Bab 45 - Bantuan Besar

1825 Kata
Iashor, nama itu akan kuingat. Karena suatu saat, dia mungkin akan menjadi lawanku. Kami meninggalkan rumah Daeron dengan perasaan muram. Meskipun dia memastikan kalau elf di bawah pimpinannya akan membantu, namun membayangkan bahwa adik seorang pemimpin elf menjadi Ogrotso sangat membuatku gelisah. Di sisi musuh kami, ternyata kuat bukan hanya Tequr, penyihir agung. Pemimpin pasukan Ogrotso yang tanpa emosi juga merupakan orang hebat, adik kandung seorang pemimpin klan elf. Mendengar fakta tersebut, membuatku membandingkannya dengan kakak beradik Eleandil. Eleanar baru saja meninggalkan kakak kandungnya untuk selamanya, namun dia sungguh meninggal. Sedangkan, cerita kakak beradik Daeron, malah lebih tragis lagi. Sang adik yang bernama Iashor, malah diubah menjadi Ogrotso, dan Daeron harus bersiap untuk pertempuran antara dirinya dan sang adik, suatu saat nanti. "Adik Eleandil memilih menjadi seorang manusia, lalu adik Daeron malah diubah menjadi seorang Ogrotso," gerutu Amicia sambil menendang kerikil kecil di depan kakinya. "Kenapa selalu seorang adik, yang menyebabkan tragedi?" Aku mengira kalau cewek itu hanya berusaha melucu. Namun setelah melihatnya mengernyitkan dahi, maka aku sadar kalau pertanyaannya memang serius. Sejak kami turun dari pohon besar tempat rumah Daeron bertengger, Amicia memang terus menggerutu soal adik dari Eleandil, maupun Daeron. Namun, gerutuannya lebih memiliki nada iri hati, ketimbang kesal. Mungkin karena dia penasaran rasanya memiliki adik, karena dia adalah anak tunggal di keluarganya, begitu juga aku. Kadang kala, aku juga ingin mengerti rasanya memiliki seorang saudara kandung. Andai aku memiliki saudara kandung, maka kami berdua apat bergantian menjaga kedua ayah dan ibu, jika salah satu dari kami harus meninggalkan Rebeliand. Dan mungkin, warga desaku tidak perlu diculik oleh Tequr Lolazar. "Menurutmu apa langkah mereka selanjutnya?" tanyaku kepada Amicia yang masing menendang kerikil dengan acak. "Aku tidak bisa menebak isi kepala Tuan Daeron," aku Amicia. "Namun, aku mengerti alasan dia menjadi pemimpin klan ini, untuk waktu yang sangat lama." "Apa?" tanyaku penasaran, akan alasan yang diberikan oleh sahabatku ini. "Daeron adalah orang yang membuat kita sangat ingin dipimpin olehnya, dilindungi olehnya, bahkan bergantung padanya," jawab Amicia. "Dia membuat seseorang selalu ingin mengikuti, dan membuat rencannya berhasil." Amicia tersenyum padaku, lalu berkata, "Kesimpulannya, aku yakin kalau Daeron akan mengambil keputusan bijak untuk keselamatan warga Rebeliand maupun Degeo yang diculik." Aku menatapnya takjub, karena ini pertama kalinya aku mendengar Amicia mengatakan hal seperti itu. Dia sama sekali bukan tipe orang yang mau untuk dipimpin, karena cewek ini selalu diajar untuk menjadi pemimpin. Selama perjalanan kami pun, Amicia tetap tidak menunjukkan sikap mau dipimpin. Meskipun ada Normen yang lebih tua, sekaligus pemimpin prajurit pengawal raja Donater di tim kami. Jabatan Normen yang cukup tinggi, tidak membuat Amicia segan untuk mengambil alih posisi pemimpin. Sebaliknya, si prajurit tua malah seringkali meminta pendapat Amicia, setelah dia membuat rute jalan yang akan kami tempuh. Sifat pemimpin yang dimiliki sahabatku itu adalah turunan dari ayahnya, yang merupakan pemimpin desa kami. Meskipun Masterku tidak pernah berkata secara terbuka, tetapi aku yakin kalau dia ingin putri tunggalnya yang menggantikan posisinya. Di desaku, jabatan kepala desa dipilih melalui pemungutan suara setiap lima tahun sekali. Namun, selama dua kali aku mengikuti pemilihan kepala desa, suara warga selalu bulat untuk kembali mengangkat Master Ekkehard sebagai pemimpin kami. Bahkan selama seratus tahun Rebeliand berdiri, hanya ada satu kepala desa yang bukan berasal dari keluarga Ekkehard. Aku lupa namanya, seingatku orang itu memiliki nama keluarga Wornd, nama yang sama dengan milik Solastra. Karena itu, di dalam darah Amicia memang sudah mengalir kemampuan untuk memimpin selama beberapa generasi. Aku pun tidak keberatan jika dia memimpinku suatu saat nanti. Sekarang, cewek ini malah berkata bahwa Daeron adalah pemimpin sejati. Jika kesan pemimpin elf di mata Amicia seperti itu, maka wibawa ayah Briaron itu, memang sangat tampak dalam setiap langkahnya. Elf tua itu memang seorang pemimpin sejati. "Kau sudah ingin tidur?" tanya Amicia membuyarkan pikiranku yang masih melayang ke banyak hal. Aku menggeleng dengan tegas, lalu mengajaknya, "Mau bertemu Orion?" Amicia mengangguk antusias, dan mulai berlari kecil sambil berseru, "Ayo bertemu kuda kesayangan kita!" Aku mengikuti langkahnya, dan secara tidak sadar, aku tersenyum melihat punggung cewek tangguh itu dari belakang. Aku bersyukur mengenal Amicia Ekkehard, bahkan menjadi sahabatnya. Aku tidak bisa membayangkan, jika hanya aku yang selamat dari penculikan wargaku. Amicia adalah orang yang membuatku tenang, dan juga merasa aman. Dia membuatku merasa bahwa aku tidak sendirian, saat aku menginjakkan kakiku di tempat asing. Cewek itu adalah orang yang paling ceria di saat suasana hatinya sedang baik. Dan dia akan menjadi orang yang sangat dingin, bahkan ke arah kejam, jika berhadapan dengan musuhnya. Amicia juga merupakan pencari informasi ulung, karena koneksi dan pengetahuannya yang luas. Terakhir, dia juga memiliki sisi religius yang membuatnya memiliki prinsip yang kuat, dan entah mengapa aku merasa kalau seseorang yang sangat kuat melindungi cewek itu. Orang yang paling bisa kuandalkan dan kupercaya selama perjalanan ini hanya Amicia Ekkehard. Sahabat, keluarga, sekaligus rivalku selama tujuh tahun ini. Jarak antara rumah Daeron, dan tenda kami tidak terlalu jauh. Aku dan Amicia sampai di depan tenda tempat kami beristirahat, dalam waktu kurang dari tiga menit. Di dalam tenda milik pria, Yared sudah tertidur pulas dengan wajah damai. Cowok itu terlihat sangat tenang dalam tidurnya, seolah sekarang adalah pertama kalinya dia tertidur. Mungkin, punggung Anyx tidak senyaman punggung Orion. Atau si serigala besar, tidak mengijinkan seseorang tidur di atasnya. Anyc adalah hewan yang tidak bisa ditebak, jadi aku lebih baik menurunkan rasa penasaranku. Selain itu, Yared dan Normen juga baru bertemu setelah tim kami terbentuk, sehingga mereka akan canggung jika tidur di atas sebuah hewan yang sedang berlari kencang. Berbeda denganku dan Amicia, yang bisa tidur sepuasnya di punggung Orion. Normen Harv juga masih tidak tampak berada di dalam tenda, sesuatu yang membuat rasa curigaku kepada si prajurit tua itu kian bertambah. Terakhir kali aku melihatnya, adalah saat prosesi pembakaran Eleanar. Aku menyangka kalau dia ikut tidur bersama Yared, setelah para elf mulai membubarkan diri. Ternyata, dia kembali menghilang dari desa Tekoa. Tidak jauh dari tenda kami, seekor kuda putih tukang pamer sedang tertidur lelap. Dia juga tampak sangat damai, hingga membuatku penasaran apakah seekor kuda abadi dapat bermimpi. Amicia sudah sampai lebih dulu di kandang Orion, tetapi arah mata cewek itu malah menatap takjub kepada Anyx si serigala hitam tunggangan Normen. Sahabatku itu terlihat sangat tertarik dengan Anyx yang sedang tidur. Sejak awal kami bertemu Anyx, Amicia memang mengindikasikan bahwa dia cukup penasaran dengan si serigala, meskipun dia juga sedikit takut dengan hewan besar itu. "Lass sini!" Amicia berbisik memanggilku, sambil memberi isyarat dengan tangannya, untuk segera menghampirinya. Aku agak malas untuk menghampirinya, namun karena Amicia tidak suka diabaikan, dan aku tidak enak hati jika membangunkan dua hewan ini, maka aku terpaksa mengikuti apa yang diinginkan cewek itu. "Apa?" bisikku dengan memasang muka semasam mungkin. "Jangan bicara terlalu keras, mereka butuh tidur yang cukup." "Lihat serigala ini!" Amicia menunjuk perut Anyx dengan antusias. Dia sangat senang melihat serigala sebesar seekor kuda, yang terlelap itu. Karena tidak ingin membuat Amicia jengkel, maka aku tersenyum setengah hati padanya. Tetapi, setelah aku menatap dengan seksama, aku menyadari sesuatu yang aneh di perut Anyx. Dibalik bulu hitam tebalnya, terdapat sesuatu yang mengkilat. Apakah di perut serigala ini terdapat logam mulia, seperti emas, atau perak? Amicia tidak menyadari logam itu, karena setelah menunjuk perut Anyx yang kembang-kempis, dia beralih takjub pada hidung Anyx. Seluruh tubuh serigala ini, menarik bagi cewek itu, hingga dia melewatkan sesuatu di bawah perut Anyx. Aku sangat penasaran dengan wujud benda dari logam itu, hingga membangkitkan insting mencuriku. Logam mulia adalah incaran utama bagi seorang pencuri. Di sisi lain, aku juga takut membangunkan serigala ini. Jika dia melihatku saat bangun, maka aku pasti akan menjadi santapan makan malamnya. "Aku akan mengambil benda itu suatu saat nanti,"janjiku dalam hati. Logam itu akan menjadi milikku, saat aku dan Anyx mulai akrab, dan dia terbiasa di dekatku. Di saat itulah, aku akan mengambil benda mengkilap itu, dari bawah perutnya. "Hei, kalian sedang apa?" bisik seseorang di sebelahku. "Jangan ganggu dia, karena akhirnya dia bisa tidur dengan nyaman." Aku menoleh, dan ternyata pemilik suara itu adalah Orion. Sahabatku, sang kuda putih sudah bangun dari tidurnya. Dia menggerakkan moncongnya, yang memberi isyarat untuk mengikutinya. Aku menarik Amicia yang masih terpesona dengan sang serigala, untuk mengikuti Orion menjauh dari Anyx, yang damai dalam tidurnnya. "Orion!" seru Amicia setelah dia mengerti alasanku menariknya menjauh. Cewek itu memeluk leher kuda putihku dengan erat, sambil berkata, "Rasanya aku sudah lama tidak bertemu denganmu." "Apa malam ini kita masih tinggal disini?" tanya sang kuda. "Sabar, sebentar lagi klan Daeron akan mulai bergerak," ujar Amicia sambil mengelus Orion dengan lembut. " Tuan Daeron pasti akan menyiapkan perjalanan panjang untuk menyelamatkan warga Rebeliand dan Degeo." TENGG!! Suara lonceng yang dipukul keras mengejutkan kami, tepat setelah Amicia selesai menenangkan keinginan Orion untuk segera berlari lagi di alam bebas. Lonceng besar itu menggema diseluruh Tekoa, sehingga para elf mulai turun satu per satu dari rumah mereka. Banyak dari mereka masih memakai jubah berkabung, yang lainnya sudah berganti menjadi pakaian santai. Meskipun aku memincingkan mataku untuk mencari bel besar yang menggema itu, tetap saja aku tidak dapat menemukannya. Tekoa tidak memiliki lonceng sama sekali. Lalu darimana suara itu? "Klan Daeron!" seru sebuah suara, yang ternyata berasal dari si pemimpin klan, yaitu Daeron sendiri. Di beranda rumah pohonnya, elf itu tampil gagah dengan baju zirahnya. Rambut pirangnya tetap dikuncir kuda, tetapi dari kejauhan pun, aku dapat melihat bahwa sebilah pedang dan busur panah tersampir di punggungnya. "Semua pasukan dibawah komando Briaron dan Eleandil, silahkan mempersiapkan diri!" serunya lantang. "Bawa senjata terbaik kalian, minta restu keluarga kalian, karena kita akan ke Barat untuk menyelamatkan warga Degeo dan menantang Ogrotso, para makhluk menjijikkan," imbuhnya. "Dan juga Iashor, adikku, Ogrotso pertama yang juga adalah pemimpin mereka!" "Selain itu, kita juga akan menyalakan api untuk memberi persembahan yang layak kepada Cyprian yang Agung, pelindung alam liar!" sambungnya. Aku dan Amicia langsung saling bertatapan karena terkejut dengan pengumuman mendadak itu. Kami tidak menyangka kalau Daeron akan bertindak sejauh ini, untuk menyelamatkan ras lain. "Pak tua itu memang memiliki kharisma," gumam seseorang dengan nada malas di belakangku. Dia adalah Yared, si pemuda culun yang tiba-tiba sudah berada di belakang kami, dengan masih mengucek matanya. Pasti dia terbangun karena suara lonceng, dan pengumuman Daeron yang sangat lantang. Anyx yang beberapa saat lalu masih tidur, dan Normen yang tidak kelihatan sejak tadi, juga bergabung bersama kami. Prajurit tua itu tampak lesu dan lelah, seolah dia baru saja kembali dari pekerjaan yang berat, alih-alih beristirahat dengan lelap. Kedatangan Normen, membuat tim yang berangkat dari Donuemont sudah lengkap Aku merasa senang hanya dengan mereka di sisiku. Mereka bukan lagi sekedar teman perjalanan, melainkan sudah kuanggap sebagai sahabatku, setelah kami menghadapi banyak momen bersama, yang mengancam nyawa kami. Sekarang, kekuatan timku bertambah drasti, dengan Daeron, juga para elf terbaiknya bergabung dengan kami. Entah seberapa kuat Iashor maupun Tequr, tetapi aku merasa bahwa pertempuran ini akan kami menangkan. Jika penjelajahan sebelum ini melibatkan puluhan elf, maka sekarang situasinya berbeda. Para elf yang sanggup mengangkat pedang dibawah pimpinan Briaron dan Eleandil, akan ikut dalam perjalanan kami. Tujuannya sederhana, langsung berhadapan dengan Tequr Lolazar, dan para Ogrotso di bawah pengaruhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN