Bab 46 - Ritual Terakhir

1994 Kata
Desa Tekoa yang semula hening menjadi kembali riuh, sepertisaat kedatanganku pertama kali ke desa ini. Beberapa jam yang lalu, desa ini baru saja berduka, setelah mayat Eleanar yang aku temukan, akhirnya dibakar sesuai tradisi para elf. Bukan hanya Eleandil, namun seluruh elf yang ada di desa ini juga ikut berbagi kesedihan dengan kakak dari mendiang. Hasilnya, desa ini dipenuhi aura murung yang amat kentara. Bahkan, aku berani bersumpah kalau masih ada banyak elf yang mengenakan jubah putih, pakaian berkabung para elf, yang digunakan selama prosesi pembakaran mayat Eleanar berlangsung. Kekhawatiranku akan suasana duka di desa ini, ternyata dibayar tuntas oleh sang pemimpin klan. Daeron menepati janjinya, untuk menolong warga Rebeliand dan Degeo, yang sedang diculik oleh Tequr. Dengan ketegasan dan kuasa yang dia miliki, Daeron mengubah suasana desa yang tadinya diliputi duka, menjadi desa yang dipenuhi suara dari berbagai arah. Para elf klan Daeron sudah siap untuk berperang. Para prajurit yang akan berangkat, mulai mengasah senjatanya masing-masing. Suara bising berasal dari asahan pedang, pisau besar bergerigi khas klan Daeron, juga pisau kecil, saling sahut menyahut. Sedangkan para elf yang tidak ikut, menyiapkan sesembahan di depan api unggun besar, untuk seorang Xenia (yang ternyata adalah Cyprian) di altar tengah desa. Para elf wanita mengeluarkan berbagai jenis makanan dari dalam rumah mereka. Makanan itu untuk bekal suami mereka, maupun untuk dipersembahkan kepada Cyprian. Aku semakin jatuh cinta dengan desa ini, karena mereka semua yang tinggal, memiliki rasa kebersamaan yang tinggi. Tolong menolong ini membuatku semakin rindu dengan Rebeliand. "Halo Tuan Lass, Nona Amicia," sapa Eleandil. "Sudah mempersiapkan diri?" Elf itu sudah memakai baju zirah berwarna perak, yang menutupi seluruh tubuh bagian atasnya, hingga tepat di atas lutut. Aku tidak pernah berhenti terpesona melihat figurnya, saat orang ini berada di dekatku. "Lass, aku akan mempersiapkan semua benda yang kita butuhkan," ujar Amicia. Cewek itu membungkuk ke Eleandil sambil berkata, "Kalau begitu, aku pamit untuk pergi ke tenda." Sahabatku itu memang sedikit menyebalkan dan lumayan kejam, tetapi dia juga berasal dari keluarga pemimpin. Etika yang dia miliki, setara dengan para bangsawan dari kerajaan mana pun. "Belum, saya baru akan bersiap," jawabku jujur, setelah Amicia membiarkanku berbicara berdua dengan Eleandil. "Anda akan ikut perjalanan ini?" Kedua alis pirang milik Eleandil terangkat, saat mendengar pertanyaanku. Elf itu melihatku dengan tatapan geli, sambil tersenyum ramah. "Tentu saja aku ikut," kekehnya. "Tuan Daeron sudah berjanji akan menyelamatkan warga Degeo, sehingga saya yang adalah wakil Briaron, pasti akan ikut." Melihat Eleandil tertawa, membuat rasa bersalahku kepadanya sedikit memudar. Sampai beberapa saat lalu, Eleandil adalah orang yang paling tidak ingin aku temui, karena aku merasa sudah melakukan kesalahan besar terhadapnya. Keberangkatanku yang pertama sebagai pencuri, juga diiringi oleh setiap orang di Rebeliand. Meskipun tidak ada upacara resmi, namun mereka semua sampai menyempatkan diri, hanya untuk melihatku keluar desa, dari masing-masing jendela rumah mereka. "Tuan Lass, saya ingin mengatakan sesuatu soal Eleanar, boleh?" tanya Eleandil sopan. "Jika Anda tidak berkenan, maka saya akan menyimpannya sampai Anda siap." Jika aku harus berkata jujur, maka jawabanku adalah tidak siap. Sesuatu yang akan dikatakan Eleandil padaku, pasti sesuatu yang buruk. Tetapi, aku juga benci dikuasai rasa penasaran, sehingga kepalaku malah mengangguk tanpa sadar. "Eleanar sempat memberi pesan padaku, kalau dia merasakan aura jahat yang mengintai Degeo," ujar Eleandil memulai ceritanya. "Saat itu, aku sedang disibukkan soal urusan Tekoa dengan Kerajaan Donater, karena aku adalah diplomat bagi desa ini." "Aku mengabaikan pesan dari adikku, karena aku hanya menganggap aura jahat itu sebagai perasaan adikku yang berlebihan," imbuhnya. "Anda tidak mengatakan isi pesan itu kepada Tuan Daeron, maupun Tuan Briaron?" tebakku. Eleandil menganggukkan kepalanya dengan senyuman kecil di wajahnya. "Kesalahan fatal, yang akhirnya membuat nyawa adikku melayang." "Aku sangat kecewa dengan diriku sendiri, karena tidak mendengarnya," desahnya. Elf itu memandang jauh ke bintang yang bertaburan di langit, lalh berkata, "Itulah alasanku melampiaskan kemarahanku kepada Anda, padahal akulah yang melakukan kesalahan terbesar." "Karena itu, saya ingin meminta maaf secara pribadi kepada Anda," ujar Eleandil sambil menundukkan kepalanya di depanku. Aku bersyukur karena tidak ada satu orang pun elf, yang melihat kejadian yang sangat canggung ini. Aku hanya tidak ingin para elf memandang rendah Eleandil, karena memberi hormat berlebihan kepadaku. "Aku mengerti," ujarku lirih. "Sekarang, kita hanya perlu fokus dengan para penculik." Eleandil kembali mengangkat kepalanya, dan tersenyum cerah padaku. Semaki lama, aku semakin menyukainya. Eleandil tampak seperti seorang sahabat yang baik, meskipun tampilan luarnya cukup mengintimidasi. "Baiklah, saya akan mempersiapkan diri dengan baik," Eleandil berpamitan padaku, untuk segera menuju ke gudang senjata desa Tekoa. Bukan hanya para elf yang mempersiapkan diri dengan seksama. Kelompokku juga sedang menyiapkan perjalanan kami, yang kesekian kalinya. Kali ini, aku lebih percaya diri ketimbang keberangkatan yang lain. Alasannya sederhana, karena tim penyelamat warga desaku bertambah sekitar sepuluh kali lipat. Awalnya, hanya aku, Amicia dan Orion yang berangkat dari Rebeliand. Selanjutnya Yared, Normen, juga Anyx bersedia membantu sejak dari Donuemont. Dan sekarang, semua elf klan Daeron yang dapat mengangkat pedang, ikut membantu kami. Bahkan, menurut beberapa kabar yang aku dengar, Eleandil, Briaron, bahkan Daeron juga ikut bergabung dengan barisan tentara yang akan memerangi Tequr dan pasukannya. Karena itu, seharusnya tidak ada lagi kekhawatiran yang masih tertinggal di hatiku. Di sebelah tendaku, Normen sedang mengasah sebuah pedang besar di atas batu hitam yang kasar. Pedang besar itu, tampak seperti pedang yang dia pakai, saat aku pertama kali bertemu dengannya di gerbang Donuemont. Kecurigaanku kepadanya langsung lenyap, setelah aku mengetahui alasannya menghilang cukup lama. Ternyata, prajurit tua itu pergi ke gudang senjata para elf, dan pedang besar itu adalah bukti dari keramahan warga Tekoa, kepada Normen. Prajurit tua itu juga memakai baju zirah pemberian para elf, yang sepertinya agak terlalu kecil dibanding tubuhnya yang penuh otot. Namun, baju zirah itu membuatnya tampak seperti akan berperang. Sekali lagi, aku memberikan Oborotni kepada Amicia, karena cewek itu semakin lihai mengubah bentuk senjata itu. Dia bahkan memamerkan padaku saat senjata itu berubah menjadi busur, kapak, tombak, lalu kembali menjadi pedang dalam sekejap. Normen adalah sosok yang mengajari Amicia cara mengubah bentuk pedang itu, selama mereka berdua menyisir sisi selatan hutan pada penjelajahan kemarin. Dua orang itu menggunakan waktu senggangnya dengan baik. Si pemilik pedang sebelum aku, yaitu Normen, bahkan menyarankanku untuk mulai melepaskan pedang itu, karena Amicia menggunakan senjata itu dengan handal. Aku bahkan sudah tidak terkejut lagi dengan kekuatan senjata itu, karena sudah sering melihat Amicia mengubah bentuknya. Namun, keterkejutanku malah dikarenakan saran Normen, yang tiba-tiba malah merelakan Oborotni kepada Amicia. Jika ingatanku tidak salah, alasan Normen ikut dengan kami, karena dia ingin Oborotni dikembalikan kepadanya. Meskipun akhirnya taruhan kami tidak dilanjutkan, namun Normen tidak memiliki alasan untuk merelakan senjata hebat itu. Lagi-lagi, tindakan Normen membuatku mencurigainya. Tetapi, baru saja aku melihatnya mengasah pedang besar dari gudang senjata warga Tekoa. Bukankah pedang besar itu mengindikasikan bahwa Normen sudah merelakan Oborotni? Selain teman-temanku yang mempersiapkan diri, aku juga sudah selesai bersiap untuk perjalanan. Pisau kembar kesayanganku juga sudah aku asah setajam mungkin. Menurutku, senjata ini adalah senjata paling mematikan, jika berada di tanganku. Para elf juga menawariku dan Amicia baju zirah mereka. Namun, kami malah meminta jubah panjang bertudung, dengan warna gelap. Baju zirah yang berat bukan gaya kami, karena kami bukanlah petarung yang menyerbu dari depan. Kami adalah pencuri, karena itu kami bertarung dengan menyergap, lalu melancarkan satu serangan mematikan secara senyap. Gaya bertarung seperti itu sudah tertanam di otak kami selama tujuh tahun. Jadi, yang kami butuhkan adalah pakaian yang mendukung gaya bertarung kami, daripada pakaian yang membuat kami aman. Untungnya, beberapa elf bersedia memberi kami jubah hitam bertudung kepada kami. Amicia memilih jubah hitam, sedangkan jubah biru tua menjadi milikku. Dengan jubah gelap ini menutupi tubuhku, maka aku sudah sangat siap untuk memulai perjalanan ini. Orion dan Anyx juga bersiap untuk perjalanan panjang. Mereka mulai makan dengan porsi besar, untuk menjaga stamina, juga energi mereka sebelum memulai perjalanan. Satu-satunya yang tidak sibuk hanya Yared. Anak itu hanya duduk dengan santai, saat kami semua mempersiapkan perjalanan. Anugrahnya yang hebat, membuatnya bisa setenang itu. Para elf yang sudah selesai mempersiapkan diri, mulai berkumpul di altar tengah desa untuk melakukan ritual kepada Cyprian. Sekali lagi, aku akan melihat para elf melakukan kebiasaan mereka. Aku melihat sekilas Eleandil, Briaron, dan Daeron dengan baju perang lengkap, juga berkumpul mengitari altar itu. Mereka semua terlihat serius, takut, juga bersemangat di saat bersamaan. "Kita ikut ke altar itu?" usulku kepada teman-temanku, karena Normen dan Yared sudah layak untuk aku jadikan sebagai teman. "Tidak perlu Tuan Lass," ujar Normen. "Mereka yang ke altar itu, adalah mereka yang percaya kepada Cyprian dengan segenap hati." "Jika ingin menghormati mereka, maka cukup dengan menjaga keadaan sekitar, agar mereka dapat menyembah dengan baik, dan kita tidak mengganggu mereka," sambung Normen. Jawaban Normen membuatku meliriknya dengan takjub. Aku hampir lupa kalau aku sempat takut dengan orang ini, karena dia kebetulan mengatakan hal-hal aneh dari mimpiku. Normen Harv, aku hampir lupa dengan wibawa juga kebijakannya, dalam mengambil setiap keputusan. Dari dia aku belajar, bahwa toleransi bukan mengikuti, tapi memberi kebebasan, dengan menyediakan ruang untuk perbedaan. Ritual penyembahan Cyprian berlangsung khusyuk, dengan kami yang memperhatikan dari jauh. Mereka bersujud tiga kali kearah api besar di tengah lapangan, hingga muka mereka semua menyentuh tanah. Setelah itu, para elf mulai membakar sesembahan mereka ke api besar. Mereka bergantian melemparkan makanan, sembari menggumam di depan api besar itu. Gumaman itu mungkin adalah doa yang mereka panjatkan, sebelum mempersembahkan makanan ke api besar. Ritual ini dilakukan bersama, namun doa tetap hak pribadi setiap orang. Kami semua memandang ritual itu tanpa berkomentar apapun. Melihat mereka, membuatku teringat ayahku, yang juga mengajarkan untuk berdoa secara pribadi kepada Ulea. Kepercayaan mereka pada Cyprian membuat semua elf melakukan ritual itu dengan sangat khidmat, hingga tidak terdengar suara apa pun, kecuali desis api yang melahap makanan persembahan. Setelah mereka selesai mempersembahkan makanan, dan memanjatkan doa pribadi, mereka mulai meninggalkan altar itu dengan satu kali sujud terakhir. Namun, ritual itu belum selesai. Kali ini semua prajurit yang akan berangkat, kembali ke altar itu dengan membawa senjata yang akan mereka gunakan. Satu per satu, setiap prajurit tangguh klan Daeron mulai menaruh ujung senjata mereka di api besar itu, sambil menggumamkan doa. Ritual terakhir ini, memang untuk para prajurit yang akan segera pergi. Briaron yang pertama menghampiri kami, setelah dia selesai berdoa. "Tuan dan Nona, kalian dipersilahkan untuk membakar ujung senjata kalian, di api suci desa Tekoa." "Tenang saja, api suci kami tidak pilih kasih. Jadi kalian bebas berdoa untuk Xenia mana pun," sambungnya. Amicia adalah yang merespon permintaan Briaron pertama kali. Dia bergegas melangkah ke api besar itu, sambil membawa Oborotni. Aku tidak ingin sahabatku itu sendirian ke sana, jadi aku berniat menemaninya ke api itu. Tidak kusangka, Normen dan Yared juga mengikuti kami. Aku mengira kalau mereka berdua bukan pribadi yang religius, namun ternyata mereka berdua juga percaya dengan sesuatu yang tidak terlihat. Briaron tersenyum melihat kami semua yang meresponnya. "Kalau boleh tahu, siapa Xenia yang kalian sembah?" "Cyprian, Xenia pelindung alam liar," Orion yang pertama menjawab. "Maaf Tuan Briaron, saya tidak berniat menjawab pertanyaan pribadi itu," kata Normen. Prajurit tua itu yang melangkah lebih dulu ke depan api itu, dengan Yared mengikuti di belakangnya. "Ah, ternyata aku sudah melewati batas" gumam Briaron sambil mengangkat alisnya. Lalu elf itu beralih pada Amicia, "Bagaimana dengan Nona? Mau menjawab?" "Aku dan Lass tidak menyembah Xenia mana pun," jawab Amicia, disertai dengan senyuman bangga. "Tetapi, Nona yang pertama kali berdiri setelah saya persilahkan," ujar Briaron terkejut. "Kami menyembah pribadi paling berkuasa di seluruh Ueter," jawab Amicia singkat. "Pencipta Ueter, Xenia, dan semua makhluk di yang hidup. Ulea yang Agung." Briaron tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya, hingga kedua matanya membelalak. Namun, Amicia dengan tenang melenggang pergi ke api besar itu. Aku baru pertama kali melakukan ritual, namun setelah mendengar Amicia mendeskripsikan Ulea kepada Briaron, hatiku menjadi tenang. Aku mengeluarkan pisau kembar yang tersembunyi di balik punggungku, dan mulai membakar bilah kedua pisau itu, di kobaran api suci milik klan Daeron Untuk pertama kalinya, akhirnya aku berdoa di dalam hati, "Ulea yang Agung, lindungilah kami semua, agar semua orang dapat berkumpul dengan keluarga mereka masing-masing." Itulah doa pertamaku, sekaligus menjadi doa yang akan memulai semua petualangan yang akan mengubah hidupku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN