Bab 49 - Kami Bertemu Ogrotso

1685 Kata
Ada satu hal yang aku pelajari hari ini, bahwa mengakhiri mimpi dengan terserap ke dalam lubang, akan membuat kepalaku pusing setengah mati. Kedua mataku mulai kubuka secara perlahan, untuk melihat kondisi sekitar. Hal pertama yang aku lihat adalah tanah dan rumput yang terus bergerak mundur dengan cepat. Kedua, aku menyadari bahwa kedua tanganku sedang memeluk sesuatu yang berbulu, dua fakta tersebut membuktikan bahwa aku masih di atas punggung Orion. Aku mendudukkan diriku, sembari meregangkan tubuhku yang terasa lelah. Amicia masih tidur di belakangku, dengan tidak melepaskan pelukannya di perutku. Ternyata, cewek ini lebih kelelahan dariku. Sekarang saatnya memeriksa kondisi sekitar. Di sekelilingku, masih ada banyak pepohonan, dan jalan yang kami lalui masih sebuah jalan setapak. Artinya, kami masih di Hutan Hitam. "Bro!" seruku, sambil menepuk leher Orion. "Aku tertidur selama berapa jam?" "Tidak tahu!" balasnya. "Aku tidak bisa menghitung waktu, jika berlari dengan kecepatan seperti ini!" Aku hampir lupa. Orion dalam keadaan berlari cepat, akan menjadi seekor kuda yang tidak memedulikan apa pun, kecuali jalan di depannya. Waktu adalah hal remeh yang tidak akan dia pedulikan. Berarti, aku yang harus mengganti pertanyaanku, "Berapa lama lagi kau harus berlari?" "Entah!" serunya. "Sebentar lagi, kita akan sampai di Ormskirk. Tuan Daeron memutuskan agar kita akan beristirahat di kota itu." Ormskirk? Eleandil pernah berkata kalau kota tersebut adalah salah satu kota di dekat istana Donadhor. Elf itu juga mengatakan kalau Ormskirk adalah kota yang diserang oleh Ogrotso dua tahun lalu. Kota itu masih bisa berdiri karena para prajurit Donater membantu memadamkan api, sekaligus membangun kembali kota itu. Mengapa Daeron memutuskan untuk kami beristirahat disana? "Apakah Ormskirk adalah batas paling barat dari Hutan Hitam? Atau apakah Daeron berniat menggali informasi dari Ormskirk?" batinku. Aku sudah berjanji di dalam hatiku, untuk mengikuti semua keputusan yang akan diambil Daeron. Tetapi, aku juga tidak bisa mengenyahkan pikiran buruk soal kami yang bermalam di Ormskirk. Kota itu pernah menjadi tempat p*********n besar, dan dibakar habis oleh Tequr Lolazar. Meskipun akhirnya kota itu dapat bangkit kembali, aku tetap merasa tidak nyaman dengan rencana kami akan bermalam di situ. Ditambah, peringatan Cyprian dalam mimpiku, agar tidak menyelamatkan orang lain. Aku takut akan terjadi sesuatu di Ormskirk, yang mengharuskanku menyelamatkan seseorang. Baru saja aku mulai gelisah dengan keputusan Daeron, barisan kuda di depan kami, tiba-tiba mulai memelankan larinya. Pepohonan yang berlalu dengan cepat, mulai menampakkan wujud aslinya. "Kita akan beristirahat sebentar di sini!" seru Daeron mengumumkan dari depan barisan, dengan suara yang cukup keras, untuk bisa di dengar olehku dan teman-temanku di barisan paling belakang. "Setelah itu, kita akan keluar dari hutan dan mengambil jalur lewat lembah," imbuhnya. "Bergeraklah dalam tim-tim kecil yang berisi dua hingga tiga orang, untuk mencari kayu bakar dan makanan!" Para elf langsung bertindak cepat setelah Daeron selesai memberi perintah. Dengan luwes, mereka mulai mengumpulkan kayu bakar, lalu mencari buah di antara banyaknya pepohonan, dan mengumpulkan semua tunggangan dalam satu area yang tidak jauh dari kami. Para elf juga membuat tiga api unggun kecil yang dinyalakan dengan sangat cepat. Satu api untuk tiga orang pemimpin, dan dua lainnya untuk para prajurit. Sedangkan api milik kami, sudah dinyalakan oleh Normen. Sebenarnya, para elf sempat menawari kami untuk dibuatkan api, tetapi Normen menolaknya. Sekarang, kami merasa bahwa para elf adalah rekan kami, sehingga mereka tidak perlu melayani kami lagi. Beberapa saat kemudian, para elf memberikan kami banyak buah untuk dimakan, setelah kami menolak untuk dinyalakan api. Meskipun tidak enak hati, tetapi kami tetap memakannya. Berbeda dengan api, makanan apa pun tidak boleh ditolak. Apalagi, aku tidak bisa memakan apa pun di mimpiku, sehingga buah-buahan itu memang tampak sangat enak di mataku. "Kalian sudah tanya Orion soal tujuan kita?" tanya Normen, sambil mengupas kulit pisang yang keempat. Prajurit tua itu sudah menghabiskan empat buah pisang, dan entah sudah berapa banyak apel lain. "Orion tidak yakin dengan tebakannya," jawabku. "Tetapi menurut perkiraannya, kita akan tiba di tujuan sekitar besok pagi." "Besok pagi?" tanya Yared. Dia memandang langit yang tertutupi pepohonan lebat, lalu kambali bertanya, "Sekarang, sedang siang atau malam?" Aku menunduk karena pertanyaan Yared. Di hutan ini, sangat susah untuk mengetahui apakah matahari masih ada di langit atau tidak. Kami perlu bertanya pada para elf untuk hal ini. Aku menimbang untuk menghampiri tiga pemimpin elf di ujung lain untuk menanyakan soal perjalanan ini. Namun, aku terlalu takut untuk melakukannya, karena mendatangi trio itu sekaligus, cukup mengintimidasiku. Mungkin efek dari mimpiku masih kubawa hingga terbangun. Aku menanyakan sesuatu yang membuat Cyprian marah di mimpi, jadi aku takut kalau pertanyaanku juga akan menyinggung para elf. Amicia mendadak berdiri, dia berkata dengan santai, "Aku akan tanya ke Tuan Daeron, sekarang siang atau malam. Ada pertanyaan lain?" Kami para laki-laki hanya saling menatap, karena kenekatan cewek itu. Aku, Yared, maupun Normen tidak menjawab pertanyaan cewek itu, sehingga dia hanya melenggang pergi meninggalkan kami. Sebagian diriku ingin menyusul Amicia untuk menghentikannya melakukan hal bodoh. Tetapi, sebagian yang lain dalam diriku, ingin membiarkannya bertanya, karena aku juga butuh jawaban soal itu. Aku terus menatap langkah demi langkah yang ditempuh Amicia, untuk mendekat ke tempat para pemimpin elf berada. Hingga seseorang tiba-tiba keluar dari semak belukar, dan menghadangnya dengan langkah yang tertatih. Orang itu memiliki rambut hitam panjang tak terurus, yang menutupi seluruh wajahnya. Dia mengenakan baju dan celana panjang santai berwarna coklat, lengkap dengan sepatu hingga yang setinggi lututnya. Orang aneh itu hanya menunduk diam di depan Amicia, dan sahabatku juga tidak bergerak karena terkejut. Keduanya tampak saling berpandangan, jika aku mengesampingkan fakta bahwa mata si orang aneh tidak terlihat. Dari sudut mataku, aku melihat para elf, termasuk tiga pemimpin mereka, perlahan mulai menyiagakan senjata masing-masing. Mereka mengerti ada sesuatu yang tidak beres. "Ada seseorang di depan Amicia," ujarku kepada teman-temanku. "Sepertinya, gelagat orang itu sedikit aneh." Dari tempatku berada, aku bisa melihat kalau Amicia sudah siap menarik Oborotni yang dalam bentuk pedang, dari sarungnya. Gadis itu sudah siap untuk pertarungan terbuka. Hanya satu gerakan mencurigakan dari orang itu, maka dia pasti sudah kehilangan nyawa di tangan Amicia. Sahabatku itu adalah satu satu orang dengan hati terkejam yang pernah kukenal. Aku, Normen, juga Yared mulai beranjak dari tempat kami, untuk mendekati Amicia. Kami akan berada di belakang cewek itu, jika pertarungan sungguh terjadi. Semakin dekat dengan si orang aneh, aku mulai mendengar bahwa orang itu mengeluarkan suara, seperti sebuah gumaman. Para elf yang berada cukup dekat dengan orang itu, juga saling melemparkan tatapan gelisah kepada satu sama lain, karena mendengar gumaman orang aneh itu. Apa yang dikatakan orang itu sampai para elf menjadi gelisah? Aku sampai di jarak yang cukup untuk mendengar gumamannya, "Perintah Tuan Lolazar, bawa Briaron putra Daeron." "Tuan Lolazar, apakah yang dia maksud Tequr Lolazar?" batinku. "Mengapa Tequr memerintahkannya untuk membawa Briaron?" Orang itu tidak bergerak sedikit pun, padahal kami semua sudah semakin mempersempit jarak kami padanya, dan semakin memojokkannya. Briaron yang berada di belakang para elf, mulai menyeruak kedepan. Semua elf menatapnya gelisah, tapi Briaron sendiri tampak sangat tenang untuk berhadapan dengan orang aneh itu. Putra Daeron itu, sekarang sudah berhadapan dengan si orang asing. Dia berdiri di antara Amicia dan orang asing itu. Sedangkan Daeron, maupun Eleandil, berjaga di kedua sisi orang aneh itu. Selanjutnya, Briaron menghunus pisau besarnya, lalu mengangkat wajah orang asing itu dengan ujung pisaunya. Elf itu mencoba melakukan hal yang paling aman, untuk mengungkap identitas orang itu. Wajah orang asing itu akhirnya tersingkap. Dia adalah pria dewasa dengan wajah muram, dan di pipi kirinya, terdapat luka sayatan besar yang sudah mengering. Tidak ada masalah dalam penampilan pria itu, kecuali satu hal. Sorot matanya terlalu kosong, hingga terasa sangat hampa. Dia seperti memandang ke sesuatu yang jauh, namun tidak ada rasa dalam pandangannya. Jika dia adalah orang normal, maka saat wajahnya diangkat paksa dengan pisau besar, maka sudah seharusnya dia takut atau marah. Namun, ekspresi orang ini terlalu hampa, dia seperti tidak memiliki emosi. Pria itu semakin mencurigakan, karena yang dia lakukan sejak kemunculannya, hanya menggumam hal yang sama. Bahkan saat Briaron yang dia gumamkan, ada di depannya. "Ada dari kalian yang mengenalnya?" tanya Briaron, tanpa melepaskan pandangnya dari pria itu. "Sebutkan identitasnya, jika salah satu dari kalian mengenalnya." Eleandil ikut menyeruak ke tengah, dia berkata, "Aku tidak tahu namanya, tetapi aku yakin sempat melihatnya di Degeo." "Kau yakin?" tanya Briaron. "Orang itu warga Degeo?" batinku. "Lalu kenapa dia berada sejauh ini dari kotanya?" "Dia sudah berubah menjadi Ogrotso," ujar Briaron nelangsa, sekaligus menjawab pertanyaan yang ada dalam hatiku. "Tidak ada yang bisa kita lakukan, kecuali membebaskannya." Inikah yang dinamakan Ogrotso? Makhluk yang memiliki wajah seperti saat masih hidup, namun tidak memiliki emosi, dan hanya tunduk dibawah perintah Tequr Lolazar. Lalu, apa yang dimaksud Briaron tentang membebaskannya? Apakah para elf tahu cara mengembalikan orang yang diubah menjadi Ogrotso kembali seperti sedia kala? Eleandil mengangguk dengan wajah serius, dan anggukannya dibalas oleh Briaron. Secepat kilat, pisau besar Eleandil menusuk leher pria itu, hingga menembus bagian belakang leher. Ternyata yang dimaksud membebaskan oleh Briaron, adalah dengan membunuhnya. Ditusuk dengan pisau di bagian leher, juga tidak membuat raut wajah pria itu berubah. Kesakitan memang sudah menghilang dari hidup orang itu, tepat seperti yang dikatakan Daeron padaku. Kesakitan, perasaan, dan segala hal yang masih membuat seseorang menjadi manusia, dirampas oleh Tequr Lolazar. "Kenapa hanya satu Ogrotso yang dikirim ke sini?" tanya Briaron. "Ogrotso jarang sekali bergerak sendirian, seperti sekarang ini." Elf itu sudah menarik pisaunya, jika ternyata banyak Ogrotso yang muncul. Tetapi, setelah beberapa saat tetap tidak ada makhluk sejenis yang muncul di depan kami. Sehingga Briaron kembali menyarungkan pisaunya dengan rapi. Para elf yang lain langsung membersihkan mayat pria itu, dan mulai menggali tanah di dekat si mayat, sebagai tempat untuk menguburkannya. Karakter luhur para elf, masih belum luntur meskipun di hadapan Ogrotso. Dugaan Eleandil memang benar, karena aku sempat melihat sekilas, tangan kanan mayat itu. Jari kelingkingnya memang dipotong, seperti mayat yang sudah kami temukan kemarin. "Hanya ada satu jawaban," kata Daeron. Dia yang sejak tadi memandang dari sisi anaknya, akhirnya berjalan ke tengah. Raut wajah Daeron, mengindikasikan bahwa masalah yang ada di hadapan kami, memiliki kadar yang cukup serius. "Tequr Lolazar sudah menguasai area di sekitar sini," ujar sang pemimpin elf klan Daeron. "Kita harus tetap bergerak di dalam Hutan Hitam, karena Lolazar pasti sedang mengirim banyak Ogrotso setengah jadi seperti dia, untuk melacak kita."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN