Bab 30 - Fakta

1562 Kata
"Sudah matang?" tanyaku kepada koki malam ini. Amicia sang koki, berjalan di ruang tamu rumah bekas Dreyfus sambjl membawa sepanci besar sup ayam, yang sejak tadi menyita waktunya. Kami bersyukur karena seorang penduduk desa Arnmeny, bernama Yavrethil, mau memberi seekor ayam yang cukup besar untuk kami makan. Selain itu, kami juga bisa tidur di rumah Dreyfus malam ini, karena tidak ada satu pun penduduk yang mau tinggal di rumah ini. Alasannya sederhana, mereka tidak ingin tinggal di bawah atap yang pernah ditemoati Dreyfus. Mereka memilih untuk tinggal di rumah warga lain. Para warga dengan rumah berbahan dasar batu, mau membuka pintu rumahnya untuk mengijinkan keluarga yang tidak memiliki rumah karena dilalap api. Akibat tragedi ini, perbedaan status sosial yang ada di Arnmeny bisa diabaikan untuk sejenak. Bahkan, mereka sudah bersepakat untuk saling membantu membangun rumah pada esok pagi. Karena tidak ada yang mau untuk tinggal di rumah Dreyfus, maka ada cukup banyak kamar disini. Selain itu, juga terdapat kandang kuda di halaman belakang rumah. Semoga Orion dan Anyx bisa akrab malam ini. "Aku hanya memasak seadanya," kata Amicia. "Dan ini pertama kalinya aku memasak, setelah setahun terakhir." Cewek itu duduk di sebelahku, lalu mulai memindahkan sup di panci itu ke mangkok kecil di depannya. Kelengkapan alat makan di rumah ini juga patut diapresiasi. Kami mulai bergantian menciduk sup ayam setelah Amicia selesai, lalu mulai makan dalam diam karena kami semua sangat kelaparan. Aku tidak perlu merasakan sup itu, karena jika perutmu lapar, maka semuanya akan terasa enak. Selama beberapa saat, satu per satu dari kami mulai selesai melahap masakan Amicia. Panci berisi sup ayam juga sudah langsung habis, hasil dari kelaparan yang melanda kami. Aku beranjak dari tempatku untuk membersihkan semua alat makan yang telah selesai dipakai. Bersama Amicia, kami mengembalikan setiap barang-barang dapur yang telah kami pakai, ke tempat semestinya. "Normen, menurutmu berapa besar kemungkinan tentara Preant adalah penculik warga desaku?" tanyaku setelah kembali ke ruang tamu. Amicia langsung menatapku dengan kebingungan karena menanyakan hal tersebut, sedangkan Yared dan Normen masih fokus dengan daging ayam yang tersangkut di gigi mereka. "Terimakasih makanannya, Nona Amicia," kata Normen ramah, lalu dia beralih kepadaku. "Kenapa tiba-tiba menanyakan soal itu, Master Lass?" "Bukankah kau yang memintaku untuk mengantarkan kalian ke Preant? Jadi, kuanggap kalian sudah memastikan kalau penculiknya adalah tentara Preant," sambung Normen. "Mereka hanya berpapasan dengan tentara perak, di jalan pulang ke Rebeliand. Karena itu, mereka menyimpulkan kalau tentara perak adalah penculiknya," kata Yared sambil menunjukku dan Amicia dengan sendoknya. Amicia masih tidak melepaskan pandangannya dariku, kali ini sorot matanya lebih jahat daripada sebelumnya. Bukan hanya Amicia, Normen juga melihatku untuk meminta penjelasan lebih lanjut. Sudah terlambat untuk menghindar, sekarang aku tidak punya pilihan lain. Aku menceritakan detail pertemuan kami, dengan tentara perak dan bagaimana keadaan Rebeliand saat kami tiba disana. Tidak ada satu hal pun yang terlewat, termasuk keganjilan karena Solastra Wornd yang ditinggalkan dalam keadaan hidup. Bahkan cerita Solastra, soal para monster yang menyerang Rebeliand, juga tidak luput untuk kuceritakan. Aku membagi beban untuk menyelamatkan warga Rebeliand, kepada Normen Harv dan Yared. Sehingga, bebanku dan Amicia bisa aku bagi dengan dua orang lain. "Jadi begitu...," ujar Normen sambil merenung dan menganggukan kepalanya beberapa kali. Wajah sang prajurit tampak semakin tua, saat dia mencoba berpikir terlalu keras. "Apanya yang begitu?" tanya Amicia tidak sabar. Dia sudah tidak peduli dengan air minumnya yang masih setengah gelas. Cewek itu sudah berhenti menyentuh makanan dan minuman, sejak aku membahas soal penculikan warga Rebeliand dengan Normen. "Begini Nona Amicia," Normen siap menjelaskan dengan nada tenang. "Tentara perak dari Preant merupakan junjungan di kalangan prajurit, bahkan sudah hampir setara dengan mitos." "Dan seingat saya, mereka akan muncul saat diutus untuk membantai atau ada perang besar. Jarang sekali kerajaan Preant mengutus tentara perak untuk menculik warga sebuah desa," imbuh Normen. "Itulah yang menjadi keraguanku, karena tidak ada p*********n di Rebeliand," tegasku. "Bertarung melawan warga Rebeliand, juga tidak bisa dianggap sebagai perang besar," tambah Yared. "Intinya, tidak ada alasan bagi tentara mitos untuk keluar dari selubung mereka." "Nah, itu yang awalnya saya pikirkan saat Nona dan Master meminta bantuan saya," aku Normen. "Tetapi saya tidak bisa menolak, saat kalian berdua meminta bantuan saya, karena sorot mata kalian terlihat sangat putus asa." "Selain itu, untuk bertemu denganku, kalian rela membantai seluruh pasukan elit kota Donuemont. Jadi bagaimana bisa, orang tua ini menolak permintaan dua anak muda yang ingin menolong warganya," tambah Normen. Harus aku luruskan, bahwa aku tidak membantai satu orang pun dari pasukan elit Donuemont. Mereka hanya kugetok dengan gagang pisau hingga pingsan, tetapi untuk para prajurit yang melawan Amicia sudah pasti tidak ada harapan. Sahabatku itu punya prinsip yang cukup dingin jika berhadapan dengan musuh. "Lalu kenapa kau tidak mengatakan soal tentara perak pada kami?" tanya Amicia. "Saya tidak mau menghilangkan harapan dari diri kalian, karena saya sendiri belum bisa memastikan siapa yang menculik warga desa kalian," jawab Normen. "Sekarang, saya akan menjelaskan pada kalian semua. Normen mengeluarkan sebuah gulungan kertas dari dalam bajunya. Dia menyingkirkan semua benda dari atas meja, lalu membentangkan gulungan itu di supaya kami dapat melihat isinya. Gulungan itu berisi tulisan tangan seseorang. Tulisan itu ditulis dengan tinta merah seperti darah, dan bentuknya begitu buruk hingga hampir tidak terbaca. Aku bersyukur karena Master Ekkehard sempat mengajarku membaca dan menulis, sehingga aku tidak tampak bodoh diantara mereka. Aku berusaha keras untuk membaca tulisan yang buruk itu, kira-kira begini bunyinya: Untuk Normen Cepatlah datang ke Hutan Hitam. Makhluk yang sangat jahat sedang berhenti di timur, dekat Degeo. Mereka menjarah, menculik, merampok namun, tidak membunuh. Cepat ke Hutan Hitam! Halingga meninggalkan kami Donater memalingkan wajahnya dari kami Para Elf disini terlalu asing dengan mata pedang "Siapa yang mengirim ini?" tanya Amicia. Dia menyambar surat itu lalu membalikkannya, berharap tertulis nama pengirim dibaliknya. "Dia adalah temanku, seorang elf, namanya Holafirdann" jawab Normen. Prajurit itu mengedikkan kepalanya ke surat yang dipegang Amicia. "Alasanku mengajak kalian ke Hutan Hitam karena dia tinggal disana. Tetapi dia sudah mengirim surat kepadaku terlebih dahulu, sebelum aku sampai di Hutan tersebut." "Jadi surat darinya adalah alasan kau kembali menolong kami?" tanyaku. "Kira-kira begitu Master Lass," sahut Normen sambil mengangguk setuju. "Firdann selalu mengerti apa yang terjadi di setiap sudut pulau Adon, karena itu aku membawa kalian kesana untuk menanyakan soal penculikan Rebeliand." "Dan ternyata dia mengirim burung gagak dengan surat di kakinya, surat yang mengatakan kalau warga Rebeliand kemungkinan berada di Degeo," tebak Yared. "Hutan Hitam adalah sebuah hutan luas yang menjadi pembatas alami antara kerajaan Donater dan kerajaan Halingga," Normen menjelaskan, "Degeo adalah desa kecil yang tepat berada di batas hutan Hitam bagian tenggara." Pria tua itu selalu tampak berwibawa saat menjelaskan soal hal-hal yang tidak kuketahui. Namun, aku sepertinya pernah mendengar soal Degeo di suatu tempat, atau Amicia pernah menyanyikan lagu soal Degeo saat dalam perjalanan ke Arnmeny. "Degeo lenyap, Arnmeny tangguh," gumam Amicia. Cewek itu memandang tajam kepada Normen, "Bait lagu itu sedang menjadi kenyataan!" Ternyata ingatanku masih baik. Amicia memang pernah bersenandung tentang Arnmeny dan Degeo di belakangku, kala menunggangi Orion. Tetapi mengapa dia tampak sangat terkejut jika lagu itu menjadi kenyataan? Mungkin hanya kebetulan bait lagu itu sedang terjadi. "Mungkin lagu itu diambil dari ramalan kuno," kata Yared santai. Dia mengibaskan tangannya seolah mengatakan bahwa ketakutan Amicia tidak ada alasannya. "Kalian tidak punya waktu untuk mencemaskan soal ramalan, kan? Warga Rebeliand menunggu untuk diselamatkan," imbuh Yared. Yared benar, ada yang lebih penting daripada mencemaskan sebuah bait lagu, yaitu menyelamatkan warga Rebeliand. Kami tidak boleh membuang waktu sekarang, tujuan sudah ditetapkan yaitu kota Degeo di timur. Aku sedikit berharap kalau kota Degeo tidak sesuram Arnmeny, karena sejauh ini aku tidak memiliki kenangan yang baik untuk setiap kota yang kukunjungi sejak aku keluar dari Rebeliand. "Oke sudah diputuskan," Normen mengumumkan. Pria tua itu beranjak dari tempat duduknya. "Kita berangkat ke Degeo sekarang, dengan kemampuan Orion dan Anyx maka kita bisa sampai kesana setelah fajar." Aku dan Amicia mengangguk cepat setelah mendengar rencana yang diumumkan Normen. Yared yang meskipun tampak tak acuh juga tidak menyampaikan keberatan sama sekali. Aku juga lumayan penasaran akan alasan anak itu tetap ikut dengan kami, setelah keinginannya untuk menemui Normen sudah dia dapat. Tapi biarlah rasa penasaranku tentang alasan dua orang itu membantu kami tetap ada di pikiranku. Semakin banyak yang membantuku dan Amicia, maka semakin besar kemungkinan untuk menyelamatkan warga Rebeliand. Aku dan Normen pergi ke kandang di belakang rumah untuk menjemput tunggangan kami, Orion dan Anyx. Dari kejauhan, kedua binatang itu tampak damai dalam tidur mereka. Aku merasa bersalah membangunkan mereka untuk menyuruh mereka kembali berlari. "Master Lass," desis Normen pelan. Aku menoleh ke pria tua itu, raut wajahnya menunjukkan kalau dia sedang memikirkan sesuatu. "Aku membantu kalian bukan karena rasa simpati," lanjutnya, dia berbicara dengan tetap memandang jauh ke depan. "Aku hanya ingin menjadi saksi bagaimana besarnya kekuatan seorang pewaris kerajaan Foeter." Pewaris kerajaan Foeter? Aku baru pertama kali mendengar nama kerajaan itu. Otakku masih mencari respon paling tepat, untuk menanggapi perkataan Normen, namun dia mendadak menoleh kepadaku. "Kau masih belum paham siapa dirimu?" tanya prajurit tua itu sambil menyunggingkan sebuah senyum di wajahnya. Biasanya aku merasa tenang jika orang ini tersenyum kepadaku, tapi kali ini ada perasaan aneh yang muncul dalam diriku. Seolah Normen sedang berubah menjadi orang lain. Mendadak Normen berhenti berjalan, dengan senyum aneh yang masih menghiasi wajahnya. Aku juga berhenti, lalu memberanikan diri berjalan ke arahnya. "Kau adalah Raulith Lass" kata Normen setengah berbisik, yang bahkan terdengar seperti sebuah desisan. "Kau adalah penguasa pedang terkuat, dan pencabut nyawa manusia paling mengerikan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN