Aku meninggalkan rumah Daeron dengan perasaan gelisah. Aku mengutuk diriku sendiri yang terlalu bodoh, karena membuka mulut secara sembarangan saat tidak diminta.
Bagaimana jika bantuan klan Daeron untuk kami dibatalkan, karena hubungan buruk pemimpin mereka dengan Holafirdann, yang merupakan teman Normen yang tinggal di hutan ini?
Seharusnya aku langsung turun dari rumah ini, saat Daeron mengakhiri percakapan. Sebaliknya, aku malah mengatakan hal bodoh yang membuat suasana menjadi canggung.
"Dasar bodoh!" batinku.
Saat ini, aku memang harus mengutuk diriku sendiri. Aku masih ingat wajah Daeron yang memaksakan tersenyum, setelah mendengar kami datang ke Degeo karena perkataan Holafirdann.
Dengan rasa bersalah dan penyesalan, aku mulai menuruni tangga rumah pohon ini, sesuai instruksi dari Briaron. Putra Daeron itu meninggalkanku di depan rumahnya, dan tidak menyihir lantai kayu untuk membawaku turun.
Alasannya sederhana, karena dia berusaha untuk menenangkan ayahnya, setelah mendengar nama Holafirdann disebut. Lagi-lagi, awal permasalahan dimulai dari rasa penasaranku.
Menuruni rumah pohon ini dengan tangga membuatku kembali sadar, kalau aku tadi berada sangat jauh di atas tanah. Cukup tinggi untuk membuat nyawaku melayang seketika, saat jatuh dari ketinggian itu.
Beruntung bagiku, karena aku adalah seorang pencuri yang terbiasa memanjat atap rumah atau bangunan tinggi. Jadi, aku bisa memanjat menuruni tangga ini dengan cepat, tanpa kesulitan yang berarti.
Saat kedua kakiku akhirnya menjejak tanah, ada perasaan lega dalam diriku. Hari ini aku belajar sesuatu, bahwa menginjak tanah adalah hal yang patut disyukuri.
Padahal, aku berada di kediaman Daeron tidak lebih dari satu jam. Namun, aku sudah rindu dengan tanah, dan merasa bahwa sudah terlalu lama di atas sana. Hal-hal kecil memang adalah yang paling harus disyukuri.
Dari pohon besar tempat rumah Briaron berada, aku berjalan menyusuri desa Tekoa. Hutan Hitam bagian dalam, selalu seperti malam hari, sehingga desa ini terus tampak indah.
Aku mulai mengamati sekitar untuk mencari keberadaan teman-temanku. Lahan luas yang tadinya sepi saat kedatanganku, sekarang berubah menjadi ramai dengan puluhan elf klan Daeron yang memenuhinya.
Elf dari berbagai golongan umur sedang menikmati malam hari (mungkin) di Hutan Hitam yang mencekam ini. Entah sudah berapa lama, mereka tidak melihat cahaya matahari pagi.
Anak-anak kecil bermain dengan teman seusianya, para orang tua saling bercengkrama dengan akrab, prajurit dengan pisau besar sedang berbagi lelucon dengan rekan kerjanya. Desa ini sekarang terasa sangat hidup.
Ditengah hiruk pikuk itu, aku mendengar suara yang kukenali memanggilku, "Lass, sayang!"
Panggilan menjijikkan yang hanya akan keluar dari mulut Amicia Ekkehard. Dari kejauhan, aku melihat cewek itu melambaikan tangannya ke arahku sambil tersenyum lebar.
Meskipun aku sedikit malu dengan panggilannya, tetapi aku juga tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanku. Aku tidak pernah sebahagia ini mendengar Amicia memanggilku dengan sebutan mengerikan itu.
Karena sebutan yang kubenci itu hanya akan muncul dari mulut Amicia Ekkehard, artinya aku sudah menemukan teman-temanku. Menemukan mereka, membuatku merasa kembali ke tempatku yang semestinya.
Mereka semua sedang duduk bersama di sudut lahan luas ini. Penduduk Tekoa mungkin memberi mereka dua bangku panjang, dan sebuah meja panjang yang besar.
Aku senang, karena teman-temanku diterima dengan baik. Meskipun di awal, Briaron dan pasukannya tidak mau teman-temanku ikut denganku.
Di sebelah meja panjang itu, Orion dan Anyx sedang merumput tidak jauh dari mereka duduk. Dua binatang hebat yang membawa kami sejauh ini, akhirnya dapat makan dengan damai.
Fakta baru yang aku dapatkan hari ini adalah serigala milik Normen, juga dapat makan rerumputan. Padahal, serigala adalah hewan buas pemakan daging. Mungkin, Normen sudah melatihnya untuk memakan berbagai jenis bahan makanan.
Setelah aku sudah cukup dekat dengan mereka, ternyata warga setempat juga memberi mereka jamuan dimeja. Ternyata mereka bersenang-senang tanpaku, dengan makanan lezat buatan para elf yang menemani mereka.
"Makanannya enak?" sindirku.
Yared hanya melirikku sekilas, lalu kembali fokus untuk makan apel di tangannya. Berkelana bersamanya, perlahan membuatku terbiasa diabaikan oleh pelayan Alestora ini. Begitulah Yared, yang penting dia berguna di saat keadaan tidak baik untuk kami.
Berbeda dengan si pemuda kunci sok cuek, Normen langsung memberi sebuah paha ayam rebus kepadaku, yang dengan cepat langsung kutolak.
Aku sedang tidak berselera makan, setelah mendengar dugaan Daeron soal tersangka yang menculik wargaku. Karena itu, aku langsung menyeruak ke samping Amicia dan mulai menceritakan kepada mereka, tanpa menunggu mereka selesai makan.
Normen dan Amicia mendengarkanku dengan seksama, wajah mereka semakin serius saat aku mulai menyebut Tequr dan pasukan buatannya. Bahkan Yared yang berlagak tidak peduli, sudah mulai berhenti makan.
Akhirnya ceritaku berakhir, lalu aku bertanya, "Apakah ada yang kalian ketahui soal Tequr Lolazar?"
Aku sedikit berharap, bahwa Normen akan menjelaskan sedikit mengenai Tequr. Tetapi, yang terjadi adalah semua orang di meja ini diam.
Bukan hanya Normen, Amicia maupun Yared juga tidak terlihat mengetahui sesuatu tentang Tequr Lolazar. Padahal, Daeron mengatakan bahwa Tequr adalah penyihir hebat di pulau ini.
Seharusnya, si kepala pengawal Raja Donater mengetahui sedikit informasi mengenai Tequr. Bisa jadi, Tequr juga sedang mengincar Donater sekarang ini.
"Kalau tidak ada yang tahu, berarti aku tanya saja ke Orion?" tanyaku, setelah memastikan tidak ada yang tahu soal Tequr.
Amicia beranjak berdiri dari tempatnya, lalu menggandeng tanganku, sambil berkata genit, "Aku ikut denganmu, boleh?".
Kegenitan Amicia membuat mata Normen langsung membelalak kaget, dan juga memaksa Yared untuk kembali fokus dengan makanan yang ada di depannya.
Ini pertama kalinya Amicia berlaku mesra denganku, di depan yang lain. Biasanya, cewek ini hanya berani menggodaku di depan Orion. Sekarang, suasana menjadi canggung karena tindakan Amicia yang terlalu berlebihan.
"Kami akan membantu Briaron untuk bersiap menjelajah hutan ini," putus Normen, sambil menarik Yared, yang akhirnya terpaksa menemani Normen dengan wajah kesal.
"Sejak kapan mereka sedekat itu?" gerutu Amicia.
Aku mengabaikan gerutuannya, lalu berjalan ke tempat Orion sedang merumput. Dia mengomel karena kedekatan Yared dan Normen, namun melupakan fakta bahwa suasana baru saja menjadi canggung karena tingkahnya.
Orion masih merumput dengan damai, dengan Anyx yang sudah tertidur pulas di sebelahnya. Hanya kuda inilah harapan kami, untuk bisa mendapat sedikit informasi soal Tequr Lolazar.
Amicia menghampiriku setelah tahu kalau aku tidak menanggapinya. Dia mendorongku dari belakang dengan kesal. "Lass!" serunya. "Sudah berapa kali kau mengabaikanku?"
Aku tidak menghentikan langkah kakiku, karena jika aku berhenti, maka ocehannya tidak akan berhenti. Lalu tiba-tiba Amicia mencium pipi kiriku, hingga membuatku menoleh ke arahnya dengan perasaan jengkel.
"Kau tidak bisa sembarangan menciumku!" ujarku sebal.
"Jadi begini caranya agar aku bisa bicara denganmu?" balah Amicia. Cewek iblis itu malah menyeringai lebar, seolah baru saja memenangkan sesuatu.
Aku memandang lekat kepada iblis gila itu dengan penuh amarah. Tapi senyum lebarnya tetap tidak menghilang dari wajahnya. Alhasil aku yang mengalah, jadi aku kembali berjalan menghampiri Orion.
"Lass, bukan hanya kau yang takut, aku juga takut," ujar Amicia dari belakangku. Ada nada sedih yang tidak pernah kudengar dari mulut cewek itu sebelumnya.
Aku tidak merespon pengakuan Amicia, karena aku tahu kalau dia adalah cewek tangguh, yang akan kuat untuk mengatasi masalahnya.
Kata-kata semangat atau motivasi tidak akan mengubah apa pun, terus bergerak adalah satu-satunya hal yang bisa kami lakukan. Aku mengenal Amicia, dan dia adalah orang yang butuh bergerak untuk menyelesaikan sesuatu.
Orion tidak menyadari, saat aku dan Amicia sudah sampai di sampingnya. Kuda ini sangat fokus untuk mencari dan mengunyah rumput terbaik, yang tumbuh di desa Tekoa. Aku bersyukur karena Orion makan dengan senang, meskipun dia hanya makan rumput.
"Sudah kenyang?" tanyaku.
Sahabatku itu terkejut karena kami sudah berada di sampingnya, dan dia tidak merasakan apa pun, karena terlalu fokus dengan rumput melimpah di desa ini.
"Kalian sejak tadi disini?" ujarnya, sambil masih berusaha mengunyah rumput di dalam mulutnya.
"Kami baru saja sampai," jawab Amicia, lalu dia melontarkan pertanyaan yang akan kami tanyakan, tanpa basa-basi, "Orion, apa kau tahu siapa itu Tequr Lolazar?"
Orion tidak siap karena diberi pertanyaan mendadak. Kuda putih itu menengadah ke langit beberapa kali, sembari kedua kaki depannya menghentak tanah dengan gelisah.
Sepertinya, dia pernah mendengar nama itu, tapi tidak ingat dimana dia mendengarnya. Atau, nama itu membuat kenangan buruk kembali muncul di ingatannya.
"Aku merasa tahu nama itu," ujar Orion setelah beberapa menit yang hening. "Kalau tidak salah, dia adalah salah satu dari enam penyihir agung."
"Enam penyihir agung?" ulangku, karena otakku masih belum siap mendapat informasi penting yang lain.
"Itu adalah gelar yang diberikan oleh para pemimpin ras manusia, elf, dan kurcaci kepada enam orang penyihir yang membantu mereka di perang Ueter delapan ratus tahun lalu," jelas Orion.
Mata Amicia membelalak kaget. "Mereka masih hidup selama delapan ratus tahun?"
"Tentu saja, sihir yang mereka miliki sekuat itu, hingga dapat membuat tubuh mereka menjadi hampir abadi," balas Orion.
"Kenapa seorang penyihir agung malah menjadi dalang penculikan besar?" sergahku, untuk segera mengetahui fakta dibalik hilangnya warga desaku, dan Degeo.
"Dalang penculikan?" tanya Orion terkejut. Matanya membelalak karena pertanyaan yang baru saja aku lontarkan.
Aku dan Amicia menceritakan kembali tentang pengalamanku berbincang dengan Daeron, juga kecurigaannya kepada Tequr Lolazar karena barang perak dan ternak yang hilang. Dan terakhir, soal kemungkinan warga Rebeliand yang bisa diubah menjadi monster.
"Pantas saja mereka bersedia menolong kita," ujar Orion menyimpulkan. "Seingatku, desa ini dan Degeo memang memiliki sejarah persahabatan yang panjang. Kita beruntung, karena tujuan utama mereka dengan kita menjadi sama, karena warga dua desa itu kemungkinan diculik oleh orang yang sama."
"Tapi kekuatan Tequr sepertinya cukup berbahaya," gumam Amicia.
"Tequr bukan cukup berbahaya, tapi dia sangat berbahaya," ujar Orion mengoreksi. "Tetapi, Klan Daeron juga sangat kuat, kita hanya perlu berharap kalau Tequr tidak turun tangan."
Harapan Orion memang terdengar cukup mustahil, tapi harapan tetaplah harapan. Musuh di depan kami kemungkinan besar merupakan penyihir agung gila, yang menculik orang demi membuat sebuah pasukan.
Jadi, kami hanya berharap agar dia tidak turun tangan, saat kami menyerang pasukannya yang menculik warga Rebeliand maupun Degeo.
Dari perkataan Orion saja, aku sudah dapat menyimpulkan, bahwa ikutnya Tequr di tengah pertempuran akan membuat kesenjangan kekuatan yang besar.
Lupakan soal kekuatan sihir Normen yang hebat, atau anugerah Yared yang sangat membantu. Bahkan, Tequr Lolazar mungkin bisa mengalahkan Knox si pemenggal dengan mudah.
Gelar sebagai enam penyihir agung, tidak mungkin dia dapatkan tanpa sebab. Kekuatannya pasti diatas makhluk biasa, dan diluar akal sehat ras mana pun.
"Yared melambai ke arah kalian," ujar Orion, yang membuat pembicaraan kami terpaksa harus berhenti.
Aku dan Amicia mengikuti arah mata si kuda putih, yang melihat sesuatu di belakang kami. Dan yang terjadi di belakang kami, adalah sebuah mukjizar kecil, yang mungkin akan membuat misi kami memiliki setitik harapan.
Kami bertiga, mau tidak mau tersenyum lega melihat apa yang terjadi di belakang kami. Yared berdiri berdampingan dengan Normen, ditambah Briaron, dan seluruh prajurit klan Daeron berbaris di belakang mereka.
Dua puluh elf bersenjata lengkap sedang dalam persiapan untuk menjelajah Hutan Hitam. Misi penyelamatan, sebentar lagi mungkin akan dimulai.