Bab 51 - Siang dan Malam Hutan Hitam

1952 Kata
Waktu berjalan begitu lambat, selama aku dan Amicia berjaga, hanya untuk dua jam. Kami berdua menghabiskan waktu dengan cara berbeda, namun memiliki tujuan yang sama. Amicia memilih berlatih dengan Oborotni, dan mencoba berbagai bentuk senjata, yang bisa dia ubah sesuka hatinya. Bahkan dari kejauhan pun, aku dapat menyimpulkan kemampuan sahabatlu yang semakin meningkat. Cewek itu sanggup mengayunkan pedang dengan luwes, membidik panah dengan baik, dan memainkan tombak dengan tegas. Salah satu bakat alami yang membuatku iri dengannya, yaitu kemampuan adaptasi terhadap berbagai macam senjata. Aku tidak ikut berlatih, seperti yang dilakukan oleh sahabatku. Sebaliknya, aku malah mencoba menikmati udara Hutan Hitam, yang selalu terasa menyesakkan. Daeron memutuskan untuk tidak menyalakan api besar, namun aku dan Amicia tetap saja menyalakan api yang sangat kecil, untuk menjaga kehangatan, sekaligus sumber cahaya bagi kami. Srek Srek Aku mengenali suara ini, seseorang sedang mendekat ke tempatku, karena cahaya kecil yang aku buat. Siapa pun orang ini, aku akan langsung membunuhnya dengan cepat dan senyap, agar tidak membuat orang lain terbangun. "Halo Tuan Lass," sapa sebuah suara yang sudah familier di telingaku. "Anda berjaga sendirian?" Ternyata, Briaron dan wakilnya, Eleandil sudah bangun dari tidurnya. Mereka adalah sosok yang melangkah dalam gelap ke arahku, dan aku hampir saja menyerang mereka dengan membabi buta. "Ah, maaf mengagetkan Anda," ujar Briaron setelah melihatku menggenggam erat pisau kembar kesayanganku. "Saya dan Eleandil hanya mencari sumber cahaya terdekat." Dengan rasa canggung, aku kembali menyarungkan senjataku. Setelah itu, aku memberi salam kepada mereka berdua, "Kita akan pergi sekarang?" "Belum sekarang," balas Briaron sambil menggelengkan kepalanya. "Biarkan para elf lain tidur selama dua jam penuh, kita perlu energi sebanyak mungkin, untuk melawan Ogrotso." "Selain itu, aku juga merasa kalau api sekecil ini tidak akan membuat Tequr mengetahui keberadaan kita," timpal Eleandil sambil menunjuk api kecil yang aku buat. "Aku dan Briaron akan membuat api kecil untuk sisi sebelah sana." Keduanya langsung beranjak pergi, setelah Briaron menyetujui ide wakilnya itu. Mereka berdua seperti anak kembar yang sudah lama tinggal bersama, padahal keduanya tidak memiliki hubungan darah. Aku cukup penasaran, soal lamanya Eleandil menjadi wakil Briaron. Mereka adalah elf yang hidup abadi, dan dengan interaksi yang mereka tunjukkan, sepertinya mereka sudah menjadi ketua dan wakil, selama beberapa abad. Api kecil yang sudah aku nyalakan, tidak berdampak apa pun untuk suhu tubuhku. Malahan, suhu tubuhku semakin menurun, selama aku tidak melakukan sesuatu saat melakukan tugas jaga. Karena itu, aku memutuskan untuk mengikuti dua orang pemimpin elf itu, untuk mencari kayu bakar dan menyalakan api kecil, di dekat tempat mereka beristirahat. Aku mencoba mengingat arah yang diambil kedua elf itu, karena mereka bergerak di hutan gelap ini, tanpa membawa cahaya sedikit pun. Jadi, yang bisa aku andalkan hanyalah pendengaranku, dan suara yang mereka hasilkan. Sebelum aku melangkah memasuki hutan suram ini, aku mengambil sebuah kayu kecil dan menyalurkan api dari api unggun buatanku, sebagai obor kecil untuk menemani pencarianku. Aku harus sadar diri akan kemampuanku, karena akibatkan akan fatal, jika aku meremehkan hutan ini. Para elf Daeron, memiliki mata merah yang dihasilkan dari adaptasi selama beberapa abad di hutan ini, sedangkan aku masih belum satu minggu, tinggal di hutan gelap ini. Pergi membantu para elf yang sanggup melihat dalam gelap, tanpa membawa cahaya sedikit pun, adalah sebuah kebodohan. Dan aku tidak ingin berbuat hal bodoh yang merepotkan keseluruhan kelompok ini. Aku berusaha untuk tetap menjaga jarak, dengan api kecil tempat kelompokku beristirahat. Namun, suara kedua elf itu masih belum terdengar dari jarak ini. Mereka tidak mungkin berjalan lebih jauh dari sini. Akhirnya, aku kalah dengan kekhawatiranku sendiri. Aku memutuskan untuk kembali, dari pada berjalan lebih jauh untuk membantu Briaron dan Eleandil mencari kayu bakar. Keselamatanku lebih penting, ketimbang niat baikku. Pilihanku ternyata benar, sebuah api kecil menyala tak jauh dari api milikku. Sepertinya, Briaron dan Eleandil sudah membuat api untuk mereka sendiri, dan berbagi kehangatan dengan para elf yang lain. Aku memilih untuk berjalan ke arah cahaya yang berasal dari api baru itu. Dugaanku benar, dua pemimpin elf itu menyalakan banyak api kecil, di sekitar para elf yang masih tidur dengan lelap. Beberapa saat lalu, mereka berdua dilayani para elf dengan dibuatkan api unggun. Sekarang, mereka yang berbalik melayani pasukannya, dengan tetap menjaga nyala api unggun yang menghangatkan. Inilah alasan klan Daeron sangat mematuhi, dan menghormati para pemimpin mereka. Karena ketiganya memiliki jiwa kepemimpinan yang sejati, sehingga memang layak untuk dihormati. "Oh, halo Tuan Lass," sapa Eleandil yang pertama kali melihatku. "Anda baru saja dari hutan?" Briaron juga menoleh ke arahku, lalu melemparkah sebuah botol tanah liat sambil berkata dengan santai, "Minumlah, bagi juga dengan Nona Amicia, kami menemukan sumber air di dalam hutan, selagi mencari kayu bakar." Aku tersenyum padanya setelah menangkap botol itu, dan mencoba meminum air di dalamnya. Air dingin yang melewati tenggorokanku terasa sangat menyegarkan, seolah air itu berasal dari puncak gunung yang dingin. Rasa air dingij yang menyegarkan itu, membuatku setuju untuk berbagi air dalam botol itu, dengan Amicia. Cewek itu sudah berlatih cukup lama, dan dia pasti sedang kehausan. "Milik siapa?" tanya Amicia dengan curiga setelah aku menawarkan botol air itu, selagi dia sedang serius berlatih mengendalikan Oborotni. "Eleandil," jawabku singkat. "Mau tidak?" Nama Eleandil membuatnya langsung menyambar botol itu dari tanganku" dan meminum isinya. Selama perjalanan ini, aku, Cia dan Orion minum dengan hanya berbagi sebotol air untuk bertiga jika kami tidak berhenti di sebuah kota atau desa. Karena itu, kami selalu memuaskan dahaga yang kami tahan selama perjalanan, selagi kami berhenti. Arnmeny, dan Tekoa adalah pemuas dahaga yang kami tahan selama perjalanan panjang ini. "Lass, kita kembalikan botol ini bersama," usul Amicia setelah kami berdua menghabiskan air di dalam botol itu. "Sekaligus menanyakan waktu saat ini." Aku mengangguk setuju dengan usulnya. Pertanyaan itu gagal dia tanyakan, karena munculnya Ogrotso yang menghadang jalannya beberapa saat lalu. Kejadian yang membuat kami semua mematikan api, dan semua sumber penerangan. Eleandil, si pemilik botol sedang berbincang dengan Briaron di depan api yang beberapa lalu mereka nyalakan. Bukan sebuah percakapan serius, karena mereka berdua beberapa kali terlihat tertawa. Rupanya dua elf ini juga memiliki sisi humor. Keduanya langsung berdiri untuk memberi salam pada kami, saat kami sudah sampai di depan mereka. "Halo Tuan Lass" sapa Briaron. Dia lalu juga menyapa Amicia, "Selamat sore Nona Amicia." Briaron sudah menjawab pertanyaan kami, soal siang dan malam, bahkan sebelum Amicia bertanya. Aku dan Amicia saling menatap dengan bingung, karena kami tidak memiliki pertanyaan cadangan. "Apa anda berdua ada perlu?" tanya Eleandil. "Kami ingin mena-" "Saya perlu berbicara dengan anda, Tuan Eleandil," selaku memotong penjelasan Amicia. "Ini soal Tuan Eleanar, saya memiliki beberapa pertanyaan terkait mendiang," sergahku cepat. Eleandil menatapku dengan serius, sepertinya dia sedang menimbang untuk membunuhku dengan cara apa. Lalu akhirnya dia berkata, "Oke, kita bicara empat mata, mari berjalan agak jauh dari sini." Amicia mencengkram lenganku dengan keras. Aku hanya menoleh padanya dan memberi senyum untuk menenangkannya. Sejak awal aku memang ingin berbicara soal Eleanar, dengan kakak kandungnya. Eleandil membawaku berjalan agak jauh dari markas kami, setelah Briaron memberi kami ruang untuk berbicara empat mata. Sang ketua pasukan bahkan tidak memperlihatkan rasa penasaran sedikit pun, soal topik yang akan aku bicarakan dengan wakilnya. Kami berjalan menjauhi Briaron, namun tidak sampai cahaya dari api menghilang dari pandangan. Hanya di jarak yang cukup, untuk membuat percakapan kami tidak didengar siapa pun. "Jadi, sebenarnya Anda berdua mau tanya apa?" ujar Eleandil. Aku terkejut dengan pertanyaannya. Apakah terlalu kentara saat aku memotong pertanyaan Amicia tadi? Atau karena Eleandil hanya tidak mau membahas adiknya? "Pertanyaa Ciia sudah dijawab oleh Tuan Briaron, sebelum dia sempat bertanya," ujarku. "Soal siang dan malam?" tebak Eleandil. Aku mau tidak mau menganggukkan kepalaku. Eleandil memiliki sifat menyebalkan, yaitu tebakannya yang selalu akurat, hampir seperti kemampuan Orion, si kuda tengil. "Di sini tidak ada cahaya yang masuk, tetapi ada satu cara untuk mengetahuinya," jelas Eleandil. Elf itu mengambil nafas panjang, sambil menutup kedua matanya, seolah sedang merasakan udara yang dia hirup. Setelah beberapa saat, akhirnya dia menghembuskan nafas, lalu berkata, "Siang di sini, memiliki udara yang cerah. Sedangkan malam, memiliki udara yang menyesakkan." "Saat anda merasa bahwa hutan ini memberi semangat, maka sudah pasti itu siang hari. Sebaliknya, saat malam, hutan ini hanya memunculkan suasana suram," sambungnya. "Apakah kata suram juga mencakup perasaan seperti diawasi sesuatu?" tanyaku. Eleandil mengangguk, lalu dia tertawa karena pertanyaanku. "Bahkan saya masih terus merasa diawasi, meski sudah dua ratus tahun tinggal disini. Namun, kalimat Anda benar, kata suram juga mewakili perasaan diawasi oleh sesuatu." Ternyata begitulah cara untuk mengetahui siang dan malam di sini. Pantas saja, aku merasa diawasi saat pertama masuk hutan ini, mau pun saat berangkat menjelajah. Karena dua momen itu dilakukan pada malam hari. Sedangkan saat aku mulai bersemangat untuk menemukan mayat, hingga menemukan Eleanar, adalah sekitar pagi hingga siang hari. Jika mengerti rahasianya, waktu bekerja cukup sederhana di hutan ini. "Tuan, saya harus meminta maaf sekali lagi, karena membentak Anda kemarin malam," desah Eleandil sambil menundukkan kepalanya padaku. Aku merasa tidak nyaman dengan perlakuan para elf yang terlalu menghormatiku. Namun, semua kata yang diucapkan Eleandil terdengar tulus, sehingga aku tidak bisa menolak permintaan maafnya. "Saya juga harus minta maaf, karena saya menyeret mayat adik Anda," kataku. "Saya masih merasa tidak enak, karena tidak menghormati mendiang adik kandung Anda." "Tidak Tuan, Anda hanya tidak tahu. Jadi itu bukan kesalahan Anda," ujarnya. Dia menghela napas sejenak, lalu berkata, "Hari itu saya marah pada diri saya sendiri, namun saya melampiaskan kemarahan pada Anda." "Saya marah karena tidak dapat mewujudkan mimpinya, padahal mimpi bocah itu sangat sederhana," lanjutnya. "Kalau boleh tahu, apakah mimpi adik Anda?" tanya Amicia dengan hati-hati. Eleandil tersenyum pada sahabatku, lalu berkata, "Anak itu bermimpi untuk meninggal sebagai pahlawan." Aku tidak menyangka kalau Eleanar ternyata adalah seseorang dengan karakter sederhana. Pasti kepribadiannya yang membuat Eleandil sangat menyayanginya. "Anda terkejut?" tanya Eleandil dengan geli. Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat. "Saya hanya tidak menyangka, kalau karakter Tuan Eleanar seperti itu." Eleandil mengangguk setelah mendengar kalimatku. "Dia adalah seseorang yang berjiwa bebas. Saat ayah kami menanyakan pilihan sulit soal menjadi manusia atau elf, aku bertanya apa kelebihan masing-masing ras." "Ayah kami mengatakan kalau manusia memiliki roh yang akan tetap ada hingga mereka mati, namun manusia bisa menua. Sedangkan elf akan menjadi bintang saat meninggal, namun elf akan hidup abadi," kenang Eleandil. "Saat itu, saya memikirkan pilihan saya dengan serius. Sedangkan Eleanar dengan tenang memilih manusia," sambungnya. "Dengan alasan?" tanyaku penasaran. "Alasannya, dia ingin suatu saat nanti wajahnya dapat lebih tua dariku. Sehingga dia akan lebih tampak seperti kakak, alih-alih seorang adik," jawab Eleandil. "Anda serius?" pekik Amicia. Eleandil tertawa kecil mendengar keterkejutan sahabatku. "Ekspresi Anda sekarang, sama persis dengan ekspresi saya, saat pertama kali mendengar alasannya." "Nyatanya keinginan bodohnya tidak terkabul," ujar Eleandil sambil tersenyum. "Karena dia setengah elf, maka dia juga menua lebih lambat dari pada manusia biasa. Pada akhirnya, wajahnya tidak menua seperti keinginannya." Aku tidak tahu cara merespon cerita Eleandil. Jadi aku hanya menganggukkan kepalaku, sambil tersenyum padanya. Aku juga bersyukur, karena Eleandil berbagi cerita denganku dan Amicia, yang merupakan orang dari luar Tekoa. Kemarin malam, beberapa saat sebelum mayat Eleanar dibakar, aku sudah sempat berbicara empat mata dengan sang kakak. Namun, pembicaraan kami hari ini memiliki nuansa yang berbeda. Eleandil terdengar seperti dirinya yang asli, yaitu ramah dan bersahabat. Elf ini sudah bisa melepaskan adiknya dengan tenang, dan mengenang sang saudara tanpa merasa bersalah. Di momen kedua kalinya aku mendengar soal Eleanar, membuatku semakin ingin mengenal adik kandung Eleandil tersebut. Andai saja dia masih hidup, maka aku mungkin bisa bersahabat dengannya, karena kami berdua berasal dari ras yang sama, manusia. "Apakah Tuan tahu tujuan perjalanan ini?" tanya Amicia untuk mengubah topik pembicaraan kami. "Tidak, sama sekali," jawab Eleandil sambil menggelengkan kepalanya, lalu berkata, "Kami hanya akan mengikuti kemana pun Tuan Daeron pergi." Untuk kesekian kalinya, aku dibuat takjub akan hal-hal sederhana yang diucapkan, maupun dilakukan oleh para elf. Mereka sungguh ras yang paling luhur, dan membuatku semakin mengaguminya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN