Menyedihkan, namun elegan. Hanya kalimat itu yang muncul di otakku, saat melihat pemakaman khas para elf.
Pemakaman Eleanar tetap berlangsung khidmat, hingga detik terakhir. Jasad adik kandung Eleandil, terus membara hingga menjadi abu, dengan diiringi oleh setiap pribadi yang ada di desa Tekoa.
Meskipun Eleanar bukan seorang elf, namun para penduduk Tekoa tetap memperlakukannya dengan baik, karena dia adalah adik kandung Eleandil, wakil kepala pasukan Briaron.
Api yang terus membara itu, mulai melahap habis kayu bakar dibawahnya, setelah mayat Eleanar sudah menjadi abu sepenuhnya. Ratusan kayu bakar itu juga perlahan mulai habis dilalap api yang terlihat sangat elegan, meskipun hanya dari jauh.
Satu per satu elf yang melayat, mulai kembali ke rumah mereka masing-masing. Beberapa yang masih tetap berdiri di depan api besar itu adalah pasukan di bawah Eleandil, Briaron, dan pemimpin klan, Daeron.
Di sebelahku, Normen, lalu diikuti Yared juga memilih untuk kembali ke kegiatan yang tadinya mereka lakukan. Hanya tersisa sang iblis cewek, sekaligus sahabatku yaitu Amicia, yang masih berada di sebelahku.
"Lebih baik sekarang kita kembali ke tenda," usul Amicia. "Biarkan mereka berduka untuk sejenak, karena Eleandil baru saja kehilangan orang yang dia sayangi, adik kandungnya."
Amicia mengatakan usul itu dengan suara yang masih bergetar. Cewek itu sempat meneteskan air mata, saat Eleandil menyalakan api yang membakar jasad adiknya.
Inilah kedua kalinya aku melihat sahabatku yang tangguh itu menangis, setelah kami menemukan Rebeliand yang kosong. Aku harus mulai membiasakan diri, dengan sisi rapuh Amicia.
Perjanjian rahasia antara aku dengan Amicia di depan desa Tosval, adalah awal dari keterbukaan antar kami. Bukan hanya Amicia, aku juga harus terbuka akan setiap hal, kepada cewek ini. Sekarang, dia adalah satu-satunya yang kumiliki.
"Kita memiliki tenda?" tanyaku untuk memecah keheningan. "Apakah hanya satu tenda untuk kita berempat?"
"Kau gila?" dengus Amicia sambil menggetok kepalaku. "Aku tidak akan menolak jika tidur satu tenda denganmu, tetapi membayangkan tidur bersama Yared dan Normen adalah hal yang menjijikkan."
"Bukannya kau bersahabat dengan Normen?" godaku.
"Bersahabat bukan berarti kita berbagi tenda," jawab Amicia dengan nada yang masih kesal, lalu cewek itu menunjuk sesuatu yang tak jauh dari tempat kami berdiri.
"Itu tenda kita!" pekiknya riang, sambil berjalan santai ke arah yang dia tunjuk.
Tenda itu ternyata adalah kasur sederhana, yang beratapkan kayu dengan dilapisi jerami. Namun, karena para elf yang membuatnya, maka ada aura elegan dan mewah yang terpancar dari tempat istirahat sederhana itu.
Tempat istirahat kami, tidak jauh dari kandang tempat Orion dan Anyx sedang tidur. Aku cukup lega, karena kami tidak berpisah terlalu jauh, dengan dua hewan hebat itu.
Seharusnya, aku langsung merasa lelah karena tenda yang tampak nyaman itu, tetapi yang aku rasakan malah sebaliknya. Perasaan gelisah menghinggapiku, karena aku merasa bahwa satu hari sudah berlalu.
Jika benar, maka enam hari telah berlalu, sejak hilangnya warga desa Rebeliand. Pikiran itu langsung mengenyahkan rasa lelah dan kantuk, yang tadinya ada di otakku. Aku harus segera mencari tahu rencana para elf klan ini, setelah terbukti bahwa Tequr memang berada dibalik semua ini.
"Lass, kau baik-baik saja?" tanya Amicia sambil mengangkat alisnya. "Terlalu banyak yang kau pikirkan, malah akan membuatmu tidak fokus."
"Aku merasa bahwa satu hari telah berlalu," akuku. "Semakin banyak waktu yang terbuang, maka semakin tipis harapan hidup dari keluarga kita."
Mendengarku mengutarakan pikiranku, membuat Amicia menghela napas panjang, sambil melihat ke langit yang tertutupi oleh dedaunan lebat Hutan Hitam.
"Kita butuh bantuan klan ini," desah Amicia. "Namun, salah satu pribadi yang memiliki pengaruh, malah baru saja berduka. Tidak ada pilihan lain, kita tetap harus memberikan mereka waktu untuk berduka."
"Aku mengerti," ujarku. "Aku akan mencoba bertemu dengan salah satu dari elf yang paling berpengaruh disini."
Aku tidak sedang bercanda. Aku memang harus cepat-cepat untuk menanyakan pada Briaron, Daeron, ataupun Eleandil tentang langkah selanjutnya. Meskipun aku akan terkesan tidak menghargai duka Eleandil, tetapi warga desaku butuh cepat diselamatkan.
Tidak seharusnya duka yang dialami Eleandil menghentikan pencarian Tequr dan pasukannya, yang merupakan tersangka utama penculikan. Waktu akan berlalu sia-sia jika dihabiskan untuk berduka karena satu orang.
"Kau tidak sadar kalau kita sudah di depan tenda?" tanya Amicia.
Dia menyadarkanku yang hanyut dalam pemikiranku sendiri. Aku melihat tenda yang tadinya berada cukup jauh, sekarang sudah ada di depanku. Tenda ini semakin membuatku mengerti bahwa tempat istirahat ini merupakan buatan para elf, khusus untuk kami.
Ada dua tenda, dan kedua tenda itu dibuat dari kayu di atapnya. Keduanya beratapkan jerami kering yang cukup untuk membuat tubuh kami tetap hangat di malam hari.
Tenda untuk pria berukuran sangat besar, hingga mungkin bisa menampung enam orang. Sedangkan tenda kecil yang muat untuk dua orang di sebelahnya, akan dipakai oleh Amicia sendirian.
Keduanya terlihat sangat kokoh. Aku belum masuk untuk melihat bagian dalam tenda itu, namun aku sudah berharap bisa memakai tenda itu, jika aku berkunjung kembali ke Tekoa, setelah semua masalah ini selesai.
Dari luar saja, bagian dalam tenda juga tampak sangat nyaman. Para elf meletakkan banyak daun pisang di atas tanah sebagai alas tidur kami. Daun pisang itu pasti terasa sangat nyaman, karena Yared sudah tidur di atasnya.
"Normen dimana?" bisik Amicia dari belakangku. "Hanya si culun itu yang sedang bersantai di dalam tendamu."
Aku juga penasaran akan keberadaan prajurit tua itu, terlebih setelah dia mengatakan hal-hal aneh padaku. Aku sangat yakin kalau dia sedang beristirahat, mungkin di salah satu sudut desa indah ini.
Kemarin aku sudah tidur dua kali, namun hutan Hitam memang sangat menguras staminaku. Hari ini malah sangat melelahkan, tetapi aku bertekad untuk mencari sedikit lagi informasi, di sisa tenagaku.
Amicia mungkin juga berpikiran sama denganku, karena cewek itu juga tidak masuk ke tendanya untuk tidur. Kami berdua adalah warga Rebeliand, kami tidak akan bisa tidur tenangx saat orang-orang yang kami cintai berada dalam bahaya.
"Kira-kira apa mereka sudah boleh diganggu?" gumam Amicia sambil memandang lurus ke pohon tempat rumah Daeron berada.
Aku mengikuti arah yang dipandang Amicia, rumah sang pemimpin klan. Rumah besar itu tampak megah dari bawah sini, dan diam-diam, aku penasaran apakah pemiliknya masih bangun, setelah pemakaman khidmat beberapa saat lalu.
"Kita berkunjung ke rumahnya?" usulku.
Amicia menatapkan sambil tersenyum, lalu dia menjawab dengan antusias, "Oke setuju!"
Kami berdua berjalan kerumah Daeron dengan harapan bahwa sang pemilik akan bersedia menemui kami. Meskipun hanya aku yang awalnya diterima di desa ini, tetapi aku yakin kalau Daeron juga akan menerima Amicia bertamu di rumahnya.
Buktinya, Briaron bahkan mempercayakan salah satu pasukannya dipimpin oleh Normen dan Amicia, yang merupakan tamu di desa ini. Fakta itu membuktikan bahwa klan Daeron juga sudah percaya kepada teman-temanku.
Tidak ada dari kami berdua yang bisa melakukan sihir, jadi untuk sampai ke rumah Daeron maka kami harus memanjat sendiri. Untungnya kami adalah pencuri terhebat di Rebeliand, sehingga kami bisa memanjat dengan cepat.
Sampai di depan pintu Daeron malah membuat kami menjadi gugup. Aku dan Amicia berdebat tanpa suara soal siapa yang harus mengetuk pintu. Bahkan aku sempat berpikir untuk menyerah, dan enunggu sampai si pemilik keluar sendiri.
Briaron, putra Daeron adalah sosok yang menyelamatkan kami. Dia muncul dari bawah dengan wajah terkejut, karena dua manusia yang berada di depan rumahnya.
Tebakanku, dia baru saja mengganti pakaian berkabungnya, menjadi pakaiannya yang biasa. Rambut pirangnya yang lurus pun, sudah terikat sedikit di bagian belakang, dengan membiarkan bagian samping menutupi kedua daun telinganya.
Setelah menghabiskan cukup banyak waktu dengan Eleandil, akhirnya aku mulai dapat membedakan para elf yang tinggal di Tekoa. Contohnya sekarang, perbedaan utama antara Briaron dan Eleandil terletak di proporsi tubuh mereka.
Sang putra Daeron memiliki bahu yang tegap dan tubuh yang ideal. Di sisi lain, Eleandil memiliki tubuh yang lebih berotot, rahang yang lebih tegas, dan tatapan mata yang membuat setiap orang akan menuruti perintahnya.
Jika Eleandil memang terlahir sebagai prajurit garis depan, maka Briaron terlahir sebagai diplomat ulung, yang tidak perlu mengangkat senjata. Keduanya memang ditakdirkan untuk saling melengkapi.
"Halo Tuan Vhirlass, Nona Amicia," Briaron menyapa dengan sopan setelah mengatasi keterkejutannya. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Oh, halo Bri!" sapa Amicia dengan ceria. "Kami butuh bertemu dengan Tuan Daeron, bisakah?"
"Ayah?" tanya Briaron. Elf itu tampak menimbang sejenak, sebelum akhirnya membuka pintu rumahnya, lalu mempersilahkan kami masuk.
"Tuan dan Nona bisa duduk disini sebentar" ujar Briaron sambil menyiapkan dua kursi untuk kami duduki. "Saya akan panggil Tuan Daeron, dan mengatakan kalau ada dua tamu istimewa yang ingin bertemu dengannya."
Briaron meninggalkan kami di ruang tamunya, selagi dia masuk untuk memanggil ayahnya. Semoga dia berhasil membujuk sang pemimpin klan, untuk menemui kami.
"Lass," bisik Amicia lirih. "Apa kau tidak penasaran, mereka menerima kita karena permintaanmu? Bahkan cara mereka memanggilmu Tuan, juga agak sedikit aneh."
Aku juga sempat penasaran soal itu, saat Briaron langsung berlaku baik padaku setelah mendengarku menyebut namaku. Namun, aku tidak berniat untuk mencari tahu lebih lanjut, karena aku takut kalau rasa penasaranku malah membuat para elf marah.
"Aku juga merasakan hal yang sama," balasku dengan berbisik. "Tetapi, kita harus menahan diri, karena kita tetapbutuh bantuan mereka untuk menolong warga desa."
Amicia berpikir sejenak, lalu dia mengangguk mengerti. "Kau benar, lebih baik kita tetap menjadi sekutu mereka. Kemungkinan untuk kita menang melawan Tequr, akan semakin besar, jika ada banyak bantuan di belakang kita."
"Halo Tuan Vhirlass dan Nona Amicia" sebuah suara menyapa kami dengan riang dari bagian dalam rumah.
Suara itu milik Daeron, sang pemimpin klan. Berbeda dengan anaknya yang sudah mengganti pakaian, dia masih memakai jubah berkabungnya. Namun, rambut pirangnya sudah terkuncir kuda seperti biasa.
Aku dan Amicia langsung berdiri untuk memberi hormat pada Daeron. Elf itu tertawa geli melihat kesopanan kami, dan mempersilahkan kami kembali duduk dengan sopan.
"Saya tahu alasan kalian berdua menemui saya," ujar Daeron. "Kita tetap akan melanjutkan pencarian warga desa kalian, dan warga Degeo yang diculik. Karena para mayat temuan tim Eleandil membuktikan, kalau Tequr memang dalang dibalik ini semua."
Aku lega mendengar Daeron memastikan bahwa klannya tetap akan membantu kami mencari warga Rebeliand. Aku juga lega, karena sang pemimpin klan sudah menjadikan Tequr Lolazar sebagai tersangka utama.
"Bagaimana cara anda memastikannya?" tanya Amicia.
"Mayat Eleanar adalah buktinya," ujar Daeron. "Dia adalah setengah elf dan manusia, sehingga dia memiliki akses khusus untuk keluar masuk desa Tekoa."
"Eleanar merupakan prajurit kuat dari Donater, sehingga dia ditugaskan untuk menjaga keamanan tiga kota di dekat Hutan Hitam. Tiga kota itu adalah Amala, Heva, dan Degeo," sambung Daeron.
"Apa Eleanar meninggal di Degeo?" tebak Amicia.
Daeron mengangguk pelan, lalu dia berkata, "Eleanar seharusnya bertugas di Degeo di hari kalian menemukan bahwa penduduk kota itu menghilang."
"Hilangnya seluruh penduduk Degeo, menandakan ada seseorang yang lebih kuat daripada Eleanar, yang berhasil menembus pertahanannya," imbuh Daeron.
"Apakah Tequr sekuat itu?" tanyaku dengan gelisah.
"Tequr tidak akan turun tangan hanya untuk menculik warga," ujar Daeron. "Para Ogrotso sudah cukup untuk ditugaskan menculik, juga menyeleksi calon Ogrotso bagi tuan mereka."
Daeron menundukkan kepalanya kepada kami. "Saya bersyukur, sekaligus berterima kasih, karena Eleanar bisa kalian temukan, sehingga saya tidak perlu melihat anak baik itu berubah menjadi Ogrotso, dan terpaksa melawannya."
"Seseorang masih bisa dikenali saat sudah diubah menjadi Ogrotso?" pekikku.
Daeron mengangguk lemah, untuk mengonfirmasi fakta mengerikan. "Saya menyadarinya, saat pertama kali bertemu dengan seorang Ogrotso."
"Dan dari semua Ogrotso yang kutahu, hanya dialah satu-satunya yang bisa menandingi bahkan melebihi kekuatan Eleanar. Dia adalah Ogrotso pertama yang dibuat oleh Tequr," sambungnya.
"Ogrotso pertama itu, apa dia seorang manusia yang kuat?" tanya Amicia.
Daeron menggelengkan kepalanya dengan tegas. Wajahnya menunjukkan kesedihan mendalam, karena membicarakan Ogrotso pertama yang dibuat Tequr.
"Ogrotso pertama bukan seorang manusia," ujar Daeron setelah menghela napas panjang, dia berkata sangat pelan, "Dia adalah seorang elf, juga adik kandungku, namanya Iashor."