"Kalian sudah memeriksanya?" tanya Amicia untuk meminta penjelasan lebih lanjut dari Normen dan Yared.
Aku turun dari punggung Orion, dengan diikuti oleh Amicia. Kami berdua tidak percaya dengan cerita Normen dan Yared soal Degeo yang mengalami nasib seperti Rebeliand.
Namun, Normen mengangguk pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Amicia, ekspresi di wajahnya menunjukkan kalau kepala pengawal raja Donater ini, kecewa dengan apa yang dia temukan.
"Kalian sudah mengelilingi seluruh kota itu?" desak Amicia. "Apa bahkan kalian sudah memasuki setiap rumah di desa itu?"
Aku sangat mengerti alasan Amicia menanyakan banyak hal sedetail itu, karena mengambil kesimpulan soal kejatuhan sebuah kota, harus dipastikan dengan banyak bukti yang kuat.
"Kami hanya melihat dari luar gerbang kota," jawab Yared. "Namun, kota tersebut sudah seperti kuburan, bahkan lebih sepi."
Amicia menepuk punggungku, lalu memberi isyarat untuk naik ke punggung Orion tanpa bicara. Aku mengikutinya tanpa bertanya, karena raut wajah cewek itu sudah menegang karena amarah.
Kemarahan Amicia juga dapat kurasakan, karena jika perkataan Normen dan Yared benar, maka si tersangka sudah benar-benar gila. Mereka masih tidak puas hanya dengan puluhan warga Rebeliand, dan masih menculik seluruh warga dari sebuah kota.
"Kami akan ke Degeo untuk melihat secara langsung," tegas Amicia, setelah kami berdua sudah diatas punggung Orion. "Jika penyerang Degeo sama dengan penyerang Rebeliand, maka jejak yang mereka tinggalkan pasti mirip."
Normen maupun Yared setuju dengan Amicia, jadi mereka memutuskan untuk kembali ke Degeo. Akan ada lain waktu untuk aku menanyakan soal Cyprian kepada Amicia atau Orion, sekarang ada situasi darurat yang harus kami tangani.
Jarak tempat Orion berhenti dengan Degeo tidak terlalu jauh, jika si kuda berlari dengan kecepatan penuh. Aku memincingkan mataku untuk melihat kota Degeo yang mulai mencuat dari cakrawala.
Tiba di depan gerbang kota membuatku langsung menyadari, bahwa Degeo lebih besar dari Rebeliand, maupun Arnmeny, tetapi masih belum bisa menjadi tandingan kota Donuemont.
Jadi menurutku, Degeo adalah sebuah desa besar atau kota kecil. Ukuran kota Degeo ada di tengah itu. Degeo masih terlalu kecil jika disebut sebuah kota, namun juga terlalu besar untuk disebut sebuah desa.
Dari kejauhan, yang paling tampak dari Degeo adalah sebuah benteng batu yang cukup besar, dan berfungsi sebagai gerbang kota itu. Setelah kami semakin mendekati Degeo, maka kota itu mulai menampakkan wujud aslinya.
Pintu gerbang Degeo terbuat dari kayu tebal, berada di bawah benteng besar dari batu yang menghadap ke barat. Benteng itu merupakan pertahanan paling luar Degeo, karena kota tempat tinggal penduduk, terpisah dari benteng itu, dengan dihubungkan oleh sebuah jalan bertembok di kiri kanannya
Jalan penghubung antara gerbang yang menghadap ke barat, dengan kota tempat penduduk Degeo tinggal, adalah sebuah sebuah jembatan.
Degeo dilalui sungai kecil yang meliuk dari selatan hingga timur kota itu, sehingga diperlukan sebuah jembatan untuk akses masuk ke perumahan. Sedangkan di utara kota ini adalah hutan yang sangat lebat.
Kami semua turun dari tunggangan masing-masing, saat sampai di depan gerbang Degeo. Gerbang itu bahkan tampak lebih megah, saat aku melihatnya dari jarak dekat.
Di atas menara benteng batu itu, ada sebuah panji besar dengan gambar pedang perak yang menghadap ke tanah. Lambang yang sama, yang ada di atas benteng Donuemont, lambang Kerajaan Donater.
"Kalian sudah masuk ke kota ini?" tanyaku untuk terakhir kali, sebelum memasuki kota ini.
Alasannya, aku merasa bahwa di kota ini, tampak seperti memiliki kehidupan jika hanya dilihat dari luar gerbang. Suasana yang aman, dan tentram memang menguar dengan jelas dari dalam gerbang.
Akan sangat konyol jika kami semua menerobos masuk ke Degeo, dengan anggapan bahwa semua warga kota ini menghilang. Lalu, saat kami masuk ke kota, ternyata semua warga masih hidup dengan nyaman.
"Bukankah sudah jelas, meskipun kami tidak masuk?" Normen balik bertanya. "Bahkan dari luar pun, kota ini sudah tidak ada tanda kehidupan sedikit pun."
Aku mencoba mengerti perkataan Normen, dengan mulai fokus mendengar suara dari dalam kota ini. Tidak ada suara apapun yang berasal dari dalam kota, suara yang kudengar adalah burung di atas kami, dan rumput yang berdesir. Kota ini terlalu hening di pagi hari.
"Kita tetap harus memastikan dengan masuk ke kota," ujar Amicia bersikeras.
Dia berjalan ke arah pintu gerbang, dan pintu kayu tebal itu terbuka hanya dengan sedikit dorongan dari Amicia. Cewek itu menoleh ke arah kami, lalu dia masuk ke kota itu terlebih dahulu, dengan kami mengikuti di belakangnya.
Kesan pertamaku saat melihat kota Degeo dari dalam adalah rapi. Hanya kata itu yang tepat untuk menggambarkan Degeo. Padahal, aku sudah pernah ke Donuemont, yang juga memiliki tatanan rapi.
Namun, Degeo jauh lebih rapi daripada Donuemont. Sosok yang menata kota ini, seolah tidak mengijinkan satu hal pun yang melenceng, sehingga Degeo menjadi sebuah kota dengan tata letak yang sangat indah, juga simetris.
Aku awalnya berpikir bawah tembok batu menjadi pelindung paling luar kota ini, sehingga tembok itu dibangun mengelilingi perumahan penduduk. Nyatanya, kota ini hanya bertembok di bagian barat dan utara.
Di bagian timur, dan selatan, kota ini memiliki sungai Hitam (Aku baru saja bertanya kepada Orion) sebagai pelindung mereka dari dunia luar. Lebar sungai Hitam yang besar, dan arusnya yang kuat, tidak memungkinkan untuk diseberangi, jika tidak memakai kapal atau perahu.
Si penata kota Degeo seolah belum percaya dengan kuatnya tembok batu, dan tebalnya kayu yang dipakai untuk gerbang kota, karena di dalam Degeo masih terdapat tembok batu untuk melindungi perumahan warga.
Sehinga, jika ada kerajaan yang ingin menyerang Degeo, maka mereka memerlukan strategi terbaik untuk melewati pertahanan berlapis milik kota ini. Singkatnya, Degeo adalah tempat teraman yang pernah aku lihat sejauh ini.
Jajaran rumah di Degeo tidak menimbulkan kesan kumuh, atau kota terpencil sama sekali. Rumah-rumah berjajar rapi, bahkan terlampau rapi meskipun memiliki ukuran yang berbeda.
Namun, di Degeo tidak ada perbedaan area untuk para bangsawan dengan rakyat biasa. Aku menyimpulkannya karena banyak rumah besar, dan kecil yang bersebelahan tanpa menimbulkan aura kesenjangan sosial.
Jalan kota ini juga cukup lebar untuk bisa dilalui tiga, hingga empat kereta kuda. Memang tidak lebih besar ketimbang jalan utama Donuemont, namun masih lebih besar dari jalanan Arnmeny, apalagi Rebeliand.
Suasana kota ini membuatku hampir merasa seperti di kompleks timur laut Donuemont. Kerapian Degeo dan kompleks bangsawan kota Donuemont memang sangat identik. Letak perbedaannya adalah di ukuran rumah.
Degeo memiliki berbagai ukuran rumah yang bersebelahan. Kesimpulanku ,tidak ada perbedaan antara si miskin dan si kaya di kota ini. Semua penduduk sepertinya saling menghargai satu sama lain.
Penduduk, itulah hal yang tidak dimiliki oleh Degeo. Kami berpencar untuk menyusuri Degeo dan aku memilih ke daerah utara, namun yang kutemukan hanya rumah-rumah tak bertuan.
Jika dibandingkan dengan keadaan Rebeliand saat kutemukan bersama Amicia, Degeo tampak lebih menakutkan. Rumah-rumah di Degeo memancarkan aura menakutkan, karena selain tidak memiliki tanda kehidupan, juga tidak ada jejak perlawanan.
Rebeliand masih memiliki jejak perlawanan yang terlihat dari beberapa rumah yang hancur, atau bercak darah di lantai, dan hal itu tidak berlaku untuk Degeo. Alih-alih penculikan, aku malah lebih percaya kalau penduduk Degeo sedang bertamasya bersama.
Kota ini tampak terlalu rapi, untuk kadar sebuah kota yang seluruh penduduknya diculik. Benda-benda dalam rumah tertata rapi, bahkan jalanan kota ini terkesan sangat damai. Apakah penduduk Degeo memang diculik?
Aku mencoba untuk mencari lebih teliti, berharap menemukan jejak perlawanan antara warga dengan para penculik, namun hasilnya nihil. Tidak ada apa pun di kota ini, yang membuktikan kalau warga kota ini diculik.
Akhirnya aku memutuskan kembali ke gerbang kota untuk bertemu yang lain. Karena sesuai janji kami, jika penyusuran sudah selesai, maka kami akan kembali berkumpul di gerbang. Semoga mereka menemukan bukti penculikan di sisi lain kota ini.
"Ada jejak penculikan atau mungkin penjarahan?" tanya Amicia setelah melihatku menhampirinya
Dia sudah tiba di gerbang lebih dulu, dan membuatku sadae ternyata Amicia adalah orang pertama yang menyerah. Padahal dia adalah yang paling menggebu-gebu untuk mencari di dalam kota.
Aku menggelengkan kepalaku sebagai respon atas pertanyaan Amicia. "Kota ini terlalu rapi, bahkan tidak ada jejak perlawanan sedikit pun," ujarku.
"Di bagian barat pun, kota ini tidak memiliki jejak perlawanan dari warga," ujar Amicia. "Apakah warga Degeo memang tidak melawan sama sekali?"
"Atau mereka diculik saat malam," sela Normen yang ikut masuk dalam percakapan kami.
Pria tua itu mengangkat sebuah cermin kecil yang retak dengan tangannya. "Benda ini kutemukan di kamar tidur salah satu rumah di area timur."
Normen melemparkan cermin itu padaku untuk kuperiksa, dan Amicia langsung ke sebelahku untuk ikut memeriksa temuan Normen.
Cermin itu adalah cermin yang dipakai untuk berdandan oleh kaum wanita, namun dari ukurannya yang kecil, maka cermin itu pasti dipakai saat dalam perjalanan. Jadi agak sedikit aneh, kalau benda ini ditemukan di kamar tidur, alih-alih di dalam tas bepergian.
"Mengapa cermin ini bisa sampai retak?" gumamku.
Aku membalik cermin itu, berharap menemukan sesuatu di belakangnya. Namun, bagian belakang cermin itu tidak menyimpan rahasia apapun.
"Tidak ada alat makan apapun di setiap rumah yang kumasuki," Yared juga sudah kembali dari pencariannya. "Lebih tepatnya, alat makan dengan bahan perak."
"Aku memeriksa seluruh rumah di bagian selatan, dan di setiap dapur, tidak ada alat makan dengan bahan logam," sambungnya.
"Cermin ini dari kayu, tapi berwarna perak," gumamku.
"Mereka menjarah, merampok, dan menculik, namun tidak membunuh," ujar Normen sambil memegang surat yang dikirim oleh temannya. Aku baru sadar, kalau pria tua itu baru saha mengulangi isi surat itu.
"Mereka menculik warga, dan merampok barang yang terbuat dari perak, lalu apa yang mereka jarah?" tanya Normen kepada kami semua.
"Ternak?" tebak Amicia. "Ternak di Rebeliand maupun Degeo juga hilang seperti penduduknya."
Aku mengingat empat hari lalu di Rebeliand yang kosong. Ternak keluarga Tosval yang cukup banyak juga tidak tersisa, tetapi aku dan Amicia tidak memeriksa soal alat makan. Saat itu kami terlalu kalut untuk memeriksa secara detail.
Tetapi masih ada hal yang menggangguku soal penculikan dua kota ini, yaitu soal jumlah. Penduduk Rebeliand yang berjumlah sekitar tujuh puluh orang, ditambah warga Degeo yang bisa mencapai ratusan orang belum terhitung ternak.
Bagaimana mereka bisa mengangkut tawanan sebanyak itu? Bahkan mereka tidak meninggalkan jejak apapun?
Apakah penculiknya adalah dari golongan penyihir, yang dapat memindahkan orang tanpa memakai kendaraan?
Awalnya aku berpikir bahwa penculik warga desaku, adalah orang yang memiliki dendam dengan salah satu warga. Tetapi, sekarang Degeo juga mengalami hal yang sama.
Penculikan ini lebih seperti sebuah pola, yang menandakan bahwa si penculik, menculik banyak orang karena mereka memang butuh. Lalu, apa yang mereka mau dari orang sebanyak itu?
"Hutan hitam ada di utara kota ini, jadi lebih baik kita masuk hutan," usul Normen yang memecah keheningan, selagi kami semua sedang bergelut dengan setiap dugaan yang muncul di otak kami.
"Semoga Holafirdann ada dirumah," harap pria tua itu.