"Mereka akan berperang?" tanya Amicia padaku dengan nada pelan. "Tampaknya, desa ini menjadi sibuk karena kedatangan kita."
Berbeda dengan Amicia yang mengoceh, Normen dan Yared hanya menatap pasukan klan Daeron dengan takjub. Kedua orang itu tampak lebih akrab, dibanding saat pertama kali mereka bertemu.
"Mereka akan menyelamatkan warga Degeo," akhirnya aku membuka suara. "Tuan Daeron memutuskan, bahwa klannya akan ikut membantu mencari warga Degeo yang hilang."
Penjelasanku membuat semua temanku langsung menoleh ke arahku untuk meminta penjelasan lebih lanjut. Satu-satunya pribadi yang tidak peduli dengan informasi dariku adalah Anyx.
Serigala itu sedang menahan kantuk, kala kedua matanya sudah hampir tertutup sepenuhnya. Mungkin, alasannya tetap ada disini adalah karena Normen. Jika tidak ada pria tua itu, maka sudah pasti Anyx lebih memilih untuk tidur.
Selagi kami sedang berbincang dengan rasa penasaran, Briaron mulai membagi para tentara klan Daeron menjadi tiga pasukan. Setidaknya, begitulah kesimpulanku setelah melihat para elf itu berbaris ke belakang, dengan tiga orang berada di depan.
Briaron memberi isyarat kepadaku agar aku beserta teman-temanku mendekat ke para elf itu. Setelah kami sampai di dekat mereka, dia juga mulai membagi timku ke dalam tiga pasukan itu.
Putra Daeron itu memilih memimpin pasukan yang akan bergerak ke arah utara. Tim selanjutnya yang pergi ke sisi selatan, akan dipimpin oleh Normen bersama Amicia.
Sedangkan tim terakhir yang juga berisi aku dan Yared, bergerak ke barat, kami dipimpin oleh elf lain dengan mata yang tidak terlalu merah, dan ternyata elf ini adalah wakil Briaron, yang bernama Eliandil.
Aku agak tidak nyaman dengan pembagian tim yang dilakukan oleh Briaron. Alasan utamanya adalah karena Amicia akan bersama Normen yang tidak bisa ditebak.
Bukan berarti aku tidak percaya Normen hanya karena kejadian di Arnmeny. Pria tua itu adalah sosok yang membuat kami dapat sampai sejauh ini. Dia adalah kunci dari perjalanan ini.
Namun, perubahan kepribadian yang mendadak saat kami akan menjemput para binatang, membuatku sedikit curiga dengan alasannya membantu kami.
Selain itu, kecurigaanku pada Normen semakin bertambah, karena surat dari Holafirdann kepada pria tua itu. Karena aku baru saja mengetahui bahwa si pengirim surat, tidak disukai oleh pemimpin klan ini.
Normen juga mengatakan bahwa temannya, Holafirdann adalah seorang elf. Kemungkinannya kecil, kalau dia tidak mengetahui bahwa temannya tidak diterima oleh klan Daeron.
Semua kecurigaanku pada Normen memang kupendam amat dalam di hatiku, tetapi bukan berarti aku akan melupakannya. Aku juga tetap harus waspada kepada si kepala prajurit itu.
Dan sekarang, orang yang paling aku curigai, malah berada di pasukan yang sama dengan Amicia. Meskipun cewek iblis itu mengakui Normen sebagai temannya, bukan berarti dia harus lengah saat berada di sekitar pria tua itu.
Amicia harus tahu dan sadar, bahwa orang yang dapat dia percaya penuh hanyalah aku, dan satu kuda, yaitu Orion. Semoga cewek itu baik-baik saja setelah menyelesaikan misi penjelajahan ini.
Situasi yang sama juga terjadi padaku. Aku tidak nyaman dengan pembagian yang dilakukan Briaron, karena aku tidak terlalu dekat dengan rekan timku.
Meskipun sudah bepergian bersama Yared selama tiga hari terakhir, namun kami belum pernah berbincang berdua. Masih ada kecanggungan besar di antara kami berdua.
Di saat sedang istirahat pun, paling tidak Amicia selalu bersamaku saat aku sedang berbicara dengan Yared. Dan setelah aku mengingat, aku dan Yared memang tidak pernah berbincang berdua.
Bahkan dalam pembagian tunggangan pun, aku selalu bersama Amicia, dan Normen selalu bersama Yared menaiki Anyx. Aku dan Yared juga saling melirik canggung saat Briaron menetapkan kami berdua menjadi satu tim.
Orion dan Anyx tidak ikut menjelajah bersama kami, aku cukup lega karena dua teman kami itu bisa cukup beristirahat di Tekoa yang nyaman. Mereka berdua terlihat menyukai rumput desa ini.
Sebelum kami mulai menjelajah, aku sempat melihat sekilas kalau Orion sudah tidur, dan Anyx mengunyah seember penuh daging ayam yang diberikan warga Tekoa dengan penuh semangat. Serigala itu akhirnya mendapat makanan yang layak.
Eliandil, yang merupakan ketua timku mengatakan, kalau sekarang sudah fajar di luar Hutan Hitam. Berarti, sudah lima hari sejak warga Rebeliand diculik.
Kami wajib mendapat informasi soal rute penculikan, dari penjelajahan kali ini. Waktu berjalan sangat cepat, dan penculik warga kami, tidak menunggu agar tawanan mereka segera diselamatkan.
Tim kami beranggotakan enam orang elf klan Daeron bersenjata penuh, lalu termasuk aku, Eleandil, dan Yared maka kami berjumlah delapan orang.
Sebelum ketiga tim berpisah, aku meminjamkan pedang pengubah wujud ke Amicia, karena dia dan Normen bisa memaksimalkan kemampuan pedang itu. Sedangkan aku merasa cukup dengan dua pisau kembar kesayanganku.
Yared hanya berbekal pisau pemberian Amicia, meskipun para elf sudah menawarkan pedang ukuran biasa kepadanya. Pemuda itu terlihat sangat yakin dengan anugrahnya ditambah kemampuan sihirnya, yang aku yakini masih belum semua dia tunjukkan.
Jika aku menjadi Yared, mungkin aku juga melakukan hal yang sama. Apalagi yang aku perlukan, jika setiap orang akan mematuhi perintahku di saat mereka mengancam nyawaku.
Aku tidak tahu sebesar apa hutan ini, tetapi sebelum kami berangkat, Briaron berpesan agar kami cukup menjelajah sampai batas terjauh Klan Daeron. Karena aku tidak tahu jalan, jadi aku cukup mengikuti Eliandil memimpin.
Para elf Klan Daeron adalah rekan yang sangat bisa diandalkan. Mereka akan berbicara hanya di saat penting, untuk mengingatkan ada lubang di depan, tebing di kiri, jalan yang menanjak atau menurun, bahkan pohon berduri.
Aku dan Yared yang berada di barisan paling belakang, merasa sangat aman karena mereka. Para elf ini membuka jalan kami dengan sangat baik, karena mereka sudah tahu setiap jengkal tanah hutan ini.
Hutan Hitam bagian barat yang tim kami jelajahi, memiliki jenis tanaman yang berbeda dengan hutan dekat Tekoa, maupun hutan bagian utara Degeo.
Hutan disini, diisi dengan pepohonan dengan daun yang tidak terlalu lebat, sehingga cahaya matahari dari luar pun sanggup menyeruak masuk meskipun hanya beberapa titik kecil.
Melihat titik-titik cahaya matahari, membuatku merasa bahwa aku masih berada di Adon. Semalaman berada di Hutan Hitam, membuatku berpikir bahwa aku sedang berada di tempat yang sangat jauh dari rumah.
Apalagi, aku sudah hampir sehari penuh tinggal di hutan Hitam, sehingga membuat mataku mulai terbiasa melihat dalam gelap. Semoga mataku tidak berubah menjadi merah, seperti para elf ini.
Kami hanya memakai obor kecil yang dipinjamkan oleh warga Tekoa, untuk penerangan dalam penjelajahan kami. Jika beberapa hari lagi aku tinggal disini, maka aku pasti dapat melihat dalam gelap dengan sempurna
Selain tanaman yang tidak selebat hutan bagian selatan, hutan bagian barat pun juga memiliki cukup banyak pohon berbuah lebat, dan buahnya dapat dimakan.
Kami berjalan melewati pohon persik, apel, delima, bahkan buah beri. Mungkin hutan sisi barat adalah tempat yang paling layak dihuni, dari seluruh bagian hutan suram ini.
Kami terus berjalan dalam diam, dengan sesekali mendengar peringatan dari barisan depan. Aku tidak bosan dengan situasi ini, karena jika aku bersama Amicia, maka sudah pasti kami akan mengobrol lebih banyak dan tidak fokus dengan jalan didepan kami. Aku bersyukur karena Yared tidak secerewet Amicia.
Tiba-tiba langkah berat para elf di depan kami berubah menjadi langkah hati-hati yang bahkan tidak bersuara. Aku dan Yared saling bertatapan sejenak, lalu langsung mengikuti tindakan elf yang tepat di depan kami.
"Ada apa?" bisik Yared.
Aku tidak yakin dia berbicara denganku atau dengan para elf di depan, jadi aku tidak menjawabnya. Lalu anak itu kembali berbisik, kali ini disertai dengan lambaian tangan di depan wajahku. "Oi, ada apa?"
Kali ini aku yakin kalau Yared berbicara padaku, jadi aku bersedia menjawabnya meskipun ragu, "Sepertinya mereka melihat sesuatu, atau orang di depan."
Yared mengenali keraguan di jawabanku, jadi dia menyeruak ke depan barisan dengan lembut. Enam elf yang berbaris di depan kami tidak berbaris dengan rapat, cukup untuk Yared (dan aku) untuk bisa sampai di ujung barisan terdepan.
"Apa yang terjadi?" tanya Yared kepada Eleandil, ketua tim kami.
Eleandil agak terkejut karena aku dan Yared yang tiba-tiba ada di kedua sisinya, untungnya dia tetap menjawab pertanyaan Yared, "Hutan didepan ini adalah batas wilayah klan kami, jadi kita tidak boleh menimbulkan banyak suara sejak dari sini."
"Kita akan melewati batas klan?" tanyaku heran. "Bukannya Briaron sudah memberi peringatan agar tidak keluar dari batas klan Daeron?"
"Tuan Briaron maupun Tuan Normen pasti juga akan melakukannya," jawab Eleandil tenang. "Tequr tidak akan seceroboh itu membiarkan pasukannya berkemah di wilayah klan kami, jadi kita juga harus ambil resiko."
Aku tidak tahu dengan karakter Briaron, tetpi untuk tim yang dipimpin Normen, aku sangat yakin kalau mereka juga akan melewati batas desa Tekoa, sesuai prediksi Eleandil.
Menurutku, alasan Eleandil juga cukup masuk akal. Tequr adalah salah satu dari enam penyihir agung, sehingga dia tidak akan melakukan hal bodoh, seperti membiarkan pasukannya berkemah di dalam wilayah klan Daeron.
Karena itu, aku dan Yared setuju untuk masuk ke hutan yang bukan wilayah klan Daeron. Sejak warga Rebeliand diculik, aku sudah memilih pilihan dengan resiko yang tinggi. Jadi, jika melewati batas klan adalah pilihan beresiko, maka aku tetap harus mengambilnya.
Kekagumanku dengan ras elf, khususnya klan Daeron semakin bertambah. Mereka bahkan bisa mengenali batas desanya, tanpa tanda apa pun. Cerita ayahku bahwa ras paling pintar adalah elf selalu aku anggap sebagai dongeng, dan kini aku harus menyetujui ayahku.
"Ternyata rumah pohon itu, benar kan?" tanya Yared mendadak.
Aku dan Eleandil menatap Yared dengan perasaan bingung. Yared memang bisa tiba-tiba mengatakan hal acak, namun kenapa dia tiba-tiba membahas soal rumah pohon?
Meskipun aku agak kesal dengan Yared, tetapi aku juga tidak bisa mengendalikan rasa penasaranku, yang membuatku mulai mendongak untuk mencari rumah pohon yang dimaksud Yared.
Ternyata Yared tidak sedang bermimpi, rumah pohon yang dia maksud sedang bertengger tepat diatas kami. Aku langsung menatap Eleandil meminta penjelasan.
"Oh, itu adalah salah satu pos penjaga desa kami," kata Eleandil dengan wajah datar. "Karena itu, setelah kita melewati pos itu, maka kita sudah tidak lagi di wilayah Tekoa."
Kalau saja Yared tidak membahas soal rumah pohon itu, maka sudah pasti aku akan malu setengah mati karena sudah memuji kemampuan klan Daeron dalam menentukan batas desa mereka.
"Hutan diluar wilayah kami adalah hutan liar yang sesungguhnya," Eleandil mengumumkan dengan wajah serius.
Lalu, elf itu melanjutkan pengumumannya, "Ada banyak makhluk jahat yang berkeliaran bebas, jadi mulai sekarang persiapkan diri kalian untuk angkat senjata."
"Bunuh siapa pun yang ada di depan, dan menghadang jalan kita," imbuhnya. "Makhluk yang tinggal di hutan ini selain para elf klan Daeron, bukan makhluk yang bersahabat."
Eleandil yang adalah elf klan Daeron, mengatakan bahwa hutan Hitam di luar batas Tekoa, adalah hutan yang liar. Bahka, dia juga memperbolehkan kami, untuk membunuh siapa pun yang ada di jalan kami.
Artinya, sejak aku dan teman-temanku masuk hutan ini dari bagian utara Degeo, kami masih berada di dalam wilayah klan Daeron. Aku salah sangka kalau sebelumnya, kami sudah menghadapi bahaya sebenarnya dari hutan ini.
Sekarang adalah saatnya kami masuk ke dalam hutan Hitam yang sesungguhnya. Aku harus kuat, karena semua ini hanya untuk menyelamatkan kedua orang tuaku, dan para warga Rebeliand.
Dan begitulah, pidato pesimis Eleandil mengantar kami memasuki Hutan Hitam yang sesungguhnya.