Bab 37 - Pemimpin Klan Daeron

1820 Kata
Karena aku sibuk berbicara dengan Briaron, maka aku tidak sadar kalau kami sudah sampai tepat di bagian bawah rumah pohon paling besar disini. Dan begitulah tiba-tiba kami diangkat naik. Aku bukan terbang karena sihir, tetapi lantai kayu di bawah kami yang terus bergerak naik dengan kecepatan yang cukup tinggi. Kediaman elf klan Daeron memang sangat menakjubkan. Kami naik dengan sangat cepat, meskipun pohon ini cukup tinggi. Aku penasaran dengan cara Klan Daeron mengangkat orang secepat ini, jika jawabannya adalah sihir, maka aku harus belajar sihir secepatnya. "Briaron, bagaimana caranya untuk bisa naik secepat ini?" tanyaku penasaran. Dia tampak kebingungan dengan pertanyaanku, lalu dia berkata, "Naik, maksudnya ke kediaman ayahku? Kami hanya memakai sihir hutan sederhana." "Kalian menyihir lantai ini agar naik saat ada yang di atasnya?" tebakku. Briaron menggelengkan kepala sambil tersenyum geli, dan menjawab, "Tentu tidak, aku menyihir lantai kayu ini saat kita berdua sudah di atasnya. Warga Daeron cukup memanjat jika ingin naik ke pohon." Ah, ternyata itu yang dimaksud sihir sederhana. Dia takut aku tidak bisa memanjat dengannya kecepatan yang sama, karena itu dia menyihir lantai kayu ini untuk membuat kami naik dengan cepat. Aku mengamati sekitarku, dan aku semakin yakin kalau rumah pohon ini memang yang paling besar diantara lainnya, ditambah fakta bahwa rumah ini dibangun di pohon yang paling tinggi dan besar, semakin menambah kemegahan rumah ini. Dengan cepat, kami sudah sampai di puncak teratas pohon besar ini. Di depanku, sekali lagi terdapat pemandangan yang menakjubkan, kediaman ayah Briaron. Rumah ayah Briaron memiliki luas sekitar dua kali lebih besar daripada rumahku. Aku penasaran apakah kayu yang dipakai untuk membangun rumah ini juga merupakan hasil sihir, karena kayu ini tidak pernah kutemui dimanapun. Selain bahan dasarnya yang istimewa, rumah ini juga memiliki dekorasi mewah. Tanaman anggur merambat disetiap celah kayu yang ada, tiga kursi kecil didepan rumah, dan jajaran lentera kecil yang menjadi penerangan bagian depan rumah. Bangunan ini sangat indah, untuk hanya sekadar menjadi bangunan tersembunyi di dalam hutan yang sangat mencekam seperti Hutan Hitam. Seharusnya, bangunan ini ada di luar sana, sehingga akan ada banyak orang yang takjub. Aku belum selesai mengagumi keindahan bagian luar rumah ini, tapi Briaron sudah membuka pintu rumahnya, dan mempersilahkanku masuk. Dan sekali lagi, aku kembali terkagum dengan rumah keluarga Briaron. Ruangan pertama yang menyambutku adalah sebuah ruangan luas, yang memakan hampir setengah luas rumah ini. Ruangan ini dipenuhi banyak benda, tapi tidak terkesan sesak sama sekali. Kursi kayu panjang, meja kecil untuk menjamu tamu yang datang, dan lemari berisi buku dengan huruf-huruf yang tak dapat aku baca, semuanya tertata rapi di ruangan ini. Bahkan, para elf ini memiliki selera yang bagus dalam menata bagian dalam rumah. Penataan ruangan ini sangat mengagumkan bagiku. Di bagian dekat pintu masuk, terdapat empat kursi yang saling berhadapan, dengan sebuah meja di tengahnya. Lalu, di bagian tengah ruangan, ditempatkan sebuah rak besar yang menyimpan banyak gulungan, juga buku. Rak tersebut sekaligus menjadi pembatas ruangan utama rumah ini. Briaron mempersilahkanku duduk di salah satu kursi, lalu dia bergegas ke ruangan di belakang rak. Sepertinya, ayah Briaron tinggal di ruangan sebelah. Aku mencoba mengintip bagian belakang rak itu, terdapat meja panjang dengan tinggi sepinggang dengan berbagai alat makan, maupun alat masak diatasnya. Ternyata, ruangan di belakang rak ini adalah dapur. Selama beberapa saat yang terasa panjang, aku menunggu Briaron dengan perasaan cemas. Aku khawatir mungkin ayahnya malah memberi keputusan yang akan merugikanku dan teman-temanku. Dan karena kami sudah masuk ke kediaman mereka, maka kami harus menerima keputusan itu. Di kursi nyaman ini, aku berusaha menenangkan pikiranku. Akhirnya, kecemasanku terjawab setelah Briaron muncul dari belakang rak dengan senyum puas dari wajahnya, saat mata kami bertemu, dia sedikit mengangguk kepadaku. Menyusul dibelakangnya, adalah seorang elf dengan wajah yang sangat mirip dengan Briaron namun dengan tubuh yang lebih kekar, mata merah yang tajam, dan di wajahnya terdapat keriput disana sini. Satu lagi perbedaannya dengan Briaron adalah rambut pirang panjangnya diikat dengan model kuncir kuda, yang menampakkan dua telinga lancip khas ras elf. Sedangkan Briaron hanya mengikat sedikit bagian belakangnya, dan membiarkan bagian samping terurai, hingga menutup daun telinga khas elf milik mereka. Ayah Briaron memiliki aura tipikal seorang pemimpin. Kharisma milik guruku, Master Ekkehard, kebijakan Normen, dan aura kuat milik Raja Hartash, semua hal itu ada di dalam diri elf ini, bahkan lebih hebat lagi. Tubuhku bereaksi secara otomatis dengan berdiri dari kursiku, lalu menunduk untuk memberi hormat. Ayah Briaron mendekat kepadaku yang masih dalam posisi menunduk, dia hanya menepuk bahuku dengan tenang, lalu duduk di kursi yang ada di depanku. "Silahkan duduk Tuan Vhirlass Udhokh" katanya tenang, sambil tersenyum kepadaku. Bahkan, suara orang ini seolah ditakdirkan untuk menjadi seorang pemimpin. Suaranya dalam, dan tenang, tidak berat maupun melengking tapi penuh kharisma. Wibawa dan kharismanya membuatku masih memberi hormat kepadanya, sebelum aku duduk di kursi. "Maaf menganggu anda Tuan," ujarku ragu-ragu. "Pada dasarnya, Briaron yang menggangguku, bukan Anda," ujarnya. "Dan saya juga tidak merasa terganggu oleh kedatangan Anda." Dia melirik anaknya yang berdiri di dekat kami. Mereka berdua saling melempar senyum ramah, seolah sedang bergurau. Hubungan Briaron dan ayahnya, membuatku tiba-tiba merindukan ayahku. Meja makan keluarga Udhokh adalah yang paling kurindukan, selagi aku dan Amicia sedang mencari, juga mencoba menyelamatkan warga Rebeliand yang diculik. Di meja makan itu, adalah tempat untukku dan kedua orang tuaku melempar candaan, seperti Briaron dan ayahnya. Pagi hariku selalu sempurna, setelah berbincang singkat dengan dua orang yang paling mengasihiku. Selagi aku memikirkan kedua orang tuaku, ayah Briaron kembali beralih kepadaku, lalu menyambutku dengan ramah, "Selamat datang di desa Tekoa kediaman Klan Daeron. Perkenalkan, saya adalah Daeron, pemimpin klan ini." Jadi orang ini adalah Daeron yang merupakan pendiri, sekaligus pemimpin klan ini. Padahal aku mengira kalau Daeron yang diceritakan Briaron sudah meninggal, ternyata tadi Briaron sedang menceritakan ayahnya sendiri. Aku bertanya-tanya dalam pikiranku, apakah Daeron sudah hidup ribuan tahun? Karena jika benar begitu, maka umur Briaron bisa jadi sekitar lima ratus tahun, meskipun wajahnya tidak menunjukkan umurnya sudah begitu banyak. Ayahku pernah bercerita bahwa elf adalah makhluk abadi, yang artinya mereka tidak akan meninggal. Namun, ayahku juga mengatakan kalau elf dapat meninggal, jika dibunuh. Singkatnya, jika kau terlahir sebagai elf, maka kau hanya perlu hidup tersembunyi. Dengan begitu, kau bisa hidup selamanya, dan menjaga keluargamu untuk seterusnya. Pertanyaan soal umur kedua elf ini sudah tepat berada di ujung bibirku, sehingga aku harus menahan rasa penasaranku yang kelewat besar. Bisa jadi, mereka malah tidak berkenan menolongku, karena aku mengutarakan pertanyaan bodoh. "Bagaimana perjalanan anda kesini?" tanya Daeron memecah keheningan, lalu mendadak wajahnya berubah serius. "Ah, sebaiknya saya tidak basa-basi, karena ada masalah genting yang harus secepatnya ditangani." "Silahkan Tuan Vhirlass Udhokh untuk menceritakan keadaan Degeo," ujar Daeron. Aku agak terkejut mendengar permintaan mendadak itu. Tetapi Daeron benar, tidak ada waktu untuk basa-basi, kami harus bertindak cepat sebelum segalanya terlambat. "Rumah-rumah dalam keadaan rapi, bahkan Degeo terlihat biasa saja dari luar gerbang," jelasku memulai ceritaku. "Kami harus masuk ke setiap rumah di kota itu, untuk memastikan bahwa seluruh penduduk benar-benar hilang." Briaron mengangguk muram beberapa kali, sembari mendengar cerita lengkapku tentang apa yang kutemukan di kota Degeo. Pemimpin klan Daeron ini terlihat cemas, namun dia tidak gegabah. Dia tetap tenang saat mendengar ceritaku, hingga aku selesai. "Barang-barang dari perak dan ternak juga hilang," gumam Daeron mengulangi ceritaku. "Lalu, apakah di desa Anda, Rebeliand, juga terjadi hal yang sama?" "Aku dan temanku terlalu kalut untuk memeriksa barang-barang berbahan perak," jawabku. "Namun, para ternak di Rebeliand memang menghilang, selayaknya di Degeo." Briaron memandang ke arah anaknya yang berdiri di dekat kami. Mereka bertatapan dalam diam selama beberapa saat, hingga akhirnya Briaron keluar dari rumah, setelah mengangguk kepada ayahnya. "Aku tidak bisa memastikan siapa penculiknya, ini hanya dugaan sementara bagiku," Daeron kembali berbicara padaku. "Kemungkinan besar penculik warga desa Anda, dan warga Degeo adalah tentara buatan seorang penyihir bernama Tequr Lolazar." Penyihir yang dapat membuat tentara? Sebenarnya, siapa lawan kami? Mengapa penyihir bernama aneh itu menginginkan warga Rebeliand dan Degeo sebagai tentaranya? Banyak pertanyaan yang muncul di otakku, namun akhirnya aku membuka mulutku, untuk melontarkan pertanyaan, "Tentara buatan, bagaimana seseorang bisa membuat tentara?" Wajah Daeron mengeras mendengar pertanyaanku, ada amarah yang kurasakan dari tatapannya, saat dia menyebut nama barusan. Apalagi, saat aku kembali menanyakan soal tentara buatan si penyihir. "Tequr Lolazar adalah seorang penyihir hebat yang dimiliki pulau Adon," ujar Daeron, dia bercerita dengan nada berat, sudah jelas bahwa dia sangat membenci cerita ini. "Dia sangat hebat, bahkan di kalangan para elf yang diberkahi sihir hutan," lanjutnya. "Hingga akhirnya, dia berubah menjadi serakah, karena menginginkan untuk menguasai pulau ini sendirian." Aku mulai memproses cerita Daeron soal penyihir gila bernama Tequr Lolazar itu, karena semua informasi ini begitu penting bagi keselamatan warga desaku. Jika aku mengetahui siapa musuhku, maka aku dapat menyusun strategi untuk mengalahkannya. "Tequr membuat tentaranya sendiri dengan menculik orang-orang dari banyak kota, maupun desa kecil," ujar Daeron melanjutkan cerita soal Tequr, selagi aku masih memproses cerita sebelumnya. "Lalu, dia mengubah mereka menjadi makhluk baru yang hanya akan mengikuti perintahnya. Makhluk buatan Tequr, kami menyebut mereka Ogrotso," desah si pemimpin klan Daeron. "Mereka tidak memiliki perasaan, dan mereka jauh lebih kuat daripada orc tanah Kegelapan." Aku memproses informasi baru itu dalam otakku secara perlahan. Hingga akhirnya aku sadar, kalau nasib warga desaku bisa berakhir tragis kalau kami terlambat menyelamatkan mereka. Wargaku dan penduduk Degeo bisa berubah menjadi monster tanpa perasaan, seperti Dreyfus. "Tetapi ini hanya dugaan sementara," ujarnya berusaha menenangkanku, namun wajah Daeron terlihat serius dan cemas. "Saya akan mengirim tentara terbaik Klan Daeron untuk menjelajahi Hutan Hitam dan mencari jejak para penculik." Daeron mengakhiri ceritanya, dengan beranjak berdiri dari kursinya. Dia memberi salam perpisahan padaku, lalu memberi isyarat kepada anaknya untuk mengantarku keluar. Aku sudah berada di depan pintu untuk bergegas turun dari rumah pohon ini. Tiba-tiba, aku mengingat hal penting yang belum kuceritakan pada Daeron. "Tuan Daeron," kataku ragu-ragu. Daeron yang sudah hampir menghilang ke belakang rak buku pembatas ruangan, kembali berbalik kepadaku. Dia mengangkat kedua alisnya agar aku segera mengatakan keperluanku. "Kami sebenarnya ke Degeo karena menerima surat dari Holafirdann, apakah Anda mengenal beliau?" tanyaku. Kedua mata merah Daeron membesar saat mendengar nama Holafirdann disebut. Untungnya, dia berhasil mengendalikan ekspresinya lagi, dengan memaksa untuk tersenyum padaku. "Saya mengenalnya," jawabnya singkat, lalu dia segera menambahkan, "Bahkan terlalu mengenalnya hingga cukup muak dengan kelakuannya." Aku ingin bertanya lebih lanjut kepadanya, namun rasa penasaranku langsung ditekan oleh Briaron. Sang anak mendorongku secara halus agar segera berpamitan kepada sang empunya rumah, dan segera keluar. Amicia sering melakukan gerakan itu padaku, disaat rasa penasaranku muncul di tempat yang tidak seharusnya. Karena itu, aku sangat paham akan arti dari dorongan lembut Briaron. Saat kami sudah sampai di luar rumah, Briaron berbisik kepadaku, "Soal Tuan Dann, jangan menyebut namanya di depan ayahku. Mereka berdua sedang bertengkar kecil." "Kau mengenal Holafirdann?" tanyaku. Briaron mengangguk pelan. "Besok, aku akan menjelaskan kepada Anda, namun aku tidak bisa mengantar Anda ke bawah dengan sihir hutan." "Jadi, aku harus memanjat turun?" gerutuku. "Anggap saja sebagai upah atas rasa penasaran Tuan Lass yang berlebihan," ledek Briaron, lalu dia berpamitan dengan sopan kepadaku, sebelum akhirnya masuk ke dalam rumahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN