Selama empat hari terakhir, aku hampir lupa akan mimpiku soal pria aneh, yang bersuara seperti kertas sobek di malam hari saat aku menginap di Alestora.
Lama kelamaan, mimpi itu hanya aku anggap sebagai bunga tidur, karena aku tidak pernah memimpikan hal itu lagi. Sebuah hal acak yang tiba-tiba muncul di saat tidurku, begitulah aku menganggap mimpi aneh itu.
Mungkin aku tidak bisa bermimpi, karena akhir-akhir ini aku tidak pernah tidur dengan nyenyak. Bahkan dalam dua hari terakhir, tidurku selalu di punggung Orion, yang membuat kasur empuk dan selimut hangat terasa seperti kemewahan.
Aku tidak memiliki waktu untuk tidur dan bersantai, kalimat itulah yang selalu aku tanamkan di pikiranku, sejak warga Rebeliand diculik. Hingga akhirnya, hari ini aku kembali diingatkan akan mimpi mengerikan itu.
Jantungku hampir meledak saat Normen mengatakan soal Raulith Lass dan pedang jiwa. Aku sangat ingat hari itu, saat aku memimpikan sosok menyeramkan yang mengatakan hal yang sama persis dengan kalimat yang baru saja diucapkan Normen.
Hari itu, penginapan Alestora menjadi saksi betapa mengerikannya isi mimpi itu. Hari istimewaku yang seharusnya dipenuhi kegembiraan, malah berubah suram karena dua mimpi buruk itu.
Mimpi buruk itu kembali terasa nyata, setelah aku sudah mencoba melupakannya selama beberapa hari terakhir. Mimpi itu adalah awal dari semua tragedi yang terjadi di hidupku akhir-akhir ini.
Aku cukup terguncang, hingga tubuhku seperti menancap jauh ke dalam tanah. Otakku mengingat bagaimana pria dengan pakaian serba hitam itu, mengatakan kalimat yang identik dengan perkataan Normen, namun dengan suara seperti kertas yang disobek.
"Lass!" sebuah suara menyadarkanku dari lamunan. Suara itu adalah suara melengking khas seekor kuda. "Kita berangkat lagi?"
Bersyukur sekali karena Orion bangun di saat yang tepat, sehingga badanku kembali bergerak seperti sedia kala. Normen juga melambai dengan ramah ke Orion, seolah tidak terjadi apapun antara aku dan dia.
"Apa kali ini bakal jauh?" tanya Orion.
Kedua matanya bersinar cerah seolah telah mendapat hadiah istimewa, lalu kuda itu berlari menghampiriku. "Aku tidak terlalu betah berada di dalam kandang, empat kakiku lebih suka berlari bebas."
Rasa bersalahku karena membangunkannya dan menyita waktu tidurnya harus aku hapus dari pikiranku. Orion adalah kuda yang tidak bisa dikekang, dia lebih nyaman berlarian bebas daripada beristirahat di kandang.
Jika Orion sangat bersemangat, maka Anyx berlaku sebaliknya. Dia bangun dari tidurnya dengan malas, sembari menguap cukup lebar. Ada satu hal yang mulai kusukai dari serigala ini, dia selalu siap kapanp un Normen membutuhkan tunggangan.
"Halo kucing besar," sapa Normen sambil mengelus leher bawah Anyx. Serigala itu terlihat tidak nyaman, tetapi tetap membiarkan Normen mengelusnya.
Sekarang tunggangan kami sudah lengkap. Meskipun aku masih penasaran dengan perubahan karakter Normen yang tiba-tiba, namun aku membiarkan hal tersebut menguap begitu saja, karena ada sesuatu yang jauh lebih mendesak.
Lain kali, saat hati dan otakku lebih tenang, maka aku akan menanyakan pada pria tua itu soal alasannya memanggilku Raulith, dan pengetahuannya tentang pedang jiwa. Kecurigaanku pada Normen harus tetap kujaga dalam hatiku.
Aku dan Normen menuntun tunggangan kami ke depan pintu rumah Dreyfus, lalu masuk ke dalam untuk mengambil barang yang kami perlukan untuk perjalanan.
"Apa mereka berdua tidur nyenyak?" tanya Amicia sembari mengikat rambutnya dengan seutas tali kotor.
Dia sedang memasukkan beberapa botol bumbu dari dapur, sebuah botol minum kayu, dan kotak kecil berharganya kedalam kantong baju maupun celananya.
Aku melihat sahabat cewekku itu cukup lama, selagi dia memilah barang-barang yang layak dia bawa di perjalanan. Sejak dahulu, aku memang sangat menyukai Amicia dengan kuncir rambut kudanya.
Amicia menyadari kedua mataku yang melihatnya tanpa berkedip, namun cewek itu hanya melemparkan senyum geli padaku.
"Kau baru sadar kalau aku cantik?" godanya dengan nada genit yang menyebalkan.
Aku tidak akan mengakui hal tersebut, karena cewek ini pasti akan membuat kericuhan besar, jika aku dengan bodohnya mengakui kecantikannya.
"Mereka tidur nyenyak, dan Orion terlalu bersemangat karena kita akan pergi lagi," jawabku dingin, sekaligus untuk mengubah topik. "Bagaimana kabar tas kita yang ada di Alestora?"
Amicia melirikku dengan geli. "Mungkin sudah dibakar oleh si pemilik, lagipula tidak ada sesuatu yang penting di dalamnya."
Aku tersenyum mendengar Amicia membalas gurauanku, sekaligus mau mengubah topik yang menyebalkan bagiku. Kami memang harus menyelamatkan warga Rebeliand, tetapi kami juga tidak boleh terus tertekan oleh keadaan.
"Oi Yared!" panggil Amicia.
Cewek itu mengambil sebilah pisau berukuran sedang yang tersarung rapi dari sepatunya, lalu melemparkan kepada Yared yang untungnya berhasil menangkap dengan tepat.
"Apa ini?" tanya Yared. Dia memandangi pisau itu seolah benda itu adalah sesuatu yang aneh.
"Anugrahmu itu sangat hebat," puji Amicia, lalu dia menunjuk pisau di tangan Yared. "Pisau itu sangat pas untuk membuatmu menghabisi nyawa musuh, yang terkena efek anugrahmu.
Sahabatku itu memberi senyum kepada Yared, sambil berpesan, "Kau harus sanggup bertarung sendirian, jadi kau tidak perlu menunggu kami datang, untuk menumpas semua orang yang membeku karena anugrahmu."
Aku memikirkan kalimat Amicia, dan cewek itu memang benar. Contohnya adalah saat anugrahnya aktif kala melawan Dreyfus di rumahnya, maupun saat anugrahnya kembali aktif saat Dreyfus menyerangnya di depan gerbang Arnment.
Meskipun Yared sangat tenang, karena dia tahu anugrahnya akan selalu aktif saat nyawanya terancam. Tetapi tetap saja, Normen adalah orang yang memenggal kepala Dreyfus, dan melemparkan kepala si gila itu ke dalam api.
Pada dasarnya, anugrah milik Yared belum bisa disebut mematikan jika lawannya memiliki ketahanan yang kuat seperti Dreyfus, ditambah kemampuan bertarung Yared yang tidak memadai. Pisau yang diberikan Amicia, adalah jawaban untuk menutup kelemahan dalam anugrah Yared.
"Oke, aku terima" sahut Yared sambil memasukkan pisau itu ke dalam saku celananya. Cowok itu kembali memandang Amicia. "Apa kau masih punya senjata?"
"Pencuri harus selalu punya dua pisau," jawab Amicia pongah. "Ah, sebagai balasan atas pisau itu, aku tidak mau mengantongimu lagi dalam bentuk kadal. Jadi kau bisa bersama Normen di perjalanan kali ini."
Yared menimbang sejenak permintaan Amicia, lalu akhirnya dia mengangguk setuju.
Selepas kami semua membawa segala benda yang dibutuhkan, maka kami sudah bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Aku naik ke punggung Orion lebih dahulu, lalu Amicia naik di belakangku.
Di depan kami, punggung Anyx sudah diduduki oleh Normen dan Yared di belakangnya. Kami akhirnya meninggalkan Arnmeny pada larut malam, sudah banyak lampu yang dimatikan di desa itu, dan sudah tidak terdengar orang-orang yang meratap.
Desa ini sudah seperti pulih kembali, padahal beberapa saat lalu desa ini hampir hilang dari peta pulau Adon. Aku teringat puisi yang dinyanyikan Amicia selagi dalam perjalanan ke Arnmeny.
Degeo lenyap, Arnmeny tangguh, mungkin bait itu memang menunjukkan karakter asli orang Arnmeny. Mereka sungguh adalah sekumpulan orang yang tangguh.
Arnmeny, aku akan selalu mengingat peristiwa besar yang hampir menghancurkan desa ini. Begitu pun dengan cara mereka tetap bertahan padahal sudah tidak ada harapan. Aku akan menyimpan desa ini sebagai lambang dari ketangguhan manusia.
Di depan kami, Anyx memimpin jalan melalui utara Arnmeny, hingga akhirnya kami keluar meninggalkan desa itu melewati gerbang utara.
Aku berharap bisa berkunjung kembali ke desa ini, saat Rebeliand sudah dibangun kembali. Melihat desa ini membuatku berharap bahwa ketangguhan warga Rebeliand, sebanding dengan warga Arnmeny.
Sepeninggal desa Arnmeny, jalan yang kami lalui berubah menjadi lebih kasar. Rerumputan yang ada di bawah kami cukup tinggi, meskipun tidak bisa menghadang lari Anyx maupun Orion yang bukan hewan biasa.
Tetapi mengetahui bahwa keadaan jalan sudah berubah, membuatku sadar bahwa Normen memang memimpin kami melalui rute yang jauh dari jalan utama kerajaan Donater, agar kami tidak berpapasan dengan siapa pun.
Jalan di depan tidak terlihat sama sekali, aku hanya bisa mengandalkan penglihatan Orion untuk tetap menjaga jarak dari Anyx. Tersesat di padang belantara selarut ini bukan cerita yang indah untuk disadur menjadi puisi.
Amicia yang duduk di belakangku, tidak khawatir sama sekali kalau kita bisa tersesat jika kehilangan Anyx. Cewek itu langsung tertidur dengan menyadarkan kepalanya ke punggungku, sembari memeluk perutku sejak kami keluar dari Arnmeny.
Selama perjalanan ini, aku juga mulai terbiasa bersentuhan dengan Amicia terutama saat kami sedang menunggangi Orion. Padahal, sebelum ini aku selalu menghindari setiap sentuhan sok mesra, yang dilakukan cewek iblis ini.
Namun, sejak kejadian di bawah pohon dekat desa Tosval, aku akhirnya mulai melonggarkan sentuhan Amicia padaku. Apalagi, sekarang ini kami semua memang sangat lelah, tetapi kami harus bertahan untuk tetap memercik harapan bagi warga kami yang diculik.
Sadar bahwa hanya kami berdua harapan yang tersisa untuk mengembalikan Rebeliand seperti sedia kala, membuat kami saling menjaga satu sama lain. Hubungan persahabatan kami juga semakin erat, karena sekarang kami bisa saling menggantungkan nyawa.
Bukan berarti aku sedang menimbang kemungkinan untuk menjadi pacar Amicia, tetapi empat hari bersamanya membuatku mulai sadar bahwa dia adalah salah satu milikku yang berharga, dan aku bertanggung jawab menjaganya.
Kami berdua memang tumbuh sebagai saingan yang dididik oleh guru yang sama. Tetapi kami juga adalah orang yang paling mengerti satu sama lain, akibat terlalu sering berbagi banyak hal.
Ruangan latihan, makan siang, tunggangan, senjata, dan banyak hal lain yang kami pakai bersama, selama kami berdua berlatih di bawah pengawasan Master Ekkehard
Jika Solastra adalah sahabatku karena kami sering menjaga pos perbatasan, maka Amicia lebih dari itu. Dia adalah rival, sahabat, adik, dan bahkan orang tua bagiku.
Aku tidak tahu apakah arti diriku baginya, terlebih karena cewek itu sering menggodaku selama setahun terakhir. Rumor soal kami berpacaran juga tersebar di seluruh Rebeliand karena Amicia sering berkunjung ke rumahku, bahkan saat aku tidak dirumah.
Rumor itu bagai angin lalu di pikiranku, karena bagiku Amicia adalah Amicia. Perasaanku tidak akan berubah kepadanya, dan kami juga tidak pernah membahas soal rumor itu empat mata. Jadi aku menyimpulkan, kalau Amicia juga memandang enteng rumor itu.
Memikirkan soal rumor itu membuatku rindu Rebeliand. Baru empat hari aku tidak merasakan kehangatan berada di rumah, tidak bertemu dengan kedua orang tuaku, maupun para pemuda seusiaku.
Aku akhirnya juga sampai ke pemikiran tentang bagaimana dengan Amicia, yang pergi hingga sebulan dari Rebeliand untuk mencuri. Tingkat adaptasi cewek itu memang sangat hebat, namun dia pasti lebih rindu Rebeliand.
Padang belantara di depan kami seolah tanpa akhir, selagi aku bergelut dengan pikiran di otakku. Tubuhku juga mulai terbiasa dengan kecepatan lari Orion yang semakin halud, sehingga perlahan rasa nyaman mulai menyelimutiku.
Niat awalku untuk menjaga Amicia, harus kalah karena kelemahanku. Akhirnya aku juga tertidur dengan memeluk Orion, di tengah perjalanan panjang yang sepertinya tidak akan memiliki akhir.