Eleandil memutuskan untuk kembali ke Tekoa dengan membawa semua mayat yang kami temukan. Mayat Eleanar, adik kandungnya, akan dibopong oleh dua elf. Sedangkan mayat yang lain, diikat menjadi satu dan ditarik oleh dua elf.
Selama para elf bersiap untuk membopong Eleanar dengan hati-hati, Eleandil sang kakak, memandangku, lalu memberi isyarat padaku untuk mengikutinya.
Aku mengikutinya dengan perasaan yang campur aduk. Dia baru saja membentakku, hanya untuk menanyakan dimana aku menemukan mayat adiknya.
Sekarang, dia ingin berbicara berdua denganku, di tengah kesibukan yang mengharuskan kami membawa semua temuan mayat ini ke desa Tekoa.
Tanpa sadar, aku meraba pisau kembarku, yang tersembunyi di balik jubahku. Tidak ada salahnya, untuk tetap berjaga-jaga disaat akan berbincang empat mata, dengan seseorang yang sedang dikuasai emosi.
Setelah kami berada di jarak yang cukup jauh dari para elf lain, Eleandil berkata dengan suaranya yang tenang, "Anda harus memberi detail lengkap soal Eleanar kepadaku, nanti di Tekoa."
Nada suara Eleandil memang sangat tenang, tetapi kalimat yang keluar dari mulutnya tidak terdengar seperti permintaan, namun lebih seperti sebuah perintah.
Aku sedikit terintimidasi olehnya, terlebih karena aku yang menemukan, sekaligus membawa mayat saudaranya ke markas. Jika ada sesuatu yang janggal di jasad adiknya, sudah pasti aku yang disalahkan.
Sebuah pelajaran penting baru saja aku dapatkan hari ini, bahwa aku harus melihat segala sesuatunya penting. Perlakuanku yang buruk terhadap mayat Eleanar, adalah kesalahanku sepenuhnya.
Berpikir bahwa bahwa mayat Eleanar adalah mayat biasa, dan menyeretnya tanpa perasaan, bisa menjadi alasan Eleandil mengamuk padaku. Aku berjanji akan meminta maaf padanya, setelah kami tiba di Tekoa.
"Kalau begitu, sekarang kita kembali ke Tekoa, ada banyak hal yang perlu kita bicarakan di sana," ujar Eleandil, sembari berjalan pergi meninggalkanku.
Perjalanan pulang terasa sangat cepat. Cahaya yang bersumber dari api besar desa Tekoa perlahan mulai terlihat, hingga semakin besar. Mitos bahwa perjalanan pulang selalu terasa lebih cepat, memang terbukti benar.
Desa elf Klan Daeron sudah terasa seperti rumah bagiku, sehingga melihat desa itu saja membuatku merasa senang. Alasan utamanya, desa itu memberi udara segar bagiku, alih-alih udara menyesakkan khas hutan Hitam.
Sesampainya di Tekoa, Eleandil langsung memberi perintah kepada para elf bawahannya. Pembawa mayat Eleanar diperintahkan untuk membawa mayatnya ke depan api unggun, untuk segera dilakukan pembakaran.
Para mayat tak dikenal yang diikat jadi satu, dibiarkan tetap diluar desa. Eleandil tidak ingin membuat para warga terganggu dengan bau busuknya, dan melihat pemandangan mengerikan di depan rumahnya.
Apalagi, desa Tekoa juga berisi anak-anak, maupun bayi elf, yang seharusnya tidak perlu melihat wujud mayat mengerikan, yang berasal dari Ogrotso yang gagal.
Selagi para elf mulai mempersiapkan ritual pembakaran, aku dan Yared mulai mengamati sekitar. Meskipun kami tidak saling berbicara, aku yakin dia juga mencari Normen dan Amicia, teman-teman kami.
Tim pimpinan Eleandil, ternyata merupakan tim yang terakhir kembali ke Tekoa. Tim yang dipimpin Briaron, maupun Normen mungkin sudah cukup lama kembali.
Aku menyimpulkan demikian, karena para elf dari dua tim lain sudah menanggalkan baju zirah mereka, dan berganti ke pakaian yang lebih santai. Beberapa elf yang lain, malah menikmati makanan enak yang dimasak oleh keluarga mereka.
Aku mengenali beberapa elf dari tim Briaron, maupun dari tim Normen, meskipun wajah mereka tampak hampir sama. Dari raut wajah mereka, sepertinya tidak ada sesuatu yang penting yang mereka temukan dari pencarian mereka.
Seandainya saja tim kami cepat menyerah dan mengandalkan tim lain, maka sudah pasti penjelajahan hari ini tidak berguna sama sekali, karena hanya tim kami yang pulang dengan membawa sesuatu.
Mungkin Amicia mendengar keributan yang ditimbulkan oleh kedatangan timku, sehingga cewek itu sudah ada di sebelahku, untuk menyambutku.
Dia sudah berganti pakaian dengan baju yang lebih santai. Dengan kulitnya yang juga putih, dan wajah cantiknya, aku hampir saja mengira kalau dia juga salah satu elf yang tinggal disini.
"Akhirnya kau kembali," ujar iblis berwujud wanita itu, sambil tersenyum cerah padaku dan menggamit lenganku dengan gaya sok mesra. "Hanya sehari sejak kau pergi, dan aku sudah sangat merindukanmu."
Entah kenapa, aku tersenyum mendengar Amicia menggodaku. Karena itu adalah bukti kalau dia memang benar-benar Amicia, dan artinya aku sudah kembali bersama teman-temanku.
Di sisi lain, Yared melenggang pergi tanpa suara, karena dia tidak pernah nyaman dengan sikap Amicia yang sok genit padaku, saat penyakitnya mulai kambuh. Satu-satunya orang yang tahan dengan godaan Amicia, memang hanya aku.
Mungkin saja Yared pergi mencari Normen yang sudah seperti sahabatnya, atau sekedar melakukan hal aneh yang adalah kesukaannya, yaitu makan.
"Orion dan Anyx?" tanyaku pada Amicia.
Amicia mengibaskan tangannya. "Kau tidak perlu mengkhawatirkan mereka, dua hewan itu hanya makan dan tidur selama kita pergi."
Aku mengangguk puas mendengar kabar baik itu. Dua tunggangan kami sudah bekerja keras selama beberapa hari terakhir, bahkan Orion selalu berlari di kecepatan tertingginya, agar kami cepat sampai di tujuan.
Kedua hewan itu tidak dapat makan dan tidur dengan cukup, saat mereka bersama kami. Mendengar mereka berdua hanya bersantai, membuatku cukup puas karena akhirnya mereka memiliki waktu yang cukup untuk tidur dan juga makan.
"Tim kalian tidak menemukan apapun?" tanyaku.
Amicia menggeleng, lalu dia menghela napas, "Bagian selatan hutan ini adalah rawa yang berbau sangat busuk, kami mencari sesuatu di sekitar rawa itu selama lima jam penuh."
"Bahkan karena terlalu busuk, tidak ada pohon, apalagi buah satu pun disekitar rawa itu," sambungnya. Amicia menunjuk sesuatu di belakangku, lalu dia bertanya, "Kenapa mereka tiba-tiba mengadakan pemakaman?"
Aku mengikuti arah yang ditunjuk jarinya, dan ternyata menunjuk pada Eleandil, juga para elf yang sedang mempersiapkan kayu bakar untuk pemakaman Eleanar, mayat yang aku temukan di hutan bagian barat.
Dari kejauhan, ketua timku itu terlihat lesu, sedih, juga marah secara bersamaan. Dia bersama para elf yang membantunya bekerja dalam diam, mereka terlihat sama terpukulnya seperti Eleandil.
Para elf mulai mengeluarkan kayu bakar dari lumbung, yang berada di sebelah pohon yang menopang rumah Daeron. Lalu mereka menata kayu-kayu itu dengan posisi berdiri, hingga mampu membaringkan tubuh seseorang.
Setelah kayu bakar sudah ditata dengan rapi, salah satu elf mulai menuangkan cairan dari dalam botil-botol kecil, ke kayu bakar tersebut. Tebakanku, cairan itu adalah minyak yang akan membuat api terbakar sempurna.
Amicia memaksaku untuk menemaninya membantu para elf yang sedang bekerja. Aku yang merasa tidak enak dengan Eleandil, ingin menjauhi pemakaman itu. Tetapi, karena paksaan Amicia, akhirnya aku malah mendekati persiapan pemakaman itu.
Namun, bantuan kami sepertinya tidak dibutuhkan. Para elf bekerja sangat cepat, hingga selesai tepat saat kami tiba di dekat ranjang yang terbuat dari kayu bakar itu. Mereka bekerja sama dengan baik, hingga tidak ada satu pun elf yang menyadari kehadiran kami.
Amicia yang tidak terbiasa diabaikan, akhirnya mulai mengumumkan keberadaannya, dia berdehem, "Halo para elf Klan Daeron, salam dari saya, Amicia Ekkehard."
Para elf yang menoleh serentak kepada Amicia. Tapi cewek gila itu hanya tersenyum lebar kepada setiap mata yang memandangnya. Kadang cewek ini memang bisa menjadi orang yang sangat tidak tahu malu.
"Ada perlu apa Nona Amicia?" tanya Eleandil.
Dia sedang fokus memercikkan minyak ke kayu bakar. Elf itu bahkan tidak mendongak sama sekali saat bertanya kepada Amicia, karena memang Amicia layak diabaikan.
"Maaf, Tuan berbicara pada siapa? Kepada kayu bakar? atau minyak?" tanya Amicia dengan nada ramah yang dibuat-buat.
Balasan Amicia membuatku bersiap akan terjadinya pertarungan debat antara Eleandil, yang akan melawan putri tunggal keluarga Ekkehard, cewek yang tidak pernah suka diabaikan oleh siapa pun.
Dan sesuai dugaanku, yang menang tetap Amicia. Eleandil akhirnya mendongak, lalu memberi senyum padanya. Namun, senyuman wakil Briaron itu tampak sangat dipaksakan. Kesedihannya dapat kurasakan hanya dengan melihat senyum itu.
"Maaf Nona," ujar Eleandil sambil membungkukkan badannya, lalu elf itu beralih padaku dan berkata, "Dan maaf Tuan Vhirlass, karena saya sudah membentak Anda di hutan."
Aku segera membungkuk sedikit padanya untuk segera meredam kecanggungan. "Saya yang harus minta maaf, atas kelancangan saya dalam memperlakukan adik kandung Anda."
Amicia memandangku dan Eleandil bergantian. Dia bingung dengan situasi saling meminta maaf yang terjadi di antara kami berdua. Tapi untungnya kecanggungan itu hanya berlangsung sebentar.
Eleandil yang masih sibuk untuk persiapan pemakaman, membuatku terpaksa menarik sahabatku menjauh, untuk menjelaskan kepadanya, soal apa yang sudah terjadi.
Alasannya, karena aku tidak ingin iblis cewek itu mengganggu Eleandil dan para elf. Selain itu, Amicia tidak hanya benci diabaikan, dia juga tidak suka menjadi satu-satunya orang yang tidak tahu.
"Jadi, saudara Eleandil bukanlah seorang elf?" tanya Amicia dengan berbisik padaku.
Amicia mengajukan pertanyaan yang diluar prediksiku. Aku sudah siap menceritakan soal caraku menemukan Eleanar, dan cewek ini malah membahas tentang perbedaan ras antara dua kakak beradik itu.
Cewek itu menunjuk mayat Eleanar yang sedang dibaringkan di atas kayu bakar. "Lihat, telinganya tidak meruncing ke atas, seperti para elf."
"Eleanar memang bukan elf," sahut Eleandil sambil berjalan menghampiri kami.
Dia memaksakan diri untuk tersenyum pada kami. "Orang tua kami adalah elf dan manusia, jadi kami diberikan kebebasan untuk memilih ras kami."
"Bagaimana caranya untuk memilih?" tanya Amicia keheranan. Lalu cewek itu bergumam cukup keras, "Setahuku, tidak ada seorang pun yang bisa memilih untuk lahir menjadi apa, karena setiap orang tidak bisa memilih orang tua mereka."
"Tidak untuk kami para elf," sergah Eleandil. "Di umur dua belas tahun, kami dipersilahkan untuk memilih, dan ayah kami yang seorang elf akan mendatangi Xenia yang disembah ras elf, untuk mengabarkan apa yang kami pilih."
"Bahkan ras kalian bisa bertemu dengan Xenia?" tanya Amicia takjub. "Pantas saja, ras kalian adalah yang paling luhur di antara semua ras lain."
"Tidak semua orang, aku sendiri belum pernah bertemu dengan seorang Xenia," ujar Eleandil. "Ayahku juga mendapatkan hak istimewa itu, karena dia menikah dengan seorang manusia."
"Elf yang menikah dengan manusia, akan mendapat hak untuk memilih menjadi bagian dari salah satu ras tersebut?" tanya Amicia.
"Kesimpulan Anda hanya benar sebagian," jawab Eleandil sambil tersenyum. "Beberapa elf yang memilih untuk menikahi manusia, malah harus memilih hidup sebagai manusia, atau elf seutuhnya."
"Aku dan Eleanar diperbolehkan memilih, karena kami berdua adalah anak kembar, yang lahir di masa perang," imbuh Eleandil. "Pernikahan kedua orang tuaku juga tidak diketahui oleh Xenia pelindung elf, hingga ayahku tiba-tiba membawa aku dan Eleanar menghadap sang Xenia."
"Berarti Anda pernah melihat Xenia itu?" pekikku.
"Mungkin," ujar Eleandil. "Saat itu aku masih terlalu kecil. Bahkan sampai sekarang, aku masih menyesali pilihanku untuk hidup sebagai elf."
Kalimat yang baru saja keluar dari mulut Eleandil, membuatku cukup terkejut. Aku selalu ingin bertemu dengan elf, bahkan hidup sehari saja sebagai seorang elf, alih-alih sebagai manusia.
Membayangkan kehidupan abadi di tengah hutan, memiliki tubuh yang lincah, kemampuan memanah dengan baik, menguasai sihir hutan, dan paras yang rupawan, membuatku selalu iri dengan para elf yang diceritakan oleh ayahku.
Sekarang, aku berhasil bertemu dengan sebuah klan elf yang tinggal di dalam hutan berbahaya. Meskipun paras mereka tidak sesuai bayanganku, namun mereka memang berlaku seperti elf yang diceritakan ayahku.
Dan dari semua keunggulan yang dimiliki oleh para elf itu, seseorang bernama Eleandil malah menyesali keputusannya saat masih remaja, untuk hidup sebagai elf.
Padahal, sejak Eleandil bercerita bahwa dia dan saudaranya diperbolehkan memilih salah satu ras, aku menganggap pilihan Eleanar adalah sebuah pilihan yang bodoh. Tetapi, sang kakak malah menyesali pilihannya untuk menjadi seorang elf.
Eleandil menatap saudaranya yang tanpa nyawa, sedang terbaring di kayu bakar. "Tetapi, jika aku bisa bertemu dengan Xenia itu, maka aku akan memilih untuk menjadi manusia seperti adikku."
Suara Eleandil yang penuh penyesalan membuatku dan Amicia tidak melanjutkan pertanyaan kami. Elf itu sedang berduka, jadi kami harus memberi waktu untuk sendiri kepadanya.
Kami berpamitan dengan sopan kepada Eleandil, dan menjauh darinya. Lalu perlahan, para elf klan Daeron yang sudah berganti pakaian menjadi jubah putih, mulai berkumpul ke tempat Eleanar dibaringkan.
Para elf mengurai rambutnya, hingga aku sama sekali tidak bisa membedakan satu sama lain. Tetapi, saat aku mulai melihat mereka dengan fokus, aku mulai mengenali Briaron, dan pasukan elf yang ada di timku.
Iring-iringan elf berbaju putih mendekat ke mayat Eleanar perlahan dengan khidmat. Mereka semua bahkan berjalan dengan menunduk, tanpa sedikit pun melihat kearah Eleandil maupun mendiang adiknya.
"Tuan Daeron juga turun," bisik Amicia.
Amicia yang ada di sebelahku, menunjuk seorang elf dengan jubah putih dan rambut terurai di tengah kerumunan para elf. Namun elf yang ditunjuk Amicia, sangat gagah dibanding elf lain. Semua orang pasti tahu kalau dia adalah Tuan Daeron.
Aku mengira para elf akan memberi hormat saat Daeron melewati mereka, dan ernyata tidak. Bukti bahwa pemakaman akan membuat semua elf menjadi setara.
Eleandil menunduk saat Daeron sampai di sebelahnya. Daeron tersenyum dengan di sertai anggukan yang menenangkan, sembari menepuk bahu Eleandil.
Energi positif, dan semangat yang diberi Daeron kepada Eleandil bahkan bisa kurasakan, padahal pemimpin itu hanya membuat gerakan kecil.
Aku melihat mata Eleandil berubah setelah ditenangkan oleh pemimpinnya, Eleandil tampak lebih tegar dari sebelumnya, dan emosi yang tampak dari sorot matanya, juga tampak mulai stabil.
Eleandil membuka baju zirahnya dan menyisakan kaus putih dibaliknya, lalu dia melepas ikat rambutnya, sehingga membuat rambut keemasannya terurai. Dia mengangkat sebuah obor besar, dan menyalakan api di ujung obor itu.
Eleandil menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara berat yang terdengar di sepenjuru Tekoa, "Yang Mulia Sophus, sang Xenia pencabut nyawa, terimalah jiwa Eleanar, prajurit Donater, dan Putra Eleanor... Dan adikku."
Setelah mengatakannya, Eleandil membakar kayu bakar tempat adiknya terbaring damai. Api dengan cepat menyebar, karena kayu bakar sudah dibasahi minyak secara merata. Api itu terus membesar hingga tubuh Eleanar tenggelam di dalamnya.
Bersama dengan api yang melalap habis Eleanar, ada titik air mata yang jatuh dari mata merah Eleandil. Bahkan sang prajurit tangguh pun, akan menangis saat harus melepas kepergian keluarganya.
Para elf yang lain hanya menatap kobaran api itu tanpa suara sedikit pun. Beberapa di antara mereka, terlihat menyeka air mata dari pipi mereka masing-masing.
Malam keduaku di Tekoa akan menjadi ingatan yang tidak pernah aku lupakan.
Kenangan akan sebuah api besar, yang dinyalakan oleh seorang kakak untuk melepas kepergian adiknya, untuk selamanya.