Bab 47 - Penyelamatan Dimulai

1769 Kata
Aku lega setelah berdoa dengan khidmat. Doa yang baru saja aku panjatkan, membuatku teringat dengan sarapan terakhirku di Rebeliand, bersama kedua orang tuaku. Saat itu, ayahku yang memimpin keluargaku untuk berdoa. Wajah para elf, maupun teman-temanku juga terlihat lebih tenang setelah selesai berdoa. Raut wajah mereka semua, tampak sudah siap berangkat, untuk menyelamatkan orang-orang yang diculik. Para elf berpamitan untuk terakhir kalinya dengan keluarga mereka. Ada perasaan tidak enak dalam hatiku, karena membuat para elf pria harus meninggalkan keluarga mereka dalam kekhawatiran. Apalagi, diculiknya warga Rebeliand dan Degeo bukanlah urusan mereka. Tujuan mereka hanya membantu kami, tetapi mereka malah yang kehilangan paling banyak. Klan Daeron akan membuatku selalu berutang budi kepada mereka semua. Briaron adalah yang pertama tampil untuk memecah keheningan. Putra sang pemimpin klan mengumumkan dengan keras, "Seluruh prajurit Daeron, berbarislah dengan rapi, kita akan bersiap untuk melakukan tugas mulia!" Perintah Briaron membuat para elf mulai berkumpul ke depan sang putra Daeron, dan meninggalkan keluarga mereka. Perlahan, wajah para elf mulai berubah serius, karena mereka benar-benar akan menyongsong maut. Aku menghitung para elf dalam hati, dan ada lebih dari lima puluh orang yang berbaris, termasuk teman-temanku yang akan ikut dalm misi ini. Di satu sisi, aku merasa tersanjung dan aman, karena adanya para elf di dalam misi ini. Namun, aku juga khawatir, karena jika misi ini gagal, maka akan ada lima puluh keluarga yang kehilangan pria. Itulah alasanku berdoa agar Ulea melindungi kami semua, terutama para elf yang bertaruh nyawa untuk kami. Semoga doaku akan didengar. "Sudah tiba saatnya untuk kita meninggalkan Tekoa, dan melakukan tugas mulia, yang dibebankan kepada kaum elf," teriak Daeron mengumumkan. Sang penguasa Tekoa telah berada di tengaj kami, setelah beberapa saat yang lalu, anaknya yang memimpin barisan ini. Sekilas, aku melihat Daeron kembali ke rumahnya, di saat para elf saling berpamitan dengan keluarga mereka masing-masing. Aku tidak tahu alasannya kembali ke rumah. Dia tidak perlu berpamitan dengan keluarganya, karena setahuku, dia hanya memiliki Briaron. Lalu, dia juga sudah membawa senjatanya, selagi melakukan ritual kepada Cyprian, maupun pembakaran ujung senjata. Kesimpulanku, tidak ada alasan baginya untuk naik ke rumahnya. Namun, hal itu tidak penting. Kehadiran Daeron di tengah kami, sudah merupakan kemewahan. Aku tidak tahu seberapa besar kekuatannya, tetapi aku berani bertaruh kalau dia akan sanggup melawan Tequr Lolazar. "Mari pulang dalam keadaan utuh, bersama orang-orang yang sudah diculik," imbuh Daeron dengan senyuman lebar di wajahnya. "Ambil tunggangan kalian, dan sekarang kita akan berangkat!" Kata-kata Daeron menjadi pengantar kami untuk memulai perjalanan ke barat, yang konon merulakan markas Ogrotso buatan Tequr berada. Para elf berpencar untuk mengambil tunggangan mereka, sesuai dengan perintah sang pemimpin. Dan ternyata, para elf ini menunggangi kuda yang parasnya, juga tidak kalah cantik dari mereka. Setiap hal yang dimiliki para elf, selalu mengesankan bagi kedua mataku. Meskipun hanya seekor kuda biasa, tetapi ada aura luhur yang menguar dari setiap hewan yang sedang berjalan berdampingan, dengan masing-masing elf pemiliknya. "Wah, rusa itu besar sekali," gumam Amicia dengan kagum dari sebelahku. Sontak, aku mengarahkan mataku ke arah yang dipandang oleh cewek itu. Ternyata, trio pemimpin klan Daeron, sudah menaiki tunggangan mereka yang sangat hebat. Daeron menunggangi seekor rusa jantan besar, yang berbulu coklat tua, dengan tanduk yang sangat besar. Rusa tunggangannya bahkan sedikit lebih besar daripada Anyx, sehingga membuat kekagumanku memuncak. Briaron dan Eleandil memiliki tunggangan dengan jenis hewan yang sama, yaitu harimau belang. Bedanya terletak di warna, harimau milik Briaron berwana jingga dengan garis hitam, sedangkan milik Eleandil berwarna putih dengan garis hitam. Selama perjalananku ini, aku menemui banyak hal aneh namun menakjubkan. Untungnya aku sudah bertemu lebih dulu dengan Normen yang menunggangi serigala besar. Jadi, saat melihat para pemimpin elf menunggangi hewan-hewan aneh seperti itu, membuatku tidak terlalu terkejut. Anyx adalah hewan pertama yang membuatku sangat terkejut. Daeron memimpin iring-iringan kami, dengan Eleandil dan Briaron di kedua sisinya. Para elf lain berada di belakang mereka. Anyx, dengan Yared dan Normen di atasnya, dan Orion yang membawaku dan Amicia di punggungnya, berjalan di barisan paling belakang. Kami mendapat perintah dari Daeron untuk menjaga bagian belakang, agar trio di depan bisa fokus untuk memimpin jalan. Aku suka dengan ide itu, karena aku merasa kalau Daeron, dan juga para elf mempercayakan sesuatu kepada kami. Semua tunggangan hanya berjalan dengan tenang, selagi kami masih di wilayah klan Daeron. Rencananya, setelah kami melewati perbatasan, maka saat itulah semua tunggangan akan berlari dengan bebas di alam liar. Aku sudah mewanti-wanti Orion untuk menyamakan kecepatan dengan para elf, saat tiba saatnya berlari. Aku bisa membayangkan kalau sahabatku ini terlalu bersemangat, maka kami bisa meninggalkan barisan terlalu jauh. Para elf yang menjaga Tekoa, mengantar kepergian kami dengan menunduk memberi hormat, kepada setiap hewan yang melewati mereka. Beberapa elf wanita juga melambai kepadaku dan Amicia, dengan tatapan yang menenangkan. Sehari di Tekoa, membuatku merasa bahwa desa ini adalah rumah keduaku. Dibanding Donuemont, Arnmeny, atau Tosval, desa ini adalah yang paling menyambutku dengan ramah. Terlepas dari kesopanan warga Tekoa, ada yang membuatku penasaran tentang perjalanan ini, yaitu letak pasti dari tujuan kami. Karena Daeron hanya mengatakan kalau kita akan ke barat, untuk langsung mendatangi markas Ogrotso. Dia sama sekali tidak mengatakan letak dari markas Ogrotso, seperti nama desa atau kota terdekat. Atau apakah para Ogrotso tinggal di dalam hutan, laut, gunung dan tempat aneh yang lainnya. Kami hanya mengikutinya, tanpa tahu pasti kemana dia akan membawa barisan ini. Atau hanya aku dan teman-temanku yang tidak tahu? Kecurigaanku adalah karena para prajurit elf yang lain, tampak tidak penasaran sama sekali dengan tujuan perjalanan ini. Mungkin saja mereka terlalu percaya kepada sang pemimpin, sehingga hanya mengikuti dalam diam. "Oi, Cia!" bisikku kepada iblis yang sedang duduk santai di belakangku. "Menurutmu, perjalanan ini akan memakan waktu berapa lama?" "Lebih baik jangan menebak," jawabnya juga sambil berbisik di telingaku. "Semoga tidak perlu waktu hingga berhari-hari, karena harus menyamai kecepatan mereka." Aku mencoba menghitung, dan total sudah enam hari sejak kami menemukan Rebeliand yang kosong. Siang dan malam tidak bisa ditebak di hutan Hitam, namun jika diluar sana fajar sudah menyingsing, maka tepat sekarang ini, sudah seminggu penuh warga desaku diculik. Aku harus berusaha mengenyahkan pikiran buruk yang terus muncul, setiap kali aku memikirkan warga Rebeliand. Aku dan Amicia harus terus berusaha, kami tidak boleh menyerah. Andai saja aku tahu tujuan kami, maka Orion maupun Anyx bisa langsung pergi dengan kecepatan penuh lebih dulu. Berjalan di hutan ini membuatku merasa agak tidak sabar, karena langkah kami serasa membuang waktu. "Lass, Cia!" Orion memanggil kami dengan suara cukup keras. "Kau tidak perlu khawatir soal kecepatan para hewan itu." Aku terkejut dengan perkataan Orion yang mendadak membahas soal kecepatan hewan. Kudaku ini membuatku takut sekaligus curiga, karena dia seolah bisa membaca pikiran. "Aku mendengar kalian berbisik di punggungku," ujar Orion. Ada nada bangga hampir ke arah pamer, tersembunyi di suaranya. Kuda putih ini sudah lama tidak memakai nada sengak itu. "Lass, Amicia," lanjutnya, dengan nada yang semakin menjengkelkan dia berkata. "Mereka semua dibawah perlindungan Cyprian, yang artinya, daya lari mereka di alam liar akan berlipat ganda." "Kau serius?" tanyaku dengan sangat bersemangat, setelah mengetahui kalau tunggangan para elf juga memiliki kecepatan mengagumkan. "Secepat Anyx?" "Hampir, mungkin Anyx tetep lebih cepat," ujar kuda putih itu sambil menganggukkan moncong besarnya dengan bangga. "Meskipun mereka tidak bisa menyamai kecepatanku, tetapi mereka akan dapat berlari sedikit di bawah kecepatan Anyx." Anyx si serigala hitam yang berjalan di sebelah kami, menggeram kesal kepada Orion, karena tiba-tiba diikutkan dalam pembicaraan ini. Normen yang di atasnya hanya tersenyum puas mendengar perkataan kesombongan Orion, meskipun Anyx menjadi target kelemahannya. Perkataan sahabatku itu membuatku tenang, karena kecepatan bukan lagi masalah bagi kami. Jika semua hewan ini dapat berlari sedikit di bawah kecepatan Anyx, maka itu sudah lebih dari cukup. "Ah, satu lagi," celetuk Orion. "Rusa milik Daeron, dan dua harimau itu, mungkin saja lebih cepat dari Anyx." Sang serigala semakin menggeram kesal, setelah mendengar pendapat Orion. Kekesalan Anyx membuat Normen yang berada di punggungnya, menepuk leher sahabatnya sejak kecil itu dengan lembut. Beberapa saat kemudian, perkataan Orion terbukti, setelah kami melewati perbatasan wilayah Tekoa. Semua hewan yang ditunggangi para elf langsung melesat cepat, tanpa aba-aba. Beruntung, Orion sudah memperingatkan kepada Anyx soal ini. Sehingga kami sudah bersiap dengan kecepatan ini. Sepertinya, Daeron sudah tahu kalau Anyx dan Orion bukan hewan biasa. Hutan Hitam yang tadinya bergerak lambat, tiba-tiba menjadi sebuah lintasan pacu untuk untuk barisan kami. Semua tunggangan melewati batang pohon, semak belukar dan banyak hal lain yang membentang di jalan kami, dengan luwes. Orion yang pertama kali berlari di luar perbatasan Tekoa, seolah sudah lama tinggal di sini. Bahkan suara ringkikan antusiasnya, dapat mengalahkan deru angin kencang. Sahabatku ini, memang paling menyukai berlari di alam liar. Karena tujuan kami adalah arah barat, maka Daeron memimpin kami ke sisi barat hutan, yang adalah sisi hutan tempat mayat Eleanar di temukan, sekaligus sisi hutan yang timku jelajahi. Dan sekarang ini, aku sudah tidak bisa mengenali tempat ini. Kecepatan lari Orion sangat tidak memungkinkan bagiku menikmati pemandangan sekitar. Jalanan dengan pepohonan yang rapat mulai perlahan berubah agak renggang. Aku merasa kalau sekarang ini, kami sudah lebih jauh dari terakhir kali aku menjelajah dengan berjalan kaki. "Lass! Cia!" seru Orion mengatasi deru angin. "Kalian tidur saja, aku akan bangunkan kalau sudah dekat, sepertinya aku tahu tujuannya." "Dimana?" balasku bertanya dengan berteriak. "Aku masih belum yakin," ujarnya. "Sampai aku benar-benar yakin, baru akan kuberi tahu." "Kalau begitu, perkiraanmu akan butuh berapa lama untuk sampai ke tempat itu?" giliran Amicia yang bertanya. "Jika tetap dengan kecepatan ini, paling cepat kita sampai dalam waktu setengah hari," pungkas Orion. "Setengah hari!" seruku dan Amicia bersamaan. "Itu sudah yang paling cepat, karena kita sepertinya akan terus berada di dalam hutan, bukan jalan utama," balas sang kuda. Aku merenung memikirkan perjalanan ini. Setengah hari, adalah waktu tercepat kami berkendara, yang artinya delapan hari wargaku harus hidup sebagai tawanan. "Bagaimana jika mereka tidak layak menjadi Ogrotso?" batinku. Masteku adalah seorang petarung yang hebat, jika dia terpaksa mengangkat senjata. Namun, Eleanar yang adalah setengah elf dan manusia saja, berakhir mengenaskan. Aku menghormati Masterku, tetapi kekuatannya pasti jauh di bawah Eleanar. Apalagi, Masterku adalah seorang pencuri, yang tidak terbiasa dengan pertarungan dari depan. Amicia tiba-tiba melingkarkan tangannya di perutku, selagi aku sedang mengkhawatirkan keselamatan wargaku. Cewek itu juga menyandarkan kepalanya di punggungku. Aku merasakan nafasnya yang mulai pelan, dan dia sudah tertidur. Aku iri dengannya, karena memiliki pikiran yang tenang. Berbeda denganku, yang selalu memikirkan hal buruk terlebih dahulu. Untuk beberapa hal, aku ingin menjadi setenang cewek ini. Mungkin kereligiusannya adalah alasan dia bisa menyikapi segala sesuatu dengan kepala dingin, atau dia tertidur karena kelelahan? Ternyata aku tidak lebih baik darinya. Setelah menggerutu dalam hati, karena tertidurnya Amicia, mataku malah terasa berat. Meskipun aku terus mencoba bertahan selama beberapa saat agar tidak tertidur, namun akhirnya, aku yang kalah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN