Bab 48 - Sang Xenia Alam Liar

1669 Kata
Aku berjanji, untuk tidak mau tidur di alam liar lagi. Karena setiap kali aku jatuh tertidur, aku selalu terbangun di tempat yang jauh. Kali ini, aku terbangun di rumah Dreyfus yang berada di desa Arnmeny. Namun, rumah ini tampak berbeda dengan terakhir kali aku menjejakkan kakiku di tempat ini. Aku berdiri di ruang tamu rumah megah itu, dengan semua perabot yang masih sama seperti terakhir kali aku melihatnya. Namun, keseluruhan rumah ini berwarna emas, alih-alih putih bersih. Hanya berganti warna, membuat aura rumah ini berubah drastis. Sebelumnya, aku merasa bahwa rumah ini memang megah, tetapi tampak misterius. Sekarang, rumah ini menguarkan suasana yang lebih luhur, seperti menyambut kedatangan makhluk hebat. Mataku mulai memandang sekitar dengan perasaan was-was, karena aku selalu bertemu orang aneh setiap aku bermimpi. Otakku juga mulai mencoba mengingat wajah Cyprian, jika ternyata memang dia yang akan muncul. Mimpiku selalu dipenuhi orang aneh. Mulai dari pria bertudung hitam tanpa wajah, pria bersuara mirip kertas sobek, hingga Xenia yang disembah para elf klan Daeron dan Orion, yaitu Cyprian, pernah berkunjung ke mimpiku. Jika aku bisa memilih tamu dari antara orang aneh yang pernah mengunjungi mimpiku, maka sekarang aku lebih memilih untuk dikunjungi oleh Cyprian. Sang Xenia Alam Liar itu, adalah pilihan paling aman, untuk teman berbincang. Pilihanku belum berbuah hasil. Aku sudah menunggu cukup lama sambil duduk di kursi ruang tamu, namun tidak ada orang yang mengunjungiku sama sekali. "Apakah kali ini hanya mimpi biasa," batinku. "Lantas, mengapa aku malah memimpikan rumah ini, alih-alih rumahku di Rebeliand?" Aku memutuskan ke dapur untuk makan sesuatu yang enak. Setidaknya aku bisa bersantai sejenak di dalam mimpi, karena aku tidak bisa bersantai sama sekali, saat berada di Tekoa. Kedua kakiku melangkah ke dapur dengan harapan akan mendapat makanan, dan pemandangan di dapur hampir membuatku mati terkejut. Semua peralatan masak, maupun peralatan makan yang ada di dapur, melayang tak karuan. Seluruh ruangan ini juga berwarna hitam kelam, seperti langit malam, alih-alih berwarna emas seperti dinding ruang tamu. Jantungku berdegup kencang karena pemandangan tak biasa itu. Aku melirik telapak kakiku, yang ternyata menjejak tepat berada di batas antara koridor yang terang, dan kegelapan dapur yang begitu pekat. Aku bertanya-tanya di dalam hatiku, tentang alasan dapur ini menjadi ruangan yang tak beraturan. Padahal, aku sempat mencuci piring, dan peralatan dapur, setelah kami selesai makan besar. Bukan orang aneh yang aku temui kali ini, melainkan pemandangan dapur yang aneh, dan sungguh menakutkan. Aku takut kalau aku akan menghilang, jika aku berani masuk ke dalam dapur itu. Rencanaku bersantai sambil makan di dalam mimpi gagal total, sehingga aku kembali ke ruang tamu dengan perasaan nelangsa. Bahkan di dalam mimpi pun, aku tidak dapat menikmati makanan dengan layak. "Halo Raulith," sapa seseorang, yang membuatku terkejut untuk kedua kalinya. Aku menoleh ke sumber suara dari belakangku. Pemilik suara itu adalah Cyprian, yang tersenyum ramah padaku sambil melambaikan tangan. Kali ini, sang Xenia pelindung alam liar, memakai setelan baju zirah berwarna biru tua, yang melapisi bagian atas tubuhnya, hingga di atas betisnya. Di balik baju zirah itu, dia memakai baju santai berwarna putih. Tidak lupa, sebuah helm besi yang hanya memperlihatkan wajahnya juga terpasang rapi di kepalanya. Tubuhnya yang kekar dilapisi dengan baju zirah lengkap, menimbulkan kesan yang berbeda, dibanding dengan pertemuan pertama kami yang lebih santai. Ini adalah kali keduaku bertemu dengan Cyprian lewat mimpi, sehingga membuatku sudah terbiasa dan tidak terlalu takut, kepada sang Xenia. Namun, aku tetap akan menjaga tindakanku, karena Cyprian tetaplah salah satu makhluk yang memiliki kuasa besar. Terbiasa bertemu dengannya, bukan berarti aku harus menurunkan rasa hormatku padanya. Ada satu hal yang aku sadari, karena pikiranku kali ini lebih tenang, daripada pertemuan terakhirku dengannya. Ada sesuatu yang seolah menjadi ciri khas dari Cyprian saat menemuiku. Untungnya, aku memperhatikan detail kecil yang tidak pernah kuanggap sebelumnya. Detail kecil tentang nama yang dia pakai untuk memanggilku, yaitu Raulith Lass. Aku baru sadar, kalau tiga orang yang bertemu denganku lewat mimpi, selalu memanggilku Raulith. Bahkan Normen juga memanggilku dengan nama itu di Arnmeny, dan juga menyebut soal pewaris Foeter di depanku. Aku tidak tahu darimana munculnya nama Raulith, apalagi Foeter, karena itu aku selalu mengabaikannya. Aku selalu berusaha mengesampingkan fakta aneh itu, karena ada hal penting yang harus aku pikirkan, dan lakukan terlebih dahulu. Sekarang situasinya berbeda. Aku sadar sepenuhnya kalau aku bermimpi, dan Cyprian adalah yang menemuiku lewat mimpi. Ada semacam rasa nyaman dalam diriku, untuk memikirkan hal-hal yang membuatku penasaran. Dimulai dari orang pertama di mimpiku yang menyebutku adalah pemegang pedang jiwa. Lalu Normen yang secara gamblang mengatakan, kalau alasannya membantu kami adalah karena ingin melihat perkembangan dari pewaris Foeter. Karena itu, aku memutuskan akan menanyakan dua hal pada Cyprian. Pedang jiwa, dan Foeter, karena tentang nama Raulith tidak terlalu penting untukku. Bagiku, nama hanyalah sebuah indentitas, tidak lebih dari itu. "Halo Tuan Cyprian," balasku. Aku tersenyum kepadanya untuk memberikan kesan baik, sebelum bertanya, "Apakah aku boleh bertanya sesuatu, sebelum Anda yang berbicara?" Cyprian langsung mengangkat alisnya, dan sedikit membuka mulutnya. Aku terkejut dengan ekspresinya setelah aku mengajukan pertanyaan tersebut, karena sang Xenia bisa saja menganggapku terlalu lancang. "Hanya satu pertanyaan," jawab Cyprian setelah beberapa saat menimbang dalam diam. Raut wajahnya yang ramah, berubah menjadi serius, selagi mendengar pertanyaan yang keluar dari mulutku. Melihatnya berubah serius, membuat kegugupan langsung menjalari sekujur tubuhkh. Aku mengutuk diriku sendiri, karena merasa kalau kami sudah nyaman satu sama lain, sehingga berani bersikap lancang padanya. Namun, aku sudah terlanjur basah, jadi aku memilih menanyakan sesuatu yang menurutku lebih penting, "Apakah Tuan tahu soal pedang jiwa?" Aku memilih menanyakan pedang jiwa ketimbang Foeter, atau Raulith, karena alasan sederhana. Untuk mengalahkan Tequr, aku membutuhkan senjata yang kuat, bukan nama baru, atau sebuah tempat misterius. "Dari mana Anda tahu soal pedang jiwa?" tanya Cyprian padaku. Wajah sang Xenia tetap sangat serius, sehingga membuatku juga semakin gugup. Dengan segala kegelisahan dihatiku, aku memberanikan diri menjawab, "Seseorang di mimpi saya mengatakan bahwa saya adalah pemegang pedang jiwa." "Menurut saya, saya dapat mengalahkan Tequr, jika saya memiliki pedang jiwa," jawabku jujur. "Ketimbang mengetahui fakta tempat bernama Foeter, atau asal nama Raulith, pedang jiwa lebih membantu saya untuk mengalahkan Tequr." Cyprian melangkah mendekat padaku, lalu bertanya, "Kau pernah memimpikan orang selain aku?" Sang Xenia malah balas menanyakan sesuatu yang tidak menjadi fokus utamaku. Dua orang aneh yang muncul di mimpiku, malah jauh lebih tidak penting lagi. Tetapi, aku semakin gugup karena gerakannya yang mendekat padaku, karena itu aku tetap memaksakan diri untuk menjawab, "Be...Benar, seseorang dengan jubah hitam, dan dia memanggil saya dengan nama Raulith, seperti Anda." Xenia pelindung alam liar itu terdiam mendengar jawabanku. Dari matanya aku dapat melihat kekhawatiran, juga kegelisahan. "Apakah jawabanku seburuk itu?" batinku. "Apakah dia mengenal sosok berjubah hitam itu?" "Tidak ada apa pun selain itu?" tanya Cyprian lagi, lalu dia mencengkram kedua bahuku. "Mulai sekarang, apa pun yang terjadi di mimpi anda, tolong katakan pada Saya." "Ba... Baiklah," jawabku cepat. Aku merasa bahwa topik soal pedang jiwa malah membuat Cyprian sangat tegang, sehingga aku memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan. "Apa yang ingin Anda katakan kepada saya?" ujarku. "Tentang pedang jiwa, saya akan menanyakannya lain kali. Sepertinya, Anda memiliki pesan penting untuk saya." Pengalihan topik dariku membuat sorot matanya perlahan berubah. Xenia itu kembali mengeluarkan aura keramahan, sampai akhirnya dia kembali tersenyum padaku. "Benar, Saya memang datang untuk memperingatkan sesuatu pada Anda," jawabnya. "Dan saya berjanji, saya akan menjelaskan soal pedang jiwa, di pertemuan kita yang selanjutnya." Kalimat Cyprian membuatku sedikit tenang. Dia cukup adil dalam mengambil keputusan, sehingga membuatku melepaskan rasa penasaranku akan pedang jiwa untuk sejenak. Sang Xenia menatap ke langit-langit rumah Dreyfus, lalu memandang lekat kepada kedua mataku, sambil berkata, "Setelah Anda terbangun, jangan pernah mencoba untuk menyelamatkan orang lain." "Nanti, Anda akan dihadapkan pada banyak pilihan, yang akan memaksa Anda untuk berkorban," imbuhnya. "Saat momen itu terjadi, abaikan, dan teruslah berjalan." "Maaf, maksud Anda?" tanyaku gelisah. "Ingat pesan saya, apa pun yang terjadi, selamatkan dirimu sendiri, bukan orang lain!" perintahnya dengan tegas. "Ta... Tapi saya akan berperang dengan para Ogrotso," bantahku. "Para elf sudah mempertaruhkan nyawa mereka untuk warga Rebeliand, jadi saya juga akan mempertaruhkan nyawa untuk keselamatan setiap orang." "Raulith Lass!" bentak Cyprian. "Akan ada orang lain yang menyelamatkan warga desamu, kau hanya perlu menyelamatkan dirimu, karena peranmu jauh lebih besar dari itu!" Aku takut dengan amarah Xenia, makhluk paling berkuasa di Ueter. Aku gelisah karena tatapan matanya yang serius, terlihat sangat mengerikan. Aku juga segan untuk membantahnya, karena menjadikannya musuh bukan keputusan bijak. Namun, perintahnya adalah sesuatu yang mustahil aku lakukan. Dalam perjalanan ini, tak ada sedetik pun, aku memikirkan untuk meninggalkan warga desaku. Mereka adalah alasan aku hidup hingga sekarang. Tujuanku menyelamatkan warga Rebeliand, dan aku tidak peduli jika nyawaku harus hilang dalam prosesnya. Meninggalkan mereka, dan menyelamatkan diriku sendiri? Lebih baik aku mati, jika aku harus mengkhianati mereka. Terlebih, aku juga akan bersedia mengorbankan nyawaku untuk setiap elf yang berperang di sebelahku. Para elf itu memiliki keluarga yang menunggu kepulangan mereka, dan aku tidak akan diam saja, jika keadaan memang mengharuskanku mengorbankan diri. Aku mengumpulkan keberanianku sembari menarik napas panjang, lalu aku menatap mata Xenia yang disembah klan Daeron dan kudaku, Orion. Daftar kelancanganku kepadanya, akan semakin bertambah. "Maaf Tuan," ujarku sambil membungkuk di hadapannya. "Saya tidak bisa melakukan yang Anda perintahkan. Elf Daeron, teman-teman saya, dan warga Rebeliand, keselamatan mereka adalah tanggung jawab saya." Ekspresi Cyprian menegang setelah mendengar jawabanku. Tetapi, dia tidak tampak terkejut sama sekali dengan jawabanku, seolah sudah menebak kalau aku akan memberi jawaban seperti tadi. "Kau memang Raulith Lass," ujarnya. Lalu sebuah seringai lebar terpampang di wajahnya. "Kalau begitu, aku akan mengganti perintahku." Lagi-lagi, Cyprian menyebutku sebagai Raulith Lass. Bahkan, aku merasa kalau dia baru saja memberiku sebuah ujian, dari perintah yang baru saja dia katakan. "Selamatkan warga Rebeliand dan Degeo!" serunya. Dia mencengkram kedua bahuku, lalu memekik keras, "Setelah itu, selamatkan Adon, bahkan Ueter!" Tepat setelah suara Cyprian menghilang, rumah Dreyfus yang megah menghilang, seperti diserap ke dalam lubang. Penglihatanku perlahan juga memudar, hingga semuanya tampak hitam kelam. Mimpiku berakhir saat aku akan membuka mulutku untuk menjawab perintahnya. Aku sudah siap untuk melakukan perintahnya, yang sejalan dengan tujuanku. Menyelamatkan warga Rebeliand dan Degeo dari genggaman Tequr Lolazar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN