Kami mulai memakamkan para mayat Ogrotso, yang adalah warga Rebeliand, dan Degeo. Kami semua bergerak dengan cepat, namun dalam diam, sebagai bentuk penghormatan untuk para mendiang.
Matahari yang sebelumnya hanya terpercik di langit, kini sudah naik sepenuhnya, sehingga teriknya yang cerah berhasil menyentuh kulit kami. Namun, karena kami semua kelelahan, maka Daeron memutuskan untuk beristirahat sejenak.
Tanpa perlu perintah, kami bergegas mencari makan untuk sarapan di hari baru ini. Kali ini aku berjalan bersama Briaron, karena hanya elf ini yang tidak pernah aku ajak untuk jalan berdua.
"Tuan sudah berapa lama bersahabat dengan Nona Amicia?" tanya Briaron padaku, setelah kami sudah berjalan cukup jauh dari tempat peristirahatan. "Sejak kecil, atau sejak kalian menjadi pencuri?"
Aku cukup terkejut dengan pertanyaan mendadak itu, namun aku menebak, kalau pertanyaan Briaron dikarenakan Amicia satu-satunya wanita di pasukan ini. Keberadaan cewek itu di tengah banyaknya laki-laki, memang sedikit aneh.
"Sekitar tujuh tahun," jawabku tenang. "Guruku dalam mencuri, adalah ayahnya."
Briaron mengangguk khidmat. "Ayah dari Nona Amicia, juga tinggal di Rebeliand?"
Aku mengerti arah pertanyaan Briaron. Elf ini ingin memastikan bahwa Tuan Wornd yang diubah menjadi Ogrotso, bukanlah ayah Amicia.
"Diantara Ogrotso tadi, hanya ada sepuluh warga Rebeliand," jawabku. "Sepuluh orang itu adalah orang-orang yang bekerja sebagai gembala, atau seorang nelayan. Itulah alasannya pertahanan mereka sangat kuat."
"Selain itu, tidak ada ayah Amicia di antara para Ogrotso tadi," sambungku. "Orang yang dibunuh oleh Amicia, adalah ayah dari sahabat kami, yang sedang menjaga desa, selagi kami berusaha menyelamatkan para warga."
"Ada orang yang selamat dari penculikan itu?" pekik Briaron, sambil memetik sebuah nanas yang mencuat dari tanah di bawahnya. "Saya kira, hanya kalian berdua yang selamat, karena kalian tidak berada di desa saat itu."
Lolosnya Solastra dari maut, memang sebuah fakta yang aneh. Amicia bahkan mencurigai sahabatnya itu, menyembunyikan sesuatu yang penting, dibalik penculikan seluruh warga Rebeliand.
Aku, Amicia, maupun Orion, juga tidak pernah membahas soal Solastra di depan Normen dan Yared. Padahal, aku dan Amicia tidak pernah membuat keputusan untuk menyembunyikan fakta bahwa seseorang berhasil selamat, di malam mengerikan itu.
Hanya saja, muncul sebuah sugesti di pikiran kami, yang memaksa diri agar tidak mengatakan soal Solastra kepada siapa pun. Alasannya, tidak ada, aku hanya tidak mau membahas soal anak itu, dan mungkin begitu juga dengan Amicia.
"Namanya adalah Solastra Wornd," ujarku pelan. "Dia adalah anak kedua, dari pria yang dibunuh oleh Amicia. Sedangkan, aku membunuh dua saudara kandungnya."
Briaron mengangkat alisnya, setelah mendengar pengakuanku. "Ternyata itulah alasan kalian berdua sedikit gentar, untuk melayangkan serangan yang mematikan, kepada musuh yang ada di hadapan kalian."
"Aku juga pernah di posisi itu," kenang Briaron. "Ibuku adalah salah satu Ogrotso generasi pertama, dan aku adalah sosok yang membunuh ibuku."
Kedua mataku langsung membelalak karena pernyataan mengejutkan dari Briaron. Aku tidak pernah menanyakan soal ibunya, karena aku berpikir bahwa nyonya Daeron sudah tiada.
Ternyata, ibu kandung Briaron memang sudah meninggal. Namun, bukan dalam wujud elf, melainkan seorang Ogrotso. Dan yang melakukan tugas berat untuk membunuhnya, adalah sang anak kandung, yaitu Briaron.
Melihatku yang hanya diam, membuat Briaron terkekh kecil, "Tenang saja Tuan Lass, kejadian itu terjadi sekitar tiga ratus tahun lalu. Saya sudah tidak merasa bersalah dan melupakannya."
"Bahkan, jika saya harus mengulang peristiwa itu lagi, maka saya akan melakukan hal yang sama," tegasnya. "Anda tahu alasannya?"
"Karena jiwa mereka terkekang di bawah perintah Tequr Lolazar," jawabku.
"Benar sekali," ujar Briaron riang, sambil menepuk bahuku. "Kita tidak boleh lemah di depan Ogrotso, karena itulah yang diinginkan oleh Tequr."
"Dia memanfaatkan sesuatu yang paling kuat, dan menjadi penggerak bagi banyak ras, yaitu cinta," imbuhnya sambil mengangguk khidmat. "Begitulah Tequr Lolazar, salah satu ahli strategi terhebat di daratan Adon."
Mau tidak mau, aku harus mengakui pujian Briaron kepada si penyihir gila. Tequr memang sangat menakutkan, karena dia berpikir sesuatu yang tidak akan terpikirkan oleh orang lain.
Di saat para penjahat kelas bawah mengancam akan membunuh orang yang kita kasihi, Tequr melakukan hal yang lebih gila. Orang gila itu akan membawa kita ke pilihan yang sama-sama tidak ingin kita ambil.
Pilihan pertama adalah membiarkan orang yang kita kasihi, hidup sebagai budaknya. Dan pilihan selanjutnya, adalah membuat kita terpaksa membunuh orang yang kita kasihi, untuk membebaskannya dari sihir Tequr.
"Di pertarungan tadi, adalah pertama kalinya saya sangat kelelahan, di saat bertarung melawan Ogrotso," ujar Briaron, yang kali ini menunjuk sebuah pohon dengan banyak buah segar di setiap cabangnya.
Aku mengerti maksud dari sang pemimpin elf, sehingga aku langsung memanjat pohon itu, dan mulai memetik buah berwarna merah yang begitu banyak.
"Biasanya Ogrotso sangat agresif, sehingga titik vital mereka cukup terbuka saat bertarung," lanjut Briaron setelah aku memasukkan buah hasil petikanku, ke dalam kantong yang dia panggul.
"Apakah Lolazar mengirim tipe Ogrotso yang kuat bertahan, karena mengetahui bahwa kita adalah tim yang kuat saat menyerang?" tanyaku.
Pertanyaanku membuat elf itu mendesah cukup keras, sambilmenatap langit terbuka di Hutan Hitam. Kulit pucat dan mata merahnya, sangat tidak cocok dengan cahaya matahari.
Dia bergumam pelan, "Mungkin saja penyihir itu dapat melacak kita, karena cahaya matahari dapat masuk ke sini."
Aku mengikuti pandangannya. Sejenak, aku teringat cerita Orion di saat kami sedang berada di padang rumput dekat desa Tosval, soal perang Xenia di masa-masa awal, saat Ueter pertama kali diciptakan.
Xenia yang seharusnya menjadi pelindung matahari, malah mengkhianati Ulea dan semua Xenia lain. Bahkan pengkhianatan itu menimbulkan perang besar di Ueter.
Aku tidak tahu keberadaan Xenia itu sekarang, tetapi aku mulai percaya kalau cerita itu memang benar. Kepercayaanku kepada Xenia tumbuh, setelah Cyprian mendatangi mimpiku.
Cerita Orion bukanlah sebuah mitos, melainkan adalah sejarah. Xenia hidup bersama kami, namun mereka jauh lebih kuat daripada ras lain. Mereka adalah bawahan Ulea untuk mengatur Ueter.
Jika penjahat utama di Ueter adalah Xenia pelindung matahari, maka aku mengerti alasan Briaron mengatakan bahwa Teuqr, dapat tahu posisi kami, hanya karena cahaya matahari yang menerobos masuk.
Beberapa saat lalu, aku senang karena malam tidak terlalu gelap disini. Namun, saat fajar menyingsing, aku justru merasa lelah. Matahari seperti menguras tenagaku, lebih dari malam di Hutan Hitam.
"Tuan, Anda pernah makan nanas?" tanya Briaron, lalu dia melemparkan nanas yang sudah dikupas olehnya, kepadaku.
Aku menangkap nanas itu, dan menggigitnya, tanpa menjawab pertanyaannya. Aku sudah lama tidak makan buah itu, sejak tiga tahun lalu saat aku pergi ke Donuemont, karena nanas tidak dapat tumbuh di udara panas tanah Rebeliand.
"Apakah sekarang kita dapat menjadi teman?" tanyaku, setelah menelan potongan nanas terakhir.
"Teman?" ulang Briaron, lalu elf itu menggelengkan kepalanya. "Kami, atau lebih tepatnya, saya tidak bisa berteman dengan Anda, karena Tuan Cyprian memilih Anda untuk menjadi wakilnya di Adon?"
"Saya, menjadi wakil seorang Xenia?" pekikku. "Cyprian tidak pernah mengatakan apapun pada saya di mimpi, maupun secara langsung!"
"Intinya, anda disiapkan untuk menjadi pemimpin kami suatu saat nanti," ujar Briaron. "Ayah sudah memimpin terlalu lama, dan dia butuh beristirahat, dari hidupnya yang panjang."
"Saya hanya seorang manusia dari desa kecil," cicitku, setelah aku sadar akan identitas diriku. "Kenapa saya harus memimpin klan elf yang sangat hebat seperti kalian?"
Briaron mendekat padaku, hingga wajah kami sangat dekat. Elf ini sedikit lebih tinggi dariku, sehingga aku sedikit mendongak padanya, yang tersenyum padaku dengan senyum ramahnya.
"Alasannya ada disini," desis Briaron sambil menarik pisau yang ada di belakang punggungku, lalu mengarahkan benda tajam itu ke leherku, dengan kecepatan yang sangat hebat.
"Tu...Tuan Biaron, anda kenapa?" cicitku dengan gugup, hingga suaraku hampir tidak terdengar sama sekali. Salah satu pisau kembarku itu, sedikit lagi akan mengiris kulit leherku.
Briaron menyeringai lebar. "Anda harus menemukan alasannya, namun Saya sudah memberi Anda petunjuk kecil, yang sangat menentukan."
Sang pemimpin elf menarik pisau yang sudah menggores leherku, dan memutar pisau itu. Dia mengarahkan gagangnya padaku, dan mengangkat alisnya dengan santai, seolah kejadian beberapa detik lalu, tidak pernah terjadi.
Putra Daeron itu tertawa kecil sambil mengulurkan pisau itu, dan berkata, "Jika ada orang lain yang melakukan itu, maka Anda harus menyiapkan serangan balik, yang cukup cepat untuk mengalahkannya."
Aku pernah mengalami situasi seperti ini, saat Normen mengejutkanku, dan tiba-tiba berubah menjadu menakutkan di Arnmeny. Saat itu, aku takut dengan prajurit tua itu, hingga tidak percaya sama sekali dengannya.
Namun, saat Briaron menghunus pisauku dan mengarahkannya ke leherku barusan, dia tidak membuatku takut sama sekali. Aku malah merasa gugup, karena aku takut berbuat salah kepadanya.
Aku mengambil pisauku dari tangannya yang terulur. "Anda cukup hebat dalam menggunakan pisau, bahkan Anda lebih cepat hampir dua kali lipat dari pada saya."
Briaron tertawa kecil. "Tuan Lass, jangan terlalu menyukai satu macam senjata. Belajarlah berbagai jenis senjata, agar Anda selalu lebih kuat daripada musuh."
Selain Master Leo, tidak ada seorang pun yang berani memberiku nasihat dalam bertarung. Namun kali ini, Briaron memberi nasihat yang berharga untukku, bahwa menguasai banyak senjata, akan membuatku lebih kuat dari musuh.
Aku tidak pernah memikirkan untuk belajar menggunakan senjata lain, kecuali dua pisau kembarku. Tapi, ketika aku melihat Amicia mengganti senjatanya dengan luwes dalam pertempuran tadi, cukup membuatku iri dengannya.
Andai saja aku dapat menggunakan banyak tipe senjata, maka Oborotni akan bisa kugunakan. Namun, kemampuanku hanyalah pisau kembarku, dan sedikit kemampuan pedang, karena bentuknya tidak jauh berbeda dengan pisau.
"Kita kembali ke markas?" usul Briaron. Dia menunjuk karung yang sudah dipenuhi banyak buah-buahan segar. "Mereka butuh makan, untuk pemulihan energi."
Aku mengangguk setuju padanya. Kami kembali ke markas tempat semua orang sedang makan, dan beristirahat untuk memulihkan tenaga.
Sesampainya di tempat peristirahatan, aku langsung melangkah ke arah teman-temanku, sedangkan Briaron kembali ke Eleandil dan ayahnya.
Yared seperti biasa, sedang tertidur pulas. Sedangkan Normen Harv sedang mengasah pedang besarnya yang baru. Prajurit tua itu sepertinya sudah mulai terobsesi dengan pedang pemberian kaum elf Daeron itu.
Ada dua orang yang masih belum terlihat, yaitu Amicia dan juga Orion. Sepertinya mereka berdua masih mencari makanan , di tempat yang agak jauh dari sini.
"Kau tidak pernah melakukan hal lain?" gerutuku kepada si kepala pengawal Raja Donater.
Normen mendongak mendengar sindiranku. Dia hanya melempar senyum kecil padaku, lalu kembali melanjutkan sesuatu yang sejak tadi dia lakukan, yaitu mengasah pedangnya di sebuah batu besar.
"Tuan sudah memikirkan perkataanku?" tanya Normen, tanpa melepaskan pandangnya dari pedang asahan.
"Perkataan Anda?" ulangku bingung.
"Saya sudah sampai sejauh ini untuk melihat perkembangan Anda," kata Normen. "Namun, sepertinya Anda sama sekali tidak tahu seberapa besar kemampuan Anda."
Aku agak tidak siap dengan pertanyaan Normen, namun di sisi lain, aku juga cukup penasaran dengan topik ini. Apalagi, sekarang dia membahasnya tanpa kuminta.
Aku menatapnya, lalu berkata, "Kalau begitu jelaskan padaku, siapa aku sebenarnya?"
Mendengar pertanyaanku, Normen meletakkan pedangnya dan membalas tatapan tajamku."Saya sudah pernah mengatakannya, bahwa Anda adalah Raulith Lass, penguasa pedang jiwa."
Aku memutar bola mataku. "Aku sudah pernah mendengarnya, sekarang jelaskan artinya padaku."
"Artinya, Anda adalah pembawa takdir Adon, bahkan Ueter," jawabnya sambil terkekeh pelan.
"Sederhanakan!" ujarku tidak sabar. "Aku tidak tahu arti dari kata-kata sulit itu, jadi tolong sederhanakan."
Normen mendadak mendekatkan dirinya padaku, lalu berbisik di telingaku, "Jika Anda ingin tahu, maka Anda harua ikut dengan saya setelah perjalanan ini selesai."
Mataku membelalak mendengar bisikan Normen. Tujuanku setelah menyelamatkan wargaku adalah kembali membangun Rebeliand, bukan melakukan perjalanan bersama Normen.
"Kenapa aku harus mengikutimu?" sahutku ketus. "Aku harus membangun Rebeliand yang sudah hancur lebur."
Normen mendengus di telingaku. "Di akhir perjalanan ini, hanya akan ada cerita sedih, dan tragedi. Sebuah pemicu yang paling pas, untuk membuat Anda kembali menjadi diri Anda yang asli."
"Aku yang sekarang adalah aku yang asli!" teriakku. "Aku adalah Vhirlass Udhokh, bukan Raulith Lass. Aku adalah pencuri dari Rebeliand, bukan seseorang yang akan menjadi pembawa takdir bagi Adon, apalagi Ueter!"
"Kalian berciuman!?" seru Amicia dari belakangku. "Lass, kau tidak sedang bercanda kan!"
Orion juga terkejut melihat wajahku dan Normen sedekat ini. Namun, dari semua dugaan, Amicia malah memilih menganggapku sedang berciuman dengan si prajurit tua.
Padahal, cewek itu adalah orang yang pertama kalinya menciumku. Seharusnyadia tahu, kalau aku tidak akan mencium orang lain selain dia. Bukan karena aku menyukainya, tapi karena aku memangtidak mau.
Sebaliknya, Normen hanya menyeringai padaku, sebelum akhirnya dia menjauh dari kami. Sang prajurit tua menunduk sopan pada Amicia juga Orion, lalu berjalan meninggalkan kami.
"Sekarang, Vhirlass Udhokh, jelaskan apa yang terjadi?" desak Amicia dengan nada mengancam, sambil mengetukkan kakinya ke tanah dengan cepat.
"Tidak ada," jawabku dengan nada tenang. "Normen hanya membisikkan sesuatu soal strategi perang kepadaku, tidak lebih."