Amicia masih tetap marah padaku saat kami kembali melanjutkan perjalanan. Dia masih bersikeras memaksaku menceritakan soal percakapanku dan Normen, yang membuat wajahku menjadi sangat serius.
Selama ini, aku tidak pernah menghadapi seorang gadis yang marah. Aku sangat sering menjadi sasaran amukan dari ibuku, namun dia adalah ibuku, bukan seorang gadis yang merupakan anak kandung guruku.
Karena itu, aku dan Amicia malah saling mengunci rapat mulut kami masing-masing, selagi Orion memacu larinya di tengah Hutan Hitam, yang sudah bersahabat.
Daeron mengatakan kepada kami, sebelum kami berangkat. Kalau perjalanan ini akan lebih cepat dari sebelumnya, karena markas Ogrotso sudah sangat dekat dengan kami.
Kali ini, aku memimpin pasukan elf bersama Daeron dengan rusa besarnya. Sedangkan Briaron dan Eleandil dipindah ke belakang, bersama Anyx.
Alasannya sederhana. Kami tidak lagi perlu untuk berjaga-jaga akan serangan mendadak, sehingga fungsi Daeron di belakang barisan, sudah tidak diperlukan.
Selain itu, pepohonan hutan Hitam, juga mulai renggang, hingga langit pun dapat terlihat. Fakta itu membuat kami tidak perlu membuka jalan baru, atau memastikan tidak adanya jebakan di depan. Sinar matahari sudah membuat segalanya jelas.
Seharusnya tiga pemimpin elf, yang berada di baris paling depan. Namun, atas usul Briaron, akhirnya Orion yang memimpin di depan, agar kudaku ini dapat menggunakan sihirnya, saat keadaan sangat darurat.
Para elf setuju dengan usul itu, terutama setelah Orion berhasil melakukan sihir hutan yang membuat seluruh tunggangan tidak terlihat. Kekuatan besar milik sahabatku, dibayar dengan kepercayaan klan Daeron.
Memimpin bersama Daeron, membuat aku aku harus menunggangi Orion, bersebelahan dengan rusa besarnya. Melihat rusa tunggangannya dari dekat, membuatku semakin merasa kerdil, dan inferior.
Namun, rusa milik Daeron tidak memiliki rupa yang menyeramkan seperti Anyx. Hewan ini tampak sangat luhur, dan menguarkan aura berkuasa. Binatang itu hampir memiliki wibawa seperti Orion, yang notabene adalah seekor kuda abadi.
Aku penasaran, bagaimana cara Daeron menemukan rusa itu, bahkan menjinakkannya. Aku curiga kalau rusa itu juga hewan ajaib seperti Orion.
"Ada yang membuatmu penasaran, Tuan Lass?" seru Daeron mendadak.
Sebuah kecurigaan muncul di pikiranku, bahwa Daeron sebenarnya memiliki kemampuan untuk membaca pikiran orang lain. Buktinya, dia tahu kalau aku sedang bertanya-tanya soal rusa besarnya.
"Hanya sebuah pertanyaan tidak penting, yang mendadak muncul di otakku, Tuan," jawabku jujur.
Daeron mengangguk pelan mendengar kejujuranku, lalu dia mengangkat tangannya ke udara. Semua tunggangan di belakang kami, langsung memelankan kecepatan mereka, hingga semuanya mulai berjalan dengan santai.
Hutan Hitam sudah kami tinggalkan, dan sekarang jalan yang kami lewati adalah sebuah padang rumput yang luas. Matahari juga sudah tepat di atas kami, sesuatu yang membuatku cukup gugup.
Namun, menunggangi Orion bersama pasukan elf terasa menyenangkan saat berada di hamparan luas. Para hewan tunggangan juga terlihat senang dapat berlari di dataran yang kosong.
Alasan Daeron memelankan kecepatan adalah agar para tunggangan dapat merumput dengan bebas. Mereka tidak makan apa pun, sejak keluar dari Tekoa, karena tidak ada yang dapat mereka makan.
"Jadi, Anda masih berusaha berbohong, Tuan Lass?" ujar Daeron sembari menghampiriku, setelah dia turun dari rusa tunggangannya. "Saya sangat yakin, kalau Anda memiliki pertanyaan untuk saya."
Amicia memilih untuk pergi menjauh dariku dan Daeron. Cewek itu sepertinya memang marah padaku, karena aku menyembunyikan rahasia tentang hubunganku dengan Normen.
"Anda sedang bertengkar dengan Nona Amicia?" tanya Normen penasaran. Elf itu tidak mengalihkan pandangannya dari punggung Amicia yang semakin menjauh dari tempat kami.
"Sedikit, hanya masalah kecil," jawabku lirih. "Tuan, berapa lama kita akan berhenti di sini?"
"Hanya sebentar," balasnya. "Tempat ini adalah peristirahatan terakhir, sebelum kita melangkah keluar dari Hutan Hitam."
"Tempat ini masih Hutan Hitam?" pekikku.
Daeron mengangguk puas, karena mendengar keterkejutanku. Dari raut wajahnya, elf ini pasti sudah berkali-kali melihat banyak orang yang terkejut, karena padang rumput luas ini masih termasuk wilayah Hutan Hitam.
"Padang Rumput ini adalah batas terakhir, dari liarnya Hutan Hitam," papar Daeron. "Namanya Ukoranurk, yang berarti padang peristirahatan."
Satu lagi nama sulit, yang harus kuhafalkan. Namun, nama tempat ini memang menjelaskan fungsinya. Di tengah Hutan Hitam yang menyesakkan dan menyeramkan, padang ini menjadi tempat peristirahatan paling nyaman.
"Padang ini merupakan sebuah batas, antara hutan bagian luar, dan hutan bagian dalam," imbuhnya. "Setelah padang ini, hutan Hitam hanya seperti hutan biasa. Tidak menyesakkan, dan tidak berbahaya."
"Jadi, masih ada hutan yang akan kita lalui, setelah padang ini?"
Daeron mengangguk setuju. "Benar, Tuan Lass. Hanya sebuah hutan yang tidak terlalu luas, dan kita akan keluar di dekat markas besar Ogrotso."
"Apakah kalian masih lama?" gerutu Amicia sambil berjalan mendekati kami. "Sudah hampir setengah jam, kita membuang waktu di tempat ini."
"Panggil tunggangan kalian!" seru Daeron untuk merespon Amicia. "Kita akan beranglat sekarang!"
Para elf langsung melakukan perintah sang pemimpin klan dengan cepat. Mereka mulai menaiki kuda tunggangan masing-masing, untuk bersiap melakukan perjalanan yang membawa mereka keluar dari Hutan Hitam.
"Maaf Nona Amicia," ujar Daeron dengan tenang kepada sahabatku. "Saya terlalu bersemangat jika berbicara dengan Tuan Lass. Kita akan berangkat sekarang."
Permintaan maaf dari Daeron membuatku tidak enak hati dengan elf itu. Dia adalah sosok yang membuat para elf mau membantu menyelamatkan warga Rebeliand, dan Amicia malah memperlakukannya dengan tidak sopan.
Namun, karena cewek itu masih marah padaku, maka lebih baik aku tidak membahasnya. Memberi nasihat kepada orang yang sedang dikuasai amarah, adalah perbuatan yang bodoh.
Sahabatku, Orion, kembali berlari dengan kecepatan yang tidak jauh berbeda dengan tunggangan para elf lain. Dan formasi barisan masih tetap sama, dengan Orion dan Daeron ada di bagian paling depan.
Semakin jauh Orion berlari, maka kegugupanku semakin bertambah. Alasannya, karena aku sudah menghadapi Ogrotso sebelumnya, dan mengetahui, bahwa mereka cukup kuat untuk menguras stamina kami.
Padahal, Ogrotso yang menyerang kami hanya berjumlah sekitar seratus. Jumlah mereka memang dua kali lipat lebih banyak dari pada pasukan kami, yang berjumlah sekitar enam puluh orang.
Namun, mereka sanggup memojokkan, dan hampir mengalahkan kami. Bahkan tiga orang elf harus meninggal, karena stamina yang terkuras habis, akibat pertahanan para Ogrotso yang terlalu kuat.
"Apakah kami sanggup melawan mereka di markas besar mereka?" batinku.
Di markas mereka, jumalh mereka akan berkali-kali lipat dari pasukan kami, dan akan ada banyak Ogrotso dengan tipe yang berbeda. Satu orang dari pasukan kami, bisa saja harus melawan lima hingga tujuh Ogrotso sekaligus.
Bisakah kita menyelamatkan warga Rebeliand dan Degeo, sembari memastikan semua pasukan pulang dengan selamat ke Tekoa?
Kemarin malam, kami sudah kehilangan tiga orang elf. Bukankah sebuah mimpi yang terlalu muluk, jika berharap seluruh pasukan kami pulang dengan selamat?
Lamunanku terhenti saat rusa Daeron mendahului Orion, dan sang pemimpin klan yang berada di punggungnya, memberi isyarat untuk kami berhenti sejenak.
Ayah Briaron itu turun dari tunggangannya, dan melangkah cukup berat, ke depan Orion. Raut wajahnya sedikit menegang, yang artinya dia cukup serius kali ini.
"Bentuk lingkaran!" serunya dengan nyaring "Aku akan menyampaikan strategi, dan dengarkan baik-baik!"
Satu per satu elf, turun dari tunggangan mereka, lalu mendekat ke Daeron. Sesuai perintahnya, kami semua berdiri melingkar, dengan Daeron berada di tengah lingkaran. Sebuah formasi yang paling tepat, untuk rapar darurat.
Karena aku tenggelam dalam lamunanku akan kemungkinan menang bagi kami, sehingga aku tidak sadar, bahwa Daeron telah membawa kami semua keluar dari Hutan Hitam.
Kesimpulan itu muncul di pikiranku, karena semua pemandangan yang aku lihat dengan kedua mataku, membuktikan bahwa tidak mungkin kami masih berada di dalam sebuah hutan.
Tak jauh dari tempat kami berdiri, terdapat barisan bukit yang memanjang, hingga tidak menghilang di cakrawala. Lalu, aku juga melihat banyak burung camar yang berterbangan,, sebuah bukti bahwa kami lebih dekat dengan laut, ketimbang hutan.
"Di balik bukit itu, adalah markas besar para Ogrotso, namanya Mazrog," ujar Daeron sambil menun dengan suara yang cukup keras, untuk dapat didengar oleh semua pasukannya.
Para elf mulai bergumam gelisah, mendengar perkataan Daeron. Inilah akhir perjalanan kami, pertempuran untuk menyelamatkan para warga yang diculik, dari cengkraman Tequr Lolazar.
"Kemarin malam, kita sudah melawan Ogrotso yang kuat dalam bertahan, dan tiga saudara kita sudah gugur," lanjutnya. "Sekarang, giliran kita yang membalas, dan kita perlu strategi untuk melawan mereka."
Kami semua mengangguk antusias, dan semakin merapatkan diri dengan Daeron, untuk mendengar strateginya. Untuk melawan pasukan yang jumlahnya jauh di atas kami, strategi yang matang, adalah sesuatu yang harus kami miliki.
Rencana Daeron adalah sebuah rencana yang sederhana, namun mematikan, karena dia ingin pasukan kami bukan menyerang langsung dari pintu depan. Elf itu sadar betul, kalau kami akan kalah jumlah, jika melakukan serangan bodoh seperti itu.
Usai memaparkan strateginya, dia melirik anaknya, sambil mengangkat alisnya. Briaron sadar kalau dia memiliki tugas penting, sehingga dia melangkah ke tengah lingkaran.
Briaron berdehem sebentar, lalu berkata, "Strategi ini memiliki resiko besar, namun patut dicoba. Saya akan membagi pasukan, sesuai strategi yang dipaparkan oleh Ayah."
"Kita akan membagi pasukan menjadi empat. Pasukan pertama yang dipimpin oleh Eleandil, akan menjadi umpan," ujar Briaron untuk memulai penjelasannya. "Para Ogrotso yang agresif akan langsung menyerang, jika ada banyak orang di depan markas mereka."
Briaron lalu menunjuk ayahnya dan Normen. "Dua pasukan lain akan dipimpin mereka berdua. Dua pasukan ini bertugas untuk memecah Ogroso yang keluar, menjadi kelompok kecil."
Daeron menunjuk bebatuan di sebelah kiri yang agak jauh dari kami. "Pasukanku akan menunggu di situ, hingga Eleandil mengeluarkan banyak Ogrotso."
"Kalau begitu, pasukan saya akan menunggu dibalik bukit itu," timpal Normen, sambil menunjuk bukit di sisi kanan yang juga tak jauh dari kami.
"Terakhir, aku, Tuan Lass, Nona Amicia, dan Tuan Yared akan mengambil jalan memutar, untuk membebaskan warga yang diculik," ujar Briaron menutup penjelasannya.
Rencananya terdengar meyakinkan dan sederhana. Namun, rencana itu bisa berjalan jika seluruh Ogrotso di dalam markas besar adalah tipe agresif.
"Bagaimana jika Tuan Eleandil gagal membawa keluar banyak Ogrotso?" tanya Amicia sambil mengangkat tangannya.
"Kita akan memakai rencana cadangan," jawab Briaron singkat.
"Rencana cadangan?" tanyaku.
"Sejak kemarin, kami para elf belum memakai sihir hutan sama sekali, karena kami menyimpannya untuk hari ini," balas Briaron. "Dalam keadaan terdesak, maka sihir hutan akan terpaksa dilakukan."
Aku hampir lupa dengan satu variabel itu. Sihir hutan para elf klan Daeron bisa menjadi pembeda di pertempuran ini. Aku tidak tahu seberapa merusaknya sihir mereka, namun aku percaya kalau sihir mereka akan menjadi penyelamat kami.
"Apakah ada pertanyaan lain?" ujar Briaron.
Aku menatap Amicia, dan cewek itu hanya menggeleng padaku. Mendengar Briaron memiliki rencana cadangan, membuatku semakin yakin dengan rencana yang dibuatnya.
"Karena tidak ada pertanyaan, maka kita langsung bersiap di posisi masing-masing!" perintah Daeron.
Seluruh pasukan langsung kembali naik ke tunggangan mereka, tanpa berkomentar apapun. Strategi Daeron, tidak serta merta langsung menghilangkan ketakutan dalam diri kami.
Semua orang di pasukan ini masih takut, namun kami berusaha percaya kalau rencana ini akan berhasil. Terlebih, karena sihir hutan yang sudah disimpan sejak kami keluar dari Tekoa.
Setelah kami semua sudah siap, pasukan pimpinan Normen dan Daeron bergerak lebih dahulu. Ada sekitar sepuluh elf, yang berbaris di belakang masing-masing dari mereka.
"Kalian gugup?" celetuk Briaron, sembari menaiki harimau jingganya. Wajah elf itu malah tampak riang, meskipun kemungkinan kami menang, hanya sangat kecil.
"Mengapa Ogrotso tidak terkena pengaruh anugrahku?" ujar Yared yang sudah lama sekali, tidak mengeluarkan suaranya yang menyebalkan.
Pertanyaan itu adalah pertama kalinya Yared berbicara dalam beberapa hari terakhir . Dari semua hal, ternyata anugrahnya yang tidak dapat digunakan adalah yang paling menganggunya.
Briaron memberikan senyuman menenangkan kepada Yared, lalu dia berkata, "Karena saat itu Anda di Hutan Hitam."
"Hutan Hitam tidak mengijinkan sihir jenis apa pun digunakan, kecuali sihir hutan. Sekarang, kita sudah keluar dari Hutan Hitam, anugerah Anda dapat digunakan kembali," sambungnya.
"Lalu, mengapa kalian mengubah posisi, dan mengatakan bahwa aku layak berada di belakang, karena anugerahku akan aktif, jika ada serangan mendadak?" sergah Yared.
"Tidak ada alasan," jawab Briaron dengan santai. "Aku, ayah, dan Eleandil hanya ingin Anda percaya, bahwa Anda berguna di kelompok ini. Mengatakan bahwa anugerah Anda tidak berfungsi, sama dengan mengumumkan bahwa Anda tidak berguna, bukan?"
Yared mengangguk tanda mengerti. Terlalu banyak hal aneh di Hutan Hitam, sehingga mengetahui kalau hutan itu bahkan bisa menghalangi sihir, juga terdengar masuk akal.
Setelah Briaron selesai menjawab pertanyaan Yared, tiba-tiba Amicia mengayunkan Obrotni dalam bentuk pedang, ke arah leher Yared. Namun, anugerah milik bocah itu, aktif lebih cepat.
Oborotni tertahan di udara, cukup dekat untuk memenggal kepala Yared. Namun, dalam keadaan tidak dapat bergerak, Amicia malah tersenyum puas. Sebuah senyum yang hilang darinya, sejak dia kesal padaku.
Yared menelengkan kepalanya, dan membalas senyum Amicia, lalu berkata, "Terimakasih sudah meyakinkanku."
Amicia yang membeku, akhirnya terlepas dari pengaruh anugerah Yared sambil terhuyung. Namun, senyum yang merekah di wajah cewek itu masih belum hilang.
"Kami bisa mengandalkanmu lagi?" ujar Amicia sambil mengedipkan sebelah matanya ke Yared.
Yared mengabaikannya, dan naik ke punggung harimau milik Briaron. Sekilas, aku juga melihat pemuda kunci itu tersenyum, namun rasa gengsinya yang terlampau besar, memaksa dia untuk menyembunyikan rasa senangnya.
Aku dan Amicia akhirnya menaiki Orion. Kami berempat, dengan dua tunggangan hebat memulai perjalanan untuk mengambil jalur memutar.
Rencana ini akan berhasil. Karena jika kami gagal, maka semua orang yang diculik akan mati mengenaskan, atau diubah menjadi Ogrotso yang menyedihkan.
Aku meralat janjiku, rencana ini bukan akan berhasil, melainkan harus berhasil.