Aku terbangun di atas rumput, alih-alih di atas punggung Orion.
Kedua mataku tidak bisa terbuka sepenuhnya, karena sinar matahari yang terlalu menyilaukan. Hal yang bisa untuk kulakukan adalah mencoba berdiri, lalu membiarkan mataku beradaptasi dengan cahaya terang.
Apakah kemarin malam aku jatuh dari punggung Orion? Jika begitu, lalu mengapa tidak ada satu pun dari temanku yang berbalik untuk mencariku?
Ada banyak sekali pertanyaan di otakku, yang semuanya berujung kepada pertanyaan, mengapa aku sekarang berada di padang rumput ini sendirian?
Selagi aku bertanya-tanya, akhirnya mataku kembali dapat melihat dengan jelas. Dengan cepat, aku mulai mengamati keadaan sekitar dengan teliti.
Minimal, aku harus tahu nama tempat ini, sehingga aku tinggal memberi kabar kepada Orion lewat telepati. Karena kemarin malam, kuda ajaib itu sudah mengatakan padaku, tentang hubungan telepati antara kami, yang dapat diakses kapan pun.
"Orion, aku terjatuh dari punggungmu!" seruku dalam hati, sambil tetap memusatkan fokusku ke sang kuda.
Namun, tidak ada jawaban yang muncul di otakku. Apakah metode telepati yang kulakukan salah, atau hanya Orion yang boleh melakukan telepati denganku?
Jika Orion tidak menjawab telepatiku, maka aku harus mencari teman-temanku sendirian. Misiku adalah menyelamatkan warga Rebeliand, dan aku tidak dapat melakukan hal itu seorang diri.
Aku mulai mengerjapkan mataku, dan melihat sekitar untuk menyesuaikan diri. Entah karena kemarin malam terlalu gelap, atau aku yang kurang fokus dengan jalanan.
Menurutku, padang rumput tempatku sekarang berada, bukan padang rumput yang kami lewati kemarin. Ada perbedaan yang mencolok antara keduanya.
Rerumputan disini lebih pendek, dan terkesan lebih terawat daripada padang rumput kemarin malam yang memiliki suasana liar, karena tingginya yang hampir menyentuh paha Orion.
Tunggu, sebuah dugaan muncul di otakku, apa aku kembali bermimpi?
"Tuan Raulith Lass," sapa sebuah suara yang berat.
Aku menoleh dengan cepat untuk mencari sumber suara itu. Awalnya, sosok yang merupakan sumber suara itu terlihat seperti asap putih, hingga akhirnya dia mewujud padat.
Sumber suara itu adalah seorang pria tua yang tadinya adalah seberkas asap putih di belakangku. Rambutnya panjang sebahu, dan memiliki warna putih seperti salju yang dibiarkan tergerai.
Pria itu memiliki raut wajah yang kokoh, sesuai dengan tubuhnya yang seolah terbentuk dari batu. Jubah biru langit yang dia pakai tetap tidak bisa menyembunyikan otot-ototnya yang luar biasa kekar.
Pria ini tersenyum ramah kepadaku, bahkan senyumnya lebih menenangkan ketimbang milik Normen. Senyumannya membuat diriku seolah disembuhkan dari keletihanku selama beberapa hari terakhir.
Aku teringat pertemuan pertamaku dengan Normen saat melihat pria ini, namun pria ini jauh lebih berwibawa daripada Normen. Apalagi si kepala prajurit itu baru saja berkata hal-hal aneh kepadaku kemarin malam.
"Akhirnya saya bisa bertemu Anda secara langsung," ujar pria itu sambil mendekatiku dengan langkah tenang yang terasa begitu alami, seolah dia sudah mengenalku sejak lama.
"A... Anda siapa?" balasku.
Berbicara dengannya membuat tenggorokanku terasa tercekat, aku tidak menyangka kalau pria ini dapat membuatku sangat gugup. Padahal, dia tidak melakukan sesuatu yang membuatku terintimidasi.
Bukan karena takut dia akan melakukan sesuatu yang buruk, tetapi lebih seperti takut jika aku sekarang berbuat kesalahan. Dia tampak seperti hakim yang dapat memaksaku mengakui semua kesalahanku.
"Saya adalah pembawa pesan dari Ulea," jawabnya, lalu pria itu membungkuk sopan kepadaku. "Perkenalkan, nama saya adalah Cyprian."
Cyprian! Orion pernah menceritakan padaku kalau dia diciptakan langsung oleh Cyprian. Aku lupa nama gelar dari Cyprian karena menganggap makhluk tinggi seperti dia tidak mungkin ada, dan sekarang pribadi dengan kuasa yang besar ini, ada di depanku.
Aku tidak tahu harus berbuat apa, haruskah aku berlutut menyembahnya? Tapi bahkan aku tidak tahu pelindung Ueter yang mewakili apa. Aku menyesal tidak meminta Orion menceritakan padaku secara lengkap, soal sejarah Ueter dari awal penciptaan.
"Mungkin Anda terlalu terkejut sekarang," ujarnya tenang.
Suara Cyprian seperti sesuatu yang sangat familier, berat namun menenangkan. "Saya akan menemui anda secara berkala lewat mimpi, jadi kali ini saya hanya akan menyapa anda."
"Tung... Tunggu!" seruku memberanikan diri. "Anda adalah orang yang menciptakan kuda... maksud saya Orion?"
"Menciptakan?" tanya Cyprian, lalu dia menggelengkan kepalanya pelan. "Hanya Ulea yang mampu menciptakan, saya hanya membantu Ulea menciptakan Orion."
"Siapa Ulea?" semburku. "Apa dia yang tertinggi dari para Xenia itu, atau malah dia adalah pemimpin mereka?"
Aku tidak sadar bahwa pertanyaan itu keluar dari mulutku, dan tidak bisa kutarik. Tetapi memang aku sangat penasaran dengan identitas Ulea. Dia disembah oleh ayahku, Amicia, dan bahkan Cyprian pun tidak berusaha untuk menjadi lebih tinggi dari Ulea.
Aku hanya penasaran dimana keberadaan Ulea, yang disanjung dan disembah banyak orang? Jika dipulau Adon, maka mungkin aku bisa meminta bantuannya untuk menyelamatkan warga desaku.
"Ulea adalah Tuanku, hanya itulah jawaban yang bisa aku berikan kepada Anda," jawab Cyprian, lalu makhluk berkuasa itu memandang langit dengan tatapan sedih. "Waktu kita hampir habis, dengarkan pesanku baik-baik."
"Semua yang terjadi di desamu berawal dari keserakahan seseorang, dan orang itu sudah lama meneror pulau Adon," Cyprian mulai mengatakan pesannya.
"Sekarang, dia memiliki sekumpulan tentara. Dan para tentara itu dapat menghancurkan keseluruhan pulau ini," imbuhnya. "Bahkan, pasukan orang ini bisa menghancurkan seluruh Ueter, jika tidak dihentikan."
"Apakah pasukan orang itu yang menculik warga Rebeliand?" tanyaku.
Cyprian hampir membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaanku, sebelum sebuah gempa bumi dahsyat mengguncang padang rumput yang indah ini. Gempa itu sangat dahsyat hingga tanah di bawahku terbelah menjadi dua.
Cyprian sang Xenia sudah menghilang, sebelum dia sempat menjawab pertanyaanku, bersama dengan guncangan yang semakin dahsyat yang membuat tubuhku juga terguncang hebat.
Gempa itu semakin dahsyat sampai seolah matahari juga ikut terkoyak karena kekuatan getaran yang begitu besar. Cahaya matahari yang elok, memudar hingga sepenuhnya menghilang.
"Kau sudah bangun?" Amicia menyapaku dengan ramah setelah aku kembali membuka kedua mataku.
Ternyata aku tidak terjatuh dari punggung Orion, semua yang kulihat tadi memang adalah mimpi. Namun, percakapanku dengan Cyprian terasa sangat nyata hingga aku sulit membedakannya dengan mimpi.
"Sudah berapa lama kita berkuda, apa Degeo sudah dekat?" tanyaku. "Apa aku tidur terlalu lama?"
Aku mencoba untuk kembali duduk, lalu menepuk leher Orion untuk memberi tahunya kalau aku sudah bangun. Kuda itu hanya meringkik pelan mendengar ucapanku.
"Aku juga baru bangun beberapa saat lalu," jawab Amicia. "Dan Orion sedang dalam kecepatan tertinggi, jadi sangat sulit untuk mengajaknya bicara."
Orion memang tidak pernah peduli dengan sekitarnya, saat sedang masuk ke kecepatan tertingginya. Apalagi dia berlari mengikuti Anyx, yang meskipun juga cepat tapi masih jauh di bawah kecepatan Orion, sehingga kudaku itu harus terus menyesuaikan kecepatannya agar tetap di belakang Anyx.
Karena Orion tidak bisa diajak berbicara, maka aku memutuskan untuk menceritakan soal mimpiku pada Amicia. Mungkin cewek ini tahu sedikit soal Cyprian dan pastinya Ulea, dan mungkin dia juga bisa menafsirkan arti pesan dari Cyprian.
"Cia, Apa yang kau tahu tentang Cyprian?" tanyaku.
"Cypri.. Cy siapa?" Amicia balas bertanya keladaku.
Cewek itu memajukan wajahnya hingga ke sebelah wajahku, untuk mendengar lebih jelas. Alhasil, gerakan mendadak darinya membuat kedua pipiku langsung memanas seketika.
"Cy-pri-an!" aku mengejanya sambil berteriak, yang langsung membuat Amicia beringsut mundur perlahan.
"Oke aku dengar, aku tidak tahu nama itu. Dia siapa?" sembur Amicia sekaligus.
Amicia sedang tidur saat Orion menceritakan soal Cyprian kepadaku, dan dia ternyata tidak mengetahui sama sekali soal Cyprian. Padahal, aku selalu menganggapnya tahu banyak hal, dan sekarang terbukti kalau Amicia tidak selalu mengetahui segalanya.
"Dia adalah makhluk yang berkuasa, sepertinya," jawabku ragu. "Semacam bawahan untuk makhluk tertinggi yang kau sembah, Ulea."
"Ternyata kau membahas Cyprian yang itu," ujar Amicia. "Cyprian adalah Xenia dengan gelar Raja Alam Liar, dia bukan bawahan Ulea, melainkan perpanjangan tangan Ulea."
Sekali lagi Amicia membuktikan kalau anggapanku terhadap dirinya salah total. Dia menjabarkan soal Cyprian dengan baik, bahkan dia tahu beberapa kata yang asing bagiku. Cewek ini memang pengumpul informasi terbaik.
"Kenapa kau bertanya soal Xenia?" Amicia penasaran dengan pertanyaanku.
Akhirnya aku mendapat kata itu, Xenia. Begitulah Orion menyebut gelar Cyprian, selagi menceritakannya padaku. Mungkin, Xenia adalah nama sebuah ras, seperti elf, manusia atau kurcaci.
"Karena Cyprian muncul di...,"
Penjelasanku terpotong karena Orion berhenti mendadak. Aku hampir terlempar dari punggung Orion, jika Amicia tidak memelukku erat.
Jantungku berdegup kencang hingga membuatku mual, bukan karena dipeluk oleh Amicia secara mendadak. Melainkan karena perubahan kecepatan yang terlalu drastis, hingga langsung mengocok perutku.
Saat makanan di perutku akhirnya kembali turun dengan aman, maka aku turun dari punggung Orion dan mulai mengamati sekitar.
Orion berhenti dipadang rumput yang terlihat sama sejak kami keluar dari Arnmeny, jadi aku menambah tingkat kefokusan indraku agar bisa mengerti alasan kudaku itu berhenti mendadak.
"Kenapa berhenti?" tanya Amicia.
Cewek itu turun dari punggung Orion dan langsung berdiri di depan kuda itu, dengan wajah penasaran.
Begitulah perbedaan antara aku dan Amicia. Aku lebih memilih untuk mencari tahu lebih dahulu sebelum bertanya, sedangkan dia akan langsung bertanya jika menurutnya lebih efektif.
"Degeo mengalami nasib yang sama dengan Rebeliand," gumam Orion.
Suara kuda itu berubah menjadi dalam, dan serius padahal biasanya melengking seperti ringkikan kuda yang bersemangat. Biasanya, saat suara Orion berubah, maka keadaannya sangat serius.
Aku memincingkan mata agar lebih jelas dalam melihat kejauhan. Tapi sejauh apapun aku memandang, tidak ada kota apapun. Hanya tampak padang rumput dan langit biru yang bersentuhan di cakrawala.
"Aku tidak melihat apapun," Amicia mengaku. "Kau mendapat sebuah firasat?"
"Ini bukan firasat," bantah Orion. "Aku tahu kalau Degeo sudah lenyap, dan nasib mereka seperti Rebeliand."
"Jika Degeo memang benar lenyap seperti katamu, maka Anyx pasti akan kemba...."
Kalimatku terpotong, karena dari cakrawala di kejauhan muncul serigala hitam besar dengan Normen dan Yared diatasnya. Ada aura suram yang menyelimuti kembalinya mereka.
Mereka sampai di tempat kami dengan cepat. Raut wajah Normen maupun Yared seperti telah melihat sesuatu yang mengerikan. Harapan seolah telah hilang dari dalam hati mereka.
"Cerita kalian soal warga desa yang menghilang, juga terjadi di Degeo," Yared memutuskan untuk berbicara. "Semua penduduk Degeo menghilang tanpa jejak, seperti cerita kalian tentang Rebeliand."
Sebuah tragedi yang terjadi di desaku, ternyata juga terjadi di tempat lain.