Kami menerima usul Normen untuk memasuki Hutan Hitam, karena kami sudah tidak memiliki tujuan lain. Selain itu, aku sedikit berharap kalau teman elf Normen akan memberi informasi tentang kejadian di Degeo.
Namun, sebelum kami benar-benar meninggalkan Degeo, kami sekali lagi memeriksa jejak yang mungkin saja ditinggalkan si tersangka. Terutama soal hilangnya barang-barang perak.
Fakta yang dikemukakan Yared harus aku pastikan dengan kedua mataku, sebelum aku mempercayainya. Jika benar, maka kami bisa sedikit menggambarkan sesuatu yang diincar oleh si penculik.
Hasil pencarian kami sesuai dengan perkataan Yared. Di dalam sembilan rumah besar yang aku periksa, tidak ada satu pun barang yang terbuat dari perak.
Alat makan, barang dapur, perabotan, bahkan semua perhiasan yang terbuat dari perak menghilang. Si penculik sungguh-sungguh mengabaikan benda-benda dari bahan lain.
Bahkan, aku menemukan sebuah kotak perhiasan yang penuh, namun semua yang berbahan dasar emas masih utuh. Begitu juga dengan pedang, atau senjata yang terbuat dari perak.
Jadi, para penculik ini mengambil semua benda berbahan perak untuk apa? Lalu, mengapa mereka sampai repot-repot untuk membedakan setiap barang, sebelum mencurinya? Bukankah lebih mudah untuk langsung merampok sekaligus?
Karena kami semua sudah mengonfirmasi perkataan Yared, jadi kami memutuskan untuk pergi ke Hutan Hitam sesuai usul Normen.
Ternyata, gerbang bagian utara kota ini sudah langsung membawa kami masuk ke hutan Hitam. Tadinya, aku berpikir kalau hutan itu tidak langsung bersentuhan dengan Degeo, nyatanya kota ini memang jalan masuk ke hutan di belakangnya.
Hutan Hitam tidak terlalu seram jika dilihat dari luar, namun saat kami memasukinya baru terasa suasana mencekam yang menggambarkan nama hutan ini.
Aku merasa ada sihir jahat yang melingkupi setiap pohon di hutan lebat ini. Selain itu, ada perasaan seperti diawasi dari atas, setiap kali aku melangkah semakin dalam ke hutan. Perasaan itu begitu mengerikan, hingga membuatku terus menerus mengamati pucuk pohon satu per satu.
Amicia, Normen maupun Yared juga sesekali memandang ke pohon-pohon lebat yang menghalangi cahaya matahari. Mereka juga pasti merasa sedang diawasi sosok yang tidak terlihat.
Ketakutan para manusia ternyata tidak menular ke para tunggangan. Anyx dan Orion berjalan santai di depan kami, mereka terlihat seperti dalam perjalanan pulang ke rumah. Langkah kaki kedua hewan itu sangat ringan dan terlampau bersemangat, dua hewan itu pasti sudah lama tidak berada di alam liar.
"Oi Anyx! Mau balap lari disini? Aku bisa berlari lebih cepat jika berada di hutan," ujar Orion pongah. Kuda itu mulai menyombongkan diri, namun hanya dibalas dengan geraman kesal oleh Anyx.
Ocehan tanpa henti dari Orion yang hanya ditanggapi dengan geraman oleh Anyx, dengan berbagai nada menjadi hiburan tersendiri bagi kami yang mendengae di belakang mereka.
Dua hewan itu cukup mengatasi rasa ngeri yang melingkupi kami, sejak pertama masuk ke hutan ini. Kengerian hutan ini juga membuat kami berjalan dalam diam sejak masuk ke tempat suram ini.
"Dimana tempat tinggal temanmu?" cicit Yared, dia adalah yang pertama kali berbicara di tengah suasana mencekam hutan ini.
Normen mengamati sekitar sebelum dia menjawab pertanyaan Yared, lalu prajurit tua itu berkata dengan memelankan suaranya, "Jangan berbicara terlalu keras, pohon disini dapat mendengar."
Peringatan Normen membuatku sontak langsung memandang sekitar, dan juga langit yang sudah tertutupi dedaunan. Pohon disini dapat mendengar, kalimat tersebut harus aku simpan rapat di otakku.
"Dann tinggal dijantung Hutan Hitam, jadi sebentar lagi kita akan beristirahat di dekat sini karena sangat berbahaya jika kita berhenti di hutan bagian dalam," sambungnya.
Peringatan Normen soal memelankan suara membuat suasana yang hampir cerah, kembali menjadi suram. Bahkan Orion pun sudah berhenti mengajak bicara Anyx, setelah mendengar Normen mengingatkan Yared.
Tubuhku bergidik saat membayangkan bahwa setiap perkataan kami didengar oleh pepohonan di hutan ini. Apakah perasaan diawasi yang sejak tadi kurasakan memang karena pohon di hutan ini bisa mendengar?
Kami melanjutkan berjalan dalam keheningan yang semakin canggung. Suara yang terdengar hanyalah langkah kaki kami yang bersentuhan dengan daun kering atau pun ranting.
Bahkan di dalam hutan ini, suara burung pun tidak terdengar. Mungkin para hewan juga mengerti bahwa hutan ini adalah area terlarang yang tidak boleh mereka masuki.
Perasaan mual dan takut terus bertambah, seiring dengan semakin dalamnya aku masuk ke hutan ini. Hutan ini seolah menyedot semua udara bersih, yang seharusnya masuk ke hidungku.
Perlahan cahaya matahari mulai tidak bisa menyentuh kami, terang mulai gagal menyeruak melewati dedaunan yang lebat. Sampai akhirnya, tidak ada setitik pun cahaya matahari yang berhasil masuk menerobos untuk menerangi hutan ini.
Di bagian dalam hutan ini, setiap hari sepertinya adalah malam hari. Aku melirik ke belakang untuk melihat jalan yang telah kami lalui, jalan itu sudah tidak tampak karena tidak ada cahaya.
Jarak pandangan mataku sangat terbatas, sehingga aku juga tidak tahu apakah yang ada di sekitar kami. Kegelapan yang menyelimuti kami tidak terlalu pekat, namun tidak dapat disebut bercahaya.
Aku seperti masuk ke jauh ke dalam tempat yang seharusnya tidak kudatangi. Ketakutan jika tidak bisa keluar dari hutan ini, semakin meningkat seiring dengan langkah kaki kami yang masuk semakin dalam ke hutan ini.
Sebelum kami benar-benar tidak bisa melihat satu sama lain, Normen mulai membuat api untuk penerangan bagi kami. Dia bisa membuat api dengan hanya menggesekan dua pisau, lalu dengan cepat menambah kayu bakar ke percikan kecil api itu.
"Kita beristirahat sebentar disini, dan hal pertama yang kita lakukan adalah memperbesar api ini," usul Normen.
Pria tua itu mengambil satu kayu yang terbakar dan mulai kembali masuk ke kedalaman hutan, untuk menjelajah demi menambah kayu bakar.
Amicia juga mengikuti Normen untuk mencari kayu bakar, sedangkan aku mulai merapikan sekitar kami agar kami bisa beristirahat dengan nyaman.
Yared juga mulai membuat obornya sendiri, sebelum akhirnya juga ikut menjelajahi hutan dalam diam. Cowok itu bahkan lebih memilih untuk pergi sendirian, ketimbang menjaga api bersamaku.
Di tempat api unggun buatan Normen, hanya tersisa aku bersama dua tunggangan yang mendekat ke api. Anyx si serigala perlahan berbaring di rumput karena mengantuk, dan beberapa detik kemudian, serigala itu sudah memejamkan matanya.
"Lass, kenapa kau tiba-tiba bertanya soal Cyprian kepada Amicia?" tanya Orion.
Kuda itu sedang menekuk keempat kakinya untuk mengistirahatkan dirinya. Jika aku tidak salah hitung, Orion sudah berlari hampir seharian penuh.
Momen berdua dengan Orion saat ini, sangat pas untukku bercerita soal mimpi yang aku dapatkan kemarin malam. Karena tidak ada siapa pun yang tahu lebih banyak soal Cyprian, daripada Orion yang diciptakan langsung oleh Cyprian.
Aku menceritakan detail mimpiku kepada Orion. Sesekali kuda putih itu menganggukan moncongnya tanda dia mengerti, atau menunujukkan kalau dia masih mendengarkan. Dia tidak memotong ceritaku, kuda itu hanya mendengarkan hingga aku selesai bicara.
Setelah aku menutup ceritaku, Orion terlihat seakan menimbang sesuatu sebelum akhirnya berkata, "Setahuku Tuan Cyprian tidak pernah berkunjung ke mimpi seorang manusia, ini pertama kalinya aku mendengar hal tersebut."
"Jadi aku adalah manusia pertama yang dia kunjungi dalam mimpi?" pekikku keheranan.
Aku cukup terkejut karena menurutku, aku tidak seistimewa itu untuk dikunjungi makhluk berkuasa sepertinya. Xenia pelindung alam liar, kata Amicia, juga sang pencipta Orion.
"Seingatku begitu," ucap Orion. "Karena memang Tuan Cyprian harusnya tidak boleh ke mimpi manusia."
"Tidak boleh, Kenapa?" tanyaku penasaran.
"Karena bukan tugasnya," balas Orion. "Tuan Cyprian adalah Xenia pelindung alam liar, jadi manusia maupun ras lain yang tidak tinggal di alam liar, tidak berada di bawah perlindungannya."
"Apakah ada Xenia yang menjadi pelindung manusia?"
"Ada beberapa, seperti Anko sang penyembuh atau Sophus, Xenia pencabut nyawa."
Nama-nama yang diucapkan Orion tidak ada yang kukenali, tapi aku berusaha untuk mengingatnya karena dua nama itu adalah Xenia pelindung manusia, rasku.
Selain karena mereka adalah pelindungku, aku juga harus berjaga-jaga kalau tiba-tiba mereka juga datang ke mimpiku. Jika aku mengingat nama mereka, maka aku tidak terlalu tampak bodoh saat mereka datang ke mimpiku.
"Soal Cyprian yang menemuiku lewat mimpi, apakah karena aku sekarang terhitung di alam liar, sehingga aku sekarang berada di bawah perlindungannya?" tebakku.
"Mungkin seperti itu, karena Tuan Cyprian juga dikenal sebagai Xenia yang memiliki hubungan baik dengan Xenia lain," kata Orion.
"Apalagi posisi Tuan Cyprian yang lain, yaitu sebagai pembawa pesan Ulea yang Agung. Posisi itu yang membuat dia memiliki akses khusus kebanyak tempat, mungkin juga termasuk mimpi," sambungnya.
"Jika dia pembawa pesan Ulea, mengapa aku adalah manusia pertama yang dia kunjungi?"
"Karena Ulea yang Agung hanya menyuruh Tuan Cyprian mengantar pesan ke Xenia lain," ujar Orion. "Jadi sebuah hal yang langka, saat Tuan Cyprian untuk mengunjungimu, meskipun hanya lewat mimpi."
"Bagaimana jika Ulea yang menyuruh Cyprian?" cicitku
Si kuda putih menganggukkan moncongnya dengan ragu, namun dia akhirnya menjawab, "Bisa jadi, tetapi kemungkinannya sangat kecil."
Aku merasa bangga dan sekaligus takut, karena fakta bahwa kemungkinan, Ulea sampai memerintahkan Cyprian untuk mengunjungiku. Apakah Ulea terlalu berharap tinggi kepadaku? Ataukah ternyata Dia salah menilaiku?
"Tapi santai saja bro," ujar Orion menenangkanku. "Kau tidak menanggung beban yang diberikan Ulea sendirian, jika ternyata Tuanku memang diperintahkan oleh Ulea yang Agung."
"Aku, maupun Amicia akan selalu di pihakmu," janji kuda itu dengan sebuah senyum lebar di wajahnya yang panjang.
Kata-kata Orion membuatku tersentuh. Dia benar, meskipun Ulea atau Cyprian memberiku beban yang berat, namun aku yakin kalau bersama Amicia dan Orion maka aku sanggup memikulnya. Ditambah, sekarang ada Yared dan Normen yang juga bersama kami.
Percakapanku dengan Orion berakhir. Aku memberi waktu padanya untuk beristirahat, karena sudah bekerja keras dengan memberiku tunggangan. Selagi dua hewan itu tertidur nyenyak, aku juga berbaring di rumput hutan Hitam yang suram.
Tidur di hutan dengan beratapkan dedaunan lebat membuatku merasa terpenjara. Aku tidak tahu apakah diluar masih siang atau sudah malam, hanya pohon dan daun yang kulihat.
Amicia adalah yang pertama kembali dengan membawa cukup banyak kayu bakar dengan tangan kanannya, sedangkan di tangan kirinya mengangkat obor untuk melihat jalan.
Normen tiba sambil membawa kayu bakar, lalu Yared yang terakhir dengan membawa beberapa buah ditangannya. Kami makan buah yang dibawa Yared dalam diam, hingga akhirnya buah-buahan itu tersisa bijinya.
Aku bersyukur sudah bisa makan di perjalanan sulit ini meskipun tidak banyak, tapi cukup untuk menghilangkan rasa lapar diperutku.
Setelah makan, maka satu persatu dari kami berbaring untuk bersiap tidur dengan layak. Kami mengisi energi kami dengan tidur di hutan menyeramkan bernama Hutan Hitam.