Bab 41 - Jari Kelingking

1853 Kata
"Ketua!" seru seorang elf dari kejauhan. "Aku menemukan sesuatu!" Teriakan salah satu elf dari tim kami itu menggema di hutan hitam, saat kami sedang berpesta pisang dengan ukuran besar yang ditemukan oleh Yared beberapa saat lalu. Respon pertama yang kami lakukan adalah menoleh ke sumber suara, untuk memeriksa arah datangnya suara itu. Namun, hutan di sekitar kami terlalu gelap untuk dapat melihat kejauhan. Akhirnya ketua tim kami, Eleandil, langsung buru-buru bergegas ke sumber suara, setelah memasukkan sebuah pisang besar dengan cepat ke mulutnya. Ketua tim meninggalkan kami cukup lama, atau mungkin waktu yang terasa lambat saat dia pergi ke sumber suara. Hal tersebut membuatku dan para elf lain mulai mengkhawatirkan Eleandil. Beberapa elf menawarkan diri untuk mencari Eleandil, dan elf lain yang memanggilnya. Namun, usul itu tidak dapat aku setujui, karena akan sangat berbahaya jika kami berpencar. Pilihan paling aman adalah, menunggu Eleandil kembali. Akhirnya, Eleandil kembali bersama elf yang sudah memanggilnya. Mereka berdua tidak membawa sesuatu, meskipun aku sadar ada sesuatu yang aneh, dari kembalinya mereka ke tempat peristirahatan. Dari tempatku sekarang, aku bisa melihat wajah tegang dua orang yang baru saja kembali itu. Kami yang sedang menikmati pisang asli hutan ini pun, merasa gelisah dengan temuan mereka. Rasa penasaranku yang terlalu besar, akhirnya mengalahkanku. Aku berdiri dari tempatku bersantai, dan berjalan menghampiri Eleandil. Aku sangat penasaran dengan temuan kedua elf itu, hingga wajah mereka berubah menjadi tegang. Eleandil menoleh kepadaku saat aku sudah di sebelahnya, dia menunjuk sesuatu yang tergolek lemas di tanah yang ada di bawahnya, setelah melihatku yang sudah sangat penasaran. Bentuk benda yang ditunjuk oleh Eleandil sudah tidak beraturan, karena mungkin telah dicabik binatang buas. Tetapi aku tahu pasti, kalau benda yang sedang kami lihat adalah tangan seseorang. Tangan itu sekilas hanya seperti seonggok daging tanpa kulit, jika kami melihatnya sambil lalu. Namun, dari struktur tulang, bekas lima jari, dan sebuah sendi pelana, membuktikan bahwa benda itu memang sebuah telapak tangan milik seseorang. Aku memandang ngeri tangan itu, sambil membayangkan apa yang terjadi kepada pemiliknya. Apakah kejadia buruk yang menimpa si pemilik tangan itu disebabkan oleh hewan buas, atau makhluk jahat yang mendiami hutan ini? Untung saja, kami tidak memilih untuk berpencar hanya untuk lebih cepat mendapat makanan. Karena, bisa jadi tangan salah satu dari kami yang tergeletak di tanah, tanpa kulit yang menutupinya. Bangkai tangan ini membuatku semakin mengerti, betapa berbahayanya Hutan Hitam diluar area milik Klan Daeron. Hukum rimba yaitu makan atau dimakan, berlaku untuk semua makhluk hidup disini. Karena rasa penasaranku sudah terpuaskan, maka aku melangkah pergi menjauh dari bangkai itu. Namun, Eleandil dan prajurit elf yang menemukan benda mengerikan itu, tidak beranjak dari tempat mereka. "Jari kelingkingnya...," gumam Eleandil. "Bukankah ini membuktikan sesuatu?" Aku berbalik untuk kembali menghampiri dua elf itu, karena mendengar sang ketua bergumam. Apalagi, gumaman Eleandil membuatku juga memikirkan sesuatu yang cukup membuatku bersemangat, sekaligus ngeri. "Ada apa Tuan Eleandil, Anda tahu identitas mayat ini?" tanyaku memastikan. "Entah...," desahnya dengan raut wajah tidak yakin. "Ketimbang identitasnya, jari kelingkingnya yang putus itu, lebih membuat saya terganggu." Aku langsung menatap bangkai tangan itu, setelah mendengar alasan Eleandil terganggu. Wakil dari Briaron ini, memang memiliki level yang hampir sama dengan putra Daeron itu. Dia sangat cermat dalam melihat sesuatu. Bangkai tangan itu jika dilihat sekilas, maka akan terlihat seperti bekas dicabik hewan buas. Tetapi, saat aku melihat dengan teliti, putusnya jari kelingking mayat itu terlihat janggal. Jika dicabik oleh hewan, maka bekasnya akan terlihat kasar dan tak beraturan. Namun, di tempat yang seharusnya terdapat jari kelingking, malah terlihat sangat rapi. Jari itu seolah dipotong, bukan digigit, atau dicabik hingga putus. Berarti, pemilik tangan ini sudah disiksa oleh seseorang terlebih dahulu, sebelum akhirnya dibiarkan menjadi makanan hewan buas. Seekor binatang tidak mungkin memangsa jari kelingking manusia dengan gigitan yang sangat rapi. "Tuan, apakah kita perlu membawa ini kepada Tuan Briaron?" tanya elf disamping Eleandil. "Mungkin, Tuan Daeron juga akan membantu kita." "Aku tidak yakin apakah temuan ini akan membuktikan sesuatu," jawab Eleandil disertai dengan gelengan kepala. "Membawanya kepada Briaron tanpa dugaan, malah akan memperumit situasi." Selama menjawab usul elf bawahannya itu, kedua mata Eleandil masih terpaku kepada bangkai yang tergeletak di tanah, lalu dia kembali bergumam, "Aku yakin pernah melihat sesuatu yang sama, tetapi aku tidak ingat dimana." "Apakah soal p*********n Ormskirk dua tahun lalu?" gumam Eleandil yang berusaha keras untuk mencari ingatannya tentang mayat dengan karakteristik sama. "Tentang makhluk aneh itu?" tanya sebuah suara di belakang kami. Aku mengenalnya, ini suara Yared. "Dua tahun lalu ada serangan besar oleh makhkuk aneh di daerah Ormskirk, benar kan?" Aku berbalik, dan melihat bahwa Yared beserta elf yang lain sudah berada di belakang kami. Sepertinya mereka juga penasaran akan benda yang membuat ketua tim gusar, hingga tak kunjung kembali. "Anda tahu soal kejadian itu?" tanya Eleandil terkejut. "Padahal, Ormskirk cukup jauh dari Rebeliand." Lagi-lagi, Yared membuktikan bahwa dirinya memiliki pengetahuan yang luas. Di antara timku yang berasal dari Donuemont, sepertinya memang aku yang tidak tahu apa pun. "Hanya sedikit kabar, dan saya bukan berasal dari Rebeliand. Rumah saya ada di Donuemont," ujar Yared. "Aku mendengar cerita soal Ormskirk, dari pemilik tempatku bekerja dahulu." "Pemilik Alestora?" tebakku. Yared hanya melirikku sinis, namun pada akhirnya dia mengangguk. Aku tidak tahu apa kesalahanku padanya akhir-akhir ini, sehingga dia agak sensitif denganku. Dia kembali beralih kepada Eleandil, lalu berkata, "Pemilik penginapan tempatku bekerja, mengatakan bahwa desa Ormskirk dibantai habis, namun sebagian besar mayat tidak memiliki jari kelingking di tangan kanannya." Eleandil menimbang sejenak cerita itu, lalu mendadak dia menunjuk Yared dengan antusias, sambil berseru, "Benar, aku ingat malam itu! Malam saat Ormskirk diserang dengan kejam!" Aku dan para elf yang tidak tahu kejadian itu saling berpandangan dengan canggung. Apa sebenarnya yang sedang dibicarakan Yared dan Eleandil? "Persiapkan diri kalian!" perintah Eleandil. Dia menunjuk bangkai tangan yang tergeletak di tanah, lalu kembali memberi perintah, "Sekarang kita memiliki target, kita semua akan mencari mayat tanpa jari kelingking seperti bangkai tangan itu, mengerti?" "Mengerti!" seru para elf lain dengan sigap. Selagi para elf kembali mempersiapkan diri dengan senjatanya, aku menghampiri Eleandil untuk mencoba mengerti situasi ini. Aku tidak mengerti dengan alasannya mengubah target pencarian. Kami seharusnya mencari Tequr Lolazar, atau Ogrotso yang merupakan tentara buatannya. Lalu, mengapa kami malah mengubah target menjadi mayat tanpa jari kelingking? Ada banyak pertanyaan di pikiranku, tapi aku memilih untuk menanyakan hal yang paling penting kepada Eleandil, "Tuan, apakah mencari mayat dengan kondisi yang sama seperti bangkai itu, lebih penting daripada mencari warga yang hilang?" Eleandil menatapku sejenak, lalu tersenyum lebar."Tuan Vhirlass, justru mayat itu adalah kunci untuk menemukan para makhluk biadab itu, sekaligus mengantarkan kita ke tempat Tequr." Aku sangat terkejut dengan jawaban tak terduga dari Eleandil. Sehingga aku hanya bisa diam, karena tidak dapat meresponi perkataannya. Keterkejutanku membuat Eleandil sedikit meredam semangatnya, dan dia mulai menjelaskan padaku, "Dua tahun lalu, aku berniat menginap di Ormskirk saat dalam perjalanan pulang dari Donadhor." "Namun, saya terlambat. Ternyata Ormskirk sudah terbakar. Para penduduk berhamburan keluar gerbang, sedangkan prajurit Donater berusaha memadamkan api yang sudah sangat besar," sambungnya. "Saya langsung membantu para prajurit untuk memadamkan api, usaha itu berlangsung hingga hampir dua jam sampai api padam," ujar Eleandil sembari menghela nafas. Ingatan itu sepertinya juga mengerikan baginya. Aku membayangkan berada di posisinya, saat seorang elf yang baru dari perjalanan jauh, malah harus membantu warga setempat untuk memadamkan api yang sudah melalap sebuah desa. Harga diri tinggi milik para elf, juga membuat mereka menjadi ras yang selalu turun tangan akan kesusahan orang lain, meskipun bukan dari ras mereka sendiri. Cerita Eleandil yang membantu warga Ormskirk memadamkan api, dan klan Daeron yang membantuku untuk mencari warga desaku yang hilang, adalah bukti bahwa harga diri tinggi para elf, membuat mereka menjadi ras yang paling luhur. Namun, Eleandil masih belum selesai dengan ceritanya, dia kembali melanjutkan, "Setelah api padam, para penduduk mulai masuk kembali ke kota, mereka membangun rumah seadanya dengan dibantu oleh para prajurit." "Malam yang mengerikan itu masih belum selesai, meskipun api sudah padam. Suara teriakan dari segala penjuru Ormskirk disertai ledakan tangisan menyayat hati, adalah bagian kedua dari bencana itu." Kali ini, Eleandil.mengambil napas panjang, untuk melanjutkan cerita mengerikan itu. "Para prajurit menghampiri sumber suara yang tersebar dari berbagai arah. Dan yang mereka temukan, lebih buruk daripada api yang melalap habis kota itu." "Mayat para warga yang gagal menyelamatkan diri, terhampar di jalanan kota itu. Mereka tidak hangus, namun kondisinya lebih seperti tercabik binatang buas," desahnya. "Tercabik binatang buas?" semburku. "Namun, bukankah aneh, jika binatang dapat membuat sebuah desa terbakar habis?" Eleandil mengangguk setuju atas pendapatku. "Aku melihat salah satu mayat itu, kondisi mereka sama dengan bangkai tangan yang kita temukan. Malam itu, semua jari kelingking tangan kanan mayat di Ormskirk dipotong oleh seseorang." Aku mendengarkan tanpa menanggapi sepatah katapun selama Eleandil bercerita. Hatiku bisa merasakan ketakutannya saat itu, sekaligus kengerian yang terjadi pada malam tragedi itu terjadi. "Lalu siapa yang membakar kota dan membunuh warga Ormskirk?" tanya Yared, yang ternyata sejak tadi juga ikut mendengarkan cerita Eleandil. "Pasti bukan binatang, meskipun jejak mayat tampak seperti tercabik." "Tuan Daeron menyelidiki sendiri masalah di Ormskirk, setelah aku memberi laporan kepadanya," jawab Eleandil. "Dia pergi dari Tekoa selama lebih dari seminggu, dan Ketua memimpin desa, selama ayahnya pergi." "Sepulang dari penyelidikan itu, Tuan Daeron mengumpulkan kami semua di lapangan pusat desa, dan mengingatkan kami kalau musuh Adon sudah mulai bergerak," imbuhnya. "Maksudnya Tequr?" tebakku. Eleandil menggelengkan kepalanya, lalu berkata, "Tuan Daeron tidak menyebut nama seseorang, saat berbicara di depanrakyat Tekoa." "Karena itu, aku dan Ketua memaksa menemuinya setelah pidatonya selesai," ujar Eleandil." Dan begitulah, akhirnya aku tahu siapa Tequr Lolazar beserta pasukannya." "Apa yang dikatakan Tuan Daeron?" tanyaku penasaran. "Terutama soal mayat tanpa jari kelingking?" "Tuan Daeron mengatakan kalau jari kelingking yang dipotong adalah tanda bahwa seseorang sedang berusaha diubah menjadi Ogrotso," jawab Eleandil. "Dan jika mereka tidak layak bagi Tequr, maka orang itu akan dibunuh." Aku menyatukan kepingan teka-teki dari cerita panjang Eleandil. Dan sebuah fakta mengerikan terungkap, yang bahkan membuatku terlalu takut untuk bertanya. "Benar Tuan Vhirlass," pungkas Eleandil seolah dapat menebak isi pikiranku, dia berkata, "Mayat itu sudah pasti Ogrotso yang tidak layak, oleh karena itu, kita harus mencari yang lain." "Aku mengerti," ujar Yared. Dia mengangguk yakin. "Seperti kejadian di Ormskirk, orang yang tidak layak bagi Tequr pasti lebih dari satu." "Jika kita menemukan mayat yang lain, maka kita bisa memastikan apakah Tequr adalah tersangka penculikan Rebeliand dan Degeo" sambungnya. "Karena dengan satu bukti saja, kita tidak dapat langsung menyimpulkan bahwa pelakunya adalah Tequr." "Benar," ujar Eleandil yang setuju dengan tebakan Yared. "Saya mengenal semua penduduk Degeo, sedangkan Tuan Vhirlass bisa mengenali warga Rebeliand. Jika ada orang yang kita kenal di antara mayat yang akan kita temukan, maka kita akan menetapkan Tequr sebagai tujuan akhir." Aku membayangkan jika pemilik bangkai tangan itu adalah salah satu wargaku. Meskipun aku belum pernah bertemu dengan Tequr, namun menurut semua cerita yang kudengar, dia adalah penyihir jahat. Eleandil tidak menjelaskan tentang bagaimana seseorang yang akan dijadikan Ogrotso, tidak layak di mata Tequr. Jika soal kemampuan fisik, maka banyak warga Rebeliand yang sudah cukup tua. Situasinya menjadi semakin rumit, setelah tersangka utama bergeser dari tentara Preant, ke Tequr Lolazar si penyihir gila. Kekhawatiranku, sekaligus keinginanku untuk segera menemukan warga desaku menjadi semakin kuat. Aku harus bergegas, karena nyawa warga desaku benar-benar sudah di ujung tanduk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN