Satu hal yang harus aku ingat, bahwa Tequr Lolazar tidak bisa diremehkan. Penyihir gila itu, juga merupakan seorang yang sangat cerdik dan licik.
Dugaan sementara dari Daeron, soal Tequr yang mencoba melacak kami dengan menggunakan para Ogrotso, membuat pasukan elfnya mulai saling melempar pandangan dengan gelisah.
Jika Dugaan sang pemimpin klan benar, maka musuh kami benar-benar berbahaya. Membayangkan bahwa Tequr sampai mengirim seorang Ogrotso untuk melacak kami, sudah membuatku mengerti, bahwa dia adalah musuh yang menakutkan.
"Semua rekan elfku, persiapkan diri untuk meninggalkan tempat ini!" perintah Daeron. "Kita akan melawan waktu, agar dapat lolos dari Tequr dan semua Ogrotsonya."
Perintah itu langsung direspon oleh para elf dengan gerakan cepat. Mereka langsung mematikan semua api, dan mengumpulkan buah-buahan yang masih utuh, ke dalam sebuah kantong dari kain.
Normen adalah manusia pertama yang pamit undur diri, untuk segera bersiap melakukan perjalanan lagi. Namun, saat prajurit tua itu sudah beberapa langkah menjauhi kami, Daeron malah ingin berbicara dengannya.
"Saya juga perlu berbicara dengan Anda, dan semua teman-teman Anda," ujar si pemimpin klan kepadaku, yang membuat Normen memutar langkahnya. "Briaron dan Eleandil, tetap disini sebentar."
Setelah semua orang sudah lengkap, Daeron akhirnya berkata, "Apakah ada sesuatu yang mengganjal, di pikiran kalian semua?"
"Apakah Tequr sudah tahu rencana kita?" tanya Eleandil dengan berbisik kepada Briaron, yang berada di sampingnya.
Daeron menggelengkan kepalanya, dan menjawab, "Jika dia sudah tahu, maka dia akan menjebak kita di kota terdekat, atau di ujung barat Hutan Hitam."
"Faktanya, dia hanya memerintahkan Ogrotso setengah jadi seperti tadi, untuk mencari Briaron. Artinya, dia tidak mengetahui rencana kita untuk langsung menyerang markas besar Ogrotso," sambungnya.
"Apa maksudnya kalau orang tadi adalah setengah jadi?" sela Amicia, hanya untuk memuaskan keingintahuannya.
"Artinya, Tequr hanya sanggup mengambil alih pikiran orang itu. Tetapi Tequr gagal meningkatkan kekuatan fisiknya," jawab Briaron.
"Dia adalah Ogrotso yang yang tidak layak?" tebakku.
"Masih salah," balas Eleandil. "Orang yang tidak layak menjadi Ogrotso, akan langsung dibunuh oleh Tequr. Sedangkan Ogrotso setengah jadi, adalah orang yang sudah layak menjadi Ogrotso."
"Tequr selalu menggunakan Ogrotso setengah jadi untuk tugas rendah. Seperti menjadi pembawa pesannya, mencari sesuatu, atau sebagai b***k di kediamannya," tambah Eleandil.
Melihat Ogrotso secara langsung, malah semakin menambah kegelisahanku. Aku juga sempat melirik Amicia, dan ekspresinya juga menunjukkan kalau dia sama gelisahnya denganku.
Aku menarik ucapan optimisku kalau kami semua bisa mengalahkan Tequr Lolazar. Karena sekarang, setelah aku sadar betapa kejamnya penyihir itu, membuatku memikirkan ulang, kemungkinan kami menang.
Pria itu adalah seorang warga Degeo menurut Eleandil. Kami adalah yang menemukan fakta hilangnya warga Degeo, setelah tiga hari warga Rebeliand hilang.
Briaron mengatakan kalau warga Degeo sempat ke Tekoa seminggu sebelum kami sampai ke sana. Rentang waktu penculikan adalah tiga hari, di antara warga Degeo berkunjung, hingga kedatangan kelompokku ke kota itu.
Jika memakai asumsi itu, maka warga Degeo sudah diculik sekitar tiga hingga empat hari. Hanya setengah dari jumlah hari warga Rebeliand diculik, dan tragedi sudah menimpa salah satu warganya.
Ada satu orang warga Degeo yang sudah berubah menjadi Ogrotso. Padahal lama waktu mereka diculik, lebih sedikit dari pada warga Rebeliand, bahkan hanya setengahnya
Aku tidak tahu mana yang lebih baik. Apakah bertemu satu warga Rebeliand yang menjadi Ogrotso, atau memiliki harapan yang tipis dan sangat menyiksa, akan keselamatan mereka.
Dua pilihan itu sama buruknya, dan keduanya juga membuat harapanku semakin lama semakin hilang digerus waktu. Kemungkinannya akan semakin menipis, jika ditambah fakta bahwa Tequr adalah pribadi yang kejam.
"Eleandil tidak terlalu yakin, apakah orang ini merupakan warga Degeo," kata Daeron mencoba menenangkanku dan Amicia, karena kami berdua hanya diam.
"Ada kemungkinan, kalau orang itu sudah lama diubah menjadi Ogrotso," imbuh Daeron. "Jangan sampai kita kehilangan harapan, karena hanya itulah yang sanggup membuat kita tetap kuat."
"Sekalipun dia adalah warga Degeo, tidak ada yang menjamin kalau dia sudah lama menjadi Ogrotso, atau baru saja berubah," tambah Eleandil. "Ada banyak kemungkinan, termasuk kemungkinan bahwa warga kalian masih selamat dan aman."
Perkataan Eleandil dan Daeron memang benar. Tidak ada bukti yang menguatkan kekhawatiranku, dan harapan untuk keselamatan wargaku harus tetap membara, karena memang hal itulah yang akan tetap menguatkanku.
"Apakah saya masih boleh bertanya?" ujar Normen dengan ragu, sambil mengangkat tangannya dengan canggung.
Aku baru sadar kalau Normen dan Yared sudah cukup lama tidak mengeluarkan suara, mulai dari awal perjalanan ini. Mereka tidak seperti sebelumnya, yang mengeluarkan pendapat dengan bebas.
Kedua orang itu terlihat seperti sedikit takut untuk mengeluarkan pendapat mereka di depan para elf. Padahal Normen adalah seorang kepala pengawal Raja, namun ternyata dia masih memiliki kesungkanan yang cukup tinggi kepada para elf.
"Tentu Tuan Normen Harv," jawab Daeron dengan tenang. "Anda boleh menanyakan sesuatu yang mengganjal bagi Anda?"
"Tequr Lolazar, dia adalah pemilik tongkat sihir An-Zaw, bukan?" ujar Normen dengan nada yang santai.
Namun, aku tahu bahwa bobot pertanyaan Normen sangat berat, meskipun prajurit tua itu memakai nada yang santai saat mengutarakan pertanyaannya.
Raut wajah Daeron juga berubah menjadi gelap, karena pertanyaan mengejutkan dari Normen. Sang pemimpin klan sepertinya tidak mempersiapkan diri dengan arah pertanyaan Normen.
"Apakah ada alasan, mengapa Anda berpikir demikian?" Daeron balas bertanya dengan nada yang sama santainya.
Kedua orang itu seperti ingin menyembunyikan fakta dari kami, bahwa topik yang sedang mereka bicarakan ini adalah sesuatu yang sepertinya, berbahaya.
"Pengendalian pikiran," jawab Normen tenang. "Hanya An-Zaw yang sanggup melakukan hal itu."
Sontak, kami semua yang mendengarnya langsung menatap Daeron dengan pandangan memaksa. Karena kami semua berpikiran sama, bahwa mengendalikan Ogrotso merupakan kekuatan pribadi dari Tequr.
Jika perkataan Normen benar, maka kami memiliki harapan kecil, untuk mengalahkan si penyihir gila, yaitu dengan menggunakan kemampuan terbaik milikku dan Amicia, mencuri.
Nyatanya, jawaban Daeron malah membuat harapanku pupus. Elf itu berkata, "Saya tidak pernah bertemu dengan Tequr, dan An-Zaw hanyalah sebuah legenda. Ogrotso pasti dikendalikan oleh Tequr, bukan oleh sebuah senjata."
Jawaban Daeron membuat Normen mengangkat kedua alisnya, lalu memberi senyuman ramah kepada si pemimpin klan. Lalu, dia memilih untuk beranjak pergi meninggalkan kami, sesuai yang dia lakukan sebelumnya.
"Jika kalian bertemu seseorang yang memiliki tatapan mata kosong, cukup liat jari kelingking di kedua tangannya," ujar Briaron memperingatkan kami, sebelum kami mengikuti langkah Normen.
"Bunuh dia tanpa banyak berpikir, karena hanya itulah satu-satunya jalan, untuk membebaskannya," imbuhnya
Tiga orang ini memang pemimpin yang hebat. Meskipun kegelisahan kami tidak langsung hilang, tetapi kami seakan mengumpulkan kembali harapan yang sudah tercerai berai, dan hampir saja hilang.
"Kita akan tidur selama dua jam di sini," tegas Daeron. Dia menunjukku dan Amicia, lalu berkata, "Tuan dan Nona yang akan menjaga selama kami tidur, karena Anda berdua sudah tidur selama perjalanan keluar dari Tekoa."
Aku dan Amicia bertatapan sejenak, lalu perintah itu dengan menjawab serentak, "Siap!"
Percakapan diakhiri dengan senyuman ramah Daeron pada kami berdua. Eleandil dan Briaron juga berpamitan sopan kepada kami, sebelum mereka akhirnya ke tempat mereka masing-masing.
Seluruh pasukan elf mulai bersiap tidur di tanah Hutan Hitam, begitu pun tiga pemimpin mereka. Api unggun yang sudah dimatikan, membuat udara hutan ini semakin dingin dan menyesakkan.
Namun, kami lebih memilih untuk tidur dengan ditemani dinginnya hutan, dari pada harus selalu terjaga, karena takut akan Ogrotso milik Tequr yang tiba-tiba muncul. Tidak adanya cahaya, akan membuat Tequr tidak mungkin mengetahui keberadaan kami.
Normen dan Yared juga bersiap tidur di dekat Anyx dan Orion yang sudah tertidur, sejak kami memutuskan berhenti disini. Aku merasa bahwa dua orang itu memang cukup berbeda di perjalanan kali ini.
Mungkin saja mereka sangat lelah hingga tidak banyak bicara. Dengan dua orang itu yang tetap ikut perjalanan ini sudah cukup bagiku, kehadiran mereka sudah merupakan kemewahan di dalam tim ini.
Para elf dan teman-temanku mulai tertidur satu per satu. Mereka pasti sangat kelelahan, karena mereka tidak bisa tidur di atas tunggangan mereka. Beruntung sekali, aku memiliki Orion yang memiliki punggung nyaman.
Saat aku memastikan semua orang sudah tertidur, aku kembali ke tempat yang merupakan bagian milik kelompok kami. Aku hanya mau terjaga di sebelah teman-temanku, sampai kami melanjutkan perjalanan lagi.
Amicia juga bergabung disebelahku dengan wajah tak acuh. Aku baru sadar, bahwa sejak tadi, aku tidak menanyakan perasaannya, saat tiba-tiba dihadang oleh Ogrotso.
Aku tahu kalau dia bukan seorang cewek yang lemah, namun tetap saja, dia adalah sahabatku. Seharusnya aku lebih memedulikannya, dari pada hal lain.
"Kau rindu orang tuamu?" tanya cewek itu sebelum aku mengajukan pertanyaan lebih dahulu.
Tidak biasanya Amicia membicarakan soal orang tuaku. Biasanya kami hanya akan saling melempar lelucon, atau sekedar membahas sesuatu yang biasa.
Aku mengubah arah dudukku agar menghadap padanya, dan dari kedua mata gadis itu, aku mengerti alasannya bertanya soal kedua orang tuaku.
Kedua matanya menunjukkan rasa rindu kepada seseorang, dan jika tebakanku benar, maka sahabatku ini pasti sedang merindukan ayahnya.
Aku balik bertanya, "Kau rindu Master Leo?"
"Sedikit," jawabnya singkat. Sahabatku itu mulai memalingkan matanya dari tatapanku, dan dia malah menatap ke atas, ke dedaunan hutan Hitam yang begitu menyesakkan.
"Mengapa hanya sedikit?" sergahku. "Dia adalah orang tuamu, jadi tidak masalah jika kau merindukan mereka."
Amicia menggeleng, lalu dia tersenyum sambil memberanikah diri untuk kembali melihatku. Bukan senyum yang biasa dia berikan padaku, tetapi sebuah senyuman getir. Senyuman yang digunakan orang lain, untuk menyembunyikan rasa sakit.
Sahabatku ini bukan tipe cewek yang lemah, sehingga dia tidak akan mengatakan hal-hal menggelikan seperti rindu, cinta, dan semacamnya, dengan nada serius. Tetapi, kali ini aku sungguh melihat bahwa Amicia sedang dikuasai oleh rindu.
"Ayah pernah berkata padaku," gumamnya sambil tetap memaksakan diri tersenyum. "Bahwa aku harus menjalani hidupku sendiri. Memilih untuk melakukan sesuatu yang aku cintai, dan berjuang untuk itu."
"Selama dua tahun ini, aku mencuri dari hampir seluruh kota di selatan pulau Adon. Aku mencintai pekerjaan itu, dan aku berjuang untuk melakukan yang terbaik," sambungnya.
"Dan sekarang, aku merasa kalau semua yang aku lakukan adalah sesuatu yang sia-sia," desahnya. "Aku bahkan tidak melakukan apa pun, saat warga Rebeliand diculik."
"Tepat sekali, kau adalah Amicia Ekkehard. Kau memulai pencurianmu dua tahun sebelum aku, padahal aku lebih baik darimu, tukasku. "Tidak ada satu pun tindakanmu yang sia-sia."
Dia melihatku sejenak, lalu tersenyum padaku, bahkan hampir tertawa lepas, "Lass, kau memang lebih baik dariku. Kau pencuri hebat, petarung hebat, juga sahabat yang hebat."
"Aku bersyukur karena menjalani hal berat ini dengan kau disisiku," akunya sambil menepuk bahuku. "Aku pasti sudah bunuh diri, jika Solastra yang bersamaku, dan kau yang tinggal desa Tosval."
"Berarti kita berpikir hal yang berbeda," sahutku. "Aku merasa kalau lebih nyaman bersama Solastra, dari pada bersama seorang iblis cewek yang berwujud seperti sahabatku."
Amicia mengangkat alisnya dengan terkejut, dan akhirnya tawa yang dia simpan malah tumpah, cewek itu tertawa terbahak-bahak. Beginilah hubunganku dengannya selama tujuh tahun.
Aku akan selalu mengakui Solastra dan Orion, sebagai sahabat tempatku menceritakan masalahku. Tetapi untuk Amicia, dia akan selalu menjadi orang yang kuanggap setara denganku. Aku yakin kalau dia juga menganggapku begitu.
Amicia tidak pernah, dan tidak akan pernah, menjadi orang yang menenangkanku dengan kalimat yang menyejukkan hati. Dia akan terus menggodaku hingga aku tertawa, dan berhenti bersedih.
Begitu juga denganku. Kami bukan sahabat yang akan menangis bersama, tetapi sahabat yang tertawa bersama, lalu mencari solusi bersama. Sejak awal, itulah peran kami untuk satu sama lain.
"Kita tidak akan gagal. Kita akan mencuri warga Rebeliand dan Degeo dari tangan Tequr, juga para Ogrotso buatannya," ujarku dengan khidmat.
Cewek itu tersenyum puas mendengar tekadku. Dia memiringkan kepalanya sambil melihatku dengan geli. "Kau harus berjanji satu hal padaku," pintanya.
"Apa?" balasku.
Cewek itu mengulurkan jari kelingkingnya padaku. Lalu dia mengatakan sesuatu yang membuat hubungan kami berubah sepenuhnya.
"Berjanjilah untuk tetap bersamaku hingga akhir," bisiknya.
Ini pertama kalinya Amicia melakukan sesuatu seperti ini dengan nada yang tulus. Biasanya dia akan melakukannya untuk menggodaku, dan bersenang-senang karena setelah mendengar kejengkelanku.
Kali ini berbeda, aku merasa kalau semua yang dikatakannya adalah kebenaran. Dia sungguh ingin membuatku berjanji untuk terus bersamanya hingga akhir.
Akhirnya, aku mengulurkan jari kelingkingku dan mengaitkan ke miliknya. Untuk pertama kalinya di hidupku, aku berjanji pada seseorang. Dan aku akan berjuang untuk menepati janjiku pada Amicia Ekkehard.
"Sebisa mungkin, aku akan terus bersamamu, hingga semua perjalanan melelahkan ini berakhir," janjiku.
Cewek itu yang pertama kali melepaskan kaitan kelingking kami, setelah menatapku dengan senyuman cerah di wajahnya. Dia tampak sangat puas, karena permintaannya sudah aku penuhi.
Tiba-tiba Amicia mengedipkan mata kanannya padaku, lalu kembali bertanya dengan suara genit, yang biasa dia lontarkan saat menggodaku, "Kalau menjadi pacarku bagaimana?"
Aku mendekatkan bibirku ke telinganya, lalu berbisik dengan lembut, "Lebih baik aku mati."