Teriakan Amicia bukan hanya menghancurkan fokusku, namun juga membuat Dreyfus dan komplotannya langsung menoleh ke sumber suara.
Hasilnya sudah jelas, bahwa keenam orang itu mengetahui keberadaan kami, dan juga akhirnya menyadari bahwa satu di antara mereka telah menghilang.
Pria berpedang yang berada di depanku juga mulai memandang sekelilingnya, hingga akhirnya dia menoleh ke belakang, dan menyadari kalau dirinya sudah masuk dalam jarak seranganku.
Namun, pria kekar itu tetap kalah selangkah denganku. Aku hanya perlu mendinginkan kepalaku, dan menyerang tanpa kesalahan sedikit pun.
Waktuku sangat sempit, namun lebih dari cukup bagiku, untuk langsung memberinya serangan mematikan kepada pria yang merupakan salah satu komplotan Dreyfus di depanku.
Aku mengambil satu langkah besar untuk mempersempit jarakku dengannya, lalu melompat tepat di depan pria itu dan langsung menebas lehernya dengan tangan kananku.
Kedua kakiku berhasil mendarat di belakang pria itu, sehingga pisau di tangan kiriku langsung kutusukkan ke jantung pria itu, saat dia sibuk menutup pendarahan di lehernya.
Pria kekar itu berlutut di depanku, dengan kedua tangannya sibuk menutup pendarahan di d**a maupun lehernya. Sungguh menyedihkan melihat orang yang menghabisi banyak nyawa tak bersalah, sedang berjuang sia-sia untuk bertahan hidup.
Aku menghabisi nyawa pria itu dengan menghujamkan pisau di tangan kananku ke jantungnya sebagai serangan terakhir. Pria itu ambruk dengan mukanya menyentuh tanah di depanku.
Di ujung satunya, aku tidak mendengar Amicia kesakitan lagi. Kedua mataku mencoba untuk melihat tempat cewek itu tadinya tercekik, dan ternyata pria yang mencekiknya sudah bersimbah darah di depannya.
Syukurlah dia berhasil mengatasi krisis yang dia hadapi, meskipun baju dan kulitnya memiliki lebih banyak sayatan dariku. Amicia memang tidak akan kalah semudah itu.
"Wah akhirnya kalian keluar juga," cemooh Dreyfus dengan wajah yang masih tanpa ekspresi. "Mana temanmu yang menyuruhku berlari ke selatan itu?"
"Aku ingin memisahkan setiap bagian tubuhnya, lalu kubagikan ke burung gagak yang akan makan para mayat bodoh ini esok pagi," imbuhnya.
Ada perasaan yang membuncah di dalam diriku, saat mendengar Dreyfus mengatakan hal kejam seperti itu dengan tenang. Jika Amicia mengatakannya, maka aku akan menganggap bahwa cewek itu sedang bercanda yang terlalu gelap.
Namun akan lain ceritanya, jika pria tanpa nyawa ini yang mengatakannya. Aku sangat percaya bahwa orang ini dapat melakukan sesuatu yang baru saja dia katakan, sekejam apa pun hal tersebut bagi telinga orang lain.
Aku masih belum terbiasa berhadapan dengan orang yang tidak memiliki emosi. Dreyfus Bephidza adalah orang pertama yang mengajarkanku tentang betapa pentingnya mora, dan perasaan sebagai manusia.
Sedikit saja mengabaikan dua hal itu, maka seseorang akan berakhir menyedihkan, menjadi seperti ras manusia tak bernyawa. Kehilangan kepekaan dan simpati, adalah sebuah hukuman yang berat bagiku.
Sedikit perasaan bersyukur muncul dalam hatiku, karena menyadari kalau aku masih memiliki emosi, dan simpati untuk orang lain. Setidaknya, aku masih merasa bersalah saat harus mengambil nyawa orang lain.
Selain itu, aku juga erani memilih untuk kembali ke pertempuran yang mustahil aku menangkan, dan bahkan aku masih merasa bersalah telah membunuh dua orang komplotan Dreyfus.
"Serahkan penyihir itu kepadaku, maka kalian akan diampuni," ujar Dreyfus. "Jika tidak, maka aku akan membuat kalian menjadi salah satu mayat seperti orang-orang di bawahku."
Ancaman Dreyfus dilontarkan dengan nada yang sangat tenang, tidak seperti karakternya tadi siang yang sangat liar. Namun, setiap bagian tubuhnya menunjukkan, kalau dia sedang dalam posisi waspada.
Komplotan Dreyfus yang tersisa dua orang, juga beringsut mundur dan bersiaga penuh di sebelah pemimpinnya, setelah menyadari kalau dua pemanah mereka telah hilang, dan dua lainnya sudah mati di depan mereka.
Dua orang itu sekarang mengerti, kalau aku dan Amicia bukan sembarang orang yang bisa mereka kalahkan seperti para penduduk desa. Kemampuan bertarung kami jauh di atas para penduduk desa, yang tidak memiliki kemampuan pertahanan diri yang baik.
Suasana di depan gerbang desa sungguh mencekam. Sekarang, kami memang masih kalah jumlah, namun tidak terlalu jauh. Dua melawan tiga, masih lebih baik ketimbang dua melawan tujuh.
Keheningan tercipta di depan gerbang desa Arnmeny, karena kami dan Dreyfus sudsh saling berhadapan. Hanhadengan dengan gerakan kecil, maka pertarungan akan pecah di tengah puluhan mayat yang tergeletak di tanah.
Namun, aku, Amicia maupun Dreyfus dan komplotannya hanya tetap dalam posisi siaga. Tidak ada satu pun dari kami semua yang berniat memulai pertempuran.
Aku mencabut pisau kembarku yang tertancap di jantung pria kekar yang barusan kubunuh. Lalu aku perlahan berjalan mendekati Amicia, yang ternyata juga berjalan ke arahku.
"Apa ada kemungkinan kalau kita menang?" bisikku ke Amicia, setelah kami sudah bersebelahan.
Aku melihat sekilas kalau ternyata ada beberapa luka di wajahnya. Tetapi cewek itu sama sekali tidak mengeluh kesakitan, sebuah ciri khas yang akan selalu melekat ke diri Amicia.
"Aku tidak yakin kita akan menang jika Dreyfus ikut bertarung," jawabnya. "Dua orang di sebelahnya kemungkinan besar memiliki kekuatan yang kira-kira sama, dengan orang-orang yang baru saja kita kalahkan."
Cewek itu mengatakan pendapatnya dengan tidak terdengar kecewa, maupun takut. Sebaliknya, kedua matanya hanya tertuju ke para musuh didepan kami.
Tangan kanan Amicia memegang Oborotni dalam bentuk sebilah pedang, dan tangan kirinya hanya menggenggam dengan penuh kebencian, juga kemarahan.
"Kali ini aku berharap semoga Normen dan Yared sadar, kalau kita tidak ada di belakang mereka, lalu bergegas kembali untuk menolong kita," imbuhnya.
Baru kali ini, aku mendengar Amicia tidak memiliki rencana, dan malah menggantungkan harapan pada seseorang. Dreyfus memang sekuat itu, hingga putri tunggal Master Ekkehard harus mengakui bahwa dia sendirian tidak sanggup mengalahkan si ras tanpa nyawa.
Amicia Ekkehard yang kukenal selalu memiliki rencana dibalik rencananya, dan kali ini dia berharap sesuatu seperti mujizat terjadi. Entah apakah harapannya adalah harapan terakhir untuk hidupnya.
Tidak ada alasan bagi Normen, maupun Yared untuk kembali. Tidak peduli sepenting apa pedang di tangan Amicia bagi Normen, nyawa adalah hal paling penting, dan mereka layak untuk kabur.
Tindakanku dan Amicia memang sejak awal merupakan kebodohan. Kami masuk secara sukarela kedalam api, untuk terbakar dan akhirnya menjadi abu.
Tetapi aku tidak mau menyerah sebelum melawan dengan sekuat tenaga. Kami berdua memang kalah jumlah, namun jika Dreyfus memilih tidak bertarung, maka kami mungkin bisa mengalahkan sisa komplotannya.
Setidaknya, jika sekarang aku mati maka aku mau dikenang sebagai seseorang yang berani menantang maut. Aku juga belum puas jika belum menyabet wajah si gila Dreyfus dengan salah satu pisauku.
"Tunggu," gumam Amicia saat dia melihat kaki kananku yang baru saja mengambil satu langkah kecil. "Kita tidak bisa menebak pikiran Dreyfus, akan sangat sulit jika dia memutuskan ikut bertarung."
Aku mengerti soal itu, bahkan aku, Amicia dan Normen tidak sanggup melawan Dreyfus yang sendirian. Melawan Dreyfus dengan dua orang di pihaknya dalam posisi siaga penuh, bukan keputusan bijak.
Kami harus menunggu sesuatu yang akan membuat mereka lengah, karena bertarung secara terbuka bukanlah sebuah pilihan yang bijak. Selain itu, keunggulan kami atas mereka adalah kecepatan, dan satu serangan mematikan.
Keheningan yang terasa menusuk, menggumpal di udara yang kami hirup. Musuh di depan maupun kami seolah sama-sama menunggu lawan lengah, dan siap langsung menyerang.
Tetapi aku tidak mengerti kenapa mereka melakukan itu, padahal jika mereka memanfaatkan jumlah mereka yang lebih banyak, maka mereka bisa menang dengan mudah.
Apa yang membuat dua orang berpedang disamping Dreyfus ragu untuk menyerang kami lebih dahulu? Hal tersebut yang membuatku penasaran.
"Apa Dreyfus mengatakan kalau dia tidak akan turun tangan?" tebakku sambil bergumam. "Mungkin Dreyfus hanya mengjncar Yared, bukan kita."
Amicia hanya mengangguk pelan sambil tetap mengawasi musuh didepannya. "Mungkin begitu, sehingga mereka juga menunggu kita lengah, karena sadar kalau kita imbang secara jumlah."
"Bro! Serang bersama saat kuberi tanda!" perintah sebuah suara di otakku.
Apa ini? Mengapa sebuah suara muncul di otakku?
"Aku Orion," tambah suara itu lagi. "Dan aku hanya bisa memilih satu orang untuk berkomunikasi secara telepati denganku, jadi lakukan sesuai aba-abaku."
Aku mencoba untuk tidak terlihat mencolok saat berusaha mencari Orion di sekitar kami. Tetapi tidak ada tanda dari keberadaan kuda itu.Apa aku hanya berhalusinasi, karena sangat membutuhkan keajaiban terjadi?
Tiba-tiba pikiranku yang berkecamuk langsung buyar setelah melihat sesuatu yang kami tunggu, yaitu sebuah mukjizat, sesuai harapan Amicia.
Sebuah siluet putih yang sangat cepat tiba-tiba menerjang pria di sebelah kanan Dreyfus, dan membuat orang itu terpental cukup jauh. Belum sampai disitu, dari sebelah kiri, sebuah siluet hitam juga menerjang pria yang disebelah kiri Dreyfus.
Dua siluet itu memiliki kecepatan mengagumkan yang sangat sulit diikuti oleh kedua mataku. Mereka seolah adalah asap yang dapat memadat, dan memiliki berat.
Sama denganku dan Amicia, Dreyfus hanya melongo saat sisa komplotannya itu terlempar di depannya tanpa perlawanan. Terlempar cukup jauh membuat dua pria itu, langsung tak sadarkan diri.
Siluet di sisi kiri perlahan menunjukkan sosoknya. Seekor kuda putih yang tidak asing bagiku, dan Yared si culun berada di punggungnya, sambil memegang pedang dengan canggung.
Sedangkan siluet hitam yang ada di kanan Dreyfus, adalah Anyx bersama Normen, pemiliknya. Aku tidak pernah sesenang ini saat melihat mereka semua. Harapan Amicia untuk melihat Yared dan Normen kembali, telah menjadi kenyataan.
Dreyfus perlahan mulai mengatasi keterkejutannya, lalu dia menyunggingkan senyum yang tampak menakutkan, bersama sorot matanya ysng hanya tertuju pada Yared sepenuhnya.
"Akhirnya kau kembali penyihir kecil," desis Dreyfus. "Saatnya untuk membantai kalian semua, dan aku akan memulai dengan kematianmu."
Yared yang menjadi objek bagi ancaman Dreyfus, malah menyunggingkan senyum menyebalkan, yang sangat khas dari bibirnya. Sepertinya, Yared juga sudah tertular kegilaan Dreyfus.
Sorot mata si gila Dreyfus yang tadinya sudah tenang, kembali berubah menjadi liar seperti tadi siang, karena senyuman Yared yang sangat meremehkan dirinya.
Si wajah bulat setengah elf itu langsung menerjang tempat Yared dan kudaku berada, sambil meraung, "Aku Dreyfus Bephidza akan membantai kalian semua!"
Tubuhku membeku saat melihat Dreyfus berlari kencang menerjang Yared. Aku ingin membantunya, namun kecepatan Dreyfus tidak bisa kutandingi, apalagi jarak mereka juga cukup jauh dariku.
"Mati ka-" Teriakan Dreyfus terhenti, begitu juga kepalan tangan kanannya yang sedikit lagi sudah sampai diperut Yared.
Aku sadar bahwa sebuah hal bodoh jika mencemaskan Yared, saat dia dalam situasi terancam. Anugrah Yared yang menakutkan akan langsung aktif setelah situasi itu terjadi, sedangkan Dreyfus masih menganggap bahwa hal tersebut merupakan sihir yang dibuat Yared.
"Kau terlalu bodoh untuk ukuran seorang Bephidza" kata Yared dingin.
Kalimat pertama yang dikeluarkan Yared dari mulutnya setelah anugrahnya aktif, memang begitu mengerikan. Sudah tiga kali aku melihat anak itu sanggup mengaktifkan anugrahnya, dan aku selalu menganggap kalau Yared menjadi orang yang berbeda saat anugrahnya aktif.
Dreyfus yang membeku terlihat sangat terkejut, karena kedua bola matanya yang bergerak liar. Mungkin dia berpikir, bagaimana Yared bisa merapalkan mantra secepat dia berlari.
Nyatanya, Yared memang tidak perlu mantra, karena yang dia butuhkan adalah situasi yang tepat. Saat dia masuk dalam keadaan terancam, maka anugrahnya menjadi sebuah kekuatan tak terkalahkan.
"Kuberi tahu satu hal, sebelum kau mati beberapa saat lagi," ujar Yared sambil menepuk pipi Dreyfus lembut. "Aku baru sadar, kalau kau adalah keturunan elf dan Bephidza, yang artinya kau hanya setengah tidak bernyawa."
Setengah tidak bernyawa? Apa maksud Yared? Kami semua sudah membuktikan
kalau Dreyfus tidak memiliki nyawa, yang membuat dia menjadi tidak bisa dibunuh oleh senjata apa pun.
Aku, Normen, dan Amicia sudah merasakan begitu melelahkannya melawan orang yang tak bisa terluka. Namun, jika dia hanya setengah tak bernyawa, sesuai perkataan Yared, apakah dia bisa dibunuh dengan metode yang tepat?
"Aku baru ingat kalau setengah darahmu adalag Elf," ujar Yared sambil tersenyum. Dia memandang lekat ke kedua bola mata Dreyfus, yang terus bergerak liar. "Jadi bagaimana kalau kau dibunuh dengan cara Elf?"
Tepat setelah Yared selesai memberikan pertanyaan itu, Normen merangsek ke arah Dreyfus tanpa kata. Dia menggenggam erat sebuah pedang ditangan kanannya, dan dengan cepat, pria tua menebas kepala Dreyfus hingga terpisah dari tubuhnya.
Kepala si gila Dreyfus menggelinding dengan matanya yang masih membelalak terkejut.
Ternyata Normen masih belum selesai, dia mengambil kepala Dreyfus yang tergeletak di tanah, dan melemparkan kepala itu ke tengah api yang membakar sebuah rumah.
"Terimakasih Master Normen," kata Yared dengan nada khidmat. Anak itu tersenyum kepada Normen Harv, seolah tidak terjadi apa-apa.