Bab 42 - Tragedi

1818 Kata
Perintah Eleandil, membuat kami semua mendapat target baru di penjelajahan ini. Dan sekarang, kami semua dalam keadaan sangat siap, setelah mengisi energi kami dengan buah-buahan asli milik Hutan Hitam. Padahal, beberapa saat yang lalu, Eleandil melarang kami untuk berpencar di dalam gelapnya hutan ini. Bahkan, dia hampir saja membuat pasukannya kembali ke Tekoa, hanya karena kelaparan. Sekarang, situasinya berbeda jauh dengan beberapa saat lalu. Kami sudah menemukan bukti yang menguatkan, akan adanya komplotan Tequr yang bersembunyi di dalam hutan ini. Bangkai tangan tanpa jari kelingking itu, adalah bukti bahwa ada pemiliknya gagal. memenuhi syarat untuk diubah menjadi Ogrotso, pasukan buatan milik Tequr Lolazar. Menurut Eleandil dan Yared, Ogrotso selalu dibuat secara massal, alih-alih dalam jumlah yang kecil. Karena itu, ada kemungkinan besar kalau akan ditemukan banyak mayat di hutan ini, jika kami mencarinya lebih teliti. Sebelum kami benar-benar berpencar, Eleandil menugaskan seorang elf untuk memperbesar api unggun yang kami buat. Tujuan utamanya adalah untuk menyebarkan api besar itu, ke setiap orang di pasukannya. Sang ketua membagikan obor kecil kepada setiap pribadi, dengan maksud agar dia bisa tetap mengontrol posisi kami. Sekaligus, membuat kami merasa tetap aman, jika melihat ada banyak cahaya yang tersebar di sekitar kami. Semua orang setuju dengan keputusan Eleandil, berpencar memang cara tercepat untuk segera menemukan apa yang kami cari. Namun, keselamatan setiap orang juga tetap menjadi prioritas. "Tetap waspada dengan sekitar, dan selalu pastikan ada minimal dua api kecil di dekat kalian!" perintah Eleandil. "Selain itu, jangan pernah lengah sedikit pun, ingatlah bahwa kita jauh dari perbatasan Tekoa!" "Jika kalian menemukan bangkai yang tidak memiliki jari kelingking seperti tadi, maka langsung panggil orang terdekat, dengan menggerakkan obor yang ada di tangan kalian!" Sambungnya. "Segera berkumpul ke tempat cahaya yang bergoyang, lalu segera pindahkan bangkai yang kalian temukan ke tempat ini," imbuh sang ketua. "Sisanya, bisa pergi mencari mayat lain, atau berjaga di markas." Markas yang dimaksud oleh Eleandil adalah tempat kami membuat api unggun sekarang. Dugaanku itu terbukti, karena sang ketua tim memperbesar nyala api unggun dengan berbagai kayu bakar, yang kami kumpulkan untuk menandai tempat dimana kami berdiri ini sebagai markas. Perintah Eleandil menjadi permulaan pencarian kami. Sekarang, yang dibutuhkan hanyalah kesabaran, dan bola mata yang jeli untuk menemukan mayat yang lain, di tengah hutan gelap yang tidak bersahabat ini. Dengan aba-aba Eleandil, kami semua mulai menyebar ke berbagai arah. Pertama, aku mulai memeriksa sekitarku, dan aku memastikan kalau ada masing-masing satu cahaya di depan, kiri dan kananku. Yared si culun mengambil jalan yang berlawanan denganku, sehingga kami mengambil arah yang saling membelakangi. Aku semakin merasa kalau cowok itu memiliki masalah denganku. Selanjutnya, aku mulai mencari dengan teliti. Di tanah yang ada di depanku, di sekitar pepohonan, di bawah semak-semak, dan di banyak tempat lain. Aku bertekad untuk menemukan mayat yang kami incar lebih dulu daripada orang lain. Saat aku sudah mulai berjalan sendirian, aku menyempatkan diri untuk sesekali menengok tiga cahaya yang ada di dekatku. Beberapa kali, aku juga menoleh ke belakang untuk melihat cahaya dari markas, untuk mengukur seberapa jauh aku berjalan. Selama beberapa saat dalam pencarian, aku merasa kalau ide menemukan mayat lain dengan kondisi jari kelingking yang dipotong dengan rapi, adalah hal yang mustahil. Hutan Hitam adalah sebuah hutan gelap yang melarang matahari menyinarinya, bahkan membuat napas setiap orang menjadi sesak. Sekarang, target yang harus kami cari adalah mayat tanpa jari kelingking. Awalnya, aku merasa ide itu adalah sebuah ide yang cemerlang. Tetapi, setelah aku menjelajah hutan ini sendirian, pencarian mayat di hutan Hitam adalah sebuah lelucon gelap. Berjalan sendirian dengan sebuah obor kecil lebih menyesakkan, ketimbang berjalan bersama satu pasukan. Perasaan bahwa aku sedang diawasi menjadi semakin kuat, dan semakin mengintimidasi. Tetapi aku tidak mau menyerah, karena setiap cahaya yang di sekitarku juga tampak semakin mengecil. Mereka memutuskan untuk terus berjalan menjauhi markas, sehingga aku juga memilih pilihan berbahaya itu. Selama beberapa saat, hutan Hitam seolah sedang dipenuhi kunang-kunang di banyak sisi. Meskipun sebenarnya cahaya itu berasal dari obor di setiap tangan kami. Lalu, cahaya yang berada di depanku, dan di kiriku bergoyang cepat berturut-turut. Tanda bahwa si pemilik cahaya sudah menemukan mayat yang lain sesuai deskripsi Eleandil. Keinginanku untuk menjadi yang pertama menemukan, sudah gagal. Prediksi Eleandil ternyata benar, bahwa akan ada banyak mayat Ogrotso gagal yang lain. Selain itu, temuan dua mayat baru itu, juga membuktikan bahwa Tequr atau komplotannya telah bergerak di hutan ini. Aku semakin lebih giat mencari setelah dua cahaya menghilang dari sisiku. Sekarang tersisa aku dan cahaya di kananku, harga diriku akan semakin hancur kalau aku kalah cepat dari orang itu. Ternyata Ulea menjawab keinginanku, karena tepat didepanku ada kaki yang menjulur keluar dari semak. Aku menggoyangkan oborku dengan bangga, untuk memberi tanda pada yang lain, kalau aku juga menemukan satu mayat. Cahaya obor di kananku mulai mendekat dengan perlahan, dan aku mulai menarik mayat itu keluar dari semak yang membuat dia tersembunyi dengan baik, selagi pemilik obor terdekat, sedang menuju ke arahku. Setelah mayat itu tampak seutuhnya, aku cukup terkejut setelah melihat wujud dari mayat itu. Mayat pertama yang kami temukan hanya sepotong tangan yang tercabik, maka aku menyangka kalau mayat lain juga akan dalam kondisi yang sama. Mayat yang kali ini kutemukan sangat berbeda. Dia masih utuh dari kepala hingga kaki, bahkan wajahnya juga tidak rusak sama sekali. Kulitnya pun masih belum membiru, yang berarti orang ini baru saja dibunuh. Aku segera menyeret mayat ke markas kami, yang sekarang hanya terlihat seperti cahaya kecil dari tempatku berada. Tekad untuk menjadi yang pertama, membawaku berjalan cukup jauh dari markas. Cahaya obor yang di kananku, juga terlihat berhenti di tengah jalan. Sesaat kemudian, dia menggoyangkan obornya dengan semangat. Tanda yang membuatku terpaksa menyeret mayat utuh ini sendirian. Berjalan lebih jauh, juga berarti pulang lebih jauh. Ditambah dengan mayat yang harus kuseret ini, maka energi dari pisang adalah yang menyelamatkanku. Aku berharap timku tidak melupakanku, yang jauh dari mereka. Karena bosan menyeret mayat, aku mulai menghitung dalam hati untuk setiap langkah yang aku ambil. Langkahku yang selanjutnya, sudah sampai di angka lima puluh satu. Hingga akhirnya, aku tiba di markas saat hitunganku berada di angka seratus dua puluh tiga. Sesampainya di markas, aku langsung berbaring di rumput sejenak untuk mengusir kelelahanku. Bahkan para elf yang lain sudah bersantai dengan makan pisang, atau buah lain yang mereka temukan selama menungguku kembali. Aku berpikir kalau aku yang terakhir, ternyata ada dua orang yang belum tampak. Yared si pemuda kunci dan Eleandil, sang ketua tim. Dua orang itu mengambil arah yang berbeda denganku. Aku mulai memandang sekitar ,untuk mencari cahaya kecil yang menandakan keberadaan mereka. Ternyata, keduanya berada di jarak yang tidak terlalu jauh dari markas, dan cahaya yang mereka bawa, sedang bergerak ke arah kami. Mereka dalam perjalanan kembali. Di markas, para mayat dengan berbagai bentuk ditumpuk menjadi satu gundukan besar. Lima orang sudah kembali, dan jumlah mayat juga adalah lima. Artinya satu orang membawa satu mayat. Salah satu mayat memiliki kondisi utuh seperti yang kutemukan, namun mayat lain memiliki kondisi mengenaskan. Ada mayat yang tanpa pinggang, tanpa kepala, juga mayat dengan d**a berlubang. Melihat mayat sebanyak ini dengan jarak yang sangat dekat, adalah pengalaman mengerikan. Selain itu, aku juga harus menahan bau busuk yang menguar di udara, karena sumber bau itu malah disatukan. "Tuan Vhirlass, makanlah ini," ujar seorang elf dengan sopan. Dia menghampirku sambil memberi sebuah pisang matang berwarna keemasan. Aku berterima kasih pada elf itu, dan menyambar pisang menggiurkan itu dari tangannya. Lebih baik menunggu yang lain sembari makan, daripada memandang mayat dan berkutat dengan bau busuk. Setelah tujuh pisang berhasil masuk ke lambungku, Yared dan Eleandil tiba hampir bersamaan. Si pelayan penginapan, menyeret mayat utuh yang dia temukan, sedangkan Eleandil membopong mayat di pundaknya dengan santai. Keduanya meletakkan mayat di tempatnya, yaitu gundukan besar dengan bau teramat busuk. Kembalinya dua orang itu membuatku kembali segar akan penantian panjang, karena putusan akan segera diambil. Yared langsung duduk di sebelahku setelah menghela napas panjang. Si culun ini juga memiliki stamina yang buruk, terlepas dari anugrahnya yang besar. Sedangkan Eleandil mulai memeriksa gundukan mayat yang kami kumpulkan. Ketua tim hanya melihat tangan kanan para mayat, untuk memastikan kalau jari kelingking mereka semua dipotong. Dia terus memeriksa hingga tiba di depan mayat yang kutemukan. Eleandil si elf terdiam sambil menatap mayat utuh itu, lalu dia bertanya dengan suara tercekat, "Si... Siapa yang menemukannya?" Aku beranjak dari tempatku dan menghampirinya. Lalu dia menoleh padaku, yang membuatku sangat terkejut karena Eleandil yang tangguh, telah meneteskan setitik air mata di pipinya. "Tuan... Anda mengenali mayat ini?" tanyaku dengan hati-hati. Ketua tim kami menarik napas panjang beberapa kali untuk menenangkan hatinya. Pertanyaanku yang seharusnya mudah untuk dia jawab, malah berubah menjadi pertanyaan yang teramat sulit baginya. Para elf yang lain segera meninggalkan pisang, atau makanan di depan mereka. Mereka semua mulai bergumam, karena mengira kalau aku dan Eleandil sedang bertengkar. Di tengah hutan Hitam, aku dan Eleandil menjadi tontonan bagi pasukannya. Hanya Yared yang tampak tidak peduli, karena cowok itu malah makan dengan santai di dekat api unggun. Setelah beberapa menit yang terasa lama, Eleandil akhirnya menjawab dengan suara yang cukup pelan, "Orang ini adalah saudara kandungku yang tinggal di Degeo." Napasku sampai tertahan karena aku sangat terkejut dengan jawaban itu. Aku banyak menggerutu selama perjalananku menyeret mayat ini, dari dalam semak tempatku menemukannya, hingga ke markas yang kami buat ini. Aku bahkan menghitung langkahku, dan tidak peduli dengan goresan yang ada di tubuh mayat ini, karena aku menyeretnya dengan acuh. Ternyata mayat ini adalah saudara kandung Eleandil. "Tuan Vhirlass, tolong katakan dimana anda menemukannya?" tanya Eleandil. Kali ini bukan nada ramah yang keluar dari mulutnya, namun nada penuh amarah. Ekspresi wajah sang wakil dari Briaron juga menunjukkan kebengisan yang terpendam dalam dirinya. Aku bahkan dapat merasakan meskipun hanya sesaat, bahwa saat ini Eleandil bisa membunuh seseorang. Ketua tim sudah tidak dapat mengontrol emosinya, setelah melihat tubuh adik kandungnya sudah tak bernyawa. "Tuan, anda tidak boleh gegabah, sekarang kita harus-" "Aku tanya padamu, dimana kau menemukannya!?" bentak Eleandil yang memotong kalimatku. Suara Eleandil yang menggema itu, membuat Yared langsung beranjak dari tempatnya, dan ikut menonton bersama para elf lain. Sorot mata elf yang melihat kami, mulai berubah ke mayat yang sedang ditunjuk oleh Eleandil. Salah satu elf melihat mayat itu, menggumam cukup keras, "Itu... Itu Tuan Eleanar, benar kan?" Nama itu langsung membuat elf lain gelisah, dan ikut melihat mayat yang ada di depanku. Seorang elf bahkan mendekat ke telinga Eleandil sembari membisikkan sesuatu. Raut wajah setiap orang menegang, setelah mereka semua memastikan kalau mayat itu memang benar adalah saudara kandung Eleandil, yang bernama Eleanar. Aku menunggu keputusan Eleandil dengan perasaan was-was. Bukan warga Rebeliand atau Degeo yang kami temukan, apalagi para komplotan Tequr Lolazar. Aku malah menemukan mendiang adik kandung Eleandil, yang mengubah pencarian kami menjadi sebuah tragedi. Eleandil mengangguk mendengar bisikan elf itu, lalu dia mengumukan dengan tegas, "Kita kembali ke Tekoa sekarang. Angkat Eleanar, dan Klan Darron akan menguburkannya dengan layak!" Tidak ada satu pun elf yang menjawab perintah itu dengan kata. Mereka semua hanya bergerak ke sisi mayat Eleanar, dan membopong jasad itu dalam diam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN