Bab 36 - Kediaman Briaron

1610 Kata
"Kau pengikut Cyprian?" tanyaku, karena tidak bisa menahan diri setelah nama itu disebut. Si pemimpin ras pucat mendekat kepadaku, lalu berbisik lirih, "Aku sedang berbicara dengan siapa?" Aku menoleh kepada teman-temanku, dan mereka semua balas memandangku dengan tatapan heran. Aku sendiri juga tidak yakin dengan tindakanku, tetapi perasaanku mengatakan kalau mereka bukan ras yang kejam atau jahat. "Namaku Vhirlass Udhokh," kataku memperkenalkan diri. "Kami semua datang ke Hutan Hitam karena sedang mencari warga desaku yang diculik." Pemimpin makhluk pucat itu menelengkan kepalanya sambil melihatku dari atas hingga bawah, dia tampak sedang menimbang perkataanku dengan teliti. "Kau sungguh Vhirlass Udhokh?" tanyanya untuk memastikan. "Kenapa dia bertanya soal namaku?" batinku. Aku melihat raut wajah makhluk pucat yang lain, juga sedikit gusar saat aku mengatakan namaku. Apakah namaku semenakutkan itu? Padahal, aku tidak merasa ada hal yang istimewa dari namaku. "Saya memang Vhirlass Udhokh, memangnya kenapa?" tanyaku. Tiba-tiba semua makhluk pucat yang mengacungkan senjata kepada kami, langsung meletakkan senjata mereka ke tanah dan berlutut kepadaku. Aku terkejut dengan pemandangan yang ada di depanku. Sekitar dua puluh manusia berwajah pucat, sedang berlutut memberi penghormatan kelada pencuri dari Rebeliand. Ada apa ini? Kenapa mereka tiba-tiba berlutut menghadapku, padahal aku tidak tahu mereka itu siapa, atau apa? "Kenapa kalian tiba-tiba berlutut?" ujarku tidak nyaman dengan penghormatan yang bukan tempatnya. Si pemimpin ras muka pucat akhirnya berdiri, lalu diikuti para rasnya yang lain. Dia berkata, "Maaf atas ketidaksopanan kami, saya adalah Briaron putra Daeron, ijinkan kami mengantar Tuan Vhirlass Udhokh ke kediaman kami, sembari menjamu dengan layak." "Kalian baru saja mengacungkan senjata kepada kami, dan sekarang tiba-tiba bersikap sopan lalu berniat menjamu kami?" gerutu Yared. Briaron si pemimpin kelompok ras pucat, tidak menanggapi gerutuan Yared, dia tidak melepaskan pandangnya dariku, lalu kembali berkata, "Apakah Tuan Vhirlass Udhokh bersedia?" Aku sudah sering dipanggil Tuan atau Master kala bepergiam ke kota lain, karena memang dua panggilan itu adalah kata yang dipakai untuk memanggil dengan sopan. Tetapi, saat Briaron memanggilku 'Tuan' terasa ada yang aneh, dia memanggilku seperti itu bukan sekedar menghormatiku, atau untuk bersikap sopan. Caranya memanggilku, membuatku berpikir kalau dia seperti memujaku. "Sebentar Briaron," selaku. Aku memutuskan untuk menegaskan hal yang penting kepadanya, "Sekarang, kami tidak berniat untuk makan, aku sudah berkata kepadamu kalau kami masuk ke hutan ini untuk mencari wargaku yang diculik." "Warga anda?" tanya Briaron heran. "Saya berasal dari desa di selatan bernama Rebeliand, dan empat hari lalu seluruh warga kami diculik," jelasku. "Selain itu, warga kota Degeo yang dekat dari sini, juga menghilang tanpa jejak." "Warga Degeo juga?" Briaron terkejut. Dia memberi isyarat kepada seluruh rasnya, dan orang-orang pucat itu langsung berbaris rapi di belakangnya. Mereka seolah sedang bersial untuk sesuatu. "Degeo adalah sekutu kami, dan seminggu lalu pemimpin mereka masih datang ke kediaman kami. Maka sekarang, saya harus melaporkan hal ini kepada ayahku," tegas Briaron padaku. "Jika anda bersedia untuk ikut dengan kami, maka saya bisa jamin kalau Klan Daeron akan menjadi sekutu untuk menyelamatkan warga desa anda, maupun kota Degeo yang hilang," sambungnya. Sebuah klan yang terlihat kuat ini menjanjikan bantuan kepada kami? Aku memandang teman-temanku, dan mereka mengangguk pelan hampir bersamaan, agar aku menyetujui ide Briaron. "Baiklah, bawa kami semua ke kediamanmu," jawabku. "Kami semua?" tanya Briaron kebingungan. "Saya hanya menawarkan bantuan klan Daeron kepada Anda." "Mereka adalah sahabat saya, jadi saya tidak akan pergi kalau mereka tidak ikut," ujarku tegas. Briaron kembali diam untuk menimbang hal tidak terduga ini, bahkan dia sampai berbalik untuk berdiskusi dengan ras pucat yang lain. Beberapa anggotanya terlihat tidak setuju, tapi sebagian besar mengangguk setuju dengan permintaanku. Briaron berbalik menghadap kami, lalu mengumumkan, "Kalian semua akan diterima, dengan satu syarat, hanya Vhirlass Udhokh yang boleh bertemu ayahku." Aku tersenyum lega, setidaknya aku tidak akan berpisah dengan teman-teman yang membantuku beberapa hari ini. Lagipula, syarat yang diberikan Briaron tidak terlalu berat untukku. "Baiklah aku setuju," ujarku. Briaron dan anggotanya memimpin jalan kami, karena negosiasi yang sudah mencapai kata sepakat. Aku kembali bergabung dengan teman-temanku, dan kami berjalan di belakang para ras pucat. "Kau keturunan dewa?" tanya Amicia ketus. Aku tersenyum jahil kepadanya, sudah lama aku tidak menggodanya, "Mungkin, jadi sebaiknya kau mulai menyembahku, atau kau harus merasakan kutukanku." Cewek itu melirikku tajam dengan tatapan haus darah, padahal godaanku tidak menyentuh hal yang sensitif sama sekali. Anehnya, cewek itu terlihat sangat marah dengan celetukanku. "Kau tidak boleh menjadi dewa," katanya singkat, lalu Amicia hanya memandang lurus ke depan, tanpa memperdulikanku. Aku beralih kepada Normen dan Yared karena mereka masih berjalan dalam diam, "Kalian baik-baik saja?" Yared hanya mengangguk pelan, sedangkan Normen membalas dengan senyum yang tampak letih. Kenapa mereka berdua tampak menyedihkan? "Abaikan mereka Lass, mereka butuh waktu sendiri," ujar Orion, dia memberi isyarat padaku agar mendekatkan telingaku ke moncong besarnya. "Mereka telah dipermalukan para muka pucat itu, tapi kau malah mengalahkan mereka tanpa pertempuran," bisik Orion. "Harga diri mereka rusak, namun mereka juga diselamatkan olehmu." Aku memandang Normen dan Yared kembali, tapi keduanya malah semakin menunduk. Jika saja kami tidak berada didalam Hutan Hitam, maka sudah pasti aku akan tertawa terbahak-bahak karena sikap mereka berdua. Aku tidak menyangka kalau harga diri dua orang ini baru saja hancur, karena aku menyelamatkan mereka. Ternyata dua orang ini memang terlalu terbawa dengan perasaan. Kami terus masuk jauh kedalam hutan selagi mengikuti Briaron dan pasukannya. Bagian dalam Hutan Hitam sangat sesuai dengan namanya, kegelapan semakin pekat saat kaki kami melangkah jauh di dalam hutan ini. Obor yang aku dan Normen bawa seolah semakin redup, karena dimakan oleh gelap. Aku penasaran bagaimana Briaron dan kaumnya bisa hidup di tempat segelap ini, bahkan mereka bisa melihat dalam gelap tanpa dibantu cahaya sama sekali. Apakah itu alasannya mata mereka menjadi merah? Karena mereka selalu melihat dalam gelap, sehingga bola mata mereka berubah warna? Jika benar seperti itu, maka mungkin mata kami akan kemerahan saat keluar dari hutan ini. Kami terus berjalan dalam diam. Hanya suara tubuh kami yang bergesekan dengan daun, atau ranting yang menggema di hutan ini. Aku bahkan sempat menengadah ke langit, berharap bisa mengetahui apakah malam sudah tiba. Dan langit memang tersembunyi dengan baik dari dalam Hutan Hitam, atau malah langit sengaja menyembunyikan dirinya. Intinya, semakin jauh kami memasuki hutan ini, maka cahaya matahari, atau bulan juga semakin menghilang. Entah berapa lama kami sudah berjalan, hingga perlahan pohon-pohon berdaun lebat yang kami temui, mulai berubah menjadi pepohonan indah yang sarat kehidupan. Aku melihat setitik cahaya tidak jauh dari tempat kami berada. Saat akhirnya kami tiba di sumber cahaya itu, ternyata sebuah lahan luas terbentang di tengah hutan lebat ini. Lahan ini merupakan pusat dari jajaran rumah pohon yang tergantung rapi mengitari lahan luas di tengah hutan ini. Di tengah lahan luas itu, terdapat sebuah api besar yang merupakan sumber cahaya utama bagi ras muka pucat. Dari kejauhan pun, aku dapat memperkirakan bahwa api besar itu sudah lama tidak padam. Kediaman Briaron tidak seburuk yang kukira. Bahkan teman-temanku juga takjub dengan pemandangan yang mengesankan ini, di tengah hutan dengan suasana suram dan mencekam. Rumah para ras pucat bagaikan mutiara di tengah lautan yang luas. Hutan Hitam dengan segala misterinya, ternyata menyimpan harta hebat, yaitu kediaman ras Briaron. Setidaknya, jajaran rumah pohon yang indah ini membuatku memiliki alasan untuk mengingat hutan lebat yang suram ini. Andai aku tidak bertemu Briaron, maka hutan ini hanya akan menjadi sebuah mimpi buruk di hidupku. Briaron berhenti berjalan, dia berbalik menghadap barisan kaumnya, dan mengangguk serius. Orang-orang yang mengikuti Briaron dalam barisan itu langsung membubarkan diri, dan mereka berpencar ke berbagai arah. Ternyata tujuan mereka adalah rumah mereka masing-masing. "Semua orang selain Tuan Vhirlass Udhokh dapat beristirahat disini, selagi kami berdua akan bertemu dengan ayah saya," ujar Briaron. Aku hanya tersenyum kepada teman-temanku untuk menenangkan mereka, terutama Amicia yang mudah sekali khawatir. Ternyata, cewek itu membalas senyumanku dengan senyuman yang tulus, sedangkan Normen maupun Yared membalas dengan anggukan. Sekarang, tersisa aku dan Briaron yang berjalan berdampingan, tujuan kami adalah bertemu ayahnya, yang kemungkinan besar adalah pemimpin ras ini. "Kalian ini sebenarnya ras apa?" tanyaku. Aku mencoba untuk memulai pembicaraan, tetapi hanya topik itu yang muncul di otakku. "Kami adalah Elf," jawab Briaron singkat. Dia menyibakkan rambutnya dan memperlihatkan daun telinganya yang ternyata runcing. "Tapi kami memisahkan diri dari golongan ras Elf yang paling utama." Aku terkejut dengan jawaban Briaron. Sejak dahulu aku selalu ingin untuk bertemu elf, dan sekarang keinginanku terwujud. Hanya saja, dulu ayahku tidak mengatakan kalau elf bermata merah darah dan berkulit sangat pucat. "Aku baru pertama kali bertemu elf" ujarku kagum. "Tetapi, kalian sangat berbeda dengan cerita yang aku dengar di legenda, fisik kalian agak terlalu... terlalu berbeda." Briaron tersenyum geli mendengar pendapatku, seolah aku bukan yang pertama mengatakan hal tersebut. Elf bermuka pucat itu tidak marah atau tersinggung dengan perkataanku. Dia berkata, "Elf yang ada di legenda dan cerita adalah Klan Elf Cahaya yang dipimpin pamanku, Ildas. Fisik mereka memang lebih baik daripada kami, sesuai dengan cerita di legenda." "Sedangkan kami, disebut sebagai Klan Daeron. Kami memisahkan diri dari Klan utama, karena kami jatuh cinta dengan alam liar dan kami berusaha membantu Tuan Cyprian untuk melindungi alam liar," sambung Briaron. "Jadi elf yang asli tidak bermata merah seperti kalian?" semburku. Briaron menjawab pertanyaanku dengan anggukan kecil sembari tersenyum, "Tentu tidak, para elf cahaya memiliki mata biru yang indah, sedangkan mata klan kami sudah beradaptasi dengan hutan ini." Tebakanku sedikit banyak, benar. Kegelapan pekat hutan ini membuat mata mereka berubah menjadi merah. Aku dapat membayangkan betapa cantiknya ras Briaron, sebelum mata, dan kulit mereka berubah warna. Tepat setelah Briaron mengumumkan hal tersebut, tiba-tiba tubuhku terangkat dengan sangat cepat seolah aku terbang ke langit. Aku merasa seperti seseorang yang kuat menarikku dari atas, namun tubuhku tidak terasa sakit sama sekali. Sembari kami berdua terangkat dari tanah, Briaron berbicara padaku dengan setengah berteriak, "Selamat datang di kediaman ayahku, Daeron, pemimpin klan Daeron, para elf malam!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN