Bab 40 - Misi Baru

1749 Kata
Hutan di luar wilayah klan Daeron memang memiliki aura liar seperti yang dikatakan Eleandil sebelumnya. Tanaman, serangga, bahkan rerumputan disini sama sekali tidak terkesan bersahabat. Udara yang aku hirup pun, seolah malah menyesakkan, alih-alih membuatku hidungku menjadi segar. Tubuhku menjadi semakin lelah, di setiap langkah yang aku ambil. Selain itu, ada perasaan aneh yang muncul kembali dalam diriku. Perasaan kalau sedang diawasi oleh sesuatu, atau mungkin seseorang. Perasaan yang muncul ini, seperti saat kami pertama kali masuk ke hutan ini. Namun, saat itu di daerah hutan selatan, yang mengawasi kami adalah para elf klan Daeron. Kami dapat mengetahuinya setelah semua elf itu muncul dari tempat persembunyian mereka masing-masing. Sekarang, situasinya berbeda. Bisa saja, saat ini kami sedang diintai oleh hewan buas, golongan ras jahat, atau yang paling buruk adalah makhluk jahat yang dikatakan Eleandil. Meskipun tidak ada satu pun elf Daeron yang mengatakan, atau mengindikasikan bahwa mereka sedang ketakutan. Dari setiap gerakan tubuh mereka, aku tahu kalau mereka juga cukup takut saat keluar dari perbatasan wilayah mereka. Hasil dari ketakutan itu, barisan kami lebih rapat daripada sebelum kami melewati batas klan Daeron. Barisan tim kami juga berubah posisi, karena aku dan Yared yang menyeruak ke depan. Kali ini aku dan Yared berjalan di depan bersama dengan Eleandil, yang berada di tengah kami. Perubahan posisi ini cukup melegakan bagiku, karena aku tidak lagi menerka apa yang ada di depanku. Semakin jauh kami melangkah, maka jalan setapak sudah semakin menghilang dari tanah di bawah kami. Hal tersebut adalah tanda bahwa jalan yang sudah pernah dilalui oleh para elf, sudah habis. Di depan kami, pepohonan semakin tampak liar. Semak, dan rerumputan juga terasa menyakitkan saat bersentuhan dengan kulitku. Semua makhluk hidup seolah tidak ingin tim kami berada disini. Kami yang ada di barisan depan, bertugas untuk membuat jalan baru untuk barisan elf di belakang kami. Penjelajahan ini membuat kami melewati batas terjauh yang pernah diambil oleh makhluk hidup. Beberapa kali aku harus menyabet ranting yang menutupi jalan, Eleandil juga sesekali mengubah arah kami karena dedaunan atau tanaman rambat yang memblokir jalan. Penjelajahan ini bisa menjadi menguntungkan, karena kami telah membuka rute baru dari Tekoa ke bagian barat Hutan Hitam. Klan Daeron bisa berterima kasih kepada tim kami, karena kami dapat menambah batas terjauh dari hutan Hitam yang mereka kenal. Tekoa juga dapat semakin luas, jika mereka berhasil menaklukkan area baru ini. Tetapi, meskipun kami sudah cukup jauh berjalan dengan membuka rute baru, masih belum ada tanda apa pun dari para penculik maupun warga yang diculik. Hutan liar ini bahkan tidak mengijinkan kami bertemu dengan binatang satu pun. Tidak ada suara serangga kecil, atau hewan malam yanh menandakan ada kehidupan di sekitar kami. Keheningan yang ada di sekitar kami, membuat hutan ini terasa semakin menyesakkan. Banyaknya pohon di sekitar kami, bukan malah membuat udara menjadi segar, tetapi malah sebaliknya. Dadaku semakin sesak setiap menghirup udara hutan ini. Raut wajah Eleandil juga mengindikasikan kalau dia sudah kehilangan harapan. Tim kami yang mengarah ke barat, mungkin tidak akan menemukan satu hal pun. Si pemimpin tim tidak lagi berjalan dengan semangat, dia tampak kuyu karena kelelahan. Aku juga lelah, bahkan aku tidak tahu kami sudah berjalan berapa lama, karena perutku sudah mulai berteriak karena merasa sangat lapar. Aku menyesal saat menolak paha ayam rebus yang ditawarkan Normen padaku, meskipun saat itu aku sungguh tidak berselera makan. Sekarang aku mendapat pelajaran baru, bahwa makan tetap harus menjadi prioritas utama. Fakta lain dari Hutan Hitam adalah, hutan ini dapat membuat makhluk hidup lapar dengan cepat. Padahal, selama perjalanan dari Desa Tosval ke Donuemont, hingga Arnmeny aku tidak makan sama sekali dan aku tidak merasakan lapar yang menyiksa seperti sekarang. Mungkin, sisi Hutan Hitam yang liar ini telah memakan seluruh energi dan stamina yang tersisa dari tubuhku. Hutan ini akan selalu memberi kenangan buruk, setiap kali aku mengingatnya kelak. Sepertinya, para elf yang ada di belakangku juga merasakan hal yang serupa. Mereka tampak gelisah tanpa sebab, tetapi dari raut wajah mereka, terlihat kalau ras elf pun juga bisa merasa lapar. Hanya saja, harga diri mereka yang tinggi membuat mereka tidak mau tampak lebih lemah daripada manusia. Ayahku juga sempat bercerita bahwa ras elf memiliki harga diri yang tinggi. Menurut cerita ayahku, hal itu disebabkan karena mereka adalah ras pertama yang diciptakan Ulea. Elf adalah penemu bahasa, senjata, dan peradaban untuk seluruh dataran Ueter. Meskipun lambat laun, manusia menjadi ras yang paling banyak di Ueter, elf tetap merasa bahwa ras mereka lebih tinggi ketimbang ras lain. Harga diri itulah yang terus mereka jaga, dan turunkan ke setiap anak, maupun cucu mereka. Harga diri elf yang tinggi, juga rasa sungkan di hatiku yang lebih mendominasi, membuat tim kami terus berjalan dengan rasa lapar yang amat sangat. Mungkin satu-satunya yang tidak terlihat lapar adalah Yared, padahal dia memiliki kebiasaan makan dengan porsi besar. Mungkin, pemuda itu makan begitu banyak agar memiliki cadangan makanan di tubunya Meskipun aku tidak melihatnya makan saat di Tekoa, aku sangat yakin kalau anak ini pasti makan sangat banyak, seperti terakhir kali dia makan di Arnmeny. "Apa kalian lapar?" akhirnya Eleandil menanyakan sesuatu yang sudah kami tunggu. Sang ketua tim lama kelamaan tersadar bahwa seluruh pasukannya sedang berjuang melawan kelaparan. Para elf klan Daeron mulai saling berbisik, setelah pertanyaan sensitif baru saja dilontarkan oleh ketua tim mereka. Mereka mungkin akan menungguku, atau Yared mengaku lapar terlebih dahulu. Perutku sudah tidak dapat bertahan, sehingga aku yang sudah kelaparan langsung mengangguk dengan antusias. Bagiku, energi kami harus penuh jika ingin melanjutkan perjalanan di hutan menyesakkan ini. Melihatku mengakui kelaparan, membuat para elf juga ikut mengangguk antusias. Setidaknya mereka tidak perlu menurunkan harga diri, karena aku sudah menyelamatkan harga diri mereka dengan mengakui rasa laparku terlebih dahulu. Eleandil memandang ke sekitar untuk melihat situasi, lalu dia berpikir sejenak tanpa berbicara sedikit pun. Kami yang melihatnya berpiki, juga agak sedikit cemas dengan keputusan yang akan dia ambil. "Kita tidak bisa berpencar disini, baik untuk berburu, maupun sekedar mencari buah," ujar Eleandil. Wajahnya yang serius tidak berubah, lalu dia kembali berkata, "Kita harus kembali ke Tekoa, untuk makan, sekaligus menunggu informasi dari tim lain." Kembali ke Tekoa? Bukan keputusan itu yang aku harapkan. Namun, keputusan yang diambil oleh sang ketua adalah pilihan paling aman untuk kami. Mengambil pilihan berpencar di hutan liar penuh makhluk jahat, dan yang belum terjamah, adalah keputusan buruk. Apalagi, jika keputusan itu diambil hanya untuk mencari makan. Eleandil menghindari sesuatu yang fatal, karena disebabkan alasan konyol. Kami bisa jadi akan mati oleh binatang, atau makhluk lain di hutan ini, jika kami memaksakan diri untuk berpencar. Di sisi lain, kembali ke Tekoa adalah kegiatan yang menyia-nyiakan waktu. Kami sudah berjalan sejauh ini ke barat tanpa menemukan apa pun, dan kami tidak boleh kembali ke desa hanya karena kami kelaparan. Di tengah dilema yang dirasakan setial orang di dalam pasukan kami, sebuah tangan terangkat ke udara, untuk memberikan usul. Pemilik tangan itu, adalah orang yang sejak tadi mengunci rapat mulutnya, yaitu Yared. "Kalau tidak bisa berpencar, maka kita cari makanan bersama-sama," usulnya. "Aku dapat melakukannya dengan metode apa pun, entah dengan berburu, atau hanya memetik buah." "Kalian semua adalah para elf, ras yang memiliki kemampuan memanah terbaik di seluruh Ueter," imbuhnya sambil tersenyum. "Soal buah-buahan, kita dapat memeriksa dengan kulit kita, sebelum memakannya." Usul Yared membuat Eleandil terlihat sedikit kaget. Kemungkinan besar, karena pemuda culun itu mengusulkan sesuatu yang bertolak belakang dengan perintahnya. "Memeriksa dengan kulit kita?" tanyaku penasaran. "Buah yang beracun, akan menyakiti kulit kita," ujar Yared disertai sebuah anggukan. "Jadi, untuk memastikan apakah buah yang kita temukan bisa dimakan atau tidak, makakita harus menggosok daging buah ke kulit kita." Beberapa elf di belakangku juga terlihat takjub dengan metode baru yang dipaparkan Yared. Ternyata, pemuda culun ini juga memiliki beberapa trik, maupun pengetahuan yang luas. Setelah Yared selesai menjelaskan usulnya, aku beralih kepada Eleandil, sang ketua tim. Kelanjutan penjelajahan ini, bergantung kepada keputusan yang akan diambilnya. Tetapi, Eleandil adalah ketua yang bijak. Dia beralih ke aku dan para elf yang lain, untuk meminta pendapat kami. "Bagaimana menurut kalian, kembali ke Tekoa, atau mengikuti usul Yared?" Sebenarnya aku ingin memiliki kesan baik di mata Eleandil, namun usul Yared jauh lebih efektif. Aku hanya butuh makan sesuatu, dan kami tidak perlu menghentikan penjelajahan. Tersangka yang menculik kedua orang tua, dan wargaku harus secepatnya ditemukan, karena waktu semakin cepat berlalu. Terutama di hutan ini, karena aku tidak dapat memastikan, apakah cahaya matahari, atau bulan yang sedang menyinari kami. Berpencar untuk mengumpulkan makanan memang jauh lebih cepat. Namun, melakukannya akan terlalu berbahaya karena kami tidak berada di wilayah Tekoa, maka kami lebih baik mencari makan bersama, sesuai usul Yared. Setelahnya, kami bisa melanjutkan penjelajahan, tanpa perlu melalui jalan yang sama. Sederhananya, kami perlu beristirahat di tempat terdekat, alih-alih kembali ke desa Tekoa. "Usul Yared terdengar lebih baik," kataku dengan hati-hati agar tidak menyinggung Eleandil. "Karena kita sama sekali belum mendapat sesuatu, setidaknya kita harus pulang dengan sedikit informasi." Yared mendengus, karena mendengarku setuju dengan pendapatnya, namun aku bersumpah memergoki pemuda culun itu sedang menahan senyum di wajahnya. Eleandil mengangguk serius. "Kalau begitu, kita berjalan sedikit lebih jauh kearah Barat sembari mencari makanan." Lalu, dia memandang ke arah para elf yang ada di barisan belakang, dan respon mereka adalah mengangguk setuju akan pendapatku. Sekarang, hasil pengambilan suara sudah didapatkan, saatnya Eleandil memberi perintah. "Setelah matahari terbenam, kita melanjutkan penjelajahan dengan mengambil jalur baru," ujarnya tegas. "Kita akan beristirahat tidak jauh dari pos terjauh milik Tekoa." Aku suka dengan ide Eleandil. Rencananya akan membuat kami tidak berhenti mencari informasi sekaligus makanan. Kemungkinan besar, kami juga dapat menemukan sesuatu yang baru saat pulang dengan melewati jalur lain. Para elf lain dan Yared juga setuju dengan ide Eleandil, jadi kami bergegas melanjutkan perjalanan. Pantas saja aku sudah kelaparan, karena kami berangkat sekitar dini hari, dan sekarang matahari sudah hampir terbenam jika mengacu kepada perkataan Eleandil. Belum lagi, makanan terakhirku adalah buah-buahan di hutan bagian selatan siang lalu. Artinya, kalau ditotal, sudah sehari penuh tidak ada makanan yang masuk ke perutku. Kami kembali berjalan menyusuri hutan ini ke arah barat dengan pimpinan Eleandil. Karena hanya dia yang memiliki kemampuan menentukan arah dengan akurat, di tengah hutan yang terlihat sama, di setiap sudutnya. Ternyata peka dengan arah mata angin merupakan kemampuan penting. Aku akan menambah kemampuan menentukan arah di daftar belajarku, tepat setelah aku bisa melakukan sihir. Aku cukup lega karena misi kami bertambah satu, yaitu mencari makan. Meskipun perutku semakin bergejolak dengan penuh amarah, aku menahannya dengan keyakinan penuh kalau kami akan dapat informasi sekaligus makanan. Dengan keyakinan itu, tim pimpinan Eleandil semakin berjalan jauh ke bagian barat Hutan Hitam, dengan perut kosong yang sebentar lagi akan kembali terisi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN