Bab 35 - Ras Aneh

1592 Kata
Kali ini aku yang bangun paling awal. Aku terbangun dengan merasa segar, karena akhirnya aku tidur dengan posisi berbaring kali ini. Terakhir kali, aku dapat tidur dengan posisi yang benar adalah di penginapan Alestora. Aku pun tidak bermimpi kali ini, atau lebih tepatnya Cyprian tidak menemuiku di mimpi. Hal yang cukup melegakan, karena tenagaku tidak perlu terkuras disaat tidur. Bermimpi saat tidur, sungguh menguras banyak tenaga. Mungkin karena aku sudah tidur di perjalanan ke Degeo tadi, sehingga aku tidak terlalu lelah sekarang. Lagi pula, kami menghabiskan banyak waktu di Degeo untuk memeriksa kota yang lumayan besar itu, setelah tertimpa tragedi yang sama persis dengan Rebeliand. Amicia, Yared, Normen, Orion dan Anyx tertidur pulas dengan gaya tidur mereka masing-masing. Amicia dan Orion tidur cukup dekat denganku, Normen dan Anyx tidur bersebelahan, dan Yared mengambil tempat cukup jauh dari perapian. Aku memutuskan untuk tidak membangunkan mereka, agar mereka bisa lebih banyak mengisi energi yang sudah hilang. Mereka juga sudah lama tidak tidur dengan baik. Perapian kecil yang dibuat oleh Normen juga sudah semakin mengecil, sehingga aku beranjak untuk mengambil beberapa kayu bakar demi meningkatkan nyala api. Aku akan memastikan kalau mereka semua tetap tidur dengan hangat. "Kau sudah bangun Lass?" gumam Amicia. Dia adalah orang kedua yang bangun, tepat sebelum aku memasuki Hutan Hitam. Cewek itu mengusap matanya, lalu meregangkan tubuh tanpa mengeluarkan suara. "Jangan bicara terlalu keras!" perintahku dengan suara sepelan mungkin. "Biarkan mereka tidur agak sedikit lebih lama." "Oh benar," ujarnya. Cewek itu melirik kepada Normen dan Yared yang sedang tertidur, lalu dia mengajukan pertanyaan kepadaku, "Menurutmu apa sekarang sudah malam?" Amicia menanyakan sesuatu yang ingin sekali aku ketahui. Hutan ini adalah tempat terbaik yang bisa membuat siapa pun yang masuk, menjadi terasing dari keadaan diluar sana. Bahkan hal paling dasar seperti siang dan malam pun, tidak bisa dipastikan. "Mungkin masih sore...," gumam Yared. Entah dia mengigau atau sudah bangun, karena dia tetap berbaring di tempatnya. Bahkan cara tidur cowok itu juga sangat aneh. Aku memutuskan untuk bergerak, karena rasanya bosan untuk menunggu semua orang bangun. Aku dan Amicia beranjak pergi dengan membawa sebuah obor untuk menjelajahi hutan, mungkin jika beruntung, kami akan mendapat makanan. Setelah cukup jauh dari api unggun milik kami, Amicia bertanya padaku, "Apa kau percaya kepada mereka berdua?" Hanya diterangi oleh cahaya obor membuat wajah cewek itu hanya terlihat sebagian. Namun, aku sudah sangat terbiasa melihat Amicia di kegelapan, karena kami memang lebih sering bekerja dalam gelap. "Sejauh ini baru kau dan Orion yang aku percaya," aku mengakui. "Bagaimana denganmu?" "Jawabanku juga sama, karena itu aku lebih nyaman saat berdua denganmu," jawabnya. "Orion tidak kau hitung?" gerutuku kesal. "Padahal, dia lebih memilih untuk membagi rahasianya soal kemampuan berbicara kepadamu lebih dahulu, bukan aku." "Untuk sekarang, Orion tidak masuk ke hitunganku," jawabnya singkat, sembari merangkul tanganku. "Aku ingin menikmati waktu berdua denganmu." Aku buru-buru melepaskan pelukannya di tanganku. Penyesalan memang selalu datang terakhir, aku menyesal mengajaknya jalan berdua. Karena hasilnya, pasti ada kejadian seperti ini yang membuatku geli. Iblis berwujud wanita itu tertawa terbahak-bahak, "Kau masih belum terbiasa dengan leluconku?" "Aku tidak akan terbias, dan tidak akan mencoba untuk terbiasa," jawabku ketus. "Kalau begitu, aku tidak akan berhenti," godanya dengan suara riang yang dipaksakan. Amicia tiba-tiba berjalan dengan santai mendahuluiku, lalu berseru, "Ayo bapak Udhokh! Kita perlu makanan yang cukup untuk enam perut, dan cahaya untuk menerangi jalanku." 'Dasar cewek aneh!' batinku. Padahal dia yang mendahuluiku, tapi malah menggerutu karena tidak ada cahaya. Karena aku adalah pecinta damai, maka aku tetap menyusul cewek penggerutu itu. Kami mencari makanan di hutan Hitam dengan antusias, dan ternyata semangat kami membuahkan hasil. Aku berhasil menemukan pohon apel yang berbuah cukup lebat, sedangkan Amicia menemukan dua buah nanas yang mencuat di tanah dekat kami. Markas harus menyambut kami dengan senang, karena temuan kami akan cukup untuk mengenyangkan mereka. Hutan Hitam yang suram ini, ternyata memiliki makanan yang cukup untuk siapapun yang tinggal di dalamnya. Perlahan, aku bisa sedikit mengurangi tekanan di pikiranku tentang menyelamatkan wargaku. Aku yakin, kalau kami bisa menyelamatkan penduduk yang diculik, jika kami berpikir tenang dan tidak tergesa-gesa. "Lass!" Amicia memanggilku dengan berbisik, dan dia memberi isyarat untuk mendekat padanya. Aku berjalan ke arahnya dengan rasa penasaran. Dia sedang sedang setengah berjongkok, sembari melihat lurus diantara semak-semak. Amicia sedang mengintip sesuatu. Aku langsung mengikuti tindakannya saat sudah tiba di sebelah Amicia. Aku memincingkan kedua mataku, untuk melihat sesuatu yang dilihat sahabatku ini. Tepat diseberang semak-semak tinggi tempat kami bersembunyi, terdapat sebuah hal yang mengerikan. Dua makhluk yang belum pernah kulihat, sedang menguliti seekor rusa yang tergeletak lemas. "Mereka itu apa?" bisikku. Amicia menggelengkan kepalanya, lalu mendesah, "Aku baru pertama kali melihat ras itu." Bahkan Amicia pun tidak tahu ras apa yang ada di depan kami. Dua makhluk misterius itu, memiliki perawakan seperti manusia, namun kulit mereka sangat pucat seperti batu marmer. Selain itu, keduanya juga memiliki rambut hitam panjang hingga ada yang sepinggul mereka, sehingga cukup sulit menebak jenis kelamin mereka. Kedua mata mereka berwarna merah cerah, seperti darah. Dan yang paling menyeramkan adalah wajah mereka yang tampan, tapi tidak memiliki emosi. Hidung maupun bibir mereka juga terlihat aneh, karena terlalu sempurna. Dua makhluk itu menguliti rusa dengan pisau besar yang bergerigi, dalam keheningan mencekam Hutan Hitam. Dari jarak ini, aku merasa kalau mereka seolah tidak bernafas sama sekali. Aku menoleh ke Amicia, dan berbisik, "Mereka sepertinya tinggal di hutan ini, jadi lebih baik kita tidak perlu mengganggu mereka." Amicia setuju dengan ideku, jadi kami meninggalkan dua makhluk aneh itu sambil berusaha mengenyahkan keingintahuan kami. Rasa penasaran yang berlebihan suatu saat akan membunuh kami. Kami berjalan dengan cepat ke markas kami, tanpa melihat ke belakang sedikit pun. Hingga akhirnya, cahaya yang cukup besar sudah terlihat di depan kami, yang membuatku sangat lega. "Akhirnya kita sam-" Amicia menarikku ke arahnya, sebelum aku menyelesaikan kalimatku. Dia menutup mulutku, lalu berbisik, "Jangan bersuara, ada suasana yang aneh disini." Aku mengangguk pelan, agar dia melepaskan tangannya dari mulutku. Aku sangat yakin, bahwa cahaya di depan kami adalah api unggun yang dibuat oleh Normen kemarin malam. Tapi mengapa Amicia mengatakan ada hal yang aneh disini? Aku mengamati sekitar, sambil memusatkan semua indraku untuk mencoba merasakan yang dikatakan Amicia, sambil tetap mencoba untuk tidak membuat suara sekecil apa pun. 'Aku harus memeriksa markas dari dekat' batinku. Karena itu, aku beringsut mendekat ke arah cahaya itu sepelan mungkin. Selagi aku mendekat ke sumber cahaya, aku merasa ada yang bergerak mengikutiku, dan orang itu sudah pasti adalah Amicia. Di depanku, terdapat sebuah celah kecil diantara pepohonan pendek, yang cukup untuk membuatku melihat kerah markas. Tidak boleh ada kesalahan sekecil apa pun, saat aku mengawasi dalam gelap. Markas kami terlihat cukup tenang dari jarak ini, jika aku mengabaikan fakta bahwa Yared dan Normen sedang mengangkat kedua tangan tanda mereka menyerah. Sedangkan Orion maupun Anyx, berdiri siaga tidak jauh dari mereka berdua. 'Mereka sedang diserang' pikirku. Tebakan itu membuatku tubuhku langsung bereaksi, untuk mencari orang-orang yang menyerang mereka. Menurutku, penyerang kelompok kami pasti bersenjata jarak jauh, karena mereka tidak bisa kulihat dari jarak ini. Apa mereka membidik dari atas pohon? Atau dari dalam semak-semak disekitar markas? Tapi mengapa anugerah Yared tidak aktif, padahal dia sekarang sedang dalam keadaan terancam? Terlalu banyak pertanyaan di otakku tentang penyerang kami, hingga aku tidak berpikir cara menyelamatkan mereka. Menurutku, aku harus mengalahkan para penyerang lebih dahulu, ketimbang menyelamatkan empat temanku. Aku tidak bisa menyerang, karena bahkan sampai sekarang aku tidak bisa melihat para penyerang. Aku juga terlalu ragu untuk langsung menerjang ke dalam pertempuran, karena anak panah bisa ditembakkan dari arah manapun. Sial! Bahkan Amicia yang memiliki banyak rencana tidak berbicara sedikit pun dari belakangku. Pikiranku yang berkecamuk langsung seketika buyar saat aku merasakan sakit di leherku. Seseorang merangkul leherku dari belakang, dan ternyata sebilah pisau sudah menempel di leherku, hingga membuat leherku berdarah. Kenapa Amicia menodongkan pisau ke leherku? Apa ini adalah salah satu leluconnya? "Kau masuk rumah orang tanpa mengetuk pintu," bisik suara yang berasal dari pemilik pedang di belakangku. Ternyata sedari tadi bukan Amicia yang berada di belakangku, melainkan orang ini. Orang itu mengangkatku kasar dari posisiku yang sedang setengah berjongkok. Dia mendorongku keluar dari persembunyian untuk bergabung dengan teman-temanku. Amicia yang merupakan harapan terakhir kami, juga digiring paksa beberapa saat setelah aku tertangkap. Dari mata cewek itu, dia terlihat meminta maaf tanpa suara kepada kami. Dua orang yang menangkapku dan Amicia menyejajarkan kami berempat dalam sebuah barisan. Aku berada diantara Yared yang berada di kiriku, dan Amicia disisi lainnya. Akhirnya aku bisa melihat wajah orang yang menyerangku dari belakang. Keterkejutanku tidak bisa kubendung. Ternyata yang menyerang kami adalah makhluk yang beberapa saat lalu sedang menguliti seekor rusa, saat aku dan Amicia menemukan apel dan nanas di dalam hutan. Wajah tampan yang berhidung mancung,dan bibir sempurna, ditambah kulit pucat dan mata sewarna merah darah. Rambut pirang lurus dengan panjang sebahu, dan bahkan beberapa memiliki rambut lebih panjang dari itu. Di punggung mereka juga terdapat pisau besar bergerigi, yang beberapa saat lalu masih menempel di leherku. Mereka berdua adalah ras yang tadi kami tinggalkan, karena tidak ingin menganggu. Aku salah, ternyata bukan hanya dua orang. Lebih banyak orang berwajah pucat, yang muncul dari kegelapan hutan di sekitar kami. Beberapa dari mereka muncul dari atas pohon, atau hanya keluar dengan santai dari dalam semak-semak. Mereka semua berjumlah sekitar dua puluh orang, dan kabar buruknya, mereka semua bersenjata lengkap. Beberapa memegang pisau khas mereka, sedangkan yang turun dari atas pohon, membawa panah dengan sebilah pedang tersampir di punggung mereka. Kami kalah jumlah, dan sekali lagi, kami ada di ambang kematian. "Selamat datang di Hutan Hitam." Makhluk berwajah pucat yang menggiringku itu mengumumkan, "Selamat datang dirumah Klan Daeron, pengikut Cyprian, sang Xenia pelindung alam liar."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN