Aku percaya, kalau Xenia yang bertanggung jawab untuk cuaca, tidak menyukaiku yang sedang berbincang santai dengan Eleandil.
Percakapanku dengan Eleandil terhenti, karena satu tetes air hujan yang membasahi wajahku, tiba-tiba menjadi hujan yang sangat deras. Sehingga, memaksa kami untuk segera berlindung, sekaligus membangunkan yang masih tidur.
Hutan ini memiliki fakta lain selain suram, yaitu juga kasih. Semua pepohonan bersatu untuk menolak cahaya matahari sekecil apa pun untuk menyeruak masuk. Tetapi, penolakan itu tidak mempan untuk hujan.
Rintik air yang seharusnya disaring, dan gagal melewati dedaunan lebat, malah menetes, bahkan mengguyur deras tanah lembab hutan ini.
Satu fakta penting dari hutan ini, bahwa tempat ini sungguh ingin mempertahankan gelar sebagai hutan yang suram dan menyesakkan, dengan membiarkan hujan mengguyurnya, meskipun setia menolak cahaya matahari.
Padahal aku masih ingin bertanya lebih banyak tentang hal lain kepada Eleandil, contohnya soal klan Daeron, dan Briaron. Namun, hujan memaksa semua orang untuk terbangun dari tidur pulas mereka.
Akhirnya, Daeron terjaga dari tidurnya, karena air menampar wajahnya yang pucat, namun berwibawa itu. Bahkan, hujan pun tidak takut dengan elf kuat itu.
Terjaganya sang pemimpin, membuat dua orang kepercayaannya, yaitu Briaron dan Eleandil harus kembali di sebelahnya. Sebuah etika sederhana, yang seharusnya dimiliki semua bawahan.
"Aku sempat berpikir, kalau dia akan membunuhmu," gumam Amicia. "Ternyata, Eleandil jauh lebih hebat dari dugaanku. Dia bukan hanya memiliki otot, namun juga pikiran yang bijaksana."
Kekhawatiran sahabatku sangat beralasan, karena Eleandil bisa saja menganggapku tidak menghormati adiknya. Namun, aku lega karena dapat meminta maaf secara resmi kepada Eleandil, perihal adiknya.
Aku hanya menggelengkan kepalaku, sambil tersenyum untuk menenangkan Amicia. "Eleandil adalah sosok yang membuatku ingin bersahabat dengan ras elf."
"Di dalam dirinya, terdapat nilai-nilai luhur yang dipegang para elf," imbuhku. "Berbicara dengannya, selalu membuatku merasa tenang. Padahal, aku baru mengenalnya selama beberapa hari."
"Aku juga merasakannya," timpal Amicia. "Tiga pemimpin elf itu, memiliki karakter yang saling berseberangan. Tetapi, wibawa mereka semua selalu menonjol, tanpa menutupi wibawa yang lain."
Pendapat Amicia membuatku merenung sejenak, untuk memikirkan setiap kalimatnya. Di bawah hujan, aku mencoba memahami maksud sahabatku, soal perbedaan karakter dari tiga orang pemimpin elf itu.
Mulai dari Daeron yang tegas, misterius, dan selalu mengutamakan keselamatan orang lain. Briaron yang selaku cerah, dan siap melakukan apa pun. Dan terakhir, Eleandil yang selalu menjadi tameng, dan pembuka jalan yang setia.
"Begitukah Amicia memikirkan mereka?" batinku.
Selagi aku memikirkan perkataannya, cewek itu malah membuka telapak tangannya untuk membiarkan tetesan hujan bersentuhan dengan kulitnya.
Hujan yang semakin lama menjadi deras, malah membuat sahabatku itu menatap langit, dan membiarkan hujan membasahi wajahnya (yang cantik).
"Sudah berapa lama kau tidak merasakan hujan?" tanyanya dengan senyuman yang cerah. "Atau, kau mungkin belum pernah merasakan hujan?"
Aku mencoba mengingat hujan terakhir yang kurasakan. "Entahlah, aku selalu tidur saat hujan, mungkin tahun lalu?"
Dia memincingkan matanya dengan tajam kepadaku, sambil mendesis, "Hujan tidak pernah turun di Rebeliand, kau sudah gila?"
"Benarkah?" balasku.
"Mau kutampar?" sergah cewek itu, dengan tangannya yang sudah terangkat.
Aku bergegas pergi meninggalkan cewek itu, menikmati hujan yang memang tidak pernah turun di Rebeliand. Dia pasti kesal, karena aku sudah menghancurkan momen yang seharusnya membuat terharu.
Sebenarnya, aku berkata jujur. Aku pernah merasakan hujan, namun bukan di Rebeliand. Tepatnya, di desa kecil bernama Norice, yang terletak di barat laut desaku.
"Maaf Amicia, aku sedang tidak ingin bersedih atau terharu sekarang," batinku.
Dalam perjalananku kembali ke tempat teman-temanku, para elf terlihat sangat sibuk menyiapkan barang untuk keberangkatan selanjutnya.
Aku terkesan dengan kecekatan, juga dedikasi mereka. Padahal para elf itu baru saja bangun, karena hujan yang mengguyur hutan ini. Sekarang, mereka sudah bekerja keras mengemas semua barang yang dibutuhkan.
Semua temanku sudah bangun saat aku sampai ke tempat api kami, yang anehnya masih menyala kecil. Mereka semua masih tampak lelah, dan ngantuk. Namun, tidak ada seorang pun, yang sanggup tertidur dibawah hujan.
Hujan memang benar-benar mimpi buruk untuk orang yang sedang tidur. Aku tidak tahu sudah berapa jam mereka tidur, namun hanya dengan melihat raut wajah mereka, sudah membuatku mengerti bahwa mereka masih butuh beristirahat.
"Kalian berdua akhirnya pacaran?" sindir Yared saat dia melihatku. Si pemuda kunci itu sedang memeriksa isi tas kulitnya, yang kemungkinan besar memang kosong melompong.
"Kau juga mau kutampar sampai mati?" sahut timpal Amicia yang sudah mengejarku.
Cewek itu bahkan tidak menoleh padaku. Semoga aku tidak mati diatas punggung Orion sebentar lagi. Padahal, dia biasanya akan menggodaku jika ada kesempatan.
Suasana hati Amicia yang memburuk, malah membuat Normen tertawa pela, sembari mengasah pedangnya. Mungkin bagi prajurit tua itu, pertengkaran orang muda sangat lucu, atau dia memang berharap kalau aku dan Amicia sungguh berpacaran.
"Rekan seperjuanganku, saatnya kita berangkat dari sini," seru Daeron dari tempatnya berdiri.
Bahkan dengan jarak sejauh itu, dia masih sanggup menambahkan kharisma dalam suaranya. Teriakan sang pemimpin elf tidak terdengar asal-asalan, malah sebaliknya, terdengar seperti sebuah perintah yang berwibawa.
"Kita akan tetap melewati Hutan Hitam ke arah barat laut, karena Tequr dan Ogrotsonya pasti akan bisa mengetahui keberadaan kita, saat keluar dari Hutan Hitam," sambungnya.
Kali ini giliran Briaron yang berseru, "Siapkan semua barang. Selain itu, formasi juga akan berubah sedikit. Orion akan ikut di depan bersama saya, dan Eleandil."
Para elf mulai menggumam pelan saat perubahan urutan barisan yang mendadak. Aku tidak mendengar nada sumbang yang meremehkanku, maupun Amicia.
Tetapi, gumaman yang paling kudengar adalah kekhawatiran mereka akan keselamatan sang pemimpin, Daeron. Mereka merasa bahwa Daeron harus tetap di depan, bukan anaknya, atau sang wakil dari anaknya.
Aku cukup kesal dengan Eleandil, karena dia tidak membicarakan soal ini padaku, di saat kami memiliki waktu yang cukup untuk berbincang. Padahal, hal sepenting ini seharusnya didiskusikan dengan baik.
Ternyata, Briaron belum selesai dengan pengumuman pertamanya, karena dia kembali mengumumkan, "Tuan Daeron akan berada di barisan paling belakang bersama Anyx. Mereka akan memastikan bahwa sisi belakang akan tetap aman."
Para elf semakin bergumam dengan keras, setelah mendengar kalau pemimpin mereka akan berada di paling belakang, bersama dua orang asing yang menunggangi serigala besar.
Di tengah keriuhan para elf yang tidak setuju, Amicia menyenggol bahuku dengan pelan. Aku menoleh ke arahnya, dan dia memberi isyarat kepadaku, untuk bergerak ke arah tiga pemimpin elf.
Sahabatku ini juga sama bingungnya denganku, karena perubahan posisi yang mendadak. Apalagi, perubahan formasi ini membuat dua orang penting harus bertukar.
Orion dengan larinya yang jauh lebih cepat, harus selalu di belakang, karena kudaku itu sanggup menyusul para elf. Sedangkan Daeron, seharusnya tetap di depan, karena hanya dia yang tahu tujuan perjalanan ini.
Sesuai isyarat Amicia, aku harus mencari tahu alasan perubahan formasi ini. Aku harus menerima alasan yang masuk akal, dibalik perubahan formasi yang mendadak.
Jika perubahan formasi ini malah mengacaukan keselamatan dari seluruh kelompok, alih-alih meningkatkan keamanan, maka aku terpaksa menolak perubahan formasi.
Aku dan Amicia berusaha mendekat ke tiga pemimpin elf itu, dan saat aku sudah sampai, aku langsung bertanya pada mereka bertiga, "Maaf, mengapa Anda semua mengubah formasi?"
Daeron, Briaron maupun Eleandil menoleh kepadaku, di tengah pengemasan barang yang mereka lakukan. Si pemimpin yang menghampiri kami, sedangkan dua elf lainnya kembali fokus dengan apa yang mereka lakukan.
"Maaf memberi pengumuman yang mengejutkan," katanya dengan nada tenang. "Saya mengubah formasi untuk memperkuat dua sisi barisan, yang paling rawan diserang."
"Memperkuat barisan dengan membuat Anda berada di paling belakang?" tanya Amicia kesal. "Padahal, Anda yang tahu tujuan perjalanan ini, dan Orion adalah hewan tercepat di golongan ini."
Aku ingat Amicia pernah mengatakan, kalau dia akan percaya semua yang dilakukan oleh Daeron, sekitar malam lalu. Sedangkan, sekarang dia malah menyindir elf itu akan keputusan yang dibuatnya.
"Benar sekali Nona Amicia," jawab Daeron tanpa terpengaruh sindirannya. "Empat orang yang berada di depan, memiliki keahlian bertarung jarak pendek, dan jarak jauh terbaik."
"Maksudnya adalah kalian berdua!" timpal Briaron tanpa melihatku, karena dia masih fokus dengan ransel kulitnya.
"Kalian berdua adalah duo pencuri dari Rebeliand," papar Daeron. "Pertarungan jarak dekat dan senyap, adalah kehebatan kalian."
"Sedangkan, untuk urusan jarak jauh, Briaron dan Eleandil adalah dua pemanah terbaik yang dimiliki klan Daeron," imbuhnya.
Aku mulai mencerna setiap kata yang diutarakan oleh Daeron. Dan semua yang dikatakannya memang benar, kami berempat yang akan berada di depan, adalah kombinasi terkuat serangan jarak jauh, dan jarak dekat.
"Lalu, apa alasan Anda pindah ke belakang?" tanya Amicia dengan nada yang lebih hormat ketimbang sebelumnya. "Padahal, hanya Anda yang tahu tujuan perjalanan ini."
"Briaron juga tahu," sahut Daeron. "Alasan saya pindah ke belakang, karena barisan belakang harus ditempati oleh orang-orang yang siap mengatasi, bahkan membalikkan serangan mendadak."
"Saya dan Tuan Normen menguasai berbagai macam senjata, dan juga sihir dasar. Dan anugerah pemuda bernama Yared itu, adalah elemen pembeda," sambungnya.
Aku dan Amicia langsung terdiam, setelah mendengar alasan dibalik perubahan formasi itu. Daeron memang bijak dalam mengambil keputusan, dan beradaptasi dengan keadaan.
Si pemimpin elf juga memiliki pengamatan mendalam terhadap semua hal di sekitarnya. Apa yang dia ungkapkan barusan adalah bukti dari hasil pengamatannya, setelah seorang Ogrotso tiba-tiba menyerang kelompok kami.
Dia mengerti dengan jelasx kelebihan masing-masing pasukan di bawah komandonya. Dan sekarang, dia mengubah formasi untuk memastikan kelebihan setiap individu, akan berguna untuk memastikan keselamatan setiap orang.
Pertama, Daeron menempatkan Normen yang memiliki kepekaan terhadap gerakan kecil, juga pengambilan keputusan yang cepat dibagian belakang barisan. Sihir prajurit tua itu, juga tidak bisa diremehkan.
Ada pula Yared, dengan anugrahnya yang muncul saat dia terancam, akan sangat membantu di barisan belakang. Ditambah, Daeron sendiri, yang kemungkinan juga memiliki sihir yang besar.
Di depan, barisan ini memiliki Eleandil dan Daeron. Para elf muda dengan kemampuan melihat dalam gelap untuk memastikan tidak ada ancaman di depan, dan kemampuan serangan jarak jauh terbaik.
Juga aku dan Amicia, dua orang pencuri. Kami adalah ahlinya dalam hal mencari jalan baru, dan memastikan jalan itu bisa dilalui. Kami juga akan memastikan bahwa kelompok ini akan terus bergerak secara senyap.
Terakhir, jangan lupakan Orion. Kuda itu adalah makhluk terkuat jika berada di alam liar. Dia bisa mendeteksi sesuatu yang berada jauh di depan, juga dapat menggunakan sihir untuk membuat kami semua tak terlihat.
Keputusan ini pasti diambil Daeron karena situasi yang tidak memungkinkan kami, untuk keluar dari Hutan Hitam. Juga untuk menghindari semua Ogrotso yang dikirimkan Tequr, untuk melacak kami.
Mungkin Hutan didepan kami adalah sisi yang belum pernah dia jelajahi sebelumnya, sehingga menurutnya lebih baik menempatkan kami berempat di depan, untuk berjaga-jaga saat kami harus membuka jalan baru.
Semakin aku mengenalnya, maka aku semakin menghormati elf tua ini. Dia adalah pemimpin yang memastikan setiap individu di bawahnya, akan aman selama perjalanan, dengan memanfaatkan kelebihan masing-masing.
"Kami mengerti maksud anda Tuan Daeron" ujarku sambil menunduk hormat padanya.
Elf itu menepuk bahu kami berdua dengan tenang, lalu mengelus kepala Orion, dan menggiring rusanya ke bagian belakang barisan, setelah mengedipkan matanya kepasa Eleandil dan Briaron.
Daeron meninggalkan kami, setelah berkata, "Briaron, silahkan pimpin kami"
"Baik Ayah," jawab Briaron sambil memberi hormat kepada ayahnya.
"Elf Daeron, kembali ke barisan kalian," seru putra Daeron dengan wibawa yang tak kalah dari ayahnya. "Kita berangkat sekarang, menuju bagian hutan Hitam, yang tidak pernah dimasuki makhluk hidup."
"Tidak boleh ada yang tertinggal di perjalanan ini," teriaknya lebih keras. "Jaga setiap orang di sebelah kalian, dan mari kita berangkat dengan membawa harapan untuk menyelamatkan orang-orang yang sedang diculik!"
Semua elf yang tadinya menggumam tidak setuju, sekarang mengangguk antusias mendengar pidato penuh semangat dari Briaron. Apalagi, setelah melihat Daeron melewati mereka, dengan senyuman ramah yang menenangkan.
Para elf naik ke tunggangan masing-masing, begitu juga kami semua yang berada di depan barisan. Semangat Briaron menular kepada mereka semua, sehingga raut wajah para elf semakin terlihat berani.
Aku dan Amicia juga naik ke punggung Orion, untuk memulai kembali, perjalanan kami ke markas Ogrotso. Kali ini, kami akan berada di depan, untuk membuka jalan, sekaligus menjadi memastikan keamanan mereka semua yang berasa di belakang kami.
Langkah pertama diambil oleh harimau jingga milik Briaron. Setelah itu, semua hewan mulai berlari menyongsong hutan Hitam, yang belum pernah terjamah.