Ternyata, aku terlalu sombong.
Memimpin sebuah pasukan berkuda di hutan suram yang menyesakkan, sekaligus berusaha untuk membuka jalan baru, dan memastikan semua yang di belakangku aman, adalah hal yang sangat sulit.
Aku, Amicia, Briaron, maupun Eleandil sudah turun dari tunggangan kami beberapa kali, untuk bergantian memeriksa jalan di depan, jika terdapat sesuatu yang aneh, merintangi jalan kami.
Mulai dari rintangan sederhana, seperti akar pohon besar yang saling merambat hingga menutup jalan, memaksa Amicia dan Eleandil untuk turun dan menebas akar-akar itu.
Namun, akar pohon di hutan Hitam, tidak seperti akar pohon yang biasa. Pedang bergerigi milik elf, Oborotni yang dipegang Amicia, bahkan sihir hutan gabungan milik Orion dan Briaron, tidak membuat akar rambat itu terpotong.
Akhirnya, kami meninggalkan sebuah api kecil di depan akar itu, dan mengambil jalur memutar yang cukup jauh, hanya untuk sekedar melewati akar rambat itu. Pohon pun, sudah menyusahkan perjalanan kami.
Selain akar pohon, suatu ketika jalan di depan kami yang terlalu gelap, memaksa kami berhenti. Karena kegelapan itu, bahkan tidak dapat dilihat oleh kedua elf yang sangat terbiasa melihat dalam gelap.
Karena aku yang berada di barisan paling depan, maka aku melangkahkan kakiku turun dari Orion untuk memeriksa sesuatu di depan kami, yang bahkan menutupi pandangan mata kedua elf.
Ternyata, ujung jalan gelap yang tidak dapat dilihat oleh mata kedua elf itu, adalah sebuah jurang yang tam berujung. Karena itu, deskripsi Briaron soal kegelapan di depannya adalah jalan tak berujung.
Jika tidak ada dari kami yang turun dari punggung tunggangan kami, dan memeriksa jalan itu, maka sudah pasti kami semua akan mati di dasar tebing.
Tebing itu adalah permulaan untuk kami berempat, mencurigai setiap jalan yang berada di depan kami. Kecurigaan itu pula, yang membuat perjalanan kami beberapa kali harus berhenti, karena memeriksa jalan di depan kami.
Meskipun hari ini adalah malam ketujuh, (sudah kupastikan kepada Eleandil) wargaku diculik. Aku tidak bisa bergerak tergesa-gesa di hutan mengerikan ini, karena jebakan yang tersebar di sepanjang jalan kami.
Jika kami berlari secepat sebelumnya, maka bukan hanya keselamatanku yang menjadi taruhannya, melainkan seluruh barisan elf di belakang kami.
Untungnya, para elf yang berada di belakang, tidak terdengar mengeluh karena seringnya kami berhenti. Mereka semua selalu menunggu dengan tenang, selagi kami membukakan jalan baru bagi mereka, atau memeriksa sesuatu yang membentang di depan kami.
"Dua jam lagi, kita akan keluar dari hutan ini, jika tetap mempertahankan kecepatan ini," terang Briaron, selagi aku dan Eleandil sedang menyabet dedaunan untuk membuka sebuah jalan baru.
Aku masih tidak mengerti tentang cara Briaron memutuskan bahwa kami dapat keluar dari hutan Hitam dalam dua jam. Namun, dia tidak pernah salah memberi informasi kepada kami, selama dia memimpin perjalanan.
Tidak ada satu pun yang merespon pengumuman Briaron, karena kami berusaha sebaik mungkin untuk tetap diam. Daeron sudah memperingatkan bahwa Ogrotso cukup peka dengan suara.
Hutan Hitam bagian barat laut memiliki jenis tanaman yang berbeda, bahkan sekarang langit dapat terlihat di antara pepohonan lebat. Tebakanku bahwa hari sudah malam, ternyata benar.
Rasanya sudah lama sekali aku melihat langit malam. Meskipun hujan deras seolah menampar wajahku, namun aku merasa keluar dari tempat asing. Hutan Hitam yang suram sudah di belakang.
Melihat titik-titik bintang di langit, membuatku sadar bahwa Hutan Hitam yang menyesakkan, telah kami tinggalkan. Bahkan hujan yang deras pun, sudah berubah menjadi gerimis kecil yang menyenangkan.
Selagi aku sedang mengagumi indahnya langit, yang sudah lama tidak dapat kulihat, dunia mendadak berhenti. Orion sudah tidak berlari, kuda itu membuat semua tunggangan di belakangnya langsung berhenti mendadak.
"Ada apa?" seru Amicia. "Kau menemukan jebakan?"
Pertanyaan Amicia adalah pertanyaan yang ingin dilontarkan oleh semua orang. Briaron dan Eleandil, juga menatapku dan Orion dengan tatapan penuh rasa penasaran.
"Ada banyak musuh di depan," jawab sang kuda putih dengan nada yang pelan, namun dapat didengar oleh semua orang. "Jumlah mereka dua kali, bahkan tiga kali lipat dari jumlah kita."
"Semuanya, persiapkan senjata kalian!" seru Briaron. Dia mengkonfirmasi firasat Orion dengan berkata, "Ada sekitar seratus Ogrotso, dibalik pepohonan di depan kita, dan mereka semua membawa senjata di tangan mereka!"
Sebuah anak panah melesat dari kegelapan di depan kami, dan langsung menerjang liar ke arah kami, seolah ingin membuktikan perkataan Briaron. Aku melihat anak panah itu, dan beruntung hanya menancap di sebuah batang pohon, yang tepat di sebelah seorang elf.
"Mereka menambah kecepatannya, mereka berlari mendekat ke kita!" seru Orion. "Jumlah mereka terlalu banyak, para hewan tidak akan selamat!"
Briaron mengangguk kepada Orion, tanda bahwa dia mengerti maksud sahabatku. Putra Daeron itu berseru, "Elf Daeron! Turun dari tunggangan kalian dan angkat senjata kalian!"
Semua elf menuruti perintah Briaron dan mulai mencabut senjata mereka. Para kuda dan tunggangan lain langsung menghampiri Orion, setelah mendengar sebuah ringkikan lemah dari sahabatku.
"Aku akan menyembunyikan semua tunggangan dengan sihir hutanku," papar Orion. "Aku akan memastikan mereka tetap aman, dan kembali setelah kalian selesai mengalahkan para Ogrotso."
Para hewan tunggangan kami langsung menghilang, karena Orion langsung menghentakkan dua kaki depannya ke tanah, setelah dia selesai mengumumkan.
Diamankannya para tunggangan, membuat raut wajah para elf menjadi lega. Mereka sekarang tampak siap untuk bertarung dengan siapa saja yang muncul dari dalam hutan.
Untuk beberapa menit yang terasa lama, hanya suara napas kami yang terdengar. Jumlah Ogrotso yang dua kali lipat lebih banyak dari jumlah kami, membuat kami semua semakin gugup menunggu mereka.
Satu langkah kaki menerjang semak-semak liar, yang tumbuh di sisi hutan yang belum terjamah ini. Selanjutnya, semakin banyak langkah kaki yang sekaligus menunjukkan wajah sang pemilik.
Aku akhirnya sadar, bahwa Ogrotso yang dibunuh oleh Briaron kemarin, terlampau lemah dari semua Ogrotso yang sekarang menyerbu kami dengan tatapan kosong, dan muncul dari dalam hutan.
Para Ogrotso yang mulai menampakkan diri di depan kami, adalah sekumpulan manusia dengan tubuh kekar yang mengangkat pedang dengan gagah, dengan tatapan kosong yang menyeramkan.
Ditambah, jumlah mereka yang dua kali lipat lebih banyak dari jumlah pasukan kami, membuat mereka terlihat sangat mengintimidasi.
Kami semua memegang senjata dengan gugup, karena para Ogrotso itu tidak berlari dengan cepat, melainkan hanya berjalan perlahan ke arah kami.
Aku berdiri berdampingan dengan Amicia di kiriku yang mengangkat Oborotni dalam bentuk tombak. Alasannya, Amicia akan mempertahankan pertarungan jarak srdang, ketimbang pedang yang butuh dalam jarak dekat.
Di kananku, adalah Briaron dengan pisau besar bergerigi khas klan Daeron, dan Eleandil yang melindungi kami dengan memegang busur panah tepat di belakang kami.
Jantungku berdegup kencang saat para Ogrotso itu semakin mendekat ke arah kami. Tidak ada satu pun yang menyerang lebih dahulu, karena kami tidak tahu gaya bertarung para Ogrotso itu.
Perlahan saat wajah mereka mulai terkena cahaya bulan, aku baru menyadari kalau mimpi terburukku, yang menjadi nyata ada di depanku. Mereka adalah orang-orang yang dulunya kukenal.
Tiga Ogrotso berjalan paling depan, dan mereka masing-masing membawa sebilah pedang adalah keluarga Wornd. Kakak, adik dan ayah sahabatku, Solastra Wornd sudah diubah menjadi Ogrotso.
Amicia menggenggam tanganku, dan tangan sahabatku itu terasa begitu dingin, bahkan lebih dingin dari pada malam di hutan Hitam, yang baru saja diguyur hujan deras.
Bahkan, saat aku meliriknya, aku melihat kalau cewek itu sedang menggigit bibir bawahnya dengan keras. Sebuah kebiasaan yang hanya muncul, saat dia sedang diliputi ketakutan yang luar biasa.
Ketakutannya juga menular kepadaku, saat hujan berhenti, dan lebih banyak wajah Ogrotso yang terkena cahaya bulan. Wajah warga Rebeliand yang kami cari, mulai tampak satu per satu dengan tatapan kosong ke arah kami.
Mereka adalah orang-orang yang berbagi makanan denganku, bertamu ke rumahku, memberi salam perpisahan di hari keberangkatanku. Mereka bukan hanya tetanggaku, tetapi keluarga besar Rebeliand.
Sekarang, mereka hanya menatap kami dengan pandangan kosong, dengan pedang di tangan mereka yang diacungkan ke arah kami. Tidak ada aura membunuh menguar dari dalam diri mereka, malah aku semakin nelangsa saat melihat mereka.
Eleandil dan Briaron, juga mengenali Ogrotso lain, yang ternyata adalah warga Degeo, Ormskirk, bahkan prajurit Donater. Para elf lain juga mundur selangkah, saat mengetahui bahwa musuh yang ada di depan, memiliki wajah yang mereka kenali.
Kami terus mundur, hingga membentuk formasi melingkar, dengan para Ogrotso berjalan ke arah kami dari berbagai sisi. Tetap dengan pedang yang teracung, dan mata yang hanya menatap lurus ke delan.
"Ayah, beri kami perintah!" seru Briaron.
Sang pemimpin sementara, juga kebingungan dengan situasi tidak terduga ini. Padahal, dia baru saja memenggal kepala Ogrotso setengah jadi, yang merupakan warga Degeo, beberpa saat lalu.
Aku menahan diriku agar tidak menangis keras, karena pemandangan mengerikan yang sedang terjadi di depanku. Para Ogrotso pasti akan langsung memenggalku, saat aku memilih untuk emosional.
"Kau menemukan orang tuamu?" bisik Amicia dengan suaranya yang bergetar.
Cewek itu berusaha mengatur napasnya yang sangat cepat, agar air matanya tidak tumpah. Kekejaman Amicia, tidak akan pernah tampak, jika dia berhadapan dengan warganya.
"Tidak, aku tidak melihat mereka," jawabku sambil berusaha tetap tenang. "Aku hanya melihat para laki-laki yang masih bugar, dan siap untuk bertarung."
"Artinya ayahku, dan kedua orang tuamu mungkin tidak ada di antara mereka," gumamnya, dengan tangannya yang mencengkeram Oborotni semakin erat.
Aku sedikit berharap, kesimpulan Amicia memang benar. Meskipun aku sudah marah karena melihat banyak orang Rebeliand yang sudah diubah, tapi aku tidak yakin akan siap menghadapi orang tuaku, atau guruku.
"Rekanku!" seru Daeron, yang akhirnya kembali memberi perintah, "Semua yang di depan kalian adalah jiwa yang tersiksa, karena tidak dapat mengendalikan tubuh mereka."
"Tegarlah! Tujuan kita adalah menyelamatkan mereka, dan itu juga termasuk membebaskan mereka dari penderitaan, menjadi b***k Tequr Lolazar!" serunya.
Aku menghela napas untuk menenangkan diriku setelah mendengar pidato sang pemimpin elf. Daeron benar, tidak ada yang bisa kami lakukan kecuali membunuh mereka, untuk membebaskan mereka dari rasa sakit, dan putus asa.
Tequr Lolazar adalah alasan mereka berubah menjadi mayat hidup seperti ini. Dia adalah musuh sesungguhnya yang mempermainkan perasaan orang lain dengan cara yang amat kejam.
Aku harus menguatkan diriku, agar aku dapat membunuh Ogrotso mantan warga Rebeliand. Karena itu adalah hal terakhir yang bisa aku lakukan, untuk membalas kebaikan mereka.
"Lass, kau siap?" tanya Amicia dengan napas yang sudah kembali tenang. Cewek itu melepaskan tangan kirinya yang sedang menggenggamku erat, dan mulai fokus untuk siap menerjang para Ogrotso yang sudah sangat dekat.
"Sekarang, atau tidak sama sekali," jawabku dingin. "Jika ada orang yang bertanggung jawab untuk membebaskan warga Rebeliand, maka itulah tugas kita."
Para Ogrotso sedikit lagi sudah berada di jangkauan senjata kami. Semakin mereka mendekat, maka aku dapat melihat jelas wajah mereka..
Dengan tenang, aku menggamit dua pisau kembar yang tersembunyi di balik jubahku. Aku tidak pernah membayangkan, bahwa kedua pisau ini akan menebas warga desaku.
"Tuan Lass, Nona Amicia," ujar Eleandil. "Saya juga pernah mengenal baik beberapa orang di depan kita."
"Kita tidak boleh lemah, tujuan kita adalah Tequr, yang merupakan pusat dari kejahatan mengerikan ini. Sedikit lagi, maka kita akan menghancurkan tempat yang membuat mimpi buruk ini, "sambungnya.
"Eleandil benar, Tuan dan Nona," kata Briaron yang bersiaga dengan pedang besar bergeriginya. "Bunuh mereka dengan sekali serang, sehingga mereka tidak merasa sakit."
Perkataan Eleandil dan Briaron semakin menguatkan hatiku. Berada sepihak dengan mereka membuatku tenang, karena kedua elf ini kembali mengingatkanku akan tujuan akhir dari perjalanan ini.
Aku menggenggam erat pisau kembarku. Aku berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku akan membunuh semua Ogrotso di depanku dengan sekali serang, agar tidak memberi mereka rasa sakit.
Tombak Amicia juga sudah siap diayunkan, meskipun wajah cewek itu semakin menegang. Aku dapat merasakan amarahnya semakin meluap kepada Tequr Lolazar, dalang semua ini.
"Kalian siap?" seru Daeron yang berteriak keras di bawah cahaya bulan yang menerangi Hutan Hitam lembab, karen baru saja diguyur hujan.
"Akhiri penderitaan mereka!" seru Daeron dan elf tua itu langsung menebas kepala Ogrotso di depannya, dan mayat hidup itu langsung tergeletak dengan kepala yang menggelinding ke kaki si pemenggal.
Serangan pembuka Daeron adalah awal untuk pertempuran kami dengan ratusan Ogrotso yang berada di depan kami. Mereka yang terjebak dalam tubuh mereka sendiri, untuk menuruti perintah si penyihir gila.
Aku menghembuskan nafas panjang, karena inilah saatnya pisau kembarku menari, untuk mencabut nyawa para Ogrotso, dan membebaskan penderitaan mereka semua.
Dengan Amicia dan Briaron di sebelahku, dan Eleandil yang berada tepat di belakangku, dan akan menjaga kami dengan anak panahnya. Aku berlari menerjang para tentara buatan Tequr, para Ogrotso.