"Bagaimana denganmu, Master Lass?" tanya Normen padaku.
Pria tua itu menghampiriku setelah selesai membalut luka sayatan di sekujur tubuh Amicia dengan kain. Di tangannya, dia membawa pedang kering, yang baru saja menjadi senjata untuk memenggal kepala Dreyfus.
Bahkan di hari kematiannya pun, Dreyfus masih memberikanku sedikit pengetahuan yang berharga. Dengan kematiannya yang tragis, dia juga menunjukkan pada kami, bahwa tidak ada satu tetes pun darah yang mengalir di tubuhnya.
Karena tidak ada darah yang mengalir di tubuh Dreyfus, maka Normen tidak perlu bersusah payah untuk membersihkan pedangnya, bahkan senjata pria tua itu terlampau kering. Padahal, senjata itu baru saja memisahkan kepala seseorang dari tubuhnya.
Setelah kematian Dreyfus, kami memutuskan untuk membakar tubuh si gila itu, untuk memastikan agar dia tidak hidup kembali. Sedangkan untuk dua komplotannya yang pingsan, Normen mengikat mereka berdua di bawah sebuah pohon.
Kami semua berada di padang rumput depan gerbang Arnmeny, karena paksaan Normen. Dia menahan aku dan Amicia untuk masuk ke dalam desa, sebelum dia diperbolehkan untuk membebat luka kami.
Responku atas pertanyaan Normen adalah sebuah jawaban lirih, "Aku tidak apa-apa."
Tubuhku hanya sangat lelah karena sudah dua hari ini aku belum tidur. Selain itu, makanan terakhirku adalah kemarin malam, saat aku dan Amicia beristirahat di hutan dekat Rebeliand.
Namun aku harus menepis rasa lelahku untuk sementara, karena sekarang kami harus membantu warga desa Arnmeny untuk menguburkan para lelaki yang meninggal, dengan hormat.
"Kita bunuh mereka berdua?" usul Amicia, yang langsung ditolak dengan tegas oleh sang pengawal Raja.
"Malam ini, sudah cukup nyawa yang hilang, Nona Amicia," ujar Normen. "Aku mengusulkan, agar mereka berdua diserahkan kepada warga setempat, dan membiarkan agar para warga yang mengambil keputusan."
"Kalau warga ingin membunuh mereka?" desak Amicia.
"Maka biarlah hal tersebut yang terjadi," jawab Normen tenang. "Setidaknya, warga desa ini sudah melihat wajah orang-orang yang membuat suami, atau ayah mereka tewas."
Ketenangan dan kebijakan Normen membuat Amicia akhirnya mengalah. Cewek itu tidak lagi melanjutkan perdebatan untuk membunuh dua orang komplotan Dreyfus yang tersisa.
Selagi kami berbincang, para warga mulai keluar dari dalam desa, tempat mereka bersembunyi dengan aman. Masing-masing pribadi langsung mencari orang yang mereka sayangi, meskipun sudah terbujur kaku dan menjadi mayat.
Sebuah pemandangan yang mengerikan saat anak-anak mencari ayahnya, dan orang-orang lain yang mulai mencari suami, kakak, atau paman mereka. Namun, yang mereka temui adalah satu hal yang sama, yaitu mayat.
Mereka semua dibantai tanpa ampun oleh Dreyfus, seseorang yang berasal dari ras tanpa nyawa dan emosi. Desa yang awalnya indah dalam ingatan orang, telah berubah menjadi suram, dan sekarang malah menjadi desa tempat tragedi mengerikan terjadi.
Tangisan yang satu per satu pecah, terdengar memenuhi langit malam, suara yang saling sahut-menyahut terasa sangat pilu dan menyedihkan. Malam ini, tangisan kehilangan para warga, menjadi iringan bersama fajar yang sebentar lagi menyingsing di langit desa Arnmeny.
Bulan yang menunjukkan dirinya di antara awan, menandakan bahwa sekarang adalah malam keempat, sejak malam mengerikan saat warga desaku diculik. Dan sampai saat ini, masih belum ada informasi tentang siapa yang menculik mereka.
Selagi warga desa Rebeliand diculik oleh entah siapa, aku dan Amicia sedang berada di Arnmeny untuk menolong desa ini dari kehancuran.
Di tengah tragedi yang menimpa Arnmeny malam ini, ada hal baik bagi warga desa ini, yaitu mereka tidak perlu hidup berdampingan dengan Dreyfus lagi. Entah fakta itu akan menghibur mereka atau tidak, tetapi mereka tetap harus melanjutkan hidup dengan motivasi apa pun.
Pria yang masih hidup dari desa ini ternyata lumayan banyak, salah satunya adalah orang kutolong saat mencoba mendekat ke Dreyfus.
Meskipun pria yang selamat adalah para pria tua atau mereka yang tidak bisa bertarung, setidaknya tetap ada harapan bahwa desa ini akan bangkit lagi.
Aku memastikan untuk terakhir kali, bahwa tidak ada orang terluka yang perlu kuobati lagi. Setelah itu, aku mendekati Yared yang sedang berada di luar gerbang.
Penyelamatku itu sedang mengawasi Anyx, si serigala yang makan mayat para komplotan Dreyfus. Orion ada di sebelah Anyx dengan tatapan geli, sekaligus takjub saat melihat si serigala sedang makan dengan lahap.
"Oi Lass!" sapa Orion, "Serigala itu sedang pesta hari ini, tetapi aku takut dia bakal sakit perut, karena para orang jahat ini pasti memiliki rasa yang tidak enak."
Lelucon Orion cukup membuat hatiku agak tenang, setelah pertarungan sengit tadi. Aku bersyukur memiliki sahabat seperti Orion, dia dapat meningkatkan semangat dan membantu saat diperlukan.
"Terimakasih sudah kembali untuk menolong kami," kataku kepada Orion dan Yared.
Sang kuda hanya manggut-manggut dengan wajah bangga, sedangkan Yared tidak bergeming dari pandangannya kepada Anyx yang sedang berpesta pora.
"Sama-sama," jawab Yared datar, sambil mrlemparkan senyum kepadaku. "Aku tidak kembali untuk menolongmu, tetapi aku kembali untuk membunuh Dreyfus."
Aku tetap berterima kasih kepadanya, entah apapun alasannya kembali. Karena harus diakui, bawah kami butuh anugrahnya untuk mengalahkan Dreyfus yang tidak bisa dibunuh.
"Kemampuan bertarung duo pencuri Rebeliand juga melebihi bayanganku," imbuh Yared.
Apa aku tidak salah dengar? Yared barusan memujiku dan Amicia? Sepertinya, memang ada sesuatu yang terjadi antara Yared dan Normen, selagi kami berpisah.
"Kau memujiku atau sedang menyindirku?" tanyaku penasaran.
"Hanya mengatakan fakta, bahwa kalian sanggup mengatasi empat orang petarung yang menjadi orang kepercayaan Dreyfus," katanya tak acuh. "Aku cukup terkejut saat melihat hanya ada tiga orang komplotan Dreyfus yang tersisa."
"Bagaimana kau bisa kembali? Siapa yang memberitahumu kalau aku dan Amicia malah memilih bertarung?" balasku.
Yared mengedikkan kepalanya ke arah Orion. "Sahabatmu itu berlari hingga berhasil mencapai Anyx, sebuah usaha yang cukup, untuk membuat kami putar balik."
Aku langsung beralih Orion dengan cepat, dia adalah penyelamat kami yang sebenarnya. Pantas saja dia cukup lama untuk membantu kami.
Padahal, dengan kecepatan tertingginya, dia hanya butuh sedikit waktu untuk menyelamatkan warga, dan membopong mereka ke pengungsian, lalu segera membantu kami mengalahkan Dreyfus dengan sihir hutannya.
Namun, pilihan yang diambil Orion lebih realistis, karena dia lebih memilih untuk mengejar Anyx yang membawa Yared, ketimbang melakukan misi bunuh diri bersamaku dan Amicia.
Orion menegakkan tubuhnya setelah sadar kalau dia kupandangi dengan kagum. Dasar kuda tukang pamer! Aku harus memilih waktu lain jika ingin memuji Orion, karena jika sekarang dia dipuji, maka kepercayaan dirinya akan semakin melambung tinggi.
"Vhirlass Udhokh" Yared memanggilku dengan nama lengkapku, alih-alih memakai kata Tuan seperti biasanya. "Bagaimana kau dan Amicia menyimpulkan kalau warga desamu diculik tentara Preant?"
Kenapa Yared mendadak menanyakan hal itu? Pertanyaan itu juga membuat Orion sedikit gelisah karena dia menggerakkan dua kaki depannya tidak nyaman.
Bukan karena aku tidak percaya dengan Yared, ettapi menceritakan soal tentara Preant maka sama saja membuka rahasia sihir hutan milik Orion, yang sanggup membuat orang di lingkup sihirnya menjadi tak kasat mata.
"Kami melihat sepasukan tentara, di tengah perjalanan pulang ke Rebeliand," jawabku. "Mereka membawa panji, juga pedang berwarna perak. Orion dan Amicia menyimpulkan, bahwa mereka adalah tentara perak dari Preant."
"Jadi begitu...," ujar Yared sambil menggiggit bibirnya, seolah sedang mencerna semua perkataanku. "Tetapi kalian tidak melihat mereka membawa warga desa kalian, kan?"
Aku mengangguk untuk mengonfirmasi ucapannya. "Tetapi, juga ada kemungkinan kalau mereka adalah saksi penculikan warga desa kami, karena tidak ada kota atau desa apa pun di sekitar situ, selain Rebeliand."
"Aku tidak terlalu tahu soal tentara perak dari Preant," aku Yared. "Tetapi aku cukup tahu, kalau tentara tidak mungkin menculik orang sebanyak itu, mereka pasti membunuh yang tidak penting."
"Anak-anak, wanita, dan binatang ternak adalah contoh dari kata yang tidak penting," imbuhnya.
Membunuh yang tidak penting? Pikiranku langsung tidak karuan mendengar perkataan Yared. Jika dia benar, maka kemungkinan hanya orang-orang penting saja yang masih hidup. Lalu bagaimana dengan ayah dan ibuku?
"Menurutku tidak begitu," sela Orion yang juga akhirnya ikut dalam perbincangan. "Mereka akan langsung membunuh jika memang niat awal mereka adalah membunuh. Namun, faktanya tidak ada mayat di Rebeliand, jadi mereka pasti diculik."
"Jika perkiraanmu benar, maka penculik itu harus punya alasan yang kuat, untuk menculik orang sebanyak itu" balas Yared dengan santai. "Kalau tidak salah, Rebeliand memiliki tiga belas kepala keluarga, berarti sekitar tujuh puluh penduduk. Butuh sebuah kapal yang cukup besar, untuk mengangkut orang sebanyak itu."
Perkataan Yared masuk akal, tentara Preant yang berpapasan denganku berjumlah sekitar empat puluh orang. Apakah mereka sanggup mengangkut warga desa sebanyak itu hanya memakai kuda?
"Satu lagi," tambah Yared. " Pulau Adon hanya memiliki satu pelabuhan yang bisa mengantarkan ke Laustrowana, tempat kerajaan Preant berada. Pelabuhan itu berada di ujung utara pulau ini,"
"Jika ingin menyelamatkan warga desa kalian, maka saranku adalah pikirkan segala kemungkinan yang ada," imbuh Yared. "Contoh kemungkinan lain adalah, apakah ada tersangka lain selain tentara Preant, yang dpaat mengangkut warga desa kalian."
Aku ingat kalau kerajaan Preant ada di pulau sebelah timur Adon, namun aku tidak menyangka kalau hanya ada satu akses ke pulau tersebut dari pulau ini. Kalau begitu, pasti ada saksi yang melihat warga kami diangkut secara paksa, sepanjang perjalanan ke utara.
Namun, hingga saat ini, tidak ada satu pun yang melihat sekumpulan tentara sedang mengangkut orang secara paksa. Berarti, aku harus mendengar saran Yared, untuk mencari kemungkinan yang lain.
Belum lagi, soal pelabuhan pulau ini, yang ada di ujung utara pulau. Bagaimana jika kami yang sudah jauh-jauh ke Preant, tetapi malah tidak menemukan warga desa kami?
"Apa sebaiknya kita diskusi dengan Normen soal ini?" usulku.
Alasan utamanya adalah karena Normen merupakan orang yang paling mengerti pulau Adon, jadi menurutku sebuah keputusan bijak untuk menanyakan pendapatnya. Dia pasti dapat membeberkan banyak kemungkinan, soal tersangka yang menculik warga Rebeliand.
"Aku suka ide itu," kata Orion, "Lagipula kita sudah selesai memadamkan rumah yang terbakar, dan mengubur mayat warga dengan layak. Kita bisa berdiskusi, sambil makan sesuatu di rumah Dreyfus."
Makan, mendengar kata tersebut membuat tenggorokanku langsung menelan ludah. Setelah berbagai kesulitan yang sudah kami alami, perut kami memang layak diganjar dengan makanan sehat.
Bahkan meskipun kami memiliki tujuan mulia, garis miring bunuh diri, setidaknya kami tetap harus memakan sesuatu. Usul Orion adalah yang paling masuk akal untuk dilakukan.
"Master Lass, Nona Amicia, Master Yared," panggil Normen. Pria tua itu ada di gerbang desa Arnmeny bersama seorang wanita yang cukup berumur.
Kami bertiga menghampiri si kepala pengawal Raja, dengan rasa penasaran, karena sepertinya ada sesuatu yang penting. Semoga tidak ada sebuah kejadian yang membuat kami harus kembali bertarung.
"Perkenalkan, nama beliau adalah Yavethril dan orang ini adalah salah satu tetua desa ini," ujar Normen sambil mengarahkan tangannya ke wanita tua di sebelahnya.
Si wanita tua yang memiliki nama sulit itu menundukkan kepalanya kepada kami bertiga, bahkan Orion dan Anyx yang baru saja bergabung di tengah obrolan para manusia.
"Terimakasih sudah mau menolong desa kecil kami," ujar wanita tua bernama susah. "Sebagai balasannya, ijinkan saya untuk memberikan kalian sebuah hadiah."
Dari belakang wanita itu, beberapa wanita yang lebih muda membawa banyak nampan dengan berbagai macam isi. Dan yang membuatku semakin bersemangat adalah semua nampan itu hanya berisi berbagai jenis makanan, sesuatu yang paling kami butuhkan.
"Apa kita masih memiliki waktu untuk makan?" gumam Amicia di sebelahku, yang langsung kubalas dengan sebuah tatapan tajam.
"Kenapa?" gerutunya, setelah dia sadar bahwa aku belum melepaskan pandangan kesalku kepadanya.
"Kalian berdua sedang bertengkar?" tanya Normen sambil mengangkat kedua alisnya. "Kalau tidak, maka Nona Amicia bisa memasak sesuatu untuk kami."
Si iblis bernama Amicia Ekkehard menatap tajam kepada Normen, namun pria tua itu tidak mau dibantah. Si prajurit Donater hanya melemparkan senyum ramahnya kepada sahabatku.
Ternyata Amicia tetap mau mengalah, dia mengambil nampan yang berisi ayam mentah, lalu membawanya ke dalam desa Arnmeny.
"Kita akan memakai rumah Dreyfus sebagai tempat untuk memulihkan diri," tegasnya. "Alasan utamanya adalah, karena rumah itu memiliki peralatan memasak yang memadai."
Satu lagi mukjizat yang terjadi hari ini, Amicia akan menggunakan pisaunya untuk memasak makanan, bukan untuk menggorok leher orang lain.