandangnya, dan mendapati apa yang sedang dia perhatikan.
Para Ogrotso di dalam gerbang, mulai berbaris rapi, dan berjalan ke arah yang menjauhi kami.
Eleandil sepertinya berhasil dengan apa yang dia lakukan. Itulah yang ada di pikiranku, sebelum aku menyadari sesuatu yang janggal.
Cara para Ogrotso berbaris tampak sangat janggal. Mereka tidak tampak sedang terprovokasi oleh sesuatu, malah sebaliknya.
"Mereka keluar bukan karena diserang," gumam Briaron lirih.
Setelah berpikir dalam diam untuk sejenak, elf itu tiba-tiba terperanjat. "Ogrotso sedang menyambut seseorang, kita harus ubah rencana!"
Kami semua langsung bergegas ke tempat dimana Orion, dan harimau Briaron sedang menunggu.
Situasi sekarang sangat buruk untuk rencana kita, karena hanya ada satu pribadi yang akan disambut oleh para Ogrotso.
Si penyihir gila, Tequr Lolazar.
"Kenapa Lass?" tanya Orion kebingungan.
Aku tidak menjawab pertanyaannya, dan hanya menyuruhnya untuk berlari mengikuti Briaron, setelah aku dan Amicia naik ke punggungnya.
Aku memincingkan mata untuk terus melihat arah yang ditempuh oleh Briaron. Ternyata elf itu memilih untuk ke arah bebatuan, tempat pasukan yang dipimpin ayahnya.
Ubah rencana, aku mengerti maksud Briaron.
"Ke bukit di seberang, tempat Normen dan pasukannya!" seruku sekeras mungkin.
Perintahku membuat Orion mengubah arah larinya.
"Sebenarnya ini ada apa?" tanya Orion lagi.
Aku tidak ada waktu untuk menjawab pertanyaan Orion. Yang ada di pikiranku sekarang, adalah berlari sejauh mungkin dari Mazrog.
Samar-samar aku melihat pasukan yang dipimpin Normen dari jarak ini. Mungkin mereka gelisah menunggu tanda menyerang dari Eleandil.
Aku harus memutar cukup jauh, karena Orion tidak boleh berlari melewati gerbang depan Mazrog, untuk ke tempat Normen.
Bukan keputusan yang bijak jika mereka malah melihat kami melintasi depan gerbang mereka.
”Eleandil tidak terlihat!" seru Amicia dari belakangku.
Akhirnya Amicia kembali berbicara padaku. Cewek itu akhirnya tidak marah lagi, karena aku menyimpan rahasia darinya.
Aku juga gelisah karena hal yang sama dengan Amicia.
Seharusnya Eleandil dan pasukannya ada di sekitar sini, tapi kenapa mereka tidak terlihat?
Orion terus berlari ke bukit tempat Normen dan pasukannya bersembunyi, dengan kecepatan terbaiknya.
Normen dan pasukannya tidak menyadari bahwa kami sedang berlari ke arah mereka, karena Orion memutar ke belakang pasukan Normen.
Mendadak, sebuah suara keras, seperti raungan perang, terdengar dari tempatku berada.
Raungan perang itu membuat semua pasukan Normen keluar dari persembunyian mereka, sebelum kami sempat mengabarkan hal penting pada mereka.
"Abaikan itu, ubah rencana!" teriakku putus asa.
Beberapa elf sangat terkejut ketika mereka melihatku berada di belakang mereka. Namun, mereka tidak memelankan lari kuda masing-masing.
Mereka tetap di rencana awal. Mereka akan memecah Ogrotso, untuk memberi kami ruang.
Normen berada di paling depan.
Prajurit tua itu mengangkat pedangnya tinggi sambil berteriak keras. Dia juga sempat melihat saat menoleh ke belakang, tetapi Anyx sudah di kecepatan tertingginya.
Orion segera menambah kecepatannya untuk mengejar Anyx, bukan hal yang sulit untuk kuda yang merupakan pelayan Cyprian.
Kami melewati para elf dengan mudah, hingga akhirnya Orion dapat berada di sebelah Anyx.
"Hentikan pasukanmu!" teriakku mencoba mengalahkan angin yang berhembus kencang, karena kecepatan lari para tunggangan.
Normen terkejut mendengarku, lalu dia balas berseru, "Kenapa? Barusan adalah tanda dari Tuan Eleandil, kami harus melakukan sesuai rencana!"
"Para Ogrotso tidak keluar karena Eleandil!"
Kali ini giliran Amicia yang berteriak mengatasi deru angin, "Mereka keluar karena menyambut seseorang, dan itu bukan situasi menguntungkan untuk kita!"
Normen membelalak, dan terdiam sejenak di tengah kecepatan lari Anyx. Setelah kembali sadar, dia membungkukkan badannya, lalu berbisik di telinga sang serigala tunganggannya.
Aku tidak tahu apa yang dia bisikkan, tapi wajah Normen sangat serius.
Setelah berbisik pada Anyx, dia kembali berkata kepada kami, "Saya akan mencoba melakukan rencana awal!"
"Tuan Eleandil sudah terlalu jauh di depan, jadi kita tidak boleh meninggalkannya sendirian. Kalian bertiga juga coba jalankan rencana awal!" lanjutnya.
Normen tersenyum pada kami. "Jangan sampai terbunuh, kami juga berusaha tidak akan mati!" Setelah kalimat itu, Anyx menambah kecepatan dan meninggalkan kami jauh di belakang.
Situasinya terlalu beresiko.
Kami tidak tahu siapa yang disambut Ogrotso. Bisa jadi Iashor, adik Daeron, atau malah yang terburuk, Tequr sendiri yang datang ke sini.
Kami pasti akan dikalahkan telak jika salah satunya benar-benar ada disini.
Namun, Eleandil sudah berlari terlalu jauh. Resiko ini layak untuk diambil.
Tidak boleh ada satu pun yang tertinggal, itulah pesan Daeron kepada kami.
Rencana awal kami, tidak akan terhenti karena satu orang pemimpin Ogrotso hadir di sini.
Aku juga sudah lelah menghindar.
"Kita lanjutkan rencana awal," kataku.
Orion mengangguk patuh, dan kuda putih itu kembali melesat memutari Mazrog secepat mungkin.
Aku sempat melihat ke belakang di tengah cepatnya lari Orion. Pasukan Daeron berlari berdampingan bersama dengan Ram, dengan Briaron dan Yared di punggungnya.
Ternyata itulah alasan Briaron bergegas kembali. Dia bukan ingin lari dari pertempuran, tetapi dia ingin bertempur dengan orang yang dia kasihi sampai akhir.
"Dengan datangnya orang penting ke Mazrog, maka desa neraka itu dipastikan akan kosong," seru Amicia di belakangku. "Kekuatan Yared dan Briaron, tidak diperlukan untuk sekedar menyelamatkan tawanan."
Aku memikirkan perkataan Amicia. Dan cewek itu benar.
Awalnya, keberadaan Briaron dan Yared adalah untuk memastikan bahwa kami akan tetap menang, jika para Ogrotso yang hebat dalam bertahan, masih tinggal di Mazrog.
Tetapi, keadaannya berubah setelah kedatangan orang penting, yang membuat para Ogrotso berbaris rapi.
Tidak peduli Ogrotso yang hebat dalam bertahan atau menyerang, mereka semua akan keluar dari Mazrog untuk berperang.
Pemimpin mereka ada di sini. Mereka akan berada di bawah kendali si pemimpin.
Karena itu, Briaron dan Yared lebih diperlukan di garis depan, dari pada tugas penyelamatan.
Menyelamatkan warga yang diculik, cukup dipasrahkan padaku dan Amicia.
Lagi-lagi, sebuah pengambilan keputusan yang bijak dari Briaron.
Aku, atau lebih tepatnya kami, tidak boleh mengecewakannya. Kepercayaan Briaron kepada kami, harus dibayar lunas, dengan menyelamatkan semua orang yang menjadi tawanan Tequr.
Di belakang kami, teriakan para elf semakin keras, di bawah cahaya matahari sore pulau Adon.
Dari sudut mataku, aku melihat para Ogrotso mulai berbondong-bondong keluar dari rumah mereka. Para makhluk dengan tatapan kosong itu, sudah siap berperang.
Di hadapan mereka, ada tujuh kuda dan satu harimau berwarna putih, milik Eleandil.
Perang akan pecah dalam hitungan detik.
Aku juga melihat pasukan Daeron dan Normen yang mengarah ke tengah pertempuran. Mereka semua tampak sangat hebat.
Pertempuran yang tidak akan mungkin mereka menangkan, hanya untuk mengulur waktu bagiku dan Amicia.
Semua tekad yang ada di hatiku, aku kumpulkan menjadi sebuah janji besar.
Sebuah janji untuk tidak akan mengecewakan mereka semua.