Bab 54 - Pertempuran

1832 Kata
Aku terlalu meremehkan para Ogrotso. Mereka ternyata memiliki kemampuan bertarung yang hebat. Niatku untuk membunuh mereka dalam sekali serang, semuanya gagal. Pikiranku terdistorsi akibat Ogrotso pertama yang menghadang Amicia. Aku berpikir bahwa semua Ogrotso akan sama seperti itu, nyatanya tidak. Fakta bahwa Ogrotso yang menghadang Amicia hanyalah makhluk setengah jadi, harus menancap di otakku. Para tentara buatan Tequr yang ada di depan kami, jauh lebih kuat dan taktis dalam bertempur. Mereka selayaknya seseorang yang masih hidup dan berlatih bertarung setiap hari. Dua Ogrotso yang menjadi lawanku adalah kakak beradik Wornd, saudara kandung sahabatku, Solastra. Mereka berdua bersenjatakan pedang ukuran sedang, senjata yang tidak pernah mereka gunakan selama hidupnya. Namun, kedua orang ini sangat mahir menggunakan pedang, hingga aku hampir percaya bahwa mereka sering berlatih pedang diam-diam. Padahal, kedua orang ini adalah pelayan dan peternak yang bekerja di bisnis keluarga Tosval. Aku sudah sering bertarung melawan orang yang menggunakan pedang. Tetapi, mereka berdua terlampau hebat, sehingga akulah yang malah terdesak oleh serangan kedua orang itu. Aku terus menghindar beberapa kali, sambil berpikir untuk menyiapkan serangan kejutan, yang membuat mereka langsung lumpuh. Keunggulanku dari pada mereka, adalah kecepatan dan kegesitan. Di sebelahku, Amicia juga dipaksa mundur oleh lawannya, yang merupakan ayah Solastra. Dibanding dengan dua anaknya, Tuan Wornd memiliki kemampuan berpedang yang jauh lebih baik, sehingga kemampuannya semakin meningkat drastis. Lawan yang setara untuk Amicia, gadis dengan darah Ekkehard, keluarga yang menjadi pemimpin Rebeliand selama satu abad terakhir. Beberapa kali, Oborotni di tangannya berubah menjadi banyak senjata lain. Pisau, pedang, tongkat, bahkan trisula sudah dia coba untuk mengalahkan kepala keluarga Wornd. Namun lawannya masih berdiri dengan tangguh, dengan banyak sayatan di sekujur tubuhnya. Aku kembali fokus dengan lawan yang ada di hadapanku, setelah memastikan bahwa Amicia baik-baik saja. Dua lawanku sudah kembali sangat dekat denganku, dan mereka mulai menebasku membabi buta. Gaya berpedang dua Ogrotso lawanku ini, terlihat tidak teratur, namun mereka sanggup menangkis seranganku dengan baik. Fakta yang menyebalkan, karena mereka memakai gaya bertarung yang tidak dapat ditebak. Selain kemampuan bertarung yang meningkat, para Ogrotso juga kelihatannya tidak dapat lelah. Sebabnya, kecepatan serangan mereka tetap sama, meskipun mereka sudah bertarung beberapa menit. Pola serangan Ogrotso bukan mengandalkan kecepatan, namun teknik tinggi dalam bertahan. Melawan mereka sangat melelahkan, karena stamina kami akan dikuras sedikit demi sedikit, dan kami terua dipaksa untuk menyerang. Ogrotso hanya akan menyerang, jika mereka melihatku menurunkan senjata. Saat aku kembali memegang senjata dengan siaga, maka mereka hanya akan menungguku untuk menyerang. "Pertahanan mereka tidak bisa ditembus, Ayah!" seru Briaron di tengah pertarungannya. "Jika terus seperti ini, maka kita yang akan kalah, karena energi yang terbuang untuk menyerang mereka!" Bahkan bagi elf kuat sekelas Briaron, pertahanan Ogrotso juga tidak bisa ditembus dengan mudah. Aku merasa akan terjadi sesuatu yang buruk jika situasi kami terus begini. Harus ada perubahan dalam gaya menyerang kami. Kami memang terus menyerang, namun tidak dapat melukai bagian vital mereka. Terlebih, wajah lawan kami adalah wajah orang-orang yang kami kenal, sehingga semakin lama kami bertarung, membuat emosi kami semakin campur aduk. "Mereka pasti Ogrotso yang ditugaskan membawa kita hidup-hidup," jawab Daeron dari tengah pertarungan. Sumber suaranya terdengar cukup jauh dari tempatku berada. "Misi mereka bukanlah membunuh kita," imbuh ayah Briaron itu. "Karena itu, kita harus mencari cara untuk dapat menembus pertahanan mereka, dan sebisa mungkin membebaskan mereka." Tebakan Daeron mungkin benar, karena para Ogrorso ini tidak pernah berniat menyerang titik vital kami. Mereka terlihat berhati-hati dalam setiap serangan yang mereka lakukan, dan mungkin itulah alasan mereka hanya bertahan, alih-alih menyerang. Jika Tequr sungguh memerintahkan para Ogrotso ini untuk membawa kami hidup-hidup, maka dia terlalu meremehkan kami. Atau dia justru terlalu percaya diri dengan kekuatan Ogrotso, karena tentara buatannya adalah orang-orang yang kami kenal. Apa pun alasannya, aku merasa kalau Tequr sudah berbuat kesalahan besar dengan mengirimkan ratusan pasukannya, hanya untuk membawa kami hidup-hidup. Meskipun jumlah mereka lebih banyak, namun mereka hanyalah tubuh tanpa jiwa. Mereka tidak akan bisa mengalahkan, dan membawa kami hidup-hidup, hanya untuk diubah menjadi Ogrotso oleh Tequr. Aku mencoba memfokuskan indraku untuk kembali menyerang dua Ogrotso yang sejak tadi menjadi lawanku. Aku harus mengalahkan mereka apa pun yang terjadi, karena hanya akulah yang sanggup membebaskan mereka. Salah satunya sudah masuk dalam jarak serangku. Aku mencoba menyerang adik kandung Solastra, di bagian paha. Ternyata, seranganku berbuah hasil, Wornd kecil tidak menyangka bahwa seranganku mengarah ke bagian bawah tubuhnya. Ogrotso memang tidak dapat merasa sakit, atau lelah, namun tubuh mereka tidak bisa menyembuhkan diri sendiri. Strategiku kali ini adalah menyerang bagian yang tidak dapat mereka tangkis. Wornd yang lebih tua, mengayunkan pedangnya padaku, namun dia terlalu lambat. Aku menghindarinya dengan mudah, lalu kembali menyerang Wornd kecil di bagian paha yang lain. Wornd kecil yang sudah terhuyung, sekarang semakin susah untuk berdiri. Karena masih di belakangnya, maka dengan cepat aku langsung menebas tangannya, hingga pedangnya terjatuh. Sang kakak, kembali menyerangku tanpa melihat saudaranya, yang sudah berlutut tak berdaya. Aku berniat melakukan cara yang sama untuk mengalahkannya, seperti caraku mengalahkan adiknya. Ternyata si kakak lebih gesit daripada si Wornd kecil yang masih mengais pedang di tanah. Aku melihat sekilas, kalau Amicia didesak oleh Tuan Wornd, hingga dia berada di sebelah Wornd kecil yang sedang berusaha mengambil pedangnya. Aku segera berseru, "Cia, sebelah kirimu!" Cewek itu menangkap seruanku, dan langsung memenggal Wornd muda yang sedang berlutut itu. Sekarang, lawanku tinggal satu, dan aku sudah menemukan caranya. "Mereka bisa dikalahkan dengan kecepatan!" seruku sekeras mungkin. "Serang kaki terlebih dahulu, mereka hanya dapat bertahan untuk perut ke atas!" Setelah mendengar teriakanku, para elf mulai menyerang sesuai perintahku. Pedang, maupun pisau besar bergerigi mulai di arahkan ke kaki setiap Ogrotso. Ada standar ganda yang diterapkan di kalangan elf Daeron, bahwa mereka tidak peduli dengan etika bertarung, jika lawannya adalah para Ogrotso. Beberapa hari lalu, saat para elf berhasil menyergap kami di jalan masuk Hutan Hitam, tidak ada seorang elf pun, yang mengarahkan senjatanya ke kaki kami. Etika itu juga dikonfirmasi langsung, oleh Briaron maupun Eleandil. Mereka mengakui bahwa para elf tidak pernah menyerang tubuh bagian bawah, karena hal tersebut adalah sesuatu yang memalukan. Saat bertemu Ogrotso, mereka akan melakukan apa saja, termasuk hal yang memalukan demi memenangkan pertarungan. Dan hasilnya sungguh memuaskan. Banyak Ogrotso yang jatuh berlutut, dengan tetap menyerang secara membabi buta, ke segala arah, setelah kaki mereka tidak bisa dipakai berdiri. Tatapan mereka masih tetap kosong, alih-alih menampakkan raut wajah putus asa. Namun, gerakan mereka yang tergesa-gesa, malah membuat para elf semakin tenang dan leluasa untuk menyerang Ogrotso lain di bagian kaki. Perlahan, para elf mulai meneriakkan semangat yang membara, dan informasi untuk orang di dekatnya, seperti aku dan Amicia. Seruan untuk melihat ke kiri, atau ke kanan, terdengar menggema di Hutan Hitam. Informasi dariku, membuat kami bekerja sama dengan baik. Wornd yang merupakan kakak Solastra, sangat hebat menangkis seranganku, meskipun juga mulai tidak bisa mengikuti kecepatanku. Namun, sayatanku masih belum terlalu dalam, untuk membuat dia lumpuh. Aku mulai mengingat apa pekerjaan kakak Solastra ini, hingga tubuhnya memiliki ketahanan dan kebugaran yang baik. Seingatku, dia bukan penjaga pos, atau apakah dia bekerja sebagai gembala? Seranganku tidak mempan sama sekali kepada orang ini, namun tidak ada satu pun dari kami yang berhenti menyerang. Kami berdua terlalu keras kepala, untuk berhenti. Pepohonan di hutan bagian sini terlalu renggang, sehingga merugikanku. Aku lebih kuat jika bertarung di tempat sempit, sehingga aku menggiring kakak Sol, ke tempat dengan pepohonan yang rapat. Dia mengikutiku dengan tatapan kosong ke hutan, dengan pepohonan lebih rapat. Kali ini aku lebih percaya diri dengan kemampuanku, di medan yang mendukungku untuk mengeluarkan potensi terbesarku. Aku berlari mendadak ke arahnya, namun aku berbelok tepat di depannya, dan langsung melompat ke arah pohon dikanannya. Ogrotso itu menebas udara kosong di depannya, di tempatku seharusnya berada. Pohon itu kugunakan sebagai tumpuan, untuk menolakkan kakiku, hingga aku terbang ke arahnya dengan cepat, lalu langsung menancapkan pisauku di lehernya, tanpa sempat ditangkis olehnya. Sebagai pencegahan, aku menghujamkan pisau di tangan kiriku ke jantungnya, untuk memastikan kematiannya. Keduanya selesai kubunuh, atau bisa disebut, sudah aku bebaskan. Aku berlari kembali ke pertempuran di hutan yang lebih luas. Banyak Ogrotso sudah tergeletak di tanah, sehingga sekarang situasi sudah berbalik. Jumlah pasukan kami, lebih besar dari pada jumlah para Ogrotso. Sebelumnya, satu orang dari kami harus melawan dua orang Ogrotso. Sedangkan sekarang, dua dari kami akan mengepung satu Ogrotso. Eleandil sedang membantu Amicia yang masih kesulitan untuk melawan Tuan Wornd. Dari sudut mataku, aku juga dapat melihat Yared dan Normen sudah tidak terkepung lagi oleh Ogrotso. Namun, kali ini Yared tidak setenang biasanya, dia memegang pisau pemberian Amicia di tangannya. Anak itu sudah mulai tidak menggantungkan diri ke anugrahnya yang hebat. Alasan yang lain, anugrahnya sempat tidak berfungsi untuk elf klan Daeron. Dan mungkin saja, anugrahnya juga tidak berfungsi untuk para Ogrotso, sehingga anak itu terpaksa mengangkat senjata untuk bertahan. Daeron si komandan juga sudah membabat habis setiap Ogrotso di hadapannya. Wajah pucatnya dipenuhi peluh yang bertetesan, sehingga membuatnya tampak lebih menakutkan. Aku berlari ke tengah pertempuran untuk membantu yang lain. Aku menyayat kaki, menebas tangan, dan menusuk lutut setiap Ogrotso yang kulewati. Sehingga elf terdekat tinggal menghabisi mereka, dengan memenggal kepala para Ogrotso. Kami bertarung dengan sengit hingga tanah lembab Hutan Hitam, perlahan digantikan oleh sinar matahari cerah, yang bersinar tepat saat Ogrotso terakhir, berhasil dibunuh oleh Briaron. Di antara mayat Ogrotso yang berjatuhan, ada tiga mayat elf, yang perlahan menghilang menjadi berkas cahaya matahari. Sesuai kata ayahku, para elf akan langsung menghilang menjadi cahaya. Aku memandang tiga serbuk cahaya yang naik itu, mereka adalah para elf yang bertarung dengan berani semalaman, dan mereka akan menjadi bintang yang menerangi langit malam. "Rekanku!" seru Daeron dengan nafasnya yang masih terengah-engah, namun dia berdiri tegap, dan berkata, "Kita akan memakamkan semua Ogrotsa yang barus aja kita bunuh malam ini. Mereka adalah warga desa yang tidak bersalah." Aku lega mendengar perintah Daeron. Bahkan selelah apapun, aku akan tetap memakamkan orang Rebeliand yang sudah diubah oleh Tequr. Mereka adalah orang-orang yang memberiku senyuman palaing cerah. Pertempuran pertama kami selesai, dengan kemenangan telak di pihak kami. Hari ini adalah pagi kedelapan, sejak penculikan warga Rebeliand. Ada sepuluh orang warga Rebeliand, di antara seratus Ogrotso yang menyerang kami. Mereka semua akhirnya terbebas dari semua perintah Tequr, yang mengekang mereka selama ini. Aku menghampiri Amicia yang sedang menutup mata mayat Tuan Wornd. Cewek itu tidak terlihat ketakutan, malah sebaliknya, dia tampak sangat murka. "Iblis macam apa, yang mengendalikan pikiran orang-orang baik ini?" gumam Amicia setelah aku berada di sebelahnya. "Entah orang tua kita masih selamat atau tidak, aku akan tetap mengejar Tequr, meskipun nyawaku adalah taruhannya." Aku tidak menjawab, atau pun meresponi kalimat yang diutarakan sahabatku itu. Dia memang layak marah, dan Tequr Lolazar memang layak untuk dibenci. "Maaf Nona Amicia," ujarku sambil menepuk pundaknya. "Aku adalah orang yang akan memenggal kepala Tequr, jadi kau harus melangkahi mayatku, jika ingin membunuh penyihir gila itu." Kata-kataku membuat cewek itu mendongak ke arahku. Dia sudah menahan air matanya, sejak kemarin malam, saat dia terpaksa berhadapan dengan ayah Solastra. Cewek ini sudah menahan emosinya selama pertempuran. "Aku akan memastikan kematian Tequr dengan tanganku sendiri," desisnya, diiringi dengan satu tetes air mata yang keluar dari bola mata abu-abunya yang hebat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN